BELAJAR BERBAGI bersama SHAWN


“Kenapa, A?” | “Dia mau pinjem mainan Aa, Aku gak mau!”

 “Aku pinjam ini ya!” | “Jangan ih, itu punya Aku!” | “Yaudah, aku mau pulang aja!”

“A, tadi Bunda dengar Aa nangis, iya?” | “Iya” |”Boleh Bunda tau, kenapa?” |”Itu sih tadi lagi main, teman-teman pinjam mobil tapi Aa mau yang paling banyak”.

***
Pernah mengalami hal serupa, Bunda? Kalau saya, beberapa kali momen seperti ini tertangkap saat anak sedang bermain bersama temannya. Situasi dimana anak enggan memberikan barang (mainan) milik pribadinya pada orang lain, berat meminjamkannya pada teman-teman, mau berbagi tapi ingin paling banyak, menangis karena tidak sesuai dengan keinginannya, teman yang merasa kecewa lalu pulang begitu saja, dan lain-lainnya. Memang, tidak selalu terjadi kasus-kasus seperti ini di setiap jam mainnya. Malah pada situasi tertentu, justru anak dengan senang hati mau meminjamkan barang-barang kesayangannya untuk dimainkan bersama. 

Nah, sebenarnya apakah itu hal yang wajar dan normal? 

Ketika seorang anak menunjukan respon menolak saat temannya ingin meminjam atau meminta, sebenarnya kita tidak bisa sepenuhnya mengatakan bahwa dia egois. Biasanya anak-anak memang akan mengalami fase egosentris dimana masa ‘ke-aku-annya’ sedang  tinggi. bahkan dikatakan juga bahwa respon ketika mempertahankan barang milik sendiri sebenarnya itu adalah bagian dari survival instinc (insting bertahan hidup). 

Jadi, ketika saya mendengar anak sedang bermain lalu terjadi ‘kasus’ seperti di atas, saya  akan membiarkan mereka, dalam rangka melatih kemandirian psikososialnya juga. Apakah mereka bisa menyelesaikan masalahnya sendiri atau tidak. Namun, jujur saja pada saat situasi sedang tidak kondusif, saya pernah ‘kelepasan’ menegur anak langsung di hadapan teman-temannya. Bahkan tak disadari, keluar labelling dan ancaman yang tidak seharusnya.
(Baca juga: 7 kesalahan umum yang sering terjadi pada pengasuhan).

Jadi kesimpulannya, jika hal itu memang wajar lalu sebagai orang tua akankah kita membiarkannya saja? cukup dengan berkata ‘biarin saja, namanya juga nak-anak’ ?

Usia balita memang belum sepenuhnya mengerti apa itu berbagi, meminjamkan, ataupun memberi, namun alangkah lebih baik jika mengenalkannya (indahnya berbagi) sejak dini. Ini pun yang sedang ingin saya praktekkan. Sepertinya menegur langsung dan menasehati (mencermahi) bukan jadi pilihan tepat. Akhirnya, saya memutuskan untuk mengajak anak belajar tentang berbagi dengan bercerita, ya membaca cerita dari sebuah buku.

Alhamdulillah, menemukan buku yang pas untuk momen ini. Sebuah picbook karya mbak Arleen dan Is Yuniarto dari penerbit BIP yang berjudul Share, Shawn! ini cocok sekali. Buku ini adalah salah satu dari seri I Have Good Habit dan berbahasa inggris.

Buku dengan tebal hanya 28 halaman ini menceritakan tentang Shawn, seekor hiu biru yang mempunyai mainan baru dari orang tuanya. Ia asik bermain sendiri dengan mainannya itu sampai teman-teman yang ingin melihatnya pun tidak boleh, apalagi meminjamnya. Shawn hanya ingin asyik sendiri. 
(Foto: Buku Share, Shawn! )
Pada suatu hari, teman-temannya tampak asyik bermain bersama-sama sedangkan ia hanya seorang diri. Diam-diam Shawn melihat teman-temannya dari balik batu, "sepertinya menyenangkan sekali," gumamnya sendiri. Shawn sadar ia hanya sendirian saja dan tentu itu tidak menyenangkan.

Rupanya Izz ikut terlarut dalam ceritanya. Ia serius menyimak sambil melihat gambarnya. 

“Oow, Shawn nya kenapa ya, A?” | “Dia nya sedih bunda, gak ada temannya”
“Loh, kenapa?” |”mainannya gak mau dipinjemin”

Sampailah di akhir cerita. Izz pun mendapatkan inti ceritanya. Ia bisa menyimpulkan sendiri, dengan melihat Shawn, yang akhirnya diajak kembali bergabung dengan teman-teman lainnya (teman-temannya baik loh ya, tidak dendam, 😊) untuk bermain bersama, Izz paham bahwa main bersama-sama itu akan lebih seru. 
(Foto: Buku Share, Shawn!)
“Jadi kalau misal ada teman yang pinjam mobil atau robot Aa, boleh? |”Boleh dong!”

:D











0 comments:

Posting Komentar