Inspirasi Menulis dan Puisi Sang Kakek


pixabay.com

Yang lainnya, sosok yang selalu jadi inspirator dan penggerak aku untuk selalu bisa berbisik 'masa anak muda kalah', adalah Dia, sosok kakek yang selalu produktif hingga akhir hayatnya yang menghabiskan banyak waktu sepuhnya untuk duduk di meja kerja dengan kegiatan membaca dan menulis.

Masih terngiang saat ia bercerita bahwa dirinya tak bisa mewariskan apa-apa. Hanya dalam bentuk tulisan-tulisannya lah ia bisa berbagi dengan orang lain terutama anak cucunya. 

Dalam 'AMANAH' biasanya ia menuangkan segalanya. Sebuah buletin sederhana dimana ia menyampaikan pesan dan berbagi ilmu di dalamnya seperti yang ia maksudkan dalam makna 'AMANAH' itu sendiri, Amar MA'ruf NAHyi munkar'.

Ramadhan tahun ini adalah pertama kalinya ia tak nampak lagi di meja kerjanya. Biasanya ia akan sibuk membuat 'AMANAH' edisi puasa sampai nanti menjelang lebaran ia akan membuat sendiri kartu ucapan hari raya untuk dibagikan ke sahabat-sahabatnya. Begitulah kebiasaannya.

Membuat puisi/sajak adalah salah satu hobi dalam dunia menulisnya selain membuat naskah pidato. Ia senang sastra terutama sastra sunda. Jadi teringat kembali banyak kenangan bersamanya tentang ini. Dalam acara-acara tertentu ia akan membuat sajak dan memintaku untuk membacakannya dihadapan semua orang. Ah sajak-sajak yang selalu menyentuh.

Tidak hanya ayahku yang selalu romantis berkirim surat pada anaknya saat aku remaja dulu, kakekku pun adalah tipe yang senang mengungkapkan cintanya lewat tulisan. Saat itu aku baru membuka lembar kehidupan baru, menikah dan hendak merantau. Ia memberikan bekal sepucuk surat untuk meniti kehidupan menjelang. Sebuah surat yang diawali dengan deretan syair Imam Syafi'i dilanjutkan amanah-amanah seorang kakek untuk cucunya.

Di usia menjelang 80 tahun, ia masih semangat untuk terus menulis. Di masa-masa terakhir kebersamaan dengannya kuingat ia menghampiriku memberikan sebuah buku kecil cetakannya sendiri, Almahfudzat. "Ini, Pak Aki bikin ini semoga bermanfaat. Barangkali bisa dipakai di sekolah juga untuk tambahan (pelajaran) anak-anak.

Dalam hati berbisik malu, 'aduh Pak Aki udah nulis lagi, saya kok belum-belum aja'.

Bapak juga bilang bahwa Pak Aki adalah sosok yang apik dengan tulisannya, dalam arti keistiqamahannya. Ia terus menulis tiap hari untuk mengalirkan rasa. Ia menulis bukan untuk komersil, bukan karena tuntutan siapa-siapa hanya ingin berbagi. Lagi-lagi yang menjadi salut, ia selalu berkeinginan besar dan terus ingin belajar. 

Walaupun sudah sepuh, beliau menggarap buletinnya sendiri, setting layout secara manual, mencetaknya secara manual, sendiri. Lalu dicopy biasa dan diperbanyak. Penampakannya memang sangat sederhana tapi didalamnya begitu bermakna.

Ah sungguh aku begitu merindu, rindu pada sosoknya yang ramadhan kemarin masih bisa menorehkan tinta untuk membuat sajak kembali. Sajak yang menjadi karya terakhirnya. Sajak perpisahan yang ia buat seminggu sebelum kepergiannya (Wafat, 29 Ramadhan 1437H).

Kini kita memang sudah berlainan alam, Pak Aki. Terima kasih telah menjadi inspirasiku. Karenamu aku pun ingin terus (belajar) menulis.

Titip karya terakhirnya, sebuah sajak yang tertulis di Ramadhan 1437 H (Juni 2016)

"ANTREAN PANJANG"
Oleh: Muhsin


Aku dan Kamu, bagian dari penduduk negeri
Kita dan mereka, semua pemegang estafeta kekhalifahan di planet bumi
Kita adalah komunitas pecinta Maha Pencipta
Banyak juga kelompok lain yang jalannya beda

Mereka para pendahulu telah pergi meninggalkan kita
Menorehkan tapak dan jejak
Ada yang semerbak indah untuk dikenang
Ada juga yang busuk karena bujukan syaitan

Di belakang kita ada yang baru menjelang
Biarlah alam fana ini kemudian menjadi ladang dan lahan untuk mereka berjuang
Telah terlalu banyak karunia yang kami nikmati
Yang mungkin kami tak kuasa membayar budi

Wahai para pendahulu kami
Terima kasih atas kiprahmu membimbing kami
Semoga jasamu tertulis dan terlukis dengan tinta emas
Dan berhak menerima medali

Wahai kawan,
Ramadhan mendatang mungkin kita sudah berlainan alam
Mungkin hanya dalam hitungan hari
Kami yang renta ini akan menyusul para pendahulu
Yang sudah menunggu disana di depan pintu sorga
Kita semua sedang maju menuju sebuah penantian panjang
Menunggu dentangan lonceng kematian

أشهد ان لا اله الا الله - وأشهد ان محمدا رسول الله
Itulah bekal utama yang tak ingin kami lupakan
Semoga juga semua kawan memaafkan. Aamiin.



***
Muhsin (Muhammad Hasyim Siradjuddin) Nama pena beliau.
اللهم اغفر له وارحمه وعافه واعف عنه.

0 comments:

Posting Komentar