7 Kesalahan Umum dalam Pengasuhan yang Harus Dihindari


"Mendidik anak itu memang berat, makanya hadiahnya peluang syurga. jika tidak berat, mungkin hadiahnya hanya mini power bank"
Setuju kan?. Ya, mendidik anak memanglah berat. Penuh tantangan. Banyak godaan untuk melakukan kesalahan-kesalahan dalam pengasuhan. 

Tulisan ini sebagai catatan pribadi untuk mengingatkan diri akan kesalahan yang masih saja sering terulang. Kadang hal-hal berikut ini dianggap sepele namun ternyata dampaknya sungguh berbahaya.

7 sikap berikut ini sering terulang dalam pengasuhan yang jika dibiarkan akan menjadi kebiasaan, kebiasaan yang salah tentunya. Berikut adalah kesahan-kesalahan umum dalam pengasuhan:

1. Enggan melakukan hal penting berikut:

a. Berterima kasih
Ketika kita bisa mengucapkan dan menunjukkan rasa terima kasih kepada anak, maka sebenarnya kita sedang mengajarkan tentang cara menghargai kebaikan dan cara bersyukur. Dengan berterima kasih, kita juga dapat membangkitkan fitrah keimanan pada anak. Dimana saat kita bisa berterima kasih pada orang lain maka saat itu pun kita berterima kasih kepada Allah.

Seperti dijelaskan dalam hadits bahwa Rasulullah SAW bersabda, 'Barang siapa yang tidak berterima kasih kepada manusia, dia tidak berterima kasih kepada Allah'. (HR. Ahmad)

Oleh karena itu, jika kita enggan berterima kasih pada anak, dia akan enggan juga berterimakasih dan menghargai kita, juga kepada orang lain termasuk kepada Tuhannya. 

b. Meminta maaf
Namanya manusia pasti pernah melakukan salah. sekalipun orang tua kepada anak. jika itu terjadi,  hendaklah meminta maaf. Tidak ada istilah bahwa orang tua selalu benar. Jangan sampai pelit atau gengsi untuk meminta maaf kepadanya karena anak yang jarang dimintai maaf akan sulit juga untuk meminta maaf. 

Bukankah Allah SWT pun menegaskan dalam Al-Quran surat Al-A’raf ayat 199, ‘Jadilah kalian pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang bodoh’

c. Menunjukkan kasih sayang
Orang tua yang enggan menunjukkan kasih sayang baik berupa ucapan, sentuhan, atau pelukan akan melahirkan anak yang kurang percaya diri, tertutup, dan tidak punya empati. Nabi Muhammad SAW pun pernah mengingatkan kita dalam Sabdanya bahwa "Barangsiapa yang tidak merahmati /menyayangi maka ia tidak akan dirahmati" (HR. Bukhari dan Muslim)

2. MenCAP Anak - Labelling




Ketika anak melakukan kesalahan, seringkali kita hanya fokus pada kesalahannya lalu  mencap nya dengan sifat-sifat negatif, seperti pemalas, teledor, nakal, dll. “tuh kan dasar emang anak nakal, gak nurut sih jadi jatuh!’. Memberikan ‘label’ seperti ini akan memberikan keyakinan yang menetap lama dalam pikiran bawah sadarnya. 

Bukankah ketika anak melakukan kesalahan, kita harus mengingatkan, menegurnya? Tentu saja. Menegur dengan cara efektif akan menghasilkan dampak yang positif. Caranya? Kita ikuti tips dari mba Okina Fitriaini, yang ia jelaskan di bukunya, ‘The Secret of Enlightening Parenting,


Pertama, tegurlah Perilakunya. Bukan karakteristik orangnya
Kedua, katakan secara tepat apa kesalahannya
Ketiga, yakinkan pada anak bahwa dia mampu berbuat/bersikap lebih baik dari itu
Keempat, tidak mengungkit kesalahannya yang lain (yang lalu)
Kelima, tetaplah cintai orangnya.


Namun, harus diketahui juga, ternyata memberikan label positif (positive labelling), seperti menyebutkan ‘anak hebat’, ‘jagoan’, ‘si pintar’, pun kurang tepat. Kenapa? Hal ini bisa mendorong anak merasa sombong, sulit mengakui kekurangan, dan mudah menyalahkan orang lain ketika menemui kesulitan.

Lalu bagaimana jika kita ingin memujinya? Bukankah wajar kita menyebutnya ‘anak cerdas’, ‘anak cantik’?

Cara memuji yang efektif adalah puji perilaku, usaha, dan sikapnya. Bukan karakteristik orangnya. “Bagus sekali, A. sudah menyimpan kembali bukunya dengan baik”. Lalu nyatakan konsekuensi positif dari perilaku tersebut dan ungkapkan dengan kalimat sederhana, “Nah, jadi bukunya rapi dan tidak rusak”. Kemudian tanamkan keimanan untuk apa dan siapa perilaku baik tersebut. “Allah kan suka keindahan”. 
“Menegur bukan karena benci, memuji tanpa menjadikan lupa diri. Menegur ada caranya, memuji ada adabnya”.
Okina Fitriani, ‘The Secret of Enlightening Parenting’

3. Ancaman kosong


Ini merupakan salah satu kebiasaan orang tua yang dijadikan senjata agar anak segera mengikuti perintahnya. ‘Ayo udah main hape nya, kalau gak sini buang aja!’. ‘Mau main lagi? Ya sudah berarti nanti gak akan tidur sama ibu, mau?!’.

Kenyataannya? membuang hape tersebut tidak pernah terjadi.  Saat malam tiba, tetap saja kita mengajak anak tidur bersama padahal tadi sempat main lagi saat sudah diingatkan. 

Semakin lama orang tua menunjukkan kebiasaan ini, maka anak tidak akan lagi mendengarkan orang tuanya toh itu hanya ancaman kosong. "Suka mengancam tapi tidak melakukan ancamannya sama parahnya dengan berjanji dan tidak menepatinya. Sebuah kombinasi antara berbohong, inkonsistensi, dan lalai menegakkan hukum" (The Secret of Enlightening Parenting, Hal 32). Setelah itu terjadi, maka jangan harap orang tua bisa menjadi figur yang dapat dipercaya dan disegani oleh anak-anaknya

Dari pada mengancam, lebih baik antara orang tua dan anak ada semacam ketentuan aturan yang berlaku. Dan peraturan ini harus disepakati di depan (di awal). Jika melanggar pasti ada konsekuensi. Apapun konsekuensinya harus dijalankan secara konsisten.

4. Menakut-nakuti




‘Ih ayo cepet pakai celananya, nanti ada kecoa datang tuh, awas loh, Dek!’, ‘Kak, ayo pulang, ih takut ada hantu loh’.  Faktanya, dibalik kebiasaan menakut-nakuti seperti itu sebenarnya ada sifat orang tua yang tidak sabaran, suka berbohong, dan pemalas. Ya, orang tua malas untuk membangun komunikasi produktif dengan anak. Padahal banyak cara baik dan kreatif untuk mengajaknya segera pulang atau menyuruhnya untuk bersegera.

Selain itu, salah kaprah dari hal ini adalah secara tidak sengaja kita memberikan keyakinan yang salah, mana ada hantu! kecoa pun bukanlah binatang buas berbahaya. Efeknya anak-anak jadi penakut pada hal-hal yang tidak semestinya. 

5. Mengabaikan


Kadang orang tua merasa sudah memenuhi tugasnya untuk menemani anak-anak. asal ada di sampingnya berarti selesai kewajiban. Namun, apa artinya jika hanya menemani, tidak membersamainya. Saat anak bertanya banyak hal, meminta main bersama, lalu orang tua mengabaikan begitu saja karena sibuk sendiri dengan gadgetnya dan segala bisnis (urusannya), apa yang terjadi? Anak akan merasa sakit hati, merasa dicuekin. Efeknya dia akan mencari perhatian orang tua dengan tidak wajar. Kalau Bu Elly Risman menjelaskan, harus ada hubungan emosi yang dekat antara orang tua dengana anak. “Dekatnya pun bukan sekadar kulit ke kulit, melainkan dari jiwa ke jiwa".

Mengabaikan perilaku anak yang tidak baik juga adalah suatu kesalahan. Ketika anak mulai menunjukkan perilaku yang tidak pantas, misalnya berkata kasar, kotor, merusak, mengambil hak orang lain, penyimpangan seksual, dll, orang tua harus bisa waspada dan tidak abai. karena jika dibiarkan, hal tersebut akan menjadi bekal kenakalan saat ia tumbuh dewasa

6. Membentak

Dampak yang ditimbulkan dari sikap orang tua yang sering membentak anak begitu berbahaya. Menurut hasil penelitian, bahwa suara yang keras dan bentakan yang keluar dari orang tua dapat merusak atau menggugurkan sel otak anak yang sedang tumbuh. Bahkan dikatakan bentakan atau suara keras yang diterima oleh anak akan membuat jantungnya berdebar cepat (abnormal) dan akhirnya kelelahan. Selain itu, dampak lainnya anak akan tumbuh menjadi pribadi yang emosional. Anak yang semasa kecil sering dibentak oleh orang tuanya lebih berisiko mengalami gangguan perilaku dan depresi.

Jika kita terlanjut ‘kelepasan’ membentak anak, bagaimana? Tarik nafas dalam terlebih dahulu untuk menenangkan diri kemudian beranilah untuk bertanggung jawab, meminta maaf pada anak. Tips lain untuk menahan emosi agar kita tak perlu membentak anak adalah pahami dulu kondisi emosi dan perasaan diri sendiri, jika sedang lelah tahan dulu untuk menegur anak. Ketika akan menegur anak lakukan tidak sambil berdiri, duduk lebih baik. 

Untuk jadi pengingat juga, Rasulullah dulu pernah menegur seorang ibu. Saat itu anaknya sedang bermain dengan dan digendong oleh Rasulullah SAW. Lalu dia pipis mengenai pakaian Rasul SAW. Kemudian sang ibu segera memarahi dan mengambil anaknya dengan kasar karena mengencingi Rasulullah SAW. Lalu Rasulullah pun menegur dan bertanya, “Mengapa engkau memarahi dan merenggutnya dengan kasar?” Ibu itu menjawab alasannya. Rasulullah SAW lalu bersabda, “Sesungguhnya baju yang kotor ini bisa dicuci dan dihilangkan kotorannya, namun siapa yang bisa menghilangkan kekeruhan jiwa seorang anak atas bentakan dan renggutan yang kasar yang telah dilakukan kepadanya.” (HR Muslim)

7. Memanjakan

Menunjukkan kasih sayang dengan cara memanjakan itu wajar. Tapi menjadi salah ketika semua berlebihan. Salah satu contoh yang sering kita tidak sadari adalah seringnya menyuapi solusi pada anak. sedikit-sedikit , “sini Mama bantu biar cepat”. Lagi-lagi ini sebenarnya menunjukkan orang tua yang tidak sabar. Orang tua tergesa-gesa ingin memberikan solusi pada setiap permasalahan (tantangan) anak. Akibatnya, ketika tumbuh dewasa anak tidak memiliki kemampuan memecahkan masalah, tidak mandiri dan kreatif, juga mudah menyerah. Solusinya adalah bijak dan bersabarlah mendampingi anak dalam latihan kemandirianya (dalam segala aspek). Beri kesempatan dan kebebasan. Kemandirian itu perlu proses. 

0 comments:

Posting Komentar