Cara MENGENAL ALLAH dalam setiap Aktivitas Anak

MuslimahMatters.com
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)" 
(Q.S Al-A’raaf ayat 172)

Setiap anak lahir dalam keadaan fitrah, yaitu suci dan berpotensi baik. Begitu pun setiap manusia terlahir dalam keadaan telah terinstal potensi fitrah keimanannya. Ayat diatas mengingatkan kita bahwa setiap manusia yang terlahir, jiwanya telah bersaksi bahwa Allah sebagai Tuhannya.

Secara fitrah sesungguhnya setiap manusia menyadari keberadaan Tuhan, Zat yang mengatur segala yang terjadi di alam raya ini. Menurut Harry Santosa dalam bukunya Fitrah Based Education, tidak ada anak yang tidak cinta Tuhan dan Kebenaran kecuali disimpangkan dan dikubur oleh pendidikan yang alah dan gegabah. Ini meliputi moral, spritual, keagamaan, dan seterusnya.

Maka tentulah bagi orang tua sebagai guru juga pembimbing pertama dan utama bagi anak-anak harus menjaga potensi baik ini dan pintu utama potensi baik adalah iman/ percaya kepada Allah. Oleh karena itu, menjadi tugas orang tua lah membangkitkan fitrah keimanan ini. 

Golden Age fitrah keimanan ini berada pada rentang usia 0-7 tahun. Sesuai dengan fitrah perkembangannya, pada usia ini anak berada pada masa imajinasi dan abstraksi yang tinggi. alam bawah sadarnya masih terbuka lebar, sehingga imaji tentang Allah, Rasulullah, tentang segala ciptaan Allah akan mudah dibangkaitkan. Hal tersebut bisa dilakukan melalui kisah inspiratif, semangat kepahlawanan, semangat berakhlak mulia, dan mengenal Allah dengan melibatkanNya dalam setiap aktivitas anak.

Bagaimana cara anak mengenal Allah dalam kesehariannya?
Yaitu dengan cara melibatkan Allah dalam setiap aktivitasnya. Untuk apa dan siapa ia melakukan segala hal dalam setiap kegiatannya.

Ketika hendak Tidur 
Sumber: www.socialmoms.com

Mengajaknya berdoa ketika hendak tidur. Bukan sekadar mengenalkan lafadz doa tersebut. Kita bisa memulai juga dengan mengenalkan maknanya. Alangkah lebih baik jika saat mengajaknya berdoa kita libatkan keaguangan dan kekuasaan Allah bukan ditakut-takuti dengan hal-hal ghaib yang tidak masuk akal. Munculkanlah imaji-imaji positif dan indah.

“Bismika Allahumma Ahyaa wa Amuut (Dengan nama-Mu, ya Allah. Aku hidup dan Aku mati)”. Dimulai dengan membacakan artinya. Jika dibaca dengan hati yang ikhlas, arti dari doa ini memiliki makna yang luar biasa. Sebelum tidur kita bisa berdialog dengan anak tentang makna doa sebelum tidur. Apalagi dalam keadaan anak akan tertidur, gelombang otaknya dalam kondisi alpha, masa peralihan antara sadar dan tidak sadar. Momen ini tepat digunakan untuk memberikan sugesti positif kepada anak. Contoh dialog yang bisa digunakan saat bersama anak ketika hendak tidur. 

“Nak, kita sekarang hidup karena kuasa Allah, Allah itu hebat, bukan?”

“Yuk, kita berterima kasih kepada Allah, Alhamdulillah hari ini kita masih diberi hidup”

“Allah juga yang akan mematikan kita. Makanya Allah juga memiliki nama Al-Muhyi (Yang Menghidupkan) juga Al-Mumiit (Yang Mematikan)”

“JIka kita sudah berdoa dan pasrah kepada Allah kita tidak perlu takut apapun. Malaikat akan melindungi tidur kita”

“Bismillah, yuk kita tidur. Selamat malam, Nak.”

Akan lebih baik lagi jika diakhiri dengan ciuman di kening sang buah hati sambil mendoakan segala kebaikan untuknya.

Bangun dari Tidurnya
Sumber: www.newkidscenter.com

Sambut anak dari tidurnya dengan senyuman, lalu mengajaknya berdoa bersama. “Alhamdulillah Alladzii Ahyaanaa ba’da Maa Amaatana wa Ilaihin-nusyuur, segala puji bagai Allah yang telah menghidupkan kami setelah sebelumnya mematikan kami, hanya kepada Allah lah kami kembali”.

“Yuk, berdoa lagi sama Allah. Rasullullah juga tidak pernah lupa berdoa sama Allah setelah bangun dari tidurnya loh, Kak”

“Alhamdulillah, Nak. Kita berterima kasih kepada Allah yang sudah memberikan kehidupan lagi untuk kita”.

Setelah Mandi 
Sumber: qurantorecite.com
“Alhamdulillah segar ya, Kak. Kita bersyukur bisa mandi dengan air yang bersih”

“Setelah mandi, badan Adek jadi bersih ya. Allah suka yang bersih dan indah juga loh, Dek”

“Allah juga mempunyai nama Al-Jamiil (Yang Indah). Makanya Allah juga suka keindahan. Kalau Aa sudah mandi, bersih, wangi, cakep … Tentu Allah senang, bukan?”

Kita juga bisa menyampaikan hadits-hadits Nabi tentang kebersihan dan keindahan. Salah satunya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, “Sesungguhnya Allah itu baik. Dia menyukai kebaikan. Allah itu bersih dan Dia menyukai kebersihan. Allah itu mulia dan ia menyukai kemuliaan. Allah itu dermawan dan menyukai kedermawanan, maka bersihkanlah olehmu tempat-tempatmu.”(HR. Tirmidzi).

Ketika sedang Menyantap Makanan

Sumber: livingwellmom.com

Setelah mengajaknya mencuci tangan dan berdoa, kita bisa sampaikan bahwa apa yang kita makan ini adalah rezeki dari Allah SWT. Jika anak bertanya ‘rezeki itu apa, Bund?’. Jawablah dengan sederhana bahwa rezeki adalah pemberian Allah.

“Bismillah, makanan ini adalah pemberian dari Allah. Agar apa yang kita makan membuat tubuh kita menjadi sehat, berdoa dulu yuk, Nak!

“Ini adalah rezeki dari Allah. maka kita harus bersyukur saat ini Allah masih memberikan kita makanan”

“Alhamdulillah, Kakak sudah bisa menghabiskan makanannya, jadi tidak mubadzir. Allah pasti senang”
***
Jika kita perhatikan dari contoh dialog-dialog diatas, senantiasa kita diajak dan harus mengajak anak untuk bersyukur. Sesuai dengan yang dijelaskan oleh mbak Okina Fitriani, dalam bukunya ‘The Secret Enlightening Parenting'  bahwa fokus pengasuhan dan pendidikan anak harus diarahkan pada tiga hal penting berikut, yang pertama adalah Bersyukur. Syukur adalah kunci dari kesehatan mental dan perisai dari kesombongan. Dua lainnya adalah bertumbuh menjadi lebih baik dan kebermanfaatan.

Tentu saja bukan hanya dalam empat kegiatan diatas, namun dalam setiap aktivitas yang dilalui sang anak dari bangun hingga akan tidur kembali semuanya harus karena Allah. bukan hal mudah tentu saja. Bahkan ada hal penting yang tidak boleh dilupakan sebelum mempraktekkan itu semua bahwa untuk mendidik keimanan anak-anak harus dimulai dengan diri kita sendiri.

Jika dalam komunitas ibu profesional dikenal dengan istilah ‘For things to change, I must change first”. Mari mulai dengan membersihkan jiwa dan mengembalikan fitrah-fitrah baik dalam diri kita sehingga kelak akan bisa bertemu dengan fitrah keimanan anak kita. Karena sejatinya jiwa dan hati yang bersih setiap orang tua adalah bekal untuk menumbuhkan fitrah keimanan sang buah hati.


19 komentar:

  1. love it. mengunci setiap percakapan dengan agama.

    BalasHapus
  2. Alhamdulillah paling tidak saat besar tergoda masih kembali dan terngiang kembali akan agama dan AllahNya

    BalasHapus
  3. Wah makasih udah diingatkan mbak . Kadang kita mengajarkan anak berdoa tanpa diajari arti dan maknanya padahal itu adalah kesempatan utk mengenalkan tauhid pada anak

    BalasHapus
  4. Noted bun. Setuju ajarkan dari kecil untuk mengenal Allah dengan cara berdoa atau sering-sering mengucapkam kalimat talbiyah. Barakallah bun

    BalasHapus
  5. Masya Allah, memang sejatinya kehidupan kita sepanjang hari selalu lekat dengan sang Maha Kuasa. Ilmu tauhid seperti penting diajarkan sejak dini ya...

    BalasHapus
  6. Saya pernah ikut mini workshopnya pak harry santosa. Wah mantep banget materinya. Fitrah based parenting nya membantu saya untuk mengenalkan tauhid kepada anak dengan terarah tanpa paksaan

    BalasHapus
  7. MasyaAllah, selalu menyertakan Allah dalam aktivitas bersama ananda di rumah, bisa meningkatkan rasa cinta mereka kepada penciptanya ya, Bun. Saya belum maksimal, nih. Ikutan belajar dari sini, ya.

    BalasHapus
  8. kereeen bun tulisannya, bener juga sih anak itu harus mengenal Allah dalam setiap aktivitas ya. cara-ara ini bener banget. makasih bun sharingnya.

    BalasHapus
  9. Setuju banget, dari aktivitas kesehariannya anak akan makin mengenal Allah dn beriman ya mbak.

    BalasHapus
  10. Iya, mbak, orang tua harus sabar dalam mendidik anak, terutama mendidik anak mengenal Allah...

    BalasHapus
  11. Mengenalkan Allah dalam setiap kegiatan, ini masih coba ku rutinkan. Biar anak - anak hati nya selalu mengingat Allah terus sedari dini

    BalasHapus
  12. Alhamdulillah di sekolah diajarkan hal ini bun..jadi di rumahpun saya berusaha mengimbanginya...biar terus tertanam dalam hati anak-anak��

    BalasHapus
  13. Masya Alkah, bun, semoga kita dikaruniai anak anak yg soleh dan solehah ya. Mengajari anak anak mengenal tuhannya semiga membuat mereka menjadi pribadi yang lebih baik.

    BalasHapus
  14. Aku juga masih belajar untuk yang satu ini Mbak. Biasanya memang dalam segala hal kami selalu melibakan redaksi "milik Allah" atau enggak "Karena Allah". Semoga kita istiqamah melakukan hal seperti ini ya. Karena meskipun sepertinya sederhana, tapi nggak cukup mudah juga.

    BalasHapus
  15. Saya juga menerapkan Fitrah Based Education untuk menumbuhkan fitrah-fitrah dalam diri anak, Mbak. Lebih pas dan membuat saya sebagai ibu pun menyesuaikan diri tentang fitrah diri. Mengenalkan Allah ke anak pun jadi menyenangkan rasanya.

    BalasHapus
  16. Kalau teman saya bilang, perkenalan setiap saat, saat duduk, saat diperjalanan, saat berbaring, sehingga meresap dalam hati dan sanubari mereka

    BalasHapus
  17. Jadi pengingat kalimat terakhirnya mbak.
    Bahwa sejatinya dalam jiwa dan hati bersih setiap orang tua merupakan bekal untuk menumbuhkan fitrah keimanan sang buah hati.

    Makasih sharingnya mb.

    BalasHapus