Sang Penerang


Kisah Inspiratif:
SANG PENERANG
Oleh: Mira Humaira

“Pak Hazem itu penghancur Kampung Madani!”
“Selama Haji Hazem hidup, kampung ini tidak akan pernah maju!”

Suara-suara garang itu memekik di telinga. Tak enak tapi jelas terdengar. Siapakah dia, sepertinya orang yang dituju itu sosok penjahat kelas kakap.

Di pojok kelas itu tampak seorang gadis berkerudung putih mengepalkan tangan, geram. Azima namanya.
***

“Tuduhan jahat!" lirih Azima. Tak sadar ia menitikkan air mata sembari memandang wajah sepuh bermata sayu di hadapannya. Ia berusaha ceria tetap tersenyum menemani sosok itu, sosok yang menjadi objek suara-suara garang tadi. 

“Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya,” Sang Kakek berbicara tentang renungan di sore itu. Azima menyimak khusyuk. Dilanjutkan cerita nostalgia tentang masa perjuangannya membangun Kampung Madani, Pak Hazem terlarut dalam ceritanya sendiri, tertawa dan sesekali terisak mengingat masa-masa enerjik bersama kawan-kawannya.

Entah bagaimana yang dirasakan Azima saat itu, yang terlihat hanya gurat gemas ingin berteriak, ingin menyampaikan pada dunia apa yang sebenarnya terjadi. Di sudut pikirannya yang lain, bagaimana bisa sebuah sejarah bisa dilupakan bahkan dinodai dengan sengaja oleh segelintir provokator penebar kebencian.

Kampung Madani adalah sejarah warisan leluhur kakeknya, yang dulu dibangun bersama-sama untuk kemaslahatan dan kemajuan pendidikan masyarakat sekitar. Pada mulanya, fokus untuk dasar pendidikan keagamaan (pengajian) lalu berkembang sehingga bisa berdiri juga sekolah-sekolah umum yang tetap mengedapankan nilai religi.

Tak jelas mulai dari mana, berbagai konflik intern mulai bermunculan. Para pendiri satu persatu sudah tiada, generasi berikutnya mulai mencuatkan masalah yang semakin kontras, kekuasaan mulai dipersilisihkan dan diperebutkan.

Pak Hazem, salah satu pendiri yang masih hidup, salah satu tokoh utama yang berjuang keras atas berdirinya kampung itu. Karena suatu perbedaan pendapat dengan pengurus kampung madani yang sebenarnya masih terikat keluarga sendiri, mulailah kampung itu memanas. Berbagai fitnah tertuju padanya. Virus kebencian pada sosoknya disebarkan pada santri-santri.

Doktrin Sang pembenci mengena di otak para santri dan sebagian masyarakat. Dengan entengnya, hinaan dari para santri muda yang masih polos tertuju pada Pak Hazem, padahal mereka tak tahu sebenarnya, bagaimana sebagian besar hidup Pak Hazem didedikasikan untuk Kampung Madani, tempat yang ia cintai dengan nafas dan darahnya. Ironis, malah mereka menganggap sosok Pak Hazem sebagai penghancur kampung madani.

Azima, seorang gadis kritis, tak bisa tinggal diam menyimak terus menerus ketidakadilan itu. Ia ingin bersuara. Saatnya tampil berani memutus rantai cerita kebohongan yang semakin memanas itu. 

Melihat gelagat cucu kesayangannya mulai bersirat dendam, Sang Kakek menyodorkan sebuah buku kecil coretan tangannya. Tak berkata lalu iPak Hazem kembali beristirahat menuju kamarnya. Azima yang selalu tertarik membaca, langsung membuka lembaran demi lembaran dan menikmati waktu dengan tulisan-tulisan di dalamnya.
Seandainya semua manusia bisa mengamalkan tiga hal berikut, betapa akan indahnya alam dunia ini, ‘bakal tiis ceuli herang panon, hirup bakal tingtrim, genah, merenah, tur tumaninah’. Tidak akan ada perpecehan antara saudara, keluarga, apalagi sampai ada peperangan.
Kalimat pembuka di suatu halaman buku itu membuatnya menunduk. Azima melanjutkannya khusyuk, kemudian disana tertulis sebuah hadits rasul yang diterjemahkan dalam bahasa sunda. 

**Aya tilu rupa pagawean, sing saha anu bisa ngamalkeun kana eta anu tilu, Allah bakal ngentengkeun kana hisabanana, oge pasti Allah bakal ngasupkeun manehna ka surga; 

Hidep kudu daek kikiriman ka jalma anu geus teu daek ngirim ka hidep. Hidep kudu daek ngahampura ka jalma nu boga laku dzalim ka hidep. Hidep kudu daek sumolondo (ngarakerkeun deui kawargian) ka jalma anu geus ngajauhan ka hidep.

Azima menangis, tersindir malu. Rasa dendam yang pernah terbersit itu rupanya terbaca oleh Sang Kakek. Azima sungguh malu. Bukan ia yang terdzalimi namun ia yang mendendam. Ia menghibur diri, merenung kembali, ‘baiklah biar semesta yang berbicara pada saatnya yang tepat’, lirihnya dalam hati.  

Namun suara-suara garang itu masih saja terdengar, sekalipun ia menutup kupingnya lekat. Tapi kini hatinya lebih dingin, mengingat kembali tulisan-tulisan di Amanah (nama buku tulisan-tulisan Pak Hazem). Berisi pesan-pesan (amanah) sang kakek untuk anak cucu generasinya tentang AMAr ma’ruf NAHyi munkar (AMANAH). 

Beberapa bulan sejak hari itu, kabar sang kakek tiada makin menghancurkan jiwa Azima. Namun, saat kembali mengingat sejarah hidup sang kakek, ia kembali tersenyum bangga.

Ragamu kini tiada namun sinar yang telah kau hidupkan di Kampung ini tak akan pernah sirna, sebagaimana nama yang tersemat untukmu, Hazem Siradj, kau lah sang penerang. Semoga Allah mengampunimu. Azima menyeka air matanya, menunduk kembali, berdoa. 
_____________________
**Ada tiga perkara yang barang siapa mengamalkannya, Allah akan meringankan hisab dan memasukannya ke dalam surga; 
Hendaklah kalian berbagi dengan orang yang sudah tidak mau berbagi dengamu, maafkanlah orang yang sudah berlaku dzalim padamu, dan eratkanlah persaudaraan dengan orang yang sudah menjauhimu.

10 komentar:

  1. duhhh reminder-nya mengena bangeet deh mba, harus diingat baik2 nih

    BalasHapus
  2. Cerita kepahlawanan dan motivasi yang tak lekang inih

    BalasHapus
  3. Masya Allah inspiratif kisahnya..banyