Tabuh Rebbana Dzikirmu


Saat Ramadhan menjelang tahun itu, terkirim sebuah surat dari seorang ayah untuk anak perempuannya di sebuah pesantren. Surat yang bernuansa kerinduan dan pengingat untuk sang puteri tentang keagungan ramadhan yang sayang untuk disia-siakan.

Ya sebenarnya ini adalah judul surat yang dikirimkan oleh bapak saat dua belas tahun silam. Membacanya kembali di suasana ramadhan kali ini, serasa diingatkan kembali, serasa dipeluk kembali dengan wejangan-wejangan bahasa kalbunya, dan tentunya serasa dibangunkan kembali 'Ayo Nak, Bangun! Kembali Tabuh Rebbana Dzikirmu!'.

TABUH REBBANA DZIKIRMU
-Abu Humaira-

Ananda, angin malam tertidur pulas di bibir dedaunan disangga urat-urat ranting diselimuti hening terpanggang ilalang sepi.
Jam dinding satu kali berdetak tak lebih, menunjukkan rangkakan waktu suudah sampai ke tepi batas sunyi. Jam satu malam adalah aliran darah mengisi lekuk-lekuk sisa napasendeaah, ketika lelap naik kendaraan mimpi mengulang adegan sadar di siang hari.

Ananda, potret yang terpampang di dinding ruang tamu, seakan-akan hidup: menabur senyum, melambaikan tangan dan mengurai penggalan-penggalan bait puisi disuguhkan pada ayah.

Ananda, mendadak sontak hakikat wajah dan perikehidupan ananda yang terlukis di kamera hati, berlaku lakon seakan eksis pada tataran wajah bumi. Ayahanda lama nian hanyut dalam deburan ombak ingat dan rindu padamu.

Ananda, aku yakin di malam itu Tuhan turun ke bumi menaburkan cahaya-Nya: Apakah ia tengah menabuh rebbana dzikir atau lelap dibuai irama sahun?

Ananda, Kasih Allah di samudera ramadhan tanpa watas ini, berenanglah dengan segala gaya dan daya, raih selendang sutera-Nya nan Maha Rahman, Rahim, dan Lathif, lalu kenakan ia hingga rapat seakan kulit di raga, desah napas di paru-paru.

Ananda, Ramadhan jangan kau jadikan wahana penampung lontaran gagasan nafsu; keluh kesah, hingar bingar irama pengaduan ketidakberdayaan. Ingat ananda, ramadhan adalah urat-urat darah menggairahi setiap kutib beku, membangkitkan roja nan tidur lalu berakrab ria dengan tawa-Nya.

Ananda, Tabuh Rebbana dzikirmu di pentas ramadhan ini dengan gitar khusyu. Bibirmu basahkan dengan lirik al-Quran. Jadikan ia tembang abadi di kalbumu, mengiringi kedatangan malam seribu bulan.

0 comments:

Posting Komentar