Satu malam di akhir pekan kemarin, aku diajak menikmati secangkir kopi di sebuah kafe kopi sederhana di daerah kami. Untuk menghilangkan penat, begitu suamiku berkata. Ah, iya sudah lama.

Cappuccino hot creme brulee. Aku memilihnya. Baru aku coba kali ini. Oo ... rupanya cappuccino dengan sajian gula 'bakar' di atas buihnya. Tampak seperti karamel. Crunchy dengan sensasi manis yang berbeda.
Hot creme Brulee @ Kafe E & Kopi

Tapi bukan tentang creme brulee si gula karamel itu. Masih tentang cappuccino saja. Aku selalu tertarik dengannya. Apa yang menarik darinya?

Cappuccino.

Sajian kopi dengan keindahan dan kelembutan yang merupakan perpaduan harmoni kopi espresso dan susu (steamed milk). Warna coklat hasil perpaduannya mirip dengan pakaian biarawan Capuchin.  Para biarawan ini memakai jubah dan penutup kepala berwarna coklat (serupa dengan cappuccino yang kita lihat sekarang). Ya, dari sini lah awal mula nama kopi Cappuccino. Diperkirakan sajian kopi beraroma wangi ini mulai dikenalkan pada tahun 1800-an di Wina. 

Cappucino dan Fakta Menarik 

  • Bukan santapan siang, sore, atau pun malam
Penyajian cappuccino berasal dari Italia. Di negara asalnya sendiri, cappuccino berarti "little cap". Yaitu, secangkir kopi nikmat yang atasnya dipenuhi buih (milk foam) yang bagian dasarnya dipenuhi espresso mixed susu. Konon, orang Italia mengonsumsi cappuccino ini untuk sarapan. Santapan pagi tentunya. Jadi bukan minuman di waktu siang, sore, apalagi malam. Jika datang ke kedai kopi di sana,  biasanya minuman ini dapat dipesan hingga jam 10 pagi saja. 


Namun, tradisi menikmati kopi bisa berbeda-beda di tiap negara. Seperti di Indonesia, untuk menyeruput nikmatnya cappuccino,  bisa kita lakukan kapan saja. 

  • Cocok sebagai pengganjal perut
Masih berhubungan dengan waktu penyajiannya yaitu pagi hari, Cappucino memang diperuntukkan sebagai pengganjal perut karena kandungan susunya yang banyak. Kalorinya tinggi sehingga dapat mengenyangkan perut. 
  • Buih dan kestabilan temperatur
Tahukah, bukan hanya sebagai hiasan atau art, sensasi busa yang lembut di mulut dalam sajian cappucino rupanya memiliki fungsi tersendiri. Buihnya berfungsi sebagai insulator agar temperatur dari campuran kopi dan susu tetap seimbang. 

  • Hanya dalam gelas keramik
Idealnya, cappuccino tersaji bukan dalam gelas plastik atau kertas. Gelas keramik adalah yang sebenarnya paling cocok untuk menuangkan seduhan kopi ini. Alasannya dikarenakan gelas yang terbuat dari keramik bisa menyimpan panas dengan lebih baik. Jadi, dulunya, cappuccino ini pasti tersaji dalam gelas keramik.
  • Hari Cappuccino Sedunia
Cappuccino memiliki kepopulerannya sendiri bahkan hingga ada momen khusus untuk memperingatinya. Ya, harinya Cappucino. 8 November 2015 ditetapkan sebagai National Cappuccino Day yang sekarang duga diperingati sebagai Hari Cappuccino Sedunia.

Filosofi Secangkir Cappuccino

Kalau kata Ben di film ' Filosofi Kopi', Cappuccino itu  kopi yang genit. Ketebalan dan tekstur foam harus presisi, butuh standar penampilan yang tinggi. Cappucino harus terlihat seindah mungkin, karena cappucino adalah kopi yang cocok untuk orang yang suka keindahan sekaligus kelembutan.

"Bagiku, cappuccino itu soal keseimbangan, proporsionalitas, dan kehangatan." 
(Mira Humaira)

Komposisi tiga jenis bahan dalam cappuccino mesti seimbang. 30% espresso, 30% susu, dan 30% buih susu. Makanya kadang dibilang, cappuccino adalah  sajian yang paling sulit dibuat. Cappuccino berbicara tentang keseimbangan. Harus proporsional, tidak boleh ada yang melebihi satu sama lain di antara tiga komponennya. Begitu pun dalam kehidupan, dalam bertindak kita mesti seimbang dan proporsional. Bersikap dan beraksi sesuai fitahnya. Tidak boleh berlebihan karenan nantinya akan merusak kestabilan rasa yang mestinya tersaji indah dalam diri kita.

Kehangatan. Buih cappuccino berfungsi sebagai penstabil kehangatan. Indah jika kita bisa berlaku sebagai pribadi yang selalu menciptakan kehangatan di sekitar. Mempertahankan suasana agar stabil hangat ketika ada situasi dingin atau panas di antara teman, keluarga, dan hubungan dengan banyak orang. 

Bagaimana? Anda penyuka cappuccino juga? Bagaimana kesan cappucino di lidah dan pikiran Anda?

By the way, Selamat berakhir pekan. Selamat menikmati sajian kopi hangat bersama orang-orang terdekat.


Menjelang akhir pekan di September 2019.
Salam cinta dari penyuka kopi,







(hurstvilleaquatic.com)
Bermain di kolam renang merupakan salah satu kegiatan pilihan yang asyik bagi anak-anak. Ya, bermain-main air bagi mereka pasti selalu menyenangkan. Tidak terkecuali bagi anak-anakku, terutama si sulung (5 tahun) yang saat ini sangat antusias sekali jika diajak main airnya di kolam renang walaupun sebenarnya ia belum bisa berenang. Berbeda dengan adiknya yang masih berusia 2 tahun, doi lebih senang main di kolam karet mini atau di ember besar.

Selain menjadi sarana main yang mengasyikkan bagi anak-anak, rupanya banyak sekali manfaat lain bermain air. Sudah tahukah, Bunda, bermain air bisa memberi dampak positif bagi perkembangan emosi anak, loh.

Air bisa menjadi salah satu media untuk penyaluran emosi negatif anak. Ketika ia menghentakkan kaki atau tangannya di dalam air, mencipratkan air, menuangkan atau menyiramkannya, secara tidak langsung anak-anak sedang melepaskan dan mengekspresikan emosi yang sedang dirasakannya. Sering kali kita perhatikan juga kan, Bunda, saat anak-anak melakukannya mereka tampak puas dan lepas.

Bermain air juga dapat mendorong koordinasi gerak anggota tubuh anak. Olah karena itu, bermain air atau berenang baik sekali untuk perkembangan fisik anak.


Bermain air di kolam renang, khususnya, mengajarkan anak juga untuk melatih keberaniannya. Biasanya di area kolam renang suka ada prosotannya kan, Bunda. Dari yang paling kecil hingga yang tinggi berkelok-kelok. Wahana bermain tersebut bisa jadi uji nyali buat anak.

Nah, banyak sekali manfaatnya, ya. Jadi kalau anak mau main air atau berenang. Bebaskan saja!

Balik lagi ke ceritaku. Alhamdulillah pekan kemarin akhirnya bisa juga ajak si sulung main lagi ke kolam renang. (Perdana nih sejak kami pindah ke Satui, Kalsel). Senang lah dia. 

Nah, kalau mau main ke kolam renang, para bunda nih yang pasti nyiapin segala kebutuhan anaknya. Dari mulai nyiapin baju renang, handuk, baju ganti, juga camilan. Nah, ada satu lagi nih yang tidak boleh ketinggalan. Satu ini yang ternyata masih banyak dilupakan karena dianggapnya tidak terlalu penting untuk anak-anak. Apa itu? Tabir surya.


Loh, anak-anak boleh pakai tabir surya? oh iya tentunya, kulit anak-anak justru sebenarnya lebih rentan terhadap bahaya radiasi sinar matahari. Apalagi kalau memang bawaannya sensitif.

Seperti pengalaman kemarin, anak-anak mulai turun ke kolam renang di jam 09.30 dan selesai hampir pukul 12.00. Hmm ... sebenarnya itu jam lagi terik-teriknya matahari (bahkan dikatakan bahwa jika terpapar lama sinar matahari antara jam 10.00 hingga jam 15.00 itu cukup berbahaya). Apalagi, aku rasakan sendiri panas matahari di Borneo ini terasa lebih menyengat dan 'membakar'. Dan ini anak-anak turun di kolam renang outdoor dalam rentang waktu yang cukup lama. So, Wajib bin kudu pakai sun protection. Dengan memberikan tabir surya, kulit anak-anak bisa terlindungi dari paparan sinar UVA dan UVB.

Sinar UVA dapat menembus dan merusak lapisan kulit lebih dalam, juga dapat menyebabkan penuaan kulit. Paparan UVB berlebihan dapat menyebabkan kulit lebih gelap dan terbakar yang berisiko memicu berkembangnya sel kanker.

Nah, demi menjaga kesehatan kulit anak, sudah semestinya kita berikan perlindungan terbaik ya, Bunda. Aku pribadi pakai produk tabir surya dari nivea. Nivea Sun Kids Swim & Play Sun Protection Lotion SPF 50+. Aku beli produk ini dari online shop dengan harga 120.000 rupiah untuk ukuran 100 ml.

Kenapa pilih produk ini? Karena sun protection ini bisa dipakai untuk berenang juga untuk sehari-hari. Dan yang pastinya diformulasikan khusus untuk kulit anak-anak. Selain itu, kelebihan dari Sun Kids Swim & Play ini mengandung dexphantenol yang dipercaya lebih efektif dalam melembabkan kulit dan memiliki sifat tahan air dan tahan lebih lama. Hal lain yang lebih penting lagi sih produk ini juga  highly effective UVA/UVB protection.





Pemakaian tabir surya juga ada aturannya sendiri, ya. Jadi oleskan secara merata ke seluruh tubuh  20 menit sebelum terpapar sinar matahari langsung. Jadi, kemarin sebelum berangkat, aku pakaikan sun protection lotion ini ke anak-anak dari rumah karena jarak tempuh ke kolam renang juga cukup dekat. Setelah selesai berenang pun aku pakaikan lagi ke anak-anak. 


Nah, setelah kita pastikan kondisi anak aman, dari mulai pakaian renangnya, perut yang sudah terisi cukup, hingga pemakaian tabir suryanya. Tinggal lah bersenang-senang bermain air dan berenang bersama ananda, ya, Bunda. 


Salam Cinta,











Judul: Jangan Panik!
Penulis: Watiek Ideo & Fitri Kurniawan
Penerbit: Bhuana Ilmu Populer
Tahun Terbit: cetakan ke-2, 2016
Jumlah Halaman: 172 Hal
Harga: 125.000  (86.000 dapet diskon dari penulis)

***

Di antara banyaknya koleksi buku duo krucil di rumah, baru sadar rupanya belum ada buku anak khusus tema keselamatan diri. Kebanyakan masih seputar dongeng, soft skill, pembentukan karakter, agama, dan kognitif dasar. 

Nah, sejak sering kejadian lagi gempa bumi akhir-akhir kemarin, jadi diingatkan lagi tentang pentingnya mengedukasi anak agar biasa siaga hadapi bencana. Salah satu cara yang paling mudah dilakukan adalah dengan memberikan pengetahuan lewat cerita, kan? Jadi, aku enggak tunda lagi deh untuk cari buku anak yang berhubungan dengan ini.

Akhirnya, berjodoh dengan buku ini, Jangan Panik! karya cikgu kesayangan, Mbak Watiek Ideo. Buku ini duet bareng sepupunya, Mbak Fitri Kurniawan. Udah enggak asing lagi lah, ya, dengan nama dua penulis yang sering duet dalam karyanya.

Sesuai judulnya, Jangan Panik! merupakan pertolongan atau langkah pertama saat kita dihadapkan pada situasi darurat. Penulis dalam buku ini ingin menyampaikan pesan bahwa intinya jangan panik dulu saat berada dalam keadaan darurat agar kita bisa berpikir jernih, 'harus ngapain nih?'.

Buku jangan panik ini berisi 20 cerita seru dalam situasi darurat. Semuanya dikemas dalam cerita yang apik dengan ilustrasi yang menarik juga disertai tips asli bagaimana cara mengambil tindakan yang tepat saat situasi darurat.

Berbagai situasi darurat yang diangkat dalam buku ini memang yang seringkali ditemui dalam kehidupan sehari-hari, seperti kasus ketika tersedak permen, mimisan, kedinginan dan menggigil setelah main hujan-hujanan, tersesat atau terpisah dengan orang tua ketika jalan-jalan di Mall, ketika terjadi gempa bumi, hingga tips saat menaiki pesawat terbang untuk pertama kali.

20 cerita mengatasi situasi darurat
Menurutku sudah cocok, ya, untuk mulai dibacakan pada anakku yang sebentar lagi menginjak 6 tahun karena dia sudah mulai mengerti situasi dan bisa diarahkan untuk mengikuti suatu prosedur. Selain itu, cerita yang disajikan juga seru-seru bagi anak-anak, apalagi ilustrasinya full dan berwarna. Setiap satu cerita hampir rata-rata terdiri dari 6-7 halaman saja, sudah termasuk rangkuman tips nya di setiap akhir cerita. Jadi, anak-anak tidak akan bosan untuk membacanya. Biasanya aku sama anak-anak bacanya nyicil, cukup 2-3 cerita dalam sekali duduk.

Segmentasi utama buku ini sepertinya ditujukan untuk anak usia sekolah dasar tapi menurutku kayaknya masih cocok, ya, untuk dibaca anak-anak sekolah menengah juga. Kalau aku masih ngajar di SMP, sepertinya ini akan kujadikan buku wajib juga untuk kami baca bersama. Plus lagi bisa sekalian jadi media untuk belajar bahasa inggris karena buku ini konsepnya bilingual.

Jangan panik! Saat terjebak di lift. Ini tips-nya.

Kalau bicara soal gambar ilustrasi dalam buku ini, wah aku suka sih. Apalagi buku ini digarap oleh 9 ilustrator, loh. Jadi pastinya, tidak membosankan karena disuguhkan desain gambar yang berbeda dan unik. Masing-masing ilustrasi tersebut mempunya ciri khas tersendiri.

Ilustrasi bagus dan berwarna

ilustrasi Kak Awa Erlangga dalam cerita Bumi Berguncang

Ilustrasi Kak Ning R. dalam cerita Ketika Ular Menyapa

Ilustrasi Kak Suesan Ang

Oia, tips-tips yang disajikan juga mudah dipahami dan selalu mengangkat sesuatu yang alami. Seperti penggunaan lendir lidah buaya saat terkena cipratan minyak goreng panas, getah daun pepaya untuk kulit yang terinfeksi, hingga air daun tembakau saat terkenan gigitan lintah. Nah, tapi kalau menurutku penting juga disisipkan alternatif lain. Karena sekarang mungkin mulai agak susah ya untuk mendapatkan bahan alami di sekitar, seperti lidah buaya. So, pas baca bab ini aku juga kasih saran lain sama anakku. Nak, kalau terkena cipratan minyak panas dan gak dapat tanaman lidah buaya, buka aja kulkas, ambil aloe vera gel punya bunda lalu oleskan. Hehehe ...

Nah, paling ada sesuatu yang mengganjal itu ... di buku ini ada tips yang aku kurang sreg sih, ya, yaitu di cerita 'Bermain Hujan-hujanan'. Di sana terdapat tips untuk mengatasi kedinginan (hipotermia) dimana ada poin yang menjelaskan bahwa 'jangan lepaskan pakaian basah karena akan membuang-buang waktu yang berharga'. Kalau sepengetahuanku kok malah justru sebaliknya. Aku coba baca di artikel lain pun salah satu tips mengatasi hipotermia itu ada dicantumkan harus melepas segala pakaian basah dengan hati-hati dan keringkan tubuhnya dengan baik. Setelah itu, lindungi tubuh dengan selimut dan pakaian kering sambil menunggu bantuan medis. Jadi yang ebih tepat yang mana, hayo ... ?


Izz beserta bukunya.💓
Hal lainnya adalah menurutku ukuran buku ini terlalu besar dan tebal juga untuk anak-anak. Berat, Bun! kalau kata anakku. wkwkwk . Enggak cocok dibawa-bawa. Nah. aku kok kepikiran bakal seru deh kalau dibikin flash card-nya juga. Jadi terdapat 20 kartu ukuran postcard, misalnya. Satu sisi bergambar kejadiannya lalu sisi lain berisi tips mengatasinya. Karena nantinya lebih kecil dan simpel, jadi bisa lebih mudah dibawa kemana-mana lalu bisa dijadikan games tebak-tebakan bareng anak sehingga diharapkan anak juga bisa lebih mudah dan cepat mengingatnya.

But, Overall,  Aku suka buku ini. Recommended loh, ya, untuk melengkapi koleksi buku di rumah. Bukan cuma dibaca anak-anak tapi cocok juga loh dibaca orang tuanya sebagai referensi untuk keselamatan keluarga. So, diharapkan setelah membaca buku ini, khususnya buat aku dan anak-anak, bisa lebih siaga saat menghadapi keadaan darurat dan pastinya, Jangan Panik!

Semoga bermanfaat, ya, review bukunya kali ini.

Salam hangat,
-Mira Humaira-





Anak-anakku doyan banget sama aneka perboluan. Khususnya, anak sulungku. Sebenarnya enggak banyak yang doi suka kalau urusan makanan. Bisa dihitung jari, makanan utama/camilan apa yang benar-benar bisa masuk mulutnya. 

Brownies coklat Amanda/Vannisa adalah salah satu pilihan camilan favorit yang bisa cocok dengan lidahnya. Makanya kalau 'kogel' pengen beliin sesuatu/makanan buat dia, ya tinggal beliin brownies coklat ini.

Nah, waktu masih tinggal di Banjaran (Bandung), gampang aja dong kalau tinggal mau beli brownies. Banyak yang jual. Tinggal ngeeeng naik motor atau bahkan lebih mudah, tinggal pencet-pencet gadget pesan di Go Food. Dapet tuh.

Lah, apa kabar pas balik rantau lagi ke Kalimantan. Karena kita tinggal di sebuah desa nan jauuuh dari kota, lumayan, ya, agak kaget kalau pengen apa-apa enggak bisa segampang itu mendapatkannya. Apalagi pengen dapet Amanda. Wkwkwk. (Belum masuk Gojek juga di sini)

Terus, kalau pas anakku itu minta pengen camilan dan tetiba dia request katanya kangen brownies coklat Amanda. Duh, rasanya gimanaaa gitu. Ya, enggak ada. Terus aku nyentil diri sendiri. Makanya ... bikin sendiri, dong. Masalahnya, kagak bisa (dijawab sendiri). 

Urusan masak-memasak apalagi khusus per-cake-an, angkat tangan deh. Bukan enggak pernah coba. Tapi, nyatanya selalu gagal. Walapun untuk sekadar bikin brownies yang katanya itu simpel banget bikinnya.

Hingga pada suatu hari. Pas lagi jalan-jalan ke minimarket, hendak beli  puding coklat (kalau ini favorit adiknya), aku ngelirik satu produk yang bikin tertarik. Sebenarnya udah lama ya ada dan mejeng di minimarket nih tapi kok baru tergerak untuk mengambilnya. 
Aha! Brownies. Langsung inget si sulung. 

Bolak balik lihat kemasannya, sepertinya mudah banget dan ada keterangan di kemasan depannya tanpa Mixer! Asyik bakal gampang pastinya. Ceki-ceki komposisinya juga aman. Yaitu terdiri dari gula, tepung terigu, coklat bubuk, susu bubuk, coklat hitam compound butir, pengemulsinabati, dan pengembang
Selain itu, harganya terjangkau sekali. Satu sachet-nya harga Rp. 13.500,-.
Sip, aku putuskan beli dan mesti coba nih demi si sulung.

Enggak harus ditunda lagi, aku langsung eksekusi. Nah, ada beberapa bahan yang mesti kita siapin juga ya sebelumnya. Yaitu, 
  • 1 butir telur
  • 100 gr mentega cair/100 ml minyak sayur
  • 25 ml air (sekitar 5 sendok makan)
Bahan-bahan membuat brownies

Cara Pembuatan
  1. Campurkan semua bahan di atas lalu aduk hingga merata
  2. Tuangkan adonan ke dalam loyang yang telah diolesi margarin (rekomendasi loyang: 20x10x4cm)
  3. Panggang dengan suhu 175°C selama 35 menit atau kukus adonan selama 30 menit.
So, simple!
Dan akhirnya ... untuk first trial, Yey berhasil! Ternyata gampang, enggak pakai ribet dan hasilnya dijamin Uweenak. Enggak kalah lah sama Amanda. Haha maksa. *Eh tapi beneran, loh. 
Brownies coklat siap disajikan
Pas pertama kali ngehidangin buat si sulung pas pulang sekolah TK, doi exited dong.
 "Ini brownies coklat yang seperti biasa, Bunda?"

Aku mengangguk masih ragu. Duh, takut enggak suka apalagi kalau dia tahu itu bikinan emaknya yang jelas-jelas enggak bisa bikin bolu. 

Pas gigitan pertama, aku grogi lihat ekspresinya. Takut kecewa. Tapi ternyata ... bocah kecil yang 'sulit' makan ini tiba-tiba ngacungin jempolnya. Matanya membulat. Mulutnya komat kamit, "Enak ... enak!" 


Doi tampak puas. Ah, rasanya lega. Bisa ngasih sesuatu yang paling dia suka. Brownies coklat. Sesederhana itu saja, tampaknya. Tapi yang pasti buatku, itu sesuatu sekali.

"Bunda beli di mana?"
"Hmm, Bunda bikin."
"Eh, Bunda bisa?"
"Yoi ...."
"Yee Bunda sekarang jago bikin bolu coklat."
Aku tertawa di depannya. Alhamdulillah.

Yeay... jadi jago bikin brownies berkat Forisa Nutricake Brownies. 
Thank U, Forisa. Udah bikin tepung premiks brownies coklat ini. Aaah, sungguh sangat terbantu sekali. Jadi enggak usah galau lagi deh kalau mau nyiapin camilan kesukaan anakku.

Buat emaknya, taburi keju cheddar

By the way, selamat mencoba juga, ya!

Salam Cinta,
-Mira Humaira-



Yup, masih dengan Peek. Me Naturals. Kali ini aku mau review produk lain dari Natural Remedy-nya Peek.Me Naturals, yaitu Bye Bye Eczema. 

Bye Bye Eczema. Dari namanya sudah ketebak dong fungsi dari essential oil ini untuk apa. Yup, produk ini diformulasikan untuk melawan alergi pada kulit, yang dikenal dengan sebutan eksim. Eksim yang dimaksud adalah penyakit dermatitis atopik.

Yang dimaksud dengan dermatitis atopik atau eksim adalah suatu penyakit kulit kronis yang menyebabkan peradangan, gatal, ruam merah, kering hingga pecah-pecah. Jika dibiarkan akan menyebabkan penebalan kulit dan kukit bersisik. Selain itu, tentu saja akan mengganggu aktivitas karena gatalnya itu loh, ya, lumayan cukup mengganggu.

Nah, ceritanya aku kena dermatitis atopik ini. Ada di tengkuk juga di tangan kanan, tepatnya di jari telunjuk. Memang, area yang kenanya tidak terlalu luas. Kecil saja, tapi kalau sudah terasa gatal bikin gereget. Ya, kalau sudah enggak tahan digaruk lah sampai melepuh atau pecah-pecah dan berdarah. Selain jadi ngilu, pastinya bikin jadi gak enak dilihat dong tangannya. Apalagi bagian tangan itu biasanya yang paling mudah dilihat orang lain, kan, ya.

Nah, kebetulan aku juga lagi sering diem di ruangan ber-AC, jadilah dermatitis atopik ini lebih sering kambuh karena kondisi kulit jadi lebih kering. 

Sebelumnya, aku pernah coba jenis minyak lainnya untuk meredakan jika eksim ini sedang kambuh. Namun, memang tidak bisa menyembuhkan hanya meredakan saja gejalanya. Karena secara medis pun memang dikatakan bahwa dermatitis atopik ini tidak bisa disembuhkan secara total. Jadi pengobatan atau perawatannya bertujuan untuk mengurangi rasa sakit dan gatal, melawan infeksi, dan menghentikan penebalan kulit.

Beberapa pilihan obat untuk eksim yang pernah aku pakai itu berupa minyak yang dioles, krim serta obat minum yang diresepin dokter.  Nah, yang paling terakhir aku pakai adalah minyak kutus-kutus (udah mulai males ke dokter, hehe) Lumayan enak juga respon kulitnya. Tapi sayangnya, kemasannya besar jadi kurang praktis. Pakai spray sih, ya, tapi menurutku 'gak enakeun', jadi kadang kebanyakan atau kesemprot ke mana-mana.

Nah, akhirnya aku pengen cari essential oil aja yang kandungannya khusus untuk meredakan alergi ini plus yang lebih simple, gampang dibawa, dan aman.

Ye, akhirnya ketemu lah sama Bye bye eczema dari Peek. Me Naturals ini pas kemarin sekalian belanja Bye bye stress inhaler. Menurut klaimnya, ini memang diformulasikan khusus untuk melawan kondisi alergi pada kulit yang dikenal dengan sebutan eksim.

Oke. Sesuai yang aku cari. Kemasannya pun menggunakan roller-on. Jelas, penggunaannya lebih mudah. Tinggal oleskan di bagian eksim. Minyaknya tidak akan tumpah-tumpah atau ada yang terbuang. Ukurannya 10 ml. Kemasan dalam botol plastik kecil. Enak deh kalau dibawa kemana pun kapan pun. Gak ribet.

Roller-on Bye Bye Eczema



Ingredients-nya apa aja nih?
Tercantum semua di kemasan, ya. Bye Bye Eczema-Anti eksim serum ini terdiri dari:

Macadamia oil (Macadamia ternifolia), Calendula oil (Calendula officinalis), Apricot Kernel oil (Prunus armeniaca), Sweet Almond oil (Prunus dulcis), Wheatgerm oil (Triticum vulgare), vitamin E (d-Alpha Tocopherol), 100% pure essential oils blend.

Bye Bye Eczema ini juga aman untuk anak dan ibu hamil.

Lagi gak terlalu meradang tapi ada yang pecah-pecah


Penggunaannya praktis dan mudah


Setelah diolesi bye bye eczema serum

Jadi kesimpulannya? Aku suka sih. Bikin lembab dan cepat meradakan. Aromanya juga enak. Plus Praktis! Kalau habis, kayaknya bakal aku cari lagi si roller-on bye bye eczema ini.


Bye Bye Eczema Peek. Me Naturals.
Ukuran 10 ml
Harga Rp. 100.000,-






Hai hai kali ini aku mau review lagi produk aromaterapi essential oil. Setelah kemarin review botanina yang aku pakai buat anak-anak, kali ini aku mau cerita produk dari  Peek. Me Naturals. Kedua brand ini sama-sama produk lokal dan termasuk dalam kategori yang harganya terjangkau.

Pertama kalinya coba Peek. Me Naturals, aku pakai produk natural remedy-nya. Yaitu, BYE BYE STRESS. 

Jadi ceritanya, ketika kemarin sedang proses menyapih anak kedua, aku ngalamin kondisi yang menyebabkan stress. Ya, selain karena tubuh lelah dan kurang istirahat, aku juga ngalamin kondisi mental yang tidak baik. Seperti rasa tidak nyaman dan perasaan khawatir yang berlebih. Walaupun kadar stress nya kecil tapi tetap dong kita harus tetap mengantisipasi dari awal.

Kondisi kemarin itu benar-benar membuatku sulit sekali untuk istirahat. Bahkan untuk sekadar tidur sebentar yang berkualitas. Tubuh pun mulai protes. Terasa deh mulai enggak enak body. Tambahlah tertekan karena aku ngerasa kalau aku pun sampai tepar, siapa yang akan pegang anak karena aku benar-benar sendirian di perantauan ini (loh, curhat :D)

Jadilah aku ikhtiyar untuk tetap bisa menjaga pertahanan tubuhku dan mencari cara bagaimana aku harus mengelola stress agar tidak berdampak lebih buruk lagi. 

Kebetulan aku lagi senang dunia minyak-minyakan dan wewangian. Jadi, kemarin aku putuskan mesti cari aromaterapi guna meredakan stress ini. Wah, ternyata banyak pilihan, ya, dari yang cukup murah hingga yang super mahal. 

Jujur aja, aku selalu mencari harga yang paling terjangkau (bukan ngirit tapi memang tau diri, wkwk). Nah, tiba-tiba lah aku bertemu brand satu ini. Selain terjangkau, dia juga produk lokal loh, ya. (Aku cinta produk lokal, huhui). 

Peek. Me Naturals ini diprakarsai oleh Bu Arlin Chondro, seorang pengusaha kreatif lokal. So, berawal dari keinginan beliau mencari alternatif yang lebih alami dan aman untuk anaknya yang alergi dan asma,(sebagai pengganti steroid yang merupakan terapi konvensional). Akhirnya, dengan serius beliau menekuni dunia essential oil (minyak atsiri) sebagai bentuk terapi alternatif. Keren, ya, The Power of Mama.

Balik lagi ke ceritaku dengan produk Bye Bye Stress-nya Peek.Me Naturals.  Aku beli ini online dengan harga Rp. 60.000,-. Yang paling aku suka karena ini bentuknya inhaler. Aplikasinya mudah yakni hanya dengan dihirup. Selain itu, memang aku sengaja pilih yang penggunaannya bisa dihirup langsung karena percaya banget lebih ampuh untuk meredakan stress. Kenapa? karena saraf penciuman adalah satu-satunya saluran yang terbuka menuju otak. Jadi, aroma yang tercium itu bisa menyentuh langsung pusat emosi yang kemudian ia akan bertugas menyeimbangkan kondisi emosional. (Begitu loh ... *efek baru kelar juga baca aroma karsa nih jadi sempet kepoin dunia penciuman, haha)

Si mungil Bye Bye Stress Inhaler Peek. Me Naturals

Untuk aromanya pun -menurutku- enak sih, ya wangi herbal seperti biasanya. Cukup lembut, enggak terlalu tajam. Cuma aku enggak bisa nebak kira-kira itu bau wangi apa karena di kemasan maupun di situs webnya tidak tercantum ingredients-nya. Jadi, hanya tertulis 100% pure essential oils blend.

Kemasannya mungil dan ringan. Enak banget buat dibawa kemana-mana. Gampang diselipin. Paling yang kurang aku suka labelling-nya kurang mantap. Stiker labelnya itu loh, tidak nempel rapat. 



Cara pakainya mudah. Tinggal buka dan langsung dihirup dengan cara tutup sebelah lubang hidung, hirup yang dalam dari lubang sebelahnya. Lakukan dengan lubang satunya. Ulangi sebanyak 2x.

Nah, ngaruh enggak sih? Menurut klaimnya, efeknya akan terasa 10-30 menit setelah pemakaian. Tapi yang aku rasain sih beberapa detik aja sudah terasa menenangkan cuma justru tidak bertahan lama. Jadi hanya menenangkan sesaat. He ...

Jadi kesimpulannya, lumayan lah menurutku. Aku baru pakai sekitar dua minggu ini. Katanya, untuk pemakaian teratur setiap hari, bye-bye stress inhaler ini bisa cukup untuk 2-3 bulan.

Btw, selain Bye bye stress ini, aku pakai produk lainnya juga dari Peek.Me Naturals. Nantikan di review selanjutnya, ya!

Semoga bermanfaat.
Salam














Sudah tidak asing lagi kan mendengar nama playdough? Ya, playdough ini adalah salah satu mainan favorit anak-anak segala usia. Setuju enggak? Bahkan sang ibu biasanya bisa ikut asyik juga kalau nimbrung main playdough ini (itu sih aku :D )

Ada yang menyebut playdough ini adalah plastisin. Padahal berbeda loh, ya. Kandungan bahannya tidak sama. Teksturnya juga sedikit berbeda. Dari komposisi bahannya, plastisin ini mengandung lilin, ada juga yang menggunakan lem. Tidak aman jika tertelan oleh anak. Jadi, untuk anak yang masih di fase oral, masih suka memasukkan benda/sesuatu ke mulut, plastisin kurang cocok diberikan. 

Nah, kalau playdough sendiri? Dia dibuat dari bahan-bahan yang aman. Apalagi kalau kita buat sendiri. Lebih yakin lah ya, semua bahannya pasti aman dan bersih. Sebenarnya resep untuk membuat playdough ini ada beberapa macam. Tapi kali ini, aku bagikan resep yang gampang aja. Kebetulan kemarin anak-anak juga di rumah seru-seruan bikin playdough warna-warni ini. 

Semua alat dan bahannya mudah didapatkan. Yakin deh semua sudah tersedia di dapur bunda. Apa saja? Yuk sediakan:



  • 1-2 gelas tepung terigu
  • ½ gelas garam dapur
  • 1-2 sendok minyak goreng
  • Satu gelas air hangat
  • Pewarna makanan
  • Mangkuk/baskom
  • Sendok/spatula
Takaran di atas sebenarnya tidak mutlak ya. Silakan disesuaikan. Untuk pewarna makanan, cukup sediakan 3 warna primer (biru, kuning  dan merah)

Lalu, bagaimana cara membuatnya? 
  1. Masukkan garam ke dalam mangkuk atau baskom.
  2. Tuangkan air hangat lalu aduk oleh sendok/spatula hingga larut
  3. Pilih warna yang diinginkan. Tuangkan beberapa tetes pewarna makanan. Aduk kembali.
  4. Tuangkan satu sendok minyak goreng. Aduk rata.
  5. Kemudian masukkan tepung terigu. Aduk dengan sendok/spatula kemudian lanjut aduk dan ratakan dengan tangan. Jika dirasa masih terlalu lengket boleh ditambahkan terigu lagi sedikit demi sedikit. 
Cara di atas paraktis untuk membuat satu jenis warna playdough. Nah, kemarin aku dan anak-anak merencanakan membuat playdough untuk 7 warna pelangi. 

Jadi, agar lebih mudah, dari lima langkah cara di atas, kami skip dulu langkah nomor tiga. Jangan dulu dikasih pewarna makanan. Jadi nanti kita akan mendapatkan playdough berwarna putih (putih terigu).

Selanjutnya, playdough putih yang sudah jadi, kita bagi menjadi 7 bagian. Nah, setelah itu barulah satu persatu kita beri pewarna makanan. Untuk tahap ini, bunda bisa bantu anak-anak untuk menuntaskannya ya karena lumayan butuh waktu dan energi. hehe ...

Agar playdough tahan lama tidak sekali pakai. Setelah selesai bermain bisa disimpan di wadah tertutup lalu masukkan ke dalam lemari es.

Gampang sekali, bukan?


Jangan takut kotor-kotoran, ya

Qia juga ikutan nih pilih warna hijau

Bermain dan membuat sendiri playdough bersama-sama anak di rumah banyak manfaatnya loh. Pengalaman aktif dan kreatif dengan bahan-bahan, seperti playdough, menawarkan kepada anak-anak banyak kesempatan belajar yang berharga. Ya, di antaranya:

  • Anak yang sudah cukup besar mulai bisa belajar tentang prosedur.
  • Mengenal ukuran dan takaran
  • Melatih fungsi motorik halus anak. Anak bermain dengan tekstur (Lembek, lembut, lengket, kenyal, dan keras). Saat menguleni adonan, anak-anak juga berlatih menguatkan jari-jarinya. 
  • Belajar tentang warna. Mengenali warna primer dan praktek membuat warna campuran. Ada koordinasi mata dan tangan.
  • Belajar beragam bentuk.
  • Mengembangkan daya imajinasi. Anak mempunyai kesempatan untuk mengeksplorasi dan bereksperimen membuat karya  berbeda-beda dari bahan playdough.
  • Melatih kemampuan berbahasa dan berkomunikasi.

Ini dia playdough 7 warna yang sudah jadi





Yuk, coba bikin di rumah dan selamat bersenang-senang bermain playdough!

Semoga bermanfaat ya.