pixabay.com

Terpuruk? Kecewa? Pernahkah? Rasanya setiap manusia pernah diberi ujian dan tantangan dalam setiap episode hidupnya. Yang menjadi perhatian kadang bukan seberapa besar ujian dan tantangannya namun seberapa besar dan kuat kita bisa menghadapi dan menyiasatinya. 

Qadarullah, beberapa waktu ke belakang saya sempat merasa dirugikan terkait karya yang hendak saya lahirkan. Sebuah karya pribadi, yang bisa ditempatkan layaknya seorang anak hingga kelahirannya pun tentu sangat diperjuangkan dan diidamkan.

Singkatnya, karya saya pun lahir dalam bentuk buku solo yang sudah berada di tangan. Namun, cerita dibalik kelahirannya sedikit menyesakkan. Sehingga saya tidak begitu antusias lagi terhadapnya pun mengiklankannya. Malah, lebih parah lagi sempat saya terpikir untuk berhenti saja menulis karenanya. 

Jika harus terus dibawa perasaan dan dirundungkan, rasanya hanya akan terus menjadi beban. Hingga saya berpikir perasaan tidak baik ini harus segera saya lepaskan. Lalu bagaimana caranya?

Memandang kembali puluhan buku sendiri, hmm hati kecil ini berkata, mereka tak bersalah. Sesungguhnya mereka begitu berharga karena saya menulisnya dengan penuh cinta bukan asal-asalan. Keberadaannya tidak boleh sia-sia. Tidak mau lama lebih terpuruk, maka saya putuskan dengan buku ini juga saya harus terobati. Oke, sepertinya (baru rencana) saya putuskan akan mendedikasikan puluhan buku ini untuk donasi, sebagai sumbangan bahan literasi untuk anak-anak negeri.

Namun, sempat ada bisikan-bisikan tak baik yang menghampiri, “Yakin mau berbagi? Bukannya kamu lagi dapet rugi. Apa gak tambah rugi?”

Oalah godaan siapa ini. Hingga sebelum akhirnya memutuskan dengan mantap, saya buka kembali catatan-catatan saya di gawai dan tiba-tiba saya buka app notes, tercantum di sana tentang blog competion yang bertema “JANGAN TAKUT BERBAGI” yang diadakan dompetdhuafa.org .

Sontak saja saya langsung tergerak kembali, rasanya langsung ada yang menepis bisikan-bisikan syaitan tadi. "Yuk! Jangan takut berbagi". Ditambah lagi tagline yang tercantum di sana semakin meyakinkan hati ini, 

“Pernahkah ragu, khawatir, atau takut ketika akan berbagi untuk orang lain? atau pernah berpikir, bagaimana jika apa yang kita miliki malah habis atau hilang saat kita berbagi?
Tapi yakinlah, bahwa kita tidak akan terjatuh dan bersedih karena berbagi. Karena hal kecil yang kita bagikan bisa jadi suatu yang sangat berarti dan membahagiakan bagi orang lain. (dompetdhuafa.org)”
Bismillah. Akhirnya dengan mantap saya putuskan. Dengan buku ini, saya akan berbagi.

Alhamdulillah, saya pun akhirnya berkesempatan mengunjungi sebuah panti asuhan anak di daerah Pameungpeuk. Di sinilah tempat pertama saya membagikan buku. Tidak diduga sebelumnya, betapa menyenangkannya bisa berbagi karya sendiri, rasa bahagia membuncah ketika disambut senyum dan binar mata teman-teman cilik di sana. Mereka antusias mengacungkan tangan ingin mendapatkan bukunya.

Bersama teman-teman cilik di Panti Asuhan Anak Amanat Umat


Lalu bagaimana perasaan ini? Benar saja, dengan berbagi saya bahagia. Kekecewaan sebelumnya pun terobati. Ya, rupanya berbagi adalah salah satu obat hati atau bisa juga disebut obat galau yang paling mujarab. Karena saya rasakan manfaat berbagi bukan hanya menyenangkan orang lain namun menyenangkan juga diri sendiri.

“Manfaat pertama yang bisa dirasakan dari bersedekah adalah bagi si pemberi sedekah itu sendiri, yaitu dengan melihat perubahan dalam diri dan sikapnya, dengan menemukan kedamaian, serta dengan melihat senyum bahagia orang lain”
( 'Aidh Al-Qarni )

Begitu pun saya membagikan pengalaman ini, semoga ada hikmah yang bisa diambil. Jika sedang tidak enak hati atau sedang dilanda kegalauan, mungkin itu alarm bahwa sudah waktunya kita harus berbagi. 

Oleh karena itu, Yuk! Jangan takut berbagi! karena berbagi bisa melahirkan ketenangan hati. Yakinlah dengan berbagi pun harta kita sejatinya tidak akan berkurang malah bertambah meskipun dalam bentuk lain, seperti bertambahnya kebahagiaan atau digantinya dengan anugerah kesehatan. 

Cara Lain Berbagi 
Cara yang paling utama memang berbagi kebaikan dengan orang terdekat atau kerabat. Namun, bagaimana jika kita ingin berbagi dengan jangkauan lebih luas? Ingin memberikan kebahagiaan pada lebih banyak orang? 

Di zaman teknologi digital seperti sekarang ini, segalanya dibuat lebih mudah. Dalam hal ini,  www.dompetdhuafa.org pun memberi solusi untuk kita bisa lebih mudah berdonasi dengan hanya klik di donasi.dompetdhuafa.org. Semua prosesnya mudah dan cepat. Di sini pun ada pilihannya,  Apakah kita ingin berbagi dalam bentuk zakat, infaq/sedekah, wakaf, atau untuk kemanuasiaan. Masing-masing pilihan tersebut pun bisa kita khususkan lagi, seperti contoh di bawah ini.

Sumber dari www.dompetdhuafa.org

Mari #Jangan Takut Berbagi. Sebagaimana Allah berfirman yang artinya: “Perumpamaan orang-orang yang mendermakan (sedekah) harta bendanya di jalan Allah, seperti orang yang menanam sebutir biji yang menumbuhkan tujuh untai dan tiap-tiap untai terdapat seratus biji dan Allah melipat gandakan (balasan) kepada orang yang dikehendaki, dan Allah Maha Luas (anugerah-Nya) lagi Maha Mengetahui“. (QS. Al-Baqoroh: 261)

“Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Jangan Takut Berbagi yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa”


Salam,

Mira Humaira















fotolia.com

Cerita oleh Mira Humaira

Namanya Pily dan Eipy. Mereka bersahabat sejak kecil. Keduanya cantik sekali. Mereka adalah bunga istimewa. Satu berwarna putih bersih, satu lagi berwarna merah cerah.

