DISKUSI FITRAH SEKSUALITAS: Peran Orang Tua dalam Membangkitkan Fitrah Seksualitas Anak



Masih tentang fitrah seksualitas. Seperti dibahas di materi sebelumnya, yang dimaksud fitrah seksualitas adalah bagaimana seseorang berpikir, merasa, dan bersikap sesuai fitrahnya sebagai laki-laki atau perempuan sejati.
Kali ini, lebih dijabarkan lagi apa saja tantangan lainnya beserta solusi yang harus dilakukan untuk mengatasinya.


KEKERASAN SEKSUAL PADA ANAK

Menurut KPAI di tahun 2017 ada 116 kasus kekerasan seksual yang terjadi pada anak, yang diduga pelakunya adalah orang terdekat anak seperti keluarga dan teman.

Seperti dikutip dari Tribunnews.com (27/12/2017) bahwa jika dilihat berdasarkan data pelaporan yang masuk ke Komnas PA (Komisi Nasional Perlindungan Anak), kasus ini mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, jika dilihat dari jumlah pelaku sebenarnya meningkat. 
Lalu bagaimana, langkah pemerintah untuk mengatasi hal ini?

Menurut Kapolri Jenderal, Tito Karnavian salah satu langkah pemerintah untuk menceganya adalah dengan mengedepankan fungsi binmas (pembinaan masyarakat) dan fungsi intelijen di kewilayahan sebagai pencegahan pertama. 

Begitu juga dijelaskan mantan presiden, Susilo Bambang Yudhoyono, yang dikutip dari Republika.co.id bahwa program edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat akan dilakukan lebih masif, juga rehabilitasi untuk korban. Beliau juga menambahkan bahwa pengawasan harus dilakukan lebih ketat terutama di lingkungan keluarga. 

Jadi, kembali lagi bahwa keluarga lah yang paling bertanggung jawab untuk keamanan anak-anaknya. Kehadiran dan perhatian orang tua adalah cara pertama untuk mencegah kemungkinan terjadinya kekerasan seksual pada anak. 

Sempat ada diskusi tentang fenomena anak yang biasanya sungkan atau enggan saat disuruh untuk bersalaman/ berjabat tangan dengan orang lain. Rupanya hal tersebut adalah reaksi wajar bahkan reaksi alamiah anak untuk menjaga dirinya karena ia menganggap bahwa orang lain selain orang tuanya adalah orang asing.

Penting bagi orang tua untuk selalu ada untuk anak. Tidak hanya berada disampingnya namun juga memberi pengetahuan bagi anak-anaknya. Untuk mencegah kekerasan seksual, orang tua bisa mengenalkan tentang jenis-jenis sentuhan, seperti penjelasan di bawah ini.

JENIS SENTUHAN 

* Yeti Widiati (04/01/16). Dicuplik dan diterjemahkan dengan tambahan, dari buku Understanding and Caring for The Hurt Child dari Diana-Lea Baranovich. 

Sentuhan bisa menjadi "obat" mujarab bagi beragam gangguan emosi, namun sebaliknya juga bisa menjadi musuh terburuk yang menyebabkan munculnya gangguan emosi. 

Ada 5 jenis sentuhan yang berbeda dalam cara dan menimbulkan efek yang berbeda pula. 5 jenis sentuhan ini yang perlu dikenalkan pada anak/remaja, dan diajarkan bagaimana cara meresponnya dengan cara yang tepat sesuai budaya dan value yang diyakini. 5 jenis sentuhan ini adalah:

1. Sentuhan tidak disengaja
Sentuhan ini terjadi karena ketidak-sengajaan, misalnya bersenggolan saat berada dalam kerumunan, di kendaraan umum yang padat atau dalam lift, dll.

2. Salam atau penghormatan
Melakukan high five, berjabat tangan, cipika-cipiki, menepuk punggung, adu kepalan di antara teman, saudara, team olah raga, dll. yang dimaksudkan untuk menjalin keakraban. Tetap perlu memperhatikan batasan kewajaran yang diterima dalam budaya atau value suatu kelompok.

3. Profesional
Sentuhan yang dilakukan oleh profesional dalam pekerjaannya, misalnya dokter, tukang pijat, tukang cukur, dll. Bagi mereka maka menyentuh adalah penting dilakukan. Para profesional ini memiliki batasan etik saat menyentuh pasien atau klien-kliennya, sehingga kita bisa mempercayainya.

4. Afeksi
Sentuhan yang dilakukan untuk menunjukkan kasih sayang dan perhatian. Misalnya, orangtua memeluk anaknya atau ibu mencium pipi anaknya sebelum tidur. Sentuhan ini tidak tertuju pada area privat dari tubuh seseorang. Juga tidak ada keinginan atau dorongan untuk melakukan lebih jauh dari itu.

5. Seksual
Sentuhan dimaksudkan untuk menjalin kedekatan atau hubungan seksual yang lebih intim. Sentuhan ini tertuju pada area privat dari tubuh.

Dengan memahami jenis-jenis sentuhan ini, mudah-mudahan garis batas perilaku yang pantas dan tidak pantas menjadi lebih jelas. Misalnya, bila saat berdesak-desakkan ada orang yang menyentuh bagian tubuh privat dengan memanfaatkan situasi yang ada, maka sentuhan tersebut bisa masuk ke sentuhan no. 5.

Atau bila sentuhan no 3 dilakukan pada anak, maka perlu didampingi oleh orangtuanya. 
Sentuhan no. 4 hanya boleh dilakukan oleh orangtua kepada anaknya. Paman tidak boleh melakukannya kepada keponakannya. Tetangga tidak boleh melakukan kepada anak tetangganya. Guru tidak boleh melakukannya kepada muridnya. 

Teman sejenis (perempuan-perempuan) bisa melakukan sentuhan no. 4. Namun tetap perlu berhati-hati, karena selalu bisa jatuh ke sentuhan no. 5 bila memang ada intensi atau niat tertentu pada salah seorang di antaranya.

PERGAULAN BEBAS

Dalam diskusi kemarin, dibahas juga tentang faktor penyebab pergaulan bebas anak-anak sekolahan. Pengamatan kami memang banyak mengarah pada faktor lingkungan selain faktor kedekatan orang tua dan keimanan. Banyak tontonan yang menyajikan nilai-nilai yang kurang baik dalam bergaul, seperti gaya hedonisme, bulliying, dan lainnya.
Lantas, bagaimana solusinya?

Menurut Ust. Nouman Ali Khan dalam sebuah ceramahnya ia menjelaskan bahwa sekarang ini menasehati remaja menjadi kurang relevan. Lebih efektif dengan cara mengajak mereka bersama untuk menyelamatkan generasi muda. Ingatkan posisi mereka bahwa remaja muslimin berperan sebagai khalifah Allah di muka bumi.

KEDEKATAN AYAH DAN ANAK

Pertanyaan populer yang biasa muncul pada bahasan ini adalah bagaimana jika kondisinya ayah dan anak berjauhan, LDR/LDM?
Sosok ayah memang sangat penting untuk hadir dalam kehidupan anak. Dan posisi itu tidak bisa digantikan dengan sosok ibu.

Jadi, bagaimana tipsnya? Dalam sebuah kajian parenting Bunda Onya dan Ust. Bendri pernah dibahas tentang tentang bagaimana saat ayah sedang berjauhan dengan anaknya. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan :
  • Hadirkan sosok laki-laki pengganti ayah (supaya anak tau laki-laki seperti apa. Bisa paman, kakek) yang tinggal serumah atau sering berinteraksi dirumah
  • Selalu Hadirkan sosok ayah dalam setiap harinya. 
  • Memberikan hadiah, pelukan, atau quality time yang berbeda saat ayah pulang 
Kondisi LDM ini saya alami sendiri, menghadirkan sang ayah dalam setiap harinya adalah tugas saya sebagai pendamping utama anak-anak. Cara yang biasa yang dilakukan misalnya, melaporkan kegiatan anak-anak pada ayahnya baik dalam bentuk foto, rekaman suara, atau video. Saat ada kesempatan menelfon, ayahnya akan bertanya, merespon tentang kegiatan anak-anak tersebut. Selain itu, biasanya ketika sedang bercerita dengan anak, saya selalu menyinggung soal ayahnya, menghadirkannya dalam setiap kesempatan dan kegiatan.

Kehadiran seorang ayah sangat ditunggu anak-anak. Setiap kesempatan pulang sang ayah, itu adalah momen liburan kami. Sehingga bagi anak, kehadiran ayahnya selalu spesial.

Dikutip dari buku Ayah vs Anak laki-laki, Ayah masa kini harus mulai terlibat dalam kegiatan pengasuhan anak. Untuk para Ayah:
Be there. Invest your time. Hadir untuk anak. Total, relate, engage
Be happy. Ikhlas dan gembira
Be emphatic, be kind. Sentuhan dan pelukan menyembuhkan luka hati
Be focus. Keluarga = prioritas utama dalam hidup. Keep the trust, be trustworhty

Harus diakui bahwa bonding yang kita bangun dengan anak, mungkin belum bisa sepenuhnya terasa dampaknya saat ini juga tapi nanti ketika mereka telah dewasa akan terasa manfaatnya.

Catatan lainnya, bahwa kedekatan orang tua dan anak adalah hal yang harus dan bisa diupayakan.  Orangtua yang dekat dengan anak berarti anak tanpa ragu menjadikan orangtua sebagai narasumber utamanya mengenai berbagai hal, termasuk topik seks. Maka orangtua pun harus terus menerus membekali diri dengan pengetahuan dan keterampilan untuk menjawab rasa ingin tahu anak sesuai usianya.
 " We may not be able to prepare the future for our children, but we can at least prepare our children for the future" - Franklin D.Roosevelt
 "Dalam pergaulan ajak anak untuk bersama2 menyelamatkan generasi muda. Tempatkan sebagai subyek, bukan obyek" - Ust Nouman Ali Khan

Referensi:
  • Kelompok 8. (2018). Peran Orang Tua dalam Membangkitkan Fitrah Seksualitas. Dalam Diskusi Fitrah Seksualitas. Kelas Bunda Sayang Bandung #2
  • Medistiara, Yulida. (2016). Ini LAngkah Jenderal Tito Cegah Kejahatan Seksual Anak. (Online). Tersedia: https://news.detik.com/berita/d-3255847/ini-langkah-jenderal-tito-cegah-kejahatan-seksual-anak
  • Sasongko, Agung. (2014). Langkah Pemerintah Cegah Kekerasan dan Pelecehan Anak. (Online). Tersedia: http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/14/05/08/n590uo-ini-langkah-pemerintah-cegah-kekerasan-dan-pelecehan-anak
  • Tribunnews.com. 28 Desember 2017. Angka Pelecehan Seksual pada Anak turun selama 2017. Tersedia: http://www.tribunnews.com/nasional/2017/12/28/angka-pelecehan-seksual-terhadap-anak-menurun-selama-2017


0 comments:

Posting Komentar