Produktivitas Ala Muslim Produktif



REVIEW BUKU:
Judul: Muslim Produktif -Ketika Keimanan menyatu dengan Produktivitas
Judul Asli: The Productive Muslim - Where Faith Meets Productivity
Penulis: Mohammed Faris
Alih Bahasa: Kusnandar
Editor: Marlina Ali
Penerbit: PT Elex Media Komputindo
Tahun Terbit: 2016
Tebal: 312 Halaman


Memahami Produktivitas Ala Muslim Produktif

Apa itu produktivitas?
Lalu, Apa dan bagaimana produktivitas dalam sudut pandangan islam?

Saya dapat rumus ajaib tentang apa itu produktivitas dari buku karya Mohammed Faris ini, yaitu
 Produktivitas = Energi x Fokus x Waktu (Untuk memaksimalkan balasan di akhirat).
Jadi, untuk menjadi produktif kita harus memiliki ketiga unsur tersebut. Secara keseluruhan buku ini akan membahas bagaimana cara mengatur energi, fokus, dan waktu kita agar dapat menjalani kehidupan yang produktif, dan bagaimana islam bisa berperan dalam membantu meningkatkan produktivitas kita.

Biasanya ketika melihat orang yang sibuk dengan banyak aktivitas, tidak jarang kita memandangnya sebagai orang yang produktif. Padahal tidak seperti itu, Saudara. Dalam pembahasan awal, dijelaskan dalam buku ini bahwa ada empat mitos berkaitan tentang pandangan produktivitas selama ini yang kemudian coba penulis klarifikasi. Apa saja? Bab ini kita bahas sekalian, ya.

Produktif BUKAN Berarti SIBUK
Pernah mengalami kondisi dimana kita sibuk seharian tapi sebenarnya tidak produktif? Kita bisa mendeteksi kondisi ini saat dimana kita hanya membuang energi dan waktu tapi tidak memberikan ‘nilai tambah’ dalam kehidupan atau mencapai tujuan-tujuan kita. Misalnya, hanya iseng-iseng stalking timeline media sosial atau sekadar membalas chat atau email yang tidak penting.

Produktivitas BUKAN sebuah Kejadian 
Untuk bisa menjadi seorang yang produktif bukanlah suatu yang instan. Butuh waktu, butuh proses.

Menjadi Produktif itu TIDAK MEMBOSANKAN
Tidak perlu berpikir kalau orang yang produktif itu adalah orang-orang serius dan tidak santai. Justru sebaliknya, semestinya orang produktif itu rileks dan tidak mudah diserang stress. Kenapa? Karena ia pandai membuat pilihan-pilihan cerdas. Kapan ia harus bekerja keras, bersenang-senang, santai, atau serius.

Kita Tidak Bisa Menjadi SELALU Produktif
Ada beberapa orang yang merasa kecewa, tidak puas, dan merasa bersalah jika ia tidak bisa produktif sepanjang waktu. Padahal perlu dipahami bahwa kita memang tidak bisa menjadi selalu produktif. Kalau penulis buku ini bilang, “Jangan berpikir bahwa Anda adalah sebuah mesin yang dapat bekerja secara konsisten dengan kecepatan dan tingkat produktivitas yang tinggi. Bahkan mesin pun akan rusak jika selalu bergerak pada kecepatan tinggi.” Jadi, sangat wajar jika dalam suatu waktu, level produktivitas kita akan berubah. 

Nah, dari bahasan itu saja sudah banyak pencerahan, bukan?. Selanjutnya, apalagi yang seru dibahas dalam buku ini? 

Pada bab berikutnya, kita akan diajak untuk memahami bagaimana pandangan Islam tentang produktivitas dan relevansinya dengan dunia modern. Dari mulai  bagaimana sejarah ilmu produktivitas modern dan dampaknya pada masyarakat modern, lalu bagaimana paradigma islam tentang produktivitas. Dalam hal ini,  ditekankan bahwa Islam memandang produktivitas sebagai alat, bukan sebagai tujuan itu sendiri. Dijelaskan juga mengenai isu yang terkait dengan alasan mengapa dunia muslim jatuh ke dalam kegelapan yang tidak produktif. Selebihnya, dalam buku ini lengkap dibahas bagaimana kita akan mengetahui peranan energi, fokus, dan waktu dalam tiga lingkup utama kehidupan, yaitu spiritual, fisik, dan sosial. 

By the way, beruntung sekali dapat rekomendasi buku ini saat menjelang Ramadan (Thank You, Kak Adi W. Adji rekomendasinya, *ngintip dari instagram). Buku ini memang cocok untuk bekal menjalani Ramadan, dimana biasanya tidak jarang banyak yang menjalaninya dengan kegiatan bermalas-malasan karena lemas dan tak bertenaga seolah kegiatan puasa bertentangan dengan produktivitas. Pada bab ketujuh dalam buku ini, kita diberi tips dan trik bagaimana mengembangkan kebiasaan produktif. Bonusnya lagi, di bab kedelapan ada bahasan tersendiri mengenai Ramadan dan Produktivitas. Uraiannya komplit dan aplikatif. Kita dapat menemukan banyak tips untuk menaklukan tantangan produktif selama Ramadan dan tips untuk membantu puasa kita menjadi semakin produktif. 

Di bagian akhir buku ini kita juga akan mendapatkan pembahasan tentang produktivitas setelah kematian yang membuat buku ini menjadi sebuah paket lengkap untuk membantu pribadi kita untuk bisa memaksimalkan amal di dunia ini.

Tidak ketinggalan, sebuah catatan penting yang patut direnungkan, yang bisa saya ambil dari inti keseluruhan  buku ini adalah sebuah pesan yang mengingatkan bahwa apa yang lebih penting dari pada semata-mata menjadi produktif serta mewujudkan mimpi besar dan cita-cita adalah Allah menerima pencapaian kita dan menambah timbangan amal di hari kiamat kelak.

Maka sudah seharusnyalah kita senantiasa berdoa kepada Allah agar amal dan ikhtiyar produktif kita bisa diterima oleh-Nya. Sebagaimana doa yang dicontohkan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, 

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا
“Ya Allah, Sungguh Aku minta kepada-Mu ilmu yang manfaat, rezeki yang baik, dan amal yang diterima.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah)





13 komentar:

  1. Aamiin... Semoga kita semua tak sekadar sibuk ya, melainkan bisa produktif yang diridhoi Allah Swt.

    BalasHapus
  2. Betul juga ya...produktivitas itu bukan berarti sibuk mengerjakan sesuatu. Tetapi yang produktif itu, yang bisa membagi waktu antara bekerja, bersantai dan santai

    BalasHapus
  3. Reminder mbak. Bener banget kadang aku ngerasa duh minggu ini gak produktif banget padahal bener yah kita emang ga akan selalu produktif. Kita juga butuh istirahat. Bukunya rekomended nih. Jadi pengen hunting

    BalasHapus
  4. wah Masyaallah maknyes banget bacanya, emang bener sih segala kegiatan kita, seproduktif kita bagaimana caranya agar dapat ridho Allah. Niatnya emang harus karena Allah, supaya jadi pemberat amal ketika di hari akhir. Makasih banyak pun pengingatnya.

    BalasHapus
  5. Aku penasaran sama, "produktivitas setelah kematian"

    Semoga kita semua bisa jadi manusia yang produktif.

    BalasHapus
  6. Setuju banget dengan buku ini. Sibuk belum tentu priduktif.
    Produktifitas gak harus sibuk dan bikin stres namun santai yang penting tercapai. Tengku infinya mbak

    BalasHapus
  7. Kogh adem banget aku baca tulisan mba Mira. Iya juga ya bahwa produktif bukan sok sibuk. Dan semua produktivitas kita muaranya menuju akherat. :)

    BalasHapus
  8. Betul juga ya, terlihat sibuk belum tentu produktif. Hmm, harus baca juga nih, agar bisa menjadi benar-benar produktif dan memberikan manfaat sehingga tercapai tujuan utama kita, yaitu akhirat

    BalasHapus
  9. Aamiin Yaa Rabbal 'Aalamiin, terima kasih Mba telah berbagi ilmu "penting". Sibuk belum tentu produktif benar-benar membuat saya instrospeksi diri. Jadi ingin baca bukunya Mba. Adakah di Gramedia?

    BalasHapus
  10. Jadi produktif itu artinya sebuah keikhlasan untuk beribadah juga ya mbak?

    BalasHapus
  11. Nah ini, membedakan antara produktif dan sibuk apalagi sok sibuk, susahnyaaa. Kadang-kadang kita merasa sibuk padahal gak produktif. lHa gimana wong cuma stalking IG aja, gak nulis-nulis.

    BalasHapus
  12. Hihi...kena deh dakyuuu...haha kdg pengen produktif tp tergoda main medsos. Kudu pinter bagi2 waktu dan komit...��

    BalasHapus
  13. Produktivitas bukan berarti sibuk. Jleb banget bagian ini, Mbak. Memnag ngrasa selama ini kayak begini. Hahaha

    BalasHapus