Serunya Perjalanan dengan Tingkah dan Celoteh Anak



Ada kesempatan kembali jalan-jalan ke kota di awal bulan kemarin. Agenda yang biasanya terjadwal dua bulan sekali. Namun, kali ini (April - Mei) menjadi lebih intens karena sedang banyaknya keperluan mendesak.

Berbeda dengan dua perjalanan sebelumnya, kali ini tentu lebih santai dan seru walau judulnya masih dalam rangka 'kontrol (ke) dokter'.

Apa yang seru? padahal cuma perjalanan Asam-asam - Banjarmasin, yang tempat tujuannya pun hanya mau ke rumah sakit dan rumah singgah. Bukan untuk liburan ke tempat wisata.

Itu dia, sebuah perjalanan seru tak melulu harus dikaitkan dengan objek tempat/destinasinya. Namun, cerita selama proses perjalanan yang meaningful, itu bisa jadi salah satu indikasi bahwa perjalananmu 'sukses' menyenangkan.

Sederhana saja, hanya karena tingkah sang anak yang 'lucu' dan kooperatif selama perjalanan, membuat suasana kemarin begitu berkesan.

Sebelumnya, yang paling membuat bersyukur adalah karena semuanya dalam kondisi sehat (jelas beda sekali dengan perjalanan sebelumnya, dimana semua sedang drop dan sakit). Kehadiran dan celoteh seorang anak memang membuat atmosfer selalu berbeda, lebih ceria, heboh, mengejutkan, mengagumkan, atau kadang sesekali sampai rempong dibuatnya, tapi memang disana juga keseruannya.

Beberapa action anak  (3.5 tahun) yang membuat asyik selama perjalan kemarin adalah

Kemandiriannya
Dari awal perjalanan, ia menunjukkan kemandirian ini dengan manis. Diawali dengan permintaannya untuk duduk di kursi depan (sendiri), lalu minta tolong dipasangkan seat belt. Setelah duduk manis, ia menoleh ke belakang dan bilang "Bismillah dulu Bunda..Bismiahiohmaniohim". Lucunya. Ia melakukannya tanpa instruksi tapi insiatif sendiri.

Mengendalikan Keinginan Tanpa Cengeng
Biasanya kemana-mana harus ready stock tuh susu uht buat bocah ini, terutama di perjalanan. Kapan pun minta, ya harus mimi cucu saat itu juga. Tapi pas kemarin, Surprise!. Saat dia sendiri mulai basa basi minta susu dengan bahasa izin khasnya, "Mau susu, boleh, Bunda?"| "Boleh tapi nanti kalau sudah berhenti aja, ya, biar mudah dan gak tumpah", jawab Bunda.

Kebayangnya, reaksi anak akan seperti apa? Biasanya memelas, cengeng, atau nangis. Tapi kali ini  responnya, "iya nanti aja ya kalau sudah turun, boleh minum cucu, sekarang gak boleh dulu". Seakan dia menenangkan dirinya sendiri. Dan terbukti, selama perjalanan, anak memang bertanggung jawab memegang ucapannya sendiri.

Recall Pengetahuan
Beberapa minggu sebelum perjalanan, kami sempat bikin kegiatan Traffic Light Project dalam agenda HS-nya. Beberapa aktivitas di dalamnya adalah membuat diy lampu lalu lintas, cerita, simulasi sederhana, dan tontonan video. Nah, di perjalanan kali ini, rupanya anak mampu menerapkan dan me-recall apa yang telah ia dapatkan di kegiatan-kegiatan tersebut.

Tanpa arahan ayah-bunda, ia tiba-tiba menunjukkan, "Bunda, itu lampu lintas!"| "Waw... Ok". Bunda pun meneruskan berbagai pertanyaan untuk mengeksplorasi pengetahuan yang pernah didapatnya. Dan... bravo Izz! Malah tanpa ditanya pun ia bisa menjelaskan sendiri, rasanya lagi dengerin bocah presentasi. Lucunya, sampai ia sempet negor ayahnya ketika tanpa sengaja nerobos lampu lalu lintas yang sudah menyala kuning tapi keburu merah. "Ayah...itu warna merah harus berhenti dulu, dong!" ujarnya dengan muka serius. Ups, ada polisi cilik.

Sepanjang perjalanan, setiap kali menemukan lampu lalu lintas, ia terus semangat menunjukkan dan menjelaskannya. Oke, bisa jadi indikator juga lah, ya kalau ternyata project yang sudah dieksekusi sebelumnya itu benar-benar diserap baik oleh anak

(Perjalanan Asam-Asam - Banjarmasin, Kalsel 2017)
***
Dari cerita perjalanan kemarin, banyak yang hal yang baru dipahami. Salah satunya bahwa kemandirian anak dapat terbentuk dengan baik tanpa harus banyak kata-kata instruksi. Kemudian, bagaimana pentingnya mendidik anak untuk bisa mengelola emosi/keinginan dan bertanggung jawab atas ucapannya sendiri, serta membangun fitrah belajar anak seoptimal mungkin. Tidak ketinggalan juga pentingnya memberikan apresiasi pada anak.

"The Greatest Gifts You Can Give Your Children are The Roots of Responsibility and The Wings of Independence" 
- Denis Waitley-

0 comments:

Posting Komentar