Pily dan Eipy menghabiskan sepanjang waktunya di sebuah ladang milik Pak Bhadra. Di sana,  mereka bermain, berdendang, dan menikmati alam di setiap malam. Ya, selalu malam karena mereka hanya bisa terbangun ketika langit berubah hitam. Siang hari adalah waktu mereka terpejam. Oleh karena itu, orang-orang menyebut mereka sebagai putri-putri malam.

Pily dan Eipy saling menyayangi. Mereka bilang, mereka tak akan terpisahkan. Sampai kapan pun, Pily dan Eipy akan bermain bersama di ladang. Hingga pada suatu hari, di sore musim semi, Pak Bhadra membawa salah satu dari mereka pergi ke kota. Tentu Pily dan Eipy tidak menyadarinya karena mereka masih tertidur pulas.
***
Saat malam hari tiba.
"Uaaaah…," Pily menggeliat. Ia mengucek kedua matanya. Memasang telinganya lebar-lebar. Seketika Pily pun terperanjat, "Oh tidak, kenapa sepi sekali?” Tidak terdengar ramainya suara anak-anak bunga Wijaya Kusuma bertingkah-tingkah seperti biasanya.

Pily memandang sekitar. Ia tercengung. Bukan tempat biasanya. Semuanya berubah. 
“Dimana aku? Oh, Eipy. Dimana dia? Eipy…! teriak Pily panik. Matanya berkaca-kaca. Ia ketakutan. Pily kemudian menunduk. Ia menahan tangisannya agar tidak terdengar bising.

“Halo, apa kau baik-baik saja?” 
“Hai, hai Bunga putih, kau tidak mendengarku?”

Pily tersentak. Teriakan nyaring memekakkan telinganya.
“Hei, jangan menggangguku… tolong pergi!” seru Pily panik. Ia berusaha mengusir makhluk kecil itu dengan kedua tangannya.

“Oh, tenang saja, wahai Bunga putih! Aku tidak akan mengganggumu.” 
Rupanya seekor kunang-kunang dengan kerlip cahaya hijau yang sedang menyapa Pily.

“Aku Photinus. Kamu bisa panggil aku Photy. Kau siapa?”

“Pily. Namaku Pily.”

“Eh, kau menangis?”

“Aku tidak tahu kenapa aku di sini. Rumahku bukan di sini…,” ucap Pily sambil terisak-isak.

“Mungkin kau memang sudah tinggal di sini sekarang. Lihat, kau berdiri di pot yang indah. Pasti pemilikmu yang baru memberikannya khusus untukmu,” tutur Photy. “Kau terlihat bagus dengan pot itu, Pily!” tambah Photy mencoba menghibur.

Pily tidak mempedulikannya. Ia kembali diam. Kali ini, Pily menatap ke atas langit malam. Tapi tak lama kemudian, ia menangis lagi. Lebih kencang.

“Hiks… ini pesta bulan purnama dan aku di sini sendirian. Aku sedih. Aku ingin bertemu Eipy dan teman lainnya. Aku ingin pulaang ...!”

“Kau benar, Pily. Sekarang waktunya pesta bulan purnama. Jadi, kau tak pantas menangis. Hmm, coba lihat ke sana, Pily. Lihat!” Photy bersemangat menunjuk jauh ke arah bukit.

Saat itu juga mata Pily berbinar. Bibirnya tersenyum kecil. Ia menyeka air matanya. Menikmati pemandangan bagus di depan matanya.

“Indah sekali, Photy. Apa itu?”

“Mereka keluarga dan teman-temanku,” jawab Photy bangga. “Cantik, bukan? Kami sedang berkumpul dan cahaya kami bersinar serempak di malam ini.”

Pily masih meneteskan air mata, tapi kali ini ia menangis haru melihat keajaiban makhluk-makhluk kecil dengan cahaya yang dibawanya. Pily takjub melihat formasi cahaya yang tampak seperti gelombang aurora. Pily belum pernah menyaksikan ini sebelumnya. Dalam benaknya, Pily berharap bisa menonton kembali pertunjukan cahaya ini bersama Eipy.
***
Sejak saat itu lah, Pily selalu ditemani oleh Pothy. Di setiap malam, mereka tertawa dan bercerita satu sama lain. Pily pun lupa kesedihannya. Ia tidak merasa sendiri lagi. Pily sudah punya teman baru.
Namun tidak diduga, suatu malam, Pily dibuatnya sedih kembali.

“Maafkan aku, Pily. Waktunya kami harus tinggal menetap di bukit sana,” ucap Photy sambil berpamitan.

Pily mengangguk sedih. Namun bagaimana pun, ia tidak bisa menghalanginya. Pily peduli keselamatan temannya. Jika berkeliaran di dekat kota, Photy bisa terancam karena banyak manusia yang memburunya.

“Kamu janji ya, Pily. Jangan terlalu lama bersedih. Lihatlah sekitar! Kamu pasti akan punya teman baru lagi,” ucap Photy sambil pergi terbang dengan kerlip cahaya yang semakin lama tampak semakin meredup.

Tentu saja Pily tidak tahan menahan tangisnya. Ia sangat sedih. Tidak ada lagi teman bermain di malam hari. Tidak ada Eipy, juga tidak ada Photy. Namun Pily ingat janjinya pada Photy. Ia tidak akan terlarut lama dalam kesedihannya. Pily berusaha untuk tetap tersenyum dan mulai memandangi sekitarnya. 

Hingga pada suatu malam, tiba-tiba seorang gadis berambut coklat memindahkannya. Gadis itu menempatkan Pily di dekatnya. Mulanya, Pily tidak merasa nyaman. Namun malam berganti malam, setiap kali Pily membuka mata, ia melihat gadis  berambut coklat itu tersenyum padanya, menyapanya. Seolah mereka bisa berbicara satu sama lain.

Semakin lama, Pily merasa senang berada di dekatnya. Gadis berambut coklat itu baik dan menyenangkan. Walaupun Pily masih penasaran, mengapa gadis kecil itu terjaga di sepanjang malam? Bagaimana bisa… ayah atau ibunya tidak melarangnya keluar di tengah malam?

Tapi yang penting bagi Pily, ia sekarang tidak bersedih lagi. Seperti yang pernah dikatakan Photy, akhirnya ia punya teman baru lagi. Yaitu, gadis berambut coklat, yang setiap malam memegang pensil dan sebuah buku gambar, menemaninya.

Pily sadar tidak boleh terus bersedih karena mengingat teman-teman yang jauh. Ia bersyukur dengan keadaanya sekarang. Dengan itu, ia bisa merasa lebih baik dan senang. Pily juga percaya bahwa jika ia senantiasa bersyukur, ia akan dapat keajaiban.
***
Satu malam, gadis berambut coklat menyapa Pily dengan riang.

“Hai, Bunga Putih. Terima kasih selalu menemaniku menggambar di setiap malam. Aku senang kau jadi temanku. Imbalannya, aku akan memberimu hadiah,” tutur gadis kecil itu.

“Taraaa… ini dia! Aku membawakanmu teman baru agar kau tak sedih jika aku tak ada lagi di sampingmu,” 

Sebuah pot cantik berwarna kuning emas diletakkan di samping Pily. Tanaman cantik berdiri di atasnya. Pily menatapnya. Lalu tiba-tiba ia menjerit, 
“Eipy…!” 
“Pily…!”

berkat gadis itu, mereka pun akhirnya bertemu. Pily dan Eipy berpelukan, menangis, dan akhirnya tertawa bersama. Pily mendapatkan keajaibannya.
***
Baca cerita lainnya: Poppy juga Bisa!

Seandainya bisa berbicara pada gadis berambut coklat itu, Pily ingin menyampaikan rasa terima kasih dan mencium pipinya. Namun, rupanya sudah beberapa malam Pily tidak lagi melihatnya. 

“Kemana dia, ya, Py?” Pily penasaran bertanya.

“Maksudmu, gadis berambut coklat yang baik hati itu?” tanya Eipy meyakinkan.

“Tentu saja, siapa lagi”

“Gadis itu bernama Andrea. Mungkin ia memang tidak akan kembali, Pily. Kamu jangan sedih, ya!” 

Pily heran mendengar jawaban kawannya. “Maksud kamu, Py?”

“Aku mendengar ceritanya dari Pak Bhadra,” kata Eipy. “Andrea sakit. Ia harus tinggal di rumah sakit”

“Sakit? Hmm, pasti karena ia sering keluar malam,” Pily menduga.

“Andrea memang hanya bisa keluar di malam hari, Pily. Seperti kita, ia baru bisa bermain bebas saat malam mulai tiba,” jelas Eipy.

“Dia kan manusia. Bukankah Andrea bisa keluar di siang hari kapan pun ia mau”

“Tidak bisa, Pily. Ia tidak bisa terkena sinar matahari. Itu akan membuatnya sakit” 

“Andrea tidak terlihat seperti orang sakit. Ia selalu ceria,” Pily memastikan.

“Andrea itu gadis baik. Ia tidak banyak mengeluh dan selalu bersyukur. Makanya Andrea selalu terlihat senang,” jelas Eipy. “Aku mendengar itu dari papanya saat ia berkunjung ke ladang kita,” tambahnya lagi.  “Oh, ya, kau tau, Pily. Papanya memanggil Andrea juga dengan nama Putri Malam, seperti kita, hihi…”

Tak terasa Pily meneteskan air mata. Tiba-tiba ia teringat kebersamaannya dengan Andrea selama ini. Pily berdoa semoga ada keajaiban datang untuk Andrea.

“Jangan menangis lagi, Pily. Eh, lihat itu, ada banyak cahaya berkilauan di sana,” Eipy mengarahkan tangannya ke sebuah bukit.

Pily mengangkat wajahnya. Seketika ia tersenyum. Ia kembali terharu. Pily yakin itu adalah Photy bersama keluarga dan teman-temannya. 

Harapan Pily pun kembali terwujud. Malam itu, Pily dan Eipy, dua bunga Wijaya Kusuma, yang sedang merekah dan mewangi, bersama-sama menyaksikan pertunjukan cahaya kunang-kunang yang indah. Kali ini, dalam benaknya, Pily berharap kembali di suatu malam nanti ia akan menontonnya bersama Andrea.
***
Fajar pun tiba, Pily dan Eipy bersiap-siap untuk istirahat. Mereka akan tertidur seharian dan kembali terbangun di tengah malam.

-Selesai-

Catatan penulis:
  • Nama Pily dan Eipy diambil dari nama ilmiah bunga Wijaya kusuma. Yaitu, Epiphyllum anguliger. 
  • Bunga Wijaya Kusuma merupakan salah satu bunga istimewa karena hanya merekah saat malam hari. Oleh karena itu, bunga ini dijuluki sebagai Princess of the Night atau Queen of the Night. Saat mekar, bunga Wijaya Kusuma akan mengeluarkan bau wangi.
  • Photy diambil dari nama ilmiah kunang-kunang jenis Photinus. Spesies Photinus carolinus adalah jenis kunang-kunang yang bisa mengeluarkan cahaya serempak. Keberadaannya sekarang terancam punah.
  • Andrea, terinspirasi dari nama seorang gadis yang mengidap penyakit Xp atau xeroderma pigmentosum, yakni penyakit cacat herediter yang menyebabkan tubuhnya tak mampu memperbaiki kerusakan akibat sinar ultraviolet dari matahari. Ia tidak bisa bermain keluar saat siang hari demi menjaganya dari sinar matahari. Andrea divonis mengidap penyakit ini sejak umurnya 5 tahun.

Baca juga cerita lainnya: 












Cerita oleh Mira Humaira

“Ini kue yang sungguh lezat, Ponty!” ucap Ayah.
“Kau sudah berusaha dengan baik, Sayang. Kue ini sangat enak!” kata Ibu.

Mereka memuji Kak Ponty malam itu. Kak Ponty memang selalu bisa melakukan banyak hal. Ia pandai membersihkan dan menata kamar, mengerjakan tugas sekolah, bahkan memasak dan membuat kue. Kak Ponty juga memiliki sayap yang lebih lebar dan berwarna. Ia terlihat sangat cantik.

Sedangkan aku, aku kecil dan tidak lebih berwarna. Walaupun Ibu selalu bilang sambil tersenyum bahwa aku ‘hanya’ masih kecil. Tapi aku juga ingin segera seperti Kak Ponty. Melakukan banyak hal dengan pandai. Nanti, ayah dan ibu akan memuji dan bangga padaku. Itu pasti akan membuatku senang!

Hmm… baiklah, aku harus buktikan bahwa aku juga bisa membuat kamarku terlihat indah seperti kamar Kak Ponty. Aku akan melakukannya sendiri. Lihat saja nanti pasti mereka terkejut melihat hasilnya.

Hal pertama yang akan kulakukan adalah memasang lampu hias di dinding tepat di atas tempat tidurku. Baiklah, aku akan memulainya.
Tidak lama kemudian.
“Aaawh! Aduh…!”

Oh tidak, aku berteriak terlalu kencang. Ibu dan Kak Ponty pasti akan segera datang.

“Kenapa, Poppy?” Ibu panik bertanya padaku.
Aku menunjuk pada jalinan kabel lampu di sampingku.

“Kamu kesetrum, Poppy. Apa yang kau lakukan dengan lampu-lampu ini?” tanya Kak Ponty sambil membereskannya.

“Aku ingin membuat hiasan lampu seperti di kamarmu, Kak!”

“Kau bisa minta bantuanku, Poppy!” jawab Kak Ponty dengan tulus.

Aku mengangguk pasrah. Aku malu. Tadinya aku ingin menunjukkan kalau aku mampu melakukannya sendiri.
***
Keesokan hari. Aku ingin mencoba membuat kue nektar sendiri. Kue nektar adalah kue  favorit keluarga kupu-kupu. Kalau aku bisa membuatnya sendiri, itu akan membanggakan sekali, bukan? Baiklah, aku akan bersiap-siap.

Namun, tidak lama kemudian.
Brak! Byuuur! Trang… treng!

Oh tidak, baru saja aku akan memulainya.
Semua bahan kue nektar tumpah mengenai tubuh dan sayapku. Semuanya berantakan. Aku mengacaukan lagi semuanya.

“Apa kau baik-baik saja, Poppy?” Ibu segera menghampiriku.

Aku tak bisa menahan tangis. “Maafkan aku, Ibu”

“Poppy mau kue nektar, ya? Nanti Ibu bantu buatkan, ya!” kata Ibu sambil membersihkan tubuhku dari madu nektar yang lengket.

Lagi-lagi aku tidak bisa menunjukkan bahwa aku mampu melakukannya sendiri.
***
Hari sudah kembali berganti. Walaupun hari-hari kemarin begitu memalukan bagiku, namun aku tetap ingin bersemangat hari ini. Apalagi aroma sup bunga daisy bikinan ibu sudah menyebar ke rongga hidungku. Sungguh menggugah selera!

Di tengah suasana yang hangat, dengan lantang aku meminta sesuatu kepada Ayah. “Yah, bisa aku minta tugas sekolah?”
Seketika mereka tersenyum geli. Aku bingung. Apa yang salah dengan permintaanku.

“Tugas? Hmm, kau sudah tak sabar ingin segera bersekolah, Poppy?” Ayah malah balik bertanya sambil tersenyum. Aku bingung.

Oh tidak, pasti gagal lagi. Tadinya aku ingin terlihat keren di depan Ibu dan Ayah  kalau aku juga pandai dan bisa menyelesaikan tugas sekolah seperti Kak Ponty.
***
Setelah kejadian itu, aku merasa malu tidak bisa melakukan banyak hal sendiri. Di saat aku murung seperti ini, tiba-tiba Ibu menghampiri dan membelaiku. 
“Apa kau baik-baik saja, Poppy. Kau sedang melamun?”

Aku tidak bisa menyembunyikan apa pun dari ibu. Aku pun bercerita tentang keinginanku. Aku ingin bisa melakukan semua yang bisa dikerjakan Kak Ponty. 

“Kak Ponty kan keren, bisa melakukan semuanya dengan baik”

Tiba-tiba ibu memandangku, ia tersenyum. “Selama ini, bukankah Poppy juga melakukan semuanya dengan baik?”

Aku kembali memandang ibu, “Tapi Poppy tidak bisa menghias kamar sendiri seperti Kak Ponty”

“Bukankah Poppy sudah bisa membereskan tempat tidur sendiri? Poppy juga selalu membereskan mainan ke tempat semula, dan tidak melempar baju sembarangan di kamar. Poppy hebat, loh, melakukannya semua dengan baik. Kamar Poppy selalu bersih,” jelas Ibu. 

Entah kenapa aku jadi kembali bersemangat mendengarkannya.

“Ada beberapa hal yang mungkin belum bisa Poppy kerjakan sendiri, Poppy boleh minta bantuan orang lain, kok. Itu bukan berarti Poppy tidak keren. Nanti kalau Poppy sudah besar dan sudah tahu bagaimana caranya, Poppy pasti bisa memasang hiasan lampu sendiri,” tambah Ibu.

“Benarkah, Bu?
Aku senang. Kata Ibu, aku juga bisa melakukan semua dengan baik. 

Kemudian Ibu mengajakku ke dapur untuk membuat kue nektar bersama. Ibu bilang, sekarang aku hanya perlu melihat dan membantunya. Aku pun langsung membantu menyiapkan peralatannya, menyimpan sendok dan wadah kotor ke tempat cucian, membawakan lap, dan ikut mengaduk adonan nektar bersama ibu.

Sekarang aku mengerti apa kata Ibu. Apa yang bisa aku lakukan sekarang, maka lakukanlah dengan baik. Ya, aku bisa merapikan kamarku dengan baik, membantu ibu membuat kue nektar dengan senang hati, dan aku juga senang membaca buku bergambar dengan tekun seperti Kak Ponty kalau mengerjakan tugas sekolahnya. Ya, ayah dan ibu bilang, aku juga bisa melakukan semuanya dengan baik.

Baca juga cerita anak lainnya:









       





www.pexels.com

Cerita oleh Mira Humaira

Namanya Ola. Seekor anak koala yang aktif dan lincah. Ia senang bermain, melompat-lompat di pepohonan, bahkan sedang berjalan pun dia biasa sambil berjingkrak-jingkrak. Gak bisa diem!

Ola memang periang tapi juga cerewet. Saat bicara ia kadang seenaknya. Ola sering mengejek yang lain sambil tertawa terbahak-bahak.Tidak jarang, ia membuat teman-temannya tak nyaman. 

Pada suatu hari, Ola sedang berjalan menyusuri hutan buah. Ia baru saja pulang dari rumah Paman Koko. Di tengah perjalanan, Ola bertemu dengan Mon-mon, seekor monyet dengan ekor yang panjang. Mon-Mon tampak menggantung dan meloncat dari dahan pohon satu ke yang lainnya, seperti sedang atraksi. Mon-mon memang dikenal seekor monyet yang terampil.

Namun, tiba-tiba...
Krek! Brug! Bam! 
Terdengar suara patahan dahan pohon.

Ola yang sedang memperhatikannya langsung menghampiri. Alih-alih membantu Ola malah menertawakannya.

“Hahaha… katanya paling terampil dan keren di hutan ini, lah kamu bisa teledor dan jatuh juga, Mon? Hahaha… payah!”

Mon-mon tampak kesal tapi ia tidak punya waktu meladeni Ola. Saat itu Mon-mon sedang terburu-buru. Mon-mon segera membereskan buah-buah yang terserak dan memasukkan kembali ke kain buntelannya. Mon-mon pun memutuskan untuk berjalan saja, tidak lagi menggelantung lewat pepohonan, khawatir barang bawaannya jatuh dan berantakan lagi.

Untuk sampai ke rumahnya, Ola juga harus menyebrangi sungai. Sekalian beristirahat, ia duduk-duduk di bebatuan pinggir sungai. Setelah meneguk air minum dari tumblr-nya, Ola melihat beberapa ikan yang muncul ke permukaan air. Mereka terlihat kewalahan. Mulut ikan-ikan itu terbuka dan tertutup dengan cepat.

Lalu tiba-tiba saja Ola berkata, “Hai ikan-ikan...kalian aneh. Tempat kalian di air, tapi untuk berenang saja kalian seperti kesulitan. Aku perhatikan kalian tidak menyelam ke dalam sungai. Haha kalian payah!” seru Ola mengejek lagi. Ia langsung berdiri kemudian melanjutkan kembali perjalanannya.

Frogy, seekor katak hijau bermulut merah, geleng-geleng kepala melihat kelakuan Ola. “Hmm… Andai kamu tahu, Ola!” gumam Frogy.

Lalala...lalala…
Dubidam..dam...dam..
Dubidubidaaam…
Aku Ola, si koala periang
Siapa pun pasti senang
Dengan koala periang.

Ola menikmati hari yang sudah mulai sore dengan bernyanyi-nyanyi sambil menggerak-gerakkan tangannya. Sampai akhirnya ia menyudahinya karena mendengar suara burung-burung yang saling bersahutan, sedikit berisik. Dilihatnya Raka, seekor anak burung rangkong yang terbang tidak jauh darinya. 

“Hai, Raka, kalian berisik sekali,” teriak Ola dari bawah pohon ketapang.

“Maaf, aku sedang panik!” seru Raka. Ia tempak terbang tak tentu arah. Matanya tidak fokus. Bahkan kepakan sayapnya pun tak beraturan.

“Kamu seperti ketakutan, kamu kan burung rangkong yang terkenal gagah. Sekarang, kamu terlihat payah!” lagi-lagi Ola berbicara seenaknya.

Boom!!!
Tiba-tiba terdengar suara menggelegar. 
Hah, itu petir? kata Ola dalam hati, Oh tidak, … atau suara senapan, ia bertanya-tanya.

Ola yang mulai merasakan ketakutan saat itu mendongak ke atas melihat Raka yang sudah terbang menjauh diikuti kawanan burung rangkong lainnya.

“Oh tidak. Pemburu!” Ola berteriak, tanpa berpikir lama ia langsung berlari ketakutan.
Ola memanjat pohon, menggelantung, berlari lagi, melompat dengan sigap. Ia berusaha tidak bertemu dengan satu dua atau banyak manusia yang menyeramkan. Tapi akhirnya,
Bug!
Ola terjatuh, tubuhnya menggelinding.
Brak!
Kepala Ola terbentur patahan batang kayu yang keras.
***

“Papa…!”
Ola tersadar. Ia langsung mencari Papa. namun, tangan Mama yang menggapainya. Satu tangan membelai kepala Ola, satunya memberi tanda untuk menutup mulut.

Mata Ola terbelalak. Ia sadar saat itu suasana sedang mencekam.
“Kita harus segera pergi dari sini, Ola!”
“Keni, kau harus bersiap juga,” perintah Mama pada kakak Ola.
“Papa?”
Mama hanya menggelengkan kepala dan menahan sesak. “Tidak ada waktu untuk menangis sekarang, Ola. kita pergi!”

Ola tidak percaya. Ia ingin berteriak, “Papa!". Namun, Ola hanya bisa memanggil Papa pelan dengan suara lirih. Ola menahan air matanya saat berlari bersama Mama dan Keni.

Suasana semakin membingungkan saat ia melihat teman-teman binatang lainnya pun sedang berlarian. Ada yang jatuh, terjerembab, menabrak pepohonan, terguling, dan tertinggal dari keluarganya sendiri. 

Ola meringis. Kali ini ia tidak bisa tertawa. Tidak ada kesempatan untuk mengejek. Ola pun kini semakin ketakutan. 

Frogy melihat Ola dari kejauhan.
“Andai kamu tau, Ola”
Saat kau bertemu Mon-mon. Ia sedang panik karena adiknya sakit dan tidak bisa mendapatkan makanan karena hutan tempat tinggalnya habis terbakar oleh para-para penguasa. Mon-mon terburu-buru mencari dan membawa makanan untuk adiknya agar bisa bertahan hidup.

“Andai kamu tau, Ola”
Ikan-ikan yang kau temui kemarin. Mereka sedang mempertahankan nafas hidupnya. Mereka sedang sekarat kehabisan oksigen karena air sungai hampir sepenuhnya tercemari limbah yang dibuang manusia tanpa merasa berdosa.

“Andai kamu tau, Ola”
Tadi Raka sedang ketakutan karena ayahnya baru saja kehilangan paruh tanduk istimewanya gara-gara manusia-manusia serakah yang melakukannya demi uang. Mereka membuat keluarga Buceros menderita. Mereka akan terus mengejar. Sungguh, semua itu sangat menakutkan.

***

We need, in a special way, to work twice as hard to help people understand that the animals are fellow creatures, that we must protect them and love them as we love ourselves.
-Cesar Chavez-



www.pexels.com

Cerita oleh Mira Humaira

“Cici… tolong antarkan sup wortel ini ke rumah paman sebelah, ya!” seru Mama dari dapur.

Aku menghampiri Mama sambil menghirup aroma lezat wortel dari sebuah panci. Mama menyodorkan sebuah mangkuk bertutup kaca bening. Terlihat tetes-tetes uap dari atas. Sup wortel buatan Mama memang menggoda.

Tok tok tok…
“Permisi…!”
“Permisi, Paman!”
Aku mengetuk pintu barkali-kali. Kemudian terlihat kepala beruang menyembul dari balik pintu.

“Selamat pagi, Paman Beruang. Ini sup dari Mama,” Aku menyerahkan mangkuk sup sambil tersenyum.

Bruk!
Pintu kayu itu tertutup begitu saja sesaat setelah paman itu mengambil mangkuk dari tanganku.

Beruang aneh!
Aku menggerutu dalam hati. Aku pun langsung kembali dan saat itu Mama sudah tidak ada di rumah. Mama pasti sudah berangkat ke pasar.

Ding… dong… ding… dong!
Suara bel berbunyi.
Mama sudah pulang?
Aku segera membuka pintu.

Ups, ternyata paman beruang hitam yang berdiri tegak di balik pintu. Badannya besar sekali. Aku harus mendongak ke atas untuk melihat wajahnya. Tubuhnya juga tinggi, bahkan saat telingaku berdiri pun, tidak sampai setinggi dadanya.

“Ini!” Paman beruang itu menyodorkan mangkuk tadi.
“Hah?!” Aku tidak mengerti. Ia mengembalikannya dengan mangkuk yang masih terisi penuh.
“Aku tidak suka sup manis!” kata Paman beruang dengan lantang. Ia langsung berbalik badan dan pergi begitu saja.

Beruang aneh!
Aku menggelengkan kepala sambil menatap Paman beruang itu pergi.

Mama pulang.
“Ma, Paman sebelah itu mengembalikan supnya. Katanya ia tidak suka sup manis,” laporku pada Mama.

“Manis?” tanya Mama sedikit kaget.
Aku menggelengkan kepala tanda tak tahu.

Esok hari.
“Cici… Sup untuk paman sebelah sudah Mama siapkan, ya. Mama pergi dulu ke pasar. Jangan lupa antarkan, ya!” teriak Mama terburu-buru.

“Siap, Mamaaaa!”
Aku ambil mangkuk yang sudah disiapkan Mama, yang sama seperti kemarin. Tapi kali ini isinya sup jagung ayam. Aku bisa membayangkan lezat dan gurihnya sup ini.

Dan… Kejadian yang sama. Paman beruang itu menutup pintunya tanpa berkata-kata setelah mengambil supnya.

Ding… dong… ding... dong...!
Mama?

Oh, tidak. Paman beruang lagi.

“Aku tidak suka sup manis!”
Lagi-lagi, paman beruang itu datang mengembalikan mangkuk sup yang masih terlihat utuh.

Kali ini aku penasaran. Aku mengambil sendok dan menyuapkan sup jagung ayam ke mulutku.

Beruang aneh!
Aku sudah biasa menyantap sup jagung ayam buatan Mama. Kali ini pun rasanya sama. Asin dan gurih. Manis dari mana?!

Esok hari lagi.
“Cici, itu supnya…,” ucap Mama sambil menutup pintu rumah.

“Ya… ya… ya,” Aku langsung menuju dapur mengambil mangkuk itu.

Dan… untuk ketiga kalinya. Kejadiannya terulang seperti hari-hari kemarin. Paman itu memencet bel, memasang muka dingin, menyodorkan mangkuk, dan bilang, “aku tidak suka sup manis!”

Aku penasaran sup apa yang dimasak Mama hari ini untuknya.
“Hmm, ini sup iga!” sesaat aku tergoda dengan wangi bawang yang menyeruak dari dalam mangkuk. Tanpa menyicipnya, aku tahu pasti kalau sup ini tidak mungkin manis.

Beruang aneh!

Hari keempat.
Mama menyiapkan lagi sup untuk paman sebelah yang sampai sekarang kami tidak tahu namanya.
Kali ini, Mama membuat lagi sup wortel keju. Sup wortel keju adalah masakan favorit kami, keluarga kelinci. Jadi, aku tahu pasti rasa sup itu asin bukan manis.

Aku tidak bosan untuk melempar senyum dari balik pintu paman beruang saat memberikan semangkuk sup untuknya. Walaupun biasanya ia akan selalu membanting pintu.

Tapi ada yang aneh hari ini. Paman beruang itu menutup pintu dengan pelan. Ajaibnya lagi, ia bisa bilang, “Terima kasih, Cici!”. Kejutan, ia juga tahu namaku.

Diam-diam aku juga penasaran dengan paman beruang itu. Tanpa ragu, aku memata-matai dari balik jendela samping.
Oh itu dia.
Aku bisa melihatnya sedang menyimpan mangkuk di atas meja. Mukanya berseri-seri. Paman beruang tampak senang  dan bersemangat ingin menyantap supnya.

Aku terus memperhatikannya. Aku lihat paman beruang mencari sesuatu. Ya, dia mencari sendok. Tapi, ups, aku melihat sendok itu ia raih dari toples madu. Sendoknya masih berlumur madu yang lengket. Ia langsung memasukkannya ke dalam mangkuk, mengambil kuahnya, dan hap! ia menyuapkan ke dalam mulutnya.

Oow! Itu dia masalahnya.

Seketika wajah Paman beruang itu tampak bersedih. Ia meninggalkan supnya.

Aku kembali ke rumah dan bersiap-siap membuka pintu kembali. Pasti paman beruang akan segera datang.

Ding… dong… ding… dong!
***

Keesokan harinya (lagi).
Di hari ke lima ini Mama membuat sup kentang keju.
“Cici…”
Sebelum Mama meneruskan kalimatnya, aku sudah tiba di hadapannya.

“Sup untuk paman sebelah? Aku siap mengantarnya!” tuturku bersemangat. “Dan ini juga, kita melupakan ini dari kemarin,” tambahku sambil mengacungkan sendok ke depan Mama.

Mama sepertinya belum mengerti. Aku juga tidak menjelaskannya karena aku harus bergegas mengantarkan sup dan Mama pun akan segera ke pasar.

“Selamat pagi, Paman. Ini supnya!” ucapku sambil menyapa. “Dan ini, ini sendok untuk memakannya, Paman!”

Paman beruang itu tersenyum dan kembali masuk.

Aku mengintipnya. Aku memandanginya lekat. Ternyata wajah paman itu tidak terlihat menyeramkan. Apalagi saat matanya berbinar-binar memandangi sup di depannya. 

Satu... dua... tiga suap sup kentang itu memanjakan lidahnya. Tidak perlu waktu lama, Paman beruang melahapnya singkat. Ia kelihatan puas dan senang.

Aku pun. Aku ikut tersenyum melihat Paman beruang itu akhirnya bisa menikmati sup buatan Mama.

Aku kembali ke rumah dengan lega kali ini. Pasti tidak akan ada lagi yang memencet bel lalu bermuka judes menyerahkan mangkuk sup.

Ding… dong… ding… dong!
Siapa lagi?
Oow! Paman beruang!

“Terima kasih, Cici” Paman beruang itu tersenyum sambil menyerahkan mangkuk kosong.
***

“Cici, apa hari ini paman sebelah masih protes?” tanya Mama sepulang dari pasar
“Tidak. Sup buatan Mama habis dilahapnya,” Aku mengerlingkan mata. Mama pun tersenyum.

Ternyata... masalahnya bukan karena sup Mama yang rasanya aneh atau lidah Paman beruang yang tidak normal. Itu karena Paman beruang hanya punya satu sendok di rumahnya. Sendok itu selalu berada di dalam toples madunya. 

Paman beruang sudah cukup tua. Ia tinggal sendiri setelah pindah ke rumah itu baru-baru kemarin.  Tetangga sebelah bilang, istri yang setia menemaninya baru saja meninggal. Makanya, Mama selalu membuatkan sup untuk Paman beruang karena  tidak ada lagi yang biasa memasakkan makanan untuknya di rumah. 

Sejak aku memberikan sendok itu,  aku mulai suka bermain di rumah Paman beruang untuk menemaninya. Dia bukan beruang yang menakutkan. Paman beruang itu baik. Sekarang, kami berteman baik. Aku suka memanggilnya, Paman Ding Dong! Hihihi

Cerita lainnya: BILA, Bintang Baca Buku

#LatihanMenulis
#30HariBerceritaAnak

















Basa-basi dulu nih!

Hiyaap! 
Postingan cerita anak pertama di tahun baru nih. Jadi ceritanya, mulai menantang kembali diri sendiri untuk bisa latihan menulis cerita anak setiap hari. Untuk idenya, kali ini aku udah tulis sebanyak 30 karakter tokoh dan 30 kata sifat atau kata kerja. Setiap harinya, aku akan mengundi kata-kata tersebut. Mana yang keluar, itu yang akan jadi tema untuk cerita anak pada hari tersebut. Nah, untuk hari pertama ini dua kata undian yang keluar adalah 'Bintang Laut' dan 'Membaca'
So, siap langsung eksekusi deh ceritanya.


Cerita oleh Mira Humaira

Semua anak-anak penghuni laut dalam Wakatobi suka baca buku. 
Ada Encum, si cumi-cumi yang hobi baca buku antariksa.
Ada Kara, kerang laut yang pendiam tapi hobi baca buku komedi.
Ada Kudit, kuda laut yang asyik kalau sudah baca buku tentang olah raga.
Ada Moi, panggilan akrab Anemon, yang suka buku-buku dongeng.
Juga lainnya. Hampir semuanya yang kutemui di sana senang membaca. Mereka masing-masing membawa buku kesukaannya ke mana pun mereka pergi.

Tapi…
Aku melihat hanya satu yang tak pernah membawa buku. Dia Bila, bintang laut merah yang sukanya menari.

“Kamu cuma bisa sibuk menari, ya, Bila?”

“Memangnya kenapa?”

“Aku tidak pernah melihatmu membawa buku dan membaca,” ucapku berani.
“Atau kamu memang tidak suka baca, ya, lihat seperti yang lainnya?” 

Bila terdiam. Tidak lama terdengar suara Bila terisak-isak.

“Asal kamu tahu, Kori. Aku sangat suka sekali membaca,” Bila memandangku tajam walau ada air mata di sudut matanya.

“Aku tidak pernah melihatnya,” jawabku memandang balik matanya. 

Tapi tiba-tiba Bila berlalu begitu saja tanpa menanggapi perkataanku.
***
Tidak lama kemudian, aku berjumpa dengan teman-temanku.

“Hai, Encum, Kudit, Kara, Moi…”
Aku menyapa mereka yang sedang berjalan bersama. Mereka adalah teman-teman yang pertama kali aku kenal di sini sejak kepindahanku dua pekan lalu.

“Kori, apa kamu tadi membuat Bila marah?” mereka kompak bertanya padaku.

“Oh, apa dia benar-benar marah? Aku hanya bertanya kenapa dia tidak pernah membawa buku seperti kalian”

Encum, Kudit, Kara dan Moi tiba-tiba mengubah ekspresi wajahnya. Mereka tampak kecewa.

“Ssst… jangan membuatnya sedih,” tukas Moi.

“Kamu tahu, Kori? Bila adalah juaranya baca buku di sini, Bila terkenal paling rajin,” sambung Kara.

Aku tidak percaya.

“... Iya, tapi itu sebelum kejadian mengerikan menimpa taman bawah laut, ” tambah Kudit.

“Apa yang terjadi?” Aku penasaran.

“Sebuah kapal besar menghantam taman dasar laut kami. Bila ada di sana saat itu,” jawab Kara dengan nada sedih.

“Kejadian itu membuat mata Bila rusak. Malah, hampir saja ia kehilangan kedua matanya,” cerita Kudit.

“Ia tak bisa lagi membaca,” Encum berkata sedih.

“Padahal itu adalah kesenangannya,” lanjut Moi mengingat masa-masa sebelum itu.

“Oh , Bila!” Aku mulai merasa bersalah.

“Sejak saat itu, Bila menyibukkan dirinya dengan berlatih menari,” ujar Kara.

“Eh tapi... Bila tetap bisa membaca bukunya,” seru Kudit membuat suasana kembali ceria.

"Hah?!" Lagi-lagi aku penasaran.

“Iya, kau lihat, Kori, Bila selalu menggunakan headset, bukan?” tanya Encum meyakinkanku.

Aku mengangguk. “Dia suka mendengarkan musik juga?” Aku bertanya masih belum paham.

“Tidak, ia sedang mendengarkan suara ibunya. Ibunya membacakan buku untuknya setiap hari lewat rekaman,” jawab Encum.

“Bila memang tidak bisa jauh dari buku,” Kara tersenyum.

“Bagi kami, Bila tetap bintangnya kalau urusan baca buku sekalipun ia tidak membacanya sendiri,” kata Moi bangga.

“Aku salut pada Bila,” mata Kara berbinar.

“Kamu sendiri bagaimana, Kori? Sejak kamu tinggal di sini kamu juga jarang terlihat membaca,” tanya Kudit mulai membuatku salah tingkah. Perkataan Kudit memang tidak salah. 

“Ayo, Kori. Selagi matamu masih sehat, ayo baca buku. Sayang loh, kalau cuma dipakai main game saja, hihihi...” Kara tertawa kecil dan jelas membuatku malu. Rasanya aku mau langsung bersembunyi di balik tempurungku.

Hehehe kalian… Iya iya aku malu sama Bila,” Aku menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal sama sekali. 

Aku malu tapi saat itu juga aku jadi bersemangat. Aku juga mau lebih rajin membaca buku. Tapi sebelum itu, aku akan meminta maaf pada Bila terlebih dahulu. 

#LatihanMenulis
#30HariBerceritaAnak





pict: pinterest


“Nanti gimana di Rantau, gak ada sodara… gak ada keluarga. Cari ART aja, ya!”
“Repot loh sama duo krucil yang masih pada suka ngintil, nanti kalau ada apa-apa gimana? Kan suami kerja!”
“Dibantu sama ART aja, biar semua aman terkendali. Gak terlalu cape dan bisa istirahat!”

Ya...ya...ya, begitulah kira-kira kesan dan pesan pertama saat orang tua dan keluarga dekatku pada heboh ketika tau aku fix memutuskan untuk ikut merantau lagi ke suatu desa kecil di pulau Borneo, Kalsel. Begitu perhatiannya, bukan? Hihi. Tau kali ya, rempongnya diriku sebagai emak dua anak, yang satu masih balita, satunya lagi masih bayi yang baru banget bisa jalan. 

Jujur aja sih, awalnya sempat masuk ke alam bawah sadar tuh saran dan perhatiannya para orang tua itu. Sampai-sampai saat itu juga tiba-tiba nge-WA suami dan basa-basi mau dicariin ART. Saat itu, posisinya suami sudah menetap di Kalimantan. Aku yang tiba-tiba, ngechat, “duh hari ini super hectic, tadi kejadian gini loh….gitu loh…, untung aja ada mamah yang bantuin, kalau gak, wow deh!”. Haha prolog menuju rayuan. Berapa detik kemudian, aku pun menambahkan, “hmm… kayaknya nanti butuh temen deh, mudah-mudahan Bi Ijah ada, ya!”. Ini emak-emak banget ya bahasanya #apaakuajah. Kenapa gak to the point aja. :D Tapi beruntungnya punya suami yang sangat pengertian walaupun chat berbalas lama tapi jawabannya melegakan, "Oke! Itu gampang aja". Ini maksudnya di Acc kan, ya. #emaklega

Saat tiba di perantauan.
Napas panjang… fiyuuh hari-hari akan berubah tidak seperti biasanya. Kami hanya tinggal berempat di sebuah rumah kontrakan. Cuma bertiga di siang hari, Bunda, anak ganteng, dan anak cantik. Gak ada saudara, mamah, atau bapak yang bisa dititipin anak saat emaknya harus menyelesaikan 1001 pekerjaan domestik yang gak ada habisnya. 

Mengerikan? Sekilas tampaknya begitu. Tapi faktanya, saat suami yang baik hati itu kembali menawarkan, “Mau hubungi Bi Ijah untuk bantu-bantu?”. Jawabanku, “Gak usah,” sambil senyum-senyum. Tapi beneran jawaban ikhlas, loh, bukan semata-mata jaim, hanya ingin terlihat sok tangguh, gitu? Enggak. Jujur aku sungguh menikmatinya dan ternyata aku juga jadi tahu bahwa aku bisa lebih mandiri. #ehm

Nah, apa karena menikmatinya otomatis tidak capek? Ya tetap capek. Secara fisik tubuh terus bekerja. Masing-masing anggota badan memainkan peran menunaikan tugas-tugasnya, mengeluarkan energi, malah kadang diporsir, ya pasti ada titik lelahnya.

Beraktivitas sehari-hari dengan dua anak tanpa ART, jelas sangat menantang. Dimana segala pekerjaan harus bisa selesai di tangan sendiri, dengan kondisi harus tetap aman terkendali.

Ya, faktanya:
"Banyak pekerjaan yang harus tuntas tapi waktu terbatas
Harus tetap ceria walau banyak tingkah anak yang menggoda
Harus tetap cantik dan sehat tapi nyatanya seharian berkeringat"
Jadi, bagaimana trik menghadapi tantangan tersebut?
Kita coba praktekkan bareng-bareng, yuk!


  • DISIPLIN



Kunci mengatasi keluhan tantangan nomor 1. Kalau sudah tercatat di to-do list hari ini harus ngerjain tumpukan strikaan, maka harus dilaksanakan! Jangan tergoda dengan hal lain yang bisa membuang waktu. Kerjakan tanpa harus dipikirkan. (ini pesen suami kalau doi udah liat tanda-tanda ngeluh muncul di mulut istrinya, :D).


  • Bangun, mandi, dan sarapan LEBIH PAGI



Ini tips untuk membangun mood lebih jernih saat mengawali hari. Dengan kondisi fisik dan mental yang segar, kita sudah lebih siap menghadapi godaan-godaan dan tantangan di depan mata. Mungkin anak-anak rewel dan ngeyel saat diajak mandi pagi, susah makan saat sarapan malah mau nyamil ciki? cucian yang ternyata seabreg? Kita bisa atasi dengan kondisi yang relatif tenang karena mood kita sedang baik. Beda kan rasanya, saat anak-anak mulai menggoda sedangkan kondisi kita masih gak mood, berantakan, dan lapar? 


  • Sempatkan Me Time!



Mana ada waktu? Ada. Alokasikan, sempatkan! Ini penting untuk menjaga kewarasan dan kestabilan emosi dan fisik kita. Cukup lah ya 10-15 menit untuk baringan pakai eye masker. Atau ngopi sehat di pagi hari sebelum mulai beraktivitas? Baca buku ditemani jus lemon dingin saat sore hari sebelum suami pulang kerja? Bisa. Pasti bisa. Memang, bisa saja kita memutuskan 15 menit berharga itu untuk beres-beres hal lain. Tapi ingat loh, kondisi kebahagiaan kita juga perlu dirapiin. Hihi. So, itu pilihan Anda! 


Jadi, jadi, jadi….
Bekerja di rumah tanpa ART? Gak masalah. Itu tantangan tersendiri. Yuk! Kita hadapi, nikmati, dan lewati dengan bahagia.   
Salam Bahagia!