Inspirasi Menulis dan Surat Cinta Ayah


Setiap orang punya sosok yang menjadi inspirator dalam berbagai sisi kehidupannya. Dalam hal membaca dan menulis, aku pun memiliki tokoh spesial yang memang selama ini mempengaruhi.

Saling berkirim surat dengan sahabat atau teman spesial di kala muda dulu, rasanya sudah biasa. Nah, tapi... kalau ini, ayo siapa yang waktu jaman SMA nya suka dapat surat cinta dari bapaknya?

Aku acungkan tangan. Ya, aku adalah salah satu anak beruntung yang suka dikirimi surat romantis oleh bapaknya. Dari sanalah, pengaruhnya begitu terasa. Akhirnya, aku pun suka menulis surat. Walaupun isinya masih alay ala anak muda, yang penting untuk mengalirkan rasa. Kadang, aku juga menulis puisi, sekadar mencurahkan suasana isi hati. Ya, semua itu karena Bapak.

Aku ingat, 10 tahun lalu dikirimi surat cinta ini. Surat romantis dari sang ayah yang begitu puitis dan menyampaikan banyak pesan berisi didalamnya. Surat ini terkirim di tahun 2007, saat aku masih duduk di sekolah menengah atas, di sebuah pesantren.

SEPENGGAL TAUSHIYYAH UNTUK ANANDA

Ananda! Seruling hati bertembang di kelabatan sinyal ketika malam merangkak di tepi jengkalan roda waktu. Bintang pun berkedip sesering gelap mendekap. Sementara rembulan asik masuk bersolek menggoda jumputan pekat nan terhampar di belukar sepi.

Ananda! Dikau hanyalah huruf berceceran, lalu ayah susun dengan jemari hati sehingga menjadi satu kata dan akhirnya berujung pada tepian kalimat 'Ananda Penyambung Tali Juang Ayah Nan Terputus'.

Ananda! Dikau divonis takdir ketika lahir di tengah tingkah zaman kian menggila. Di setiap jengkalan nafas tak pernah luput mengangkut desah problema yang nyaris mematikan logika. Akal pun menjadi bidak nafsu, sementara nurani tak bergeming terpasung lapisan angkara.

Ananda! Ayah mana yang bisa hening dari genderang cemas, lengang dari tembang khawatir. Ketika, dikau anak perempuan satu-satunya terlapis tabir dari lensa kamera ayah nun jauh terpagar dimensi ruang dan waktu. Kadang menyeruak ujung kata 'andai'. Andai pohon istiqamah ananda terkesima dengan tiupan angin hawahu, hingga bergetar dan limbung hilang keseimbangan.

Ananda! Namun deru cemas, was-was dan khawatir itu, kadang seketika sirna manakala terlapis sutra keyakinan nan halus bahwa di seantero sisi-sisi celah rawan godaan itu telah ananda pagari dengan akhlakul karimah, telah ananda jejali dengan adonan beton tauhid dan telah ananda netralisir dengan elegansi budaya nan santun.

Ananda! Pernyataan ayah ini, tak lain adalah hakikat wujud dari tumpahan serpihat sifat-sifat rabbi, yang mesti, rahim, wadud, dan bashir. Kendati hanya sebatas guliran pasir telanjang di tengah samudera segalana-Nya nan hampa batas. Ayah dengan segala sanggaan tembok kokok nan tulus, tak akan menutup daun teling batin, ketika ananda hendak membisikkan aspirasi apapun. Sebab ananda sampan harapan ketika lambaian-lambaian pantai nun jauh di sana tak sempat ayah jamah.

Ananda! Guliran bola zaman kian menggelinding cepat, mengitari rentetan peristiwa, sementara angka usia ananda pun terus bergeser memasuki ruang atmosfer tuk memunculkan cetak biru dari sebuah perjalanan metamorfosis menuju arti kedewasaan, kemandirian, malah juga kesempurnaan.

Ananda! Ketika ananda mesti berhadapan dengan batu ujian, pecahkan dengan palu gadam Roja' (Optimisme). Ingat, tiket masuk surga sekali pun tidak pernah ditawarkan secara gratis, tapi harus dibayar dengan ongkos cobaan, derita, dan kesabaran luar biasa. Yang menyerah dengan ujian, sesungguhnya telah mengerdirlkan kerahmanan Allah.

Ananda! Kendati ayah terbatas dari limpahan fasilitas materi, ayah tidak akan menyerah andai ananda mengajukan proposal untuk agenda cita-cita selanjutnya. Sebab, cita-cita dan harapana ananda, pada hakikatnya cita-cita dan harapan ayah sendiri. Ayah tidak akan tega menelantarkan ananda di pojok beku, hingga tidak bisa merangkul hangatnya fajar shidiq yang ananda dambakan.

Ananda! 'Alaiki Wa Tauzi'al Auqat! Manajemenkan waktu secara proporsional, jangan bertumpuk acak-acakan. Atur secara sistemik. Ingat, pintu gerbang ujian sebentar lagi akan terbuka, disanalah hakikat perjuangan ananda dipertaruhkan: Ayyukum Ahsanu 'Amala?"
Allahumma Yassir Wala Tu'assir Innaka 'Ala Kulli Syain Qadir!

Banjaran, April 2007

Dari Ayah Tercinta,
H. Saifullah Sanusi.

0 comments:

Posting Komentar