Serunya Belajar Huruf Hijaiyah dengan 28 Dongeng Binatang!




Judul: Belajar Hijaiyah dengan 28 Dongeng Binatang dari Alif sampai Ya
Penulis: Tethy Ezokanzo & Dian K
Penyunting: Pradikha Bestari
Ilustrator: Innerchild Studio
Desain sampul & Tata letak: Innerchild Studio
Penerbit: PT. Gramedia
Jumlah Halaman: 144 Halaman

“Lo, bisa keluar apinya!” teriak Mimi.
“Wuaaah asyik! Kita bisa membuat wortel bakar!” Tutu buru-buru menusuku wortel dengan lidi dan memanggangnya di atas api.
“Senang, kan? Banyak sekali yang bisa kita pelajari di dunia ini. Jangan bosan untuk belajar,” sahut Arni

Arni, si Kelinci yang senang belajar itu akhirnya berhasil membuat teman-temannya asyik dan exited belajar sambil bermain di luar. Padahal mulanya, Tutu, si tupai dan Mimi, si marmut hanya ingin mengajak Arni bermain saja tapi Arni mengajukan untuk bermain sambil belajar. Awalnya, teman-temannya itu merasa ogah kalau harus belajar., ‘Masa main sambil belajar’. Namun, pada akhirnya, mereka malah ketagihan. “Kalau begitu besok kita belajar apa lagi?” tanya mereka pada Arni. 

Cerita pembuka di atas berhasil juga membuat Izz menyimak serius. Ia seolah ikut masuk ke dalam dongeng yang sedang dibacakan bunda. Hore!

Sejak awal, aku tidak mengajaknya serius untuk belajar hijaiyah. Hanya bilang, ‘Yuk, kita (baca) dongeng!’. Akan jelas beda responnya, loh, jika di awal kita sudah mengajaknya untuk ‘belajar’. Dan tentu saja, hasilnya si bocah aktif itu menanggapi antusias ajakan sang bunda. “Ayo, Bund!” ujarnya semangat.

Setelah satu-dua dongeng dibacakan, rupanya Izz ketagihan. Bagaimana tidak tertarik, di sana ada dongeng Timo, si buaya baik hati, yang membantu teman-temannya menyebrang sungai. Ada Hison, si kuda yang rajin bekerja, juga ada ular bernama Tsuba, si pemberani yang tak berani mencuri. Dan pastinya dongeng lain-lain yang tak kalah seru.

Bukankah fokus anak-anak biasanya tidak lama, hanya beberapa menit awal saja? kenapa bisa ketagihan untuk terus dibacakan?

Nah itu dia, asiknya berkisah atau mendongeng bersama buku ini. Sesuai dengan judulnya, belajar hijaiyah dengan 28 dongeng binatang, di dalam buku ini berisi 28 dongeng binatang sesuai jumlah huruf hijaiyah. Setiap satu dongeng, mewakili satu huruf hijaiyah. Ceritanya pun sederhana dan ringkas. Rata-rata berisi 3 halaman (tidak penuh) yang juga ditambahi dengan ilustrasi yang lucu dan full colour. Jika dibacakan dengan nyaring pun cukup 1-2 menit saja.

Belajar Hijaiyah plus Bahasa Arab 
Bukan cuma asik berdongeng loh, tanpa sengaja memberitahu sang anak sedang belajar hijaiyah, kita bisa memperkenalkan huruf-huruf hijaiyah tersebut dengan cara asyik. Plus-nya lagi, sambil mengenalkan kosa kata bahasa arab.

“Bismillah, Waah ada dongeng seru nih, cerita ‘Arnabun’ si Kelinci, namanya Arni!”. Bunda mulai mengajaknya untuk menyimak. “Ooh kelinci itu nama bahasa arabnya ‘Arnabun’ loh, A. Arnabun … Arnabun … Arnabun”. Bunda mengulang kosa kata tersebut sampai 3 kali. 

Sebelum masuk ke dongeng, kita membuka halaman bukunya bersama. Di pembukaan setiap cerita, ada aktivitas hijaiyah dulu. Misalnya huruf “A” untuk ‘Arnabun’, huruf “Ta” untuk ‘Timsaahun’. Ada pilihan untuk mewarnai huruf, tracing,  dan menuliskan ulang hurufnya. Seru, kan. Jadi anak ikut terlibat aktif. 

( Sumber: foto pribadi )

Pesan Moral dan Hadits Rasul 

(Sumber: foto pribadi)
Setelah masuk ke cerita, kita akan mendapatkan pesan moralnya juga. Di bagian akhir, didukung juga dengan hadits yang terkait. Seperti cerita Arni Kelinci diatas, setelah cerita berakhir kita bisa menanamkan pesan pada anak bahwa “Dunia ini begitu luas, ilmu pun tak ada habisnya. Dengan belajar, kita jadi banyak tahu. Ayo jangan bosan belajar karena Allah SWT menjanjikan syurga bagi manusia yang giat mencari ilmu” (Hal 8).

Lalu, di bagian akhir kita pun bisa membacakan sebuah hadits yang berkaitan dengan cerita tersebut. “Barangsiapa yang memudahkan langkahnya untuk mencari ilmu, niscaya Allah akan memudahkan jalannya ke syurga” (HR. Muslim).





Lembar Aktivitas
(Sumber: foto pribadi)
Ini bonus yang jadi favoritnya Izz. Ia paling doyan buku aktivitas. Nah, dalam buku ini, anak bisa mengerjakan lembar aktivitasnya dulu sebelum masuk ke cerita berikutnya. Cukup satu aktivitas saja dan itu pun tidak terlalu rumit. Selain untuk keterampilan kognisinya, manfaat yang didapatkan dari mengerjakan aktivitas tersebut adalah sebagai jeda anak untuk kembali fokus. 

Apa buktinya anak bisa kembali fokus untuk ingin mendengarkan dongeng berikutnya? 

Terlihat dari ekspresi wajahnya yang antusias dan ajakannya untuk kembali membaca, "Ayo, Bunda. Dongeng lagi, seru!. Sekarang dongeng siapa? Coba- coba lihat!’ sambil ia tak sabar membuka-buka halaman bukunya. 

Pengalaman bercerita dan belajar bersama buku ini, cukup 3 dongeng untuk dibacakan dalam sekali duduk. Setelah buku ditutup, biasanya kami akan menceritakan kembali dongeng yang sudah dibaca dengan gaya bebas. Sambil mengajak anak mengingat dan mengulang kemabali kosakata bahasa arabnya.

Sebelum tidur pun biasanya kami selalu bercerita tentang kegiatan yang sudah dilalui pada hari itu. Bunda akan bertanya lagi, Arnabun itu apa, ya, A? “Kelinci!” jawab si anak. Aha! Rupanya anak bisa merekam dengan baik, loh, dari apa yang sudah disimaknya tadi. Bahkan dia melanjutkan lagi, “Baqorun …Sapi!”. Hore!

Yup, ternyata terbukti bahwa belajar melalui kisah, cerita, ataupun dongeng, sangat baik dan mudah menyerap di otak anak. Alhamdulillah buku ini sangat membantu sekali untuk proses belajarnya Izz. 









0 comments:

Posting Komentar