Cerita Penulis Groningen Mom's Journal Menembus Penerbit Mayor


#JumatKulwapODOP
Alhamdulillah kuliah perdana #ODOP99Days tahun 2018 sudah dimulai. Temanya gak tanggung-tanggung, kita langsung membahas “Pengalaman Menembus Penerbit Mayor”. Dari judulnya saja sudah memunculkan motivasi, bukan?

Yup, masing-masing orang mempunyai alasan atau Big WHY dalam hal menulisnya,  ada yang cukup  dijadikan sebagai tools untuk menjaga kewarasan semata atau untuk mengikat makna dan mengalirkan rasa sebagai catatan sendiri. Namun, jika ada peluang untuk lebih dari itu, kenapa tidak?

Sebagaimana mbak Monika sampaikan, salah satu motivasi terbesarnya dalam menulis adalah sebagai ladang amal jariyah. Dengan tulisan kita, ternyata banyak orang terinspirasi dan mendapat informasi yang sangat dibutuhkan, bukankah itu sebuah kebahagiaan dan kepuasan tersendiri?

Begitu juga dengan kesan saya mengikuti #JumatKulwap bersama mbak Monika Oktora ini. Apa  yang disampaikannya benar-benar memberikan banyak informasi yang ternyata baru saya ketahui, yaitu tentang langkah-langkah menembus penerbit mayor, juga pastinya inspirasi dan motivasi yang mbak Monik tularkan kepada saya dan semua member WAG ODOP. 

By the way, siapakah mba Monik? Yuk, kenalan dulu. Mbak Monik, begitu kami menyapanya, memiliki nama lengkap Monika Puri Oktora. Beliau adalah penulis buku Groningen Mom’s Journal yang baru terbit awal tahun 2018 ini dan langsung masuk pada jajaran best seller Gramedia. Wow!.


Sebelum menerbitkan buku solonya ini, mbak Monik juga sudah pernah menuangkan tulisannya dalam beberapa buku antologi, yaitu Dear Mama #4, Inspiring Teacher, Kampung Bocah (Kumpulan Kisah dan Hikmah), 30 Days on Fire, dan Garis Waktu.

Nah, tentunya agar bisa ikutan jadi amal jariyah juga, saya ingin berbagi catatan (ilmu) apa yang sudah saya dapatkan di kulwap kemarin, ya.

Serba-Serbi Proses Penerbitan
Modal pertama untuk ingin menerbitkan suatu karya adalah memiliki Naskah Utuh. Itu saja dulu. Ah, di bagian ini saja saya sudah tertampar. Punya mimpi ingin melahirkan sebuah karya yang dibukukan tapi menulis naskah saja belum dimulai, apa jadinya? Ups.  Jadi , mulai sekarang, Mari Menulis … menulis … dan menulis! 

Menyiapkan kelengkapan data-data/ dokumen. Secara umum, berikut adalah data yang harus kita lengkapi selain menyiapkan naskah utuh. Namun, bisa juga ada tambahan tergantung permintaan penerbit dan setiap pernerbit bisa berbeda-beda. 

Sinopsis
Jumlah halaman
Jumlah gambar
Kelebihan/ keunggulan naskah
Buku pembanding yang sudah ada di pasaran
Daftar isi
Profil penulis

Mengirimkan Naskah. Naskah harus dikirim ke penerbit mana? Nah ini mejadi catatan, akan lebih besar kemungkinan naskah kita lolos jika genre yang kita usung memiliki kesesuaian dengan visi dan misi penerbitnya. Namun, tidak ada salahnya jika kita mencoba ke beberapa penerbit lain. Kalau mbak Monik bilang,” seperti jodoh, cocok-cocokkan”. 

Bukan cuma dengan penerbit namun dengan editornya juga ternyata. Cerita unik dari pengalaman mbak Monik sendiri, sebelumnya sempat ditolak di penerbit Elex Media tapi karena tak pantang menyerang lalu mencoba lagi, bertemu lah dengan editor lain, dan akhirnya naskah groningen mom’s journal berjodoh juga loh dengan Elex Media. 

Cerita lain, mbak Monik sebelumnya sempat ‘keliling’ ke beberapa penerbit lain dan hasilnya ditolak. Menyerah? Down? NO!. Beliau mengajak kita untuk melakukan re-framing dan tetap berpikiran positif bahwa sesungguhnya tidak ada naskah yang jelek, itu hanya masalah prefrensi editor dan penerbit. Disini modal lain juga harus disiapkan, yaitu mental baja, 'jangan begitu saja menyerah'.

Proses sebelum terbit. Sejak naskah di-oke-kan oleh penerbit, maka proses editing dimulai. Mbak Monik sendiri melalui proses editing bukunya selama 6 bulan termasuk proses proof reading sebanyak 3x., dan penambahan kelengkapan data seperti, kata pengantar, dan lainnya. Kemudian masuk ke tahap pemilihan cover. 

Tanda tangan kontrak. Wah pastinya ini tahap yang sangat mengharukan. “akhirnya terbit juga” sambil tersenyum senang, begitu  kira-kira saya membayangkannya. :), hehe. 
Oh ya, disini mbak Monik juga menjelaskan bahwa bagi penulis pemula, honor ditawarkan oleh penerbit. Dan itu berupa royality sebanyak buku yang terjual. Ada fee yang dibayarkan dahulu sekian persen saat tanda tangan kontrak ini. Selanjutnya, perbulan akan dibayarkan sesuai dengan keuntungan dari penjualan buku.
***
Bukan sekadar berbagi tentang pengalamannya menembus penerbit mayor, mbak Monik berbagi tips juga loh tentang menjaga semangatnya untuk menulis dan berkarya. Seorang penulis kadang menghadapi yang namanya Writer’s Block, mbak Monik sendiri pun pernah mengalaminya. Namun, hal tersebut tentu harus diatasi. Beberapa cara jitu yang beliau lakukan untuk menghadapinya adalah:
  • Berhenti menulis untuk membaca. Hal ini ditujukan agar kita mendapatkan pencerahan dan ide-ide baru
  • Jalan-jalan ke luar untuk refreshing
  • Mengobrol dengan kawan
  • Relaksasi menikmati Me time.
Selain itu, catatan yang paling berkesan dari mba Monika tentang semangat menulis bagi saya adalah, 
“ Temukan MOTIVASI TERBESAR dan STRONG WHY-nya kenapa kita senang menulis dan berkarya. Selama tahu alasannya insha Allah ketika sedang jenuh, kita tetap bisa bangkit”
(Monika Oktora, penulis buku Groningen Mom's Journal ) 





0 comments:

Posting Komentar