Popo Suka Marah-marah sih!

imgflip.com

 Cerita oleh Mira Humaira

Di sebuah perumahan Scandentia, tinggallah anak-anak tupai yang sangat lincah. Setiap minggu pagi, orang tua mereka pergi berburu makanan. Sedangkan anak-anak tupai pergi bermain di lapangan kenari.

“Heh, tunggu aku. Kalian jangan dulu mulai sebelum aku datang!” tiba-tiba Popo datang menghampiri kerumunan anak tupai sambil marah-marah.

Anak-anak tupai takut mendengarnya. Namun, mereka tetap berada di sana dan menunggu Popo siap untuk memulai permainan.

Popo, dengan tubuhnya yang gendut dan tinggi, selalu merasa dirinya paling jagoan. Ia pikir tak akan ada yang berani melawannya. Sekalipun marah-marah pasti semua kawanan anak tupai tetap akan mengikuti perintahnya, pikirnya.

Hingga pada suatu hari, seekor anak tupai betina bernama Pim mengajak semua teman-temannya bermain di tempat baru tanpa memberi tahu Popo.

Pim menyebut nama tempat itu Taman Damai, sebuah taman yang ia bangun dengan kakeknya. Tempatnya sungguh indah. Ada berbagai tanaman berwarna, hiasan daun merambat, pohon perosotan, dan segala wahana permainan seru. Sungai kecil yang mengalirkan air jernih di samping taman pun menambah damai dan sejuknya taman Pim.

“Pim, kau tidak memberi tahu Popo kalau kita ke sini? Kalau Popo tahu pasti marah-marah lagi dia,” ujar salah satu teman Pim.

“Tenang saja, lagi pula ini adalah Taman Damai. Yang suka marah-marah tidak boleh masuk ke sini,” jelas Pim pada teman-temannya.
***

Di lapang kenari, Popo terlihat celingukan dan bingung sendiri. Ia mencari kawanan anak tupai yang biasa bermain di sana.
“Heh… Kemana mereka?” Popo marah.
“Dasar! Pokoknya aku harus menemukan mereka!” gerutu Popo sambil berjalan menyusuri hutan.

Tidak lama setelah Popo berjalan ke sana ke mari, tiba-tiba ia mendengar suara tawa anak-anak tupai dari seberang sungai. Kemudian Popo semakin mempercepat langkahnya. Ia ingin segera bertemu dan menumpahkan kekesalannya.

Sampailah Popo di depan gerbang sebuah taman. Seketika ia terkesiap dengan indahnya taman itu.
“Hmm… Taman Damai? Tempat apa ini?” tanyanya dalam hati sambil mengeja papan nama di atas pintu gerbang.

Popo pun segera melangkah  masuk. Tapi … Ups. Popo dihadang oleh penjaga taman. Rupanya Popo tidak diperbolehkan masuk.

“Heh, kamu tidak kenal aku? Jangan berani menghalangiku. Aku mau masuk!” Popo berkata kasar pada penjaga taman.

Paman penjaga taman tentu tidak takut dengan Popo. Ia membiarkan Popo begitu saja. Hingga pada akhirnya Popo pun menyerah kembali ke rumahnya. Sepanjang jalan, ia marah-marah dan menggerutu.

Pekan berikutnya, Pim kembali mengajak teman-temannya ke Taman Damai. Kawanan anak-anak tupai dengan senang hati mengikuti Pim karena bermain di sana sungguh menyenangkan.

“Heh, Pim kau berani tidak mengajakku?” tiba-tiba suara geram Popo mengejutkan Pim dan teman-teman.

“Bukannya kami tidak mau mengajakmu. Taman damai sungguh mengasyikkan tapi sayang di sana bukan tempat anak yang suka marah-marah,” kata Pim dengan beraninya.

“Maksudmu apa, heh?” Popo masih bertanya heran dan membentak.
 “Aku juga ingin main di sana!” teriak Popo pada Pim yang tiba-tiba pergi melanjutkan perjalanannya.
***

Tiba di Taman Damai, semua anak tupai asik melompat memburu mainan. Di luar sana, rupanya Popo mengikuti mereka. Ia ingin ikut masuk ke Taman Damai. Namun, saat di depan gerbang taman, lagi-lagi ia dilarang masuk oleh Paman penjaga taman.

“Kenapa aku tidak boleh masuk?” gertak Popo.
“Yang suka marah-marah, dilarang masuk!” tegas Paman.
“Huh!” lagi-lagi Popo bergerutu.
***

Setiap hari minggu tiba, anak-anak tupai menghabiskan waktunya di Taman Damai. Setiap waktu mereka membicarakan keseruan bermain di sana. Popo pun hanya bisa mendengar cerita tersebut. Ia marah-marah dan berkata, “Kenapa kalian membicarakan terus taman jelek itu di depanku, heh?” Popo lagi-lagi berbicara tidak baik kepada teman-temannya.

“Baiklah, kalau kamu tidak suka, kami akan pergi dari hadapanmu, Popo si tukang marah!” ujar seekor anak tupai.

Popo terkejut melihat anak-anak tupai itu pergi meninggalkannya. Mereka tidak takut lagi padanya. Padahal diam-diam Popo sebenarnya penasaran dan ingin ikut bermain di Taman Damai. Hingga suatu hari, ia mengikuti kembali teman-temannya menuju Taman Damai. Saat tiba di gerbang taman, Popo menunjukkan sikap yang tidak biasanya.

“Maaf Paman penjaga, bolehkah aku masuk?” rupanya Popo bisa berkata dengan sopan dan lembut.
“Yang suka marah-marah dilarang masuk!” jawab Paman penjaga seperti biasanya.
“Paman, aku janji tidak akan marah-marah di dalam sana!” rayu Popo sambil menangis.

Pim yang mendengar rengekan Popo dari dalam Taman, menghampiri Popo.
“Kau janji, tidak akan marah-marah, Po? Bukan hanya di sini saja tapi dimana pun kita bermain kamu tidak boleh marah-marah,” ujar Pim dengan tersenyum.

“Aku janji Pim, aku tidak akan marah-marah lagi kepada teman-teman,” kata Popo merengek.

“Kalau begitu, kau boleh masuk, Po. Selamat datang di Taman Damai yang penuh keceriaan dan kedamaian,” seru Pim sambil mempersilakan masuk Popo.

Popo senang akhirnya bisa bergabung bermain dengan teman-temannya di Taman Damai. Di sana, ia belajar untuk tidak marah-marah lagi. Kini, teman-teman pun dengan senang hati mau bermain dengannya.
***













1 komentar: