9 DARI NADIRA Karya Leila S. Chudori



Judul: 9 dari Nadira
Penulis: Leila S. Chudori
Perancang sampul: Wendie Artswenda
Ilustrator: Ario Anindito
Tebal: 270 Halaman
Penerbit: PT. Gramedia Jakarta
“Di sebuah pagi yang murung, Nadira Suwandi menemukan ibunya tewas bunuh diri di lantai rumahnya. Kematian sang ibu, Kemala Yunus-yang dikenal sangat ekspresif, berpikiran bebas, dan selalu bertarung mencari diri-sungguh mengejutkan”

Membaca tuntas judul pertama di buku ini, yaitu Mencari Seikat Seruni, membuatku penasaran untuk lebih masuk ke dalam dunia keluarga Suwandi ini. Sebelum ‘kepo’ dengan sosok Nadira si tokoh utama, aku dibuat penasaran dengan siapa dan bagaimanakah sosok sang ibu? Kesan dari Kemala Yunus begitu menarik perhatian. Kenapa ia harus mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri? Lalu mengapa harus seruni yang menjadi bunga pemakamannya sehingga Nadira bersikeras untuk mendapatkan bunga yang sulit ditemukan di Indonesia itu?

“Kenapa Seruni? Dan kenapa harus putih?”
-Nadira- (Mencari Seikat Seruni, Hal 3)

Baiklah, ini buku fiksi pertama yang aku baca di tahun 2018. Setelah sekian lama tidak menyentuh dunia imaji bacaan fiksi, akhirnya memutuskan untuk membaca buku 9 dari Nadira ini karena saat blog walking di beberapa laman para book blogger indonesia, kok rasanya selalu ketemu nama Leila S. Chudori dalam review-reviewnya. Jadilah penasaran, tergerak ingin membaca karyanya.

Buku ini ternyata merupakan kumpulan cerita pendeknya karya Leila S. Chudori. Ia seorang penulis yang bekerja sehari-hari sebagai wartawan majalah berita Tempo. Dalam buku ini, terdiri  9 judul cerita berikut,

1. Mencari Seikat Seruni
2. Nina dan Nadira
3. Melukis Langit
4. Tasbih
5. Ciuman Terpanjang
6. Kirana
7. Sebilah Pisau
8. Utara Bayu
9. At Pedder Bay


Beberapa diantaranya, sebenarnya pernah dimuat di media cetak dalam waktu yang berbeda dan rentang yang lama. Cerpen pertama, dengan judul ‘Melukis Langit’, dimuat pada tahun 1991 di majalah Matra. Disusul dengan ‘Nina dan Nadira’ pada tahun 1992 di majalah yang sama. Berselang berapa belas tahun kemudian cerpen berjudul ‘Mencari Seikat Seruni’ dan ‘Tasbih’ dimuat di majalah Horison pada tahun 2009.

Walaupun karya-karya ini dibuat dalam selang waktu yang cukup lama, namun cerita yang disajikan dalam buku ini terasa seperti sebuah novel utuh walaupun endingnya masih menyimpan teka-teki. 

Sembilan judul cerpen ini menceritakan tentang kehidupan Nadira dengan segala kerumitan dalam setiap episode hidupnya. Pembaca diajak untuk menyusun puzzle-puzzle kehidupan Nadira dari setiap judul yang disuguhkan. Maka tak heran, alurnya terkesan ‘melompat-lompat’. Namun, itulah yang menjadi daya tarik buku ini. Penulis menyajikannya dengan tidak lazim tapi unik. Setiap judul membawa sudut pandang yang berbeda-beda. Sudut pandang si penceritanya silih berganti. Dan itu membuat isi buku ini tidak membosankan dan terasa lebih hidup.

Masuk judul kedua, rasa ingin tahu tentang siapa Nadira terjawab. Nadira adalah seorang wartawan di sebuah majalah berita Tera. Ia merupakan anak bungsu dari pasangan Bramntiyo Suwandi-Kemala Yunus, yang mempunyai latar belakang keluarga yang berbeda. Sang ayah yang berasal dari keluarga NU yang agamis sementara ibunya berlatar belakang keluarga yang cenderung sekuler.  

Bermula dari kejadian saat Nadira menemukan ibunya yang terbaring di lantai dan sudah tak bernyawa. Kematian sang ibu menyisakan goncangan hebat bagi keluarga Bramantiyo. Semenjak kematian ibunya, Nadira berubah. Ia, seorang brilian di jajaran staf kantornya, tiba-tiba bak masuk dalam 'liang kubur'. Hidupnya menjadi kelam. Kematian mendadak ibunya membuat Nadira memandang dunia tanpa warna. 

Begitupun dengan kedua kakaknya, Nina dan Arya. Setelah peristiwa itu, Nina memutuskan untuk pergi ke Amerika, sedangkan Arya memilih ‘bertapa’ di hutan. Tak ketinggalan sang ayah yang akhirnya berhenti dari profesinya sebagai wartawan pun tenggelam dalam kepedihan. Keluarga Bramantiyo berada dalam kondisi yang rumit.
“Kalau terlalu mudah, pasti itu bukan nasib keluargaku” 
– Arya- (At Pedder Bay, Hal 265)

***
Sepanjang cerita, penulis berhasil menyajikan konflik yang berat secara psikologis. Sebagai pembaca, aku pun ikut masuk dalam dunia emosi Nadira, bahkan dari sudut pandang tokoh lainnya. Konflik keluarga antara Nadira dan Yu Nina, begitu Nadira memanggil saudara perempuannya, pun berhasil membuat gemas. Ada apa dengan mereka? 
“Tapi yang jelas. Saya tak pernah bisa meminta maaf pada Nadira”
-Nina- (Nina dan Nadira, Hal 40)
Tidak hanya tentang konflik antara saudara, di dalamnya tak ketinggalan kisah asmara Nadira yang lagi-lagi pelik. Dari seorang kekasih, menjadi seorang istri hingga akhirnya membawanya kepada sebuah penjelajahan dunia yang baru, dunia seksualitas yang tak pernah disentuhnya.

Akhir dari cerita ini masih menyimpan banyak tanya. Bagaimana nasib Nadira selanjutnya? Oh tidak, apakah Nadira masih akan menderita (lagi)?” begitulah kesan terakhir menutup halaman terakhir buku ini.
***









0 comments:

Posting Komentar