MONI HILANG!

Moni Hilang!
Oleh Mira Humaira
http://www.progressivedirectory.com


Pagi ini Moni bangun tidur dengan sigap. Ia kemudian mandi dengan bersemangat lalu membereskan tempat tidur dengan riang. Hari ini Moni sungguh senang karena bibi dan sepupunya akan datang.

“Ibu, aku bantu memasak, ya!” seru Moni setelah selesai menyantap roti selai pisang kesukaannya.

“Wah, Moni semangat sekali. Terima kasih mau membantu ibu,” kata Ibu dengan senyumnya.

“Iya, Bu. Nanti Bibi Minki dan Onet juga kan harus nyobain puding buatanku,” ujar Moni percaya diri sambil merapikan ikat rambut merahnya.

Pagi menjelang siang, Moni dan Ibu sibuk mengolah aneka makanan di dapur. Tidak lama kemudian, suara bel berbunyi ‘ting...tong...ting...tong!'

Moni sangat gembira rupanya Onet dan Bibi Minki sudah tiba. Moni sangat merindukan mereka karena sudah lama Onet tidak berkunjung ke rumah Moni.
***

“Taraa...ini puding pisang spesial buatanku. Kalian harus mencobanya!” seru Moni sambil menyajikan puding berwarna kuning cerah dan menyiapkan piring-piring kecil untuk Bibi Minki dan Onet.

“Kamu sudah pintar memasak ya, Moni!” kata Bibi Minki memuji. Moni pun tertawa bangga, “siapa dulu doong, Moni….”

Moni, ibu, Bibi Minki, dan Onet menyantap lezatnya puding buatan Moni. Tidak lupa juga Moni menyuguhkan olahan makanan lain buatan Ibu yang tak kalah spesial enaknya, ada banana cake, banana nugget coklat, sup pisang kacang, juga keripik pisang khas buatan ibu.
www.pinterest.com


Setelah semuanya makan bersama, tidak lupa juga Ibu menyuruh Moni untuk membagikan sebagian makanan kepada para tetangga. Itulah yang selalu diajarkan ibu kepada Moni, jika kita membuat makanan apalagi dengan jumlah banyak kita harus juga berbagi kepada tetangga agar mereka ikut mencicipi dan tidak hanya mencium bau enaknya saja, begitu kata Ibu yang selalu diingatnya.

“Moni, ini makanan buat Paman Donki. Bungkusan yang warna merah untuk Bibi Miki dan Kido, ya.  Itu spesial loh karena ada permen pisang kesukaannya Kido,” jelas Ibu sambil menyerahkan dua bungkusan makanan yang diikat rapi.

“Baik, Bu. Oh ya, boleh aku pergi bersama Onet?” tanya Moni sambil memandang wajah Ibu dan Bibi Minki.

“Tentu saja. Kalian boleh pergi bersama. Hati-hati ya. Kalian harus langsung kembali pulang,” kata Bibi Minki mengizinkan.

“Yeee!”
Moni dan Onet senang.
Sepanjang perjalanan Moni dan Onet saling bercerita dan tertawa bersama. Kali ini Moni dengan senang hati mengajak Onet berjalan mengitari desa. Moni tahu kalau Onet, sepupunya yang berkaca mata itu, sangat gembira jika diajak jalan-jalan dan bertualamg.

Sepulang dari rumah Paman Donki dan Bibi Miki.
“Eh lihat, Onet. Di sana banyak sekali akar dan ranting gantung bergelayunan. Main ke sana, yuk.” ajak Moni.

“Aku pasti mau sekali, tapi bukankah kita harus segera langsung pulang?” tanya Onet ragu.

“Sebentar saja, pasti seru sekali. Ayo ikut aku,” Moni terus berjalan dan berbelok ke arah hutan.

Onet yang senang bertualang tentu saja tergoda dengan ajakan Moni.
“Baiklah Moni tapi kita hanya sebentar saja di sini” Onet meyakinkan sepupunya itu. Bukannya tidak berani tapi Onet ingat pesan ibunya, mereka harus langsung pulang setelah mengantar makanan.

“Iya Onet, santai aja. Aku ingat pesan Bibi”, seru Moni.

Moni dan Onet pun asik bergelantungan di ranting gantung pohon. Bagi mereka, di sana seperti wahana bermain yang asyik dan menantang. Satu demi satu pohon tinggi besar dengan ranting gantung mereka lewati. Onet bergelayun terampil ke sana ke mari. Mereka tertawa bersama menikmatinya.

Hingga akhirnya suara Onet tak terdengar lagi, rupanya mereka terpisah. Moni tiba-tiba berhenti dan menyadari Onet sudah tidak bersamanya.

“Ooh tidak. Onet kamu dimana?” teriak Moni mulai panik
Tidak ada suara yang terdengar kecuali suara sahutan burung hantu di atas pepohonan.

Moni berusaha mencari Onet. Dia menangis sambil menyeru nama Onet. Moni terus berjalan ke dalam hutan. Ia tidak mau pulang sebelum menemukan sepupunya.

Hari sudah mulai senja. Matahari sudah hendak pulang. Itu tandanya hari akan mulai gelap. Moni masih mencari Onet. Moni pun masih terus menangis. Ia sendiri dan kali ini mulai ketakutan.
***

“Moni… Moni… Moni!’
Tiba-tiba terdengar suara dari kejauhan. Moni terkejut, ia berharap sudah berada dekat dengan Onet. Moni mendekati suara tadi. Namun, tidak lama kemudian ia baru sadar itu bukanlah suara Onet sepupunya.

“Moni… Moni… Moni!”
Itu bukan Onet.
Tapi…
Itu suara Ibu.

“Ibuuuu…!”
Teriak Moni sambil sesenggukan. Moni memeluk ibu karena ketakutan. Moni takut gelap dan ia lebih takut lagi karena Onet belum ia temukan.

“Ibu...aku takuuut,” Moni masih terus menangis. Ibu menenangkan Moni dan mengajaknya pulang terlebih dahulu. Ibu menggendong Moni dengan penuh kehangatan.

Sesampainya di rumah,
“Maafkan aku Ibu… Onet tidak ada,” Moni menangis tambah kencang.

“Stttt….,” Bibi Minki keluar dari kamar Moni memberi tanda agar tidak berisik.

Bibi Minki menghampiri Moni sambil tersenyum. Moni heran, ia pikir sang Bibi akan marah karena ulahnya.

“Ayo, Moni istirahat saja dulu,” ajak bibinya.
“Tapi...Onet, Onet hilang, Bibi.” Moni masih merasa bersalah. Bibi Minki kembali tersenyum.

“Stt...lihat di sana!” telunjuk Bibi Minki mengarah ke tempat tidur Moni.

Moni tiba-tiba menangis kembali.
“Huu...huu...huu”
Namun, kali ini bukan karena takut dan sedih tapi Moni merasa terharu dan bahagia. Rupanya sepupu kecilnya, Onet, sedang tidur pulas di ranjang pink kesayangannya.

Moni langsung memeluk Bibi Minki. Ia meminta maaf pada Bibi karena tidak menuruti pesannya untuk segera pulang. Moni juga meminta maaf pada Ibu karena tidak meminta izin untuk bermain ke hutan.

“Tidak apa-apa, sayang. Lain kali Moni harus bilang dulu kalau mau bermain di hutan. Tadi katanya Onet sempat tersesat. Beruntungnya, tadi Onet berpapasan dengan Pak Dodong, beliau yang mengantar Onet ke rumah.” jelas Ibu

“Justru kami lebih khawatir padamu, Moni. Syukurlah kamu tidak apa-apa,” ujar Bibi Minki.

Moni mengusap air matanya dan kembali memeluk ibu. Moni sangat sayang pada Onet. Moni takut terjadi hal buruk pada sepupunya itu. Moni juga sayang pada Ibu dan Bibi Minki yang begitu perhatian dan sayang padanya.

www.pinterest.com


#30DEM #05/30
#Fabel
#CeritaMoni




0 comments:

Posting Komentar