Cerita Rasa tentang Anak



Anak-anakku adalah alasan untuk aku bisa bangun lebih pagi, bangkit dari istirahat untuk lebih bugar, sehat, dan tangguh.

Anak-anakku adalah alasan untuk aku belajar lebih banyak, membaca, menulis, dan menantang diri sendiri untuk bisa berkarya demi untuk memberikan warisan ilmu dan pengalaman untuk mereka

Anak-anakku adalah alasan untuk aku bisa menengok peran dan misi penciptaan Tuhan terhadap diriku

Anak-anakku adalah alasan untuk aku bisa menjadi hamba dengan seluas ladang pahala jika aku bisa menunaikan amanah mendidik mereka

Anak-anakku adalah alasan untuk aku bisa bertanggung jawab atas masa depan negara, bangsa, dan agama dengan mengikhtiyarkan diri menjadi madrasatul ula

Anak-anakku adalah alasan untuk aku bisa menghargai cinta kasih orang tuaku karenanya aku bisa lebih ikhlas berbakti pada mereka di sisa usianya

Anak-anakku adalah alasan untuk aku bisa menjadi perhiasan bagi imamku karena dengan penuh cinta aku membersamai keturunannya.

Anak-anakku adalah alasan untuk aku bisa berbahagia.

Anak-anakku adalah mutiara duniaku yang kuharapkan bisa menjelma pula menjadi kawan syurgaku

Anak-anakku adalah segalanya. 

Namun, tak bisa kupungkiri segala rasa ini tak patut melebihi pencipta-Nya. 

Imam Al-Ghazali mengingatkan,
“Barangsiapa yang memilih harta dan anak – anaknya daripada apa yang ada di sisi Allah, niscaya ia rugi dan tertipu dengan kerugian yang amat besar”

Maka, dengan itu…

anak-anakku adalah alasan untuk aku harus menjadi hamba seutuhnya, yang mencintai Tuhanku. Mencintai lewat makhluknya, sehingga aku dicintai olehNya karena aku mencintai mereka karena Allah.

Hasan Al-Basri mengatakan,
“Sesungguhnya hamba yang dicintai di sisi Allah adalah yang mencintai Allah lewat hamba-Nya dan mencintai hamba Allah karena Allah. Di muka bumi, ia pun memberi nasehat pada orang lain”.






1 komentar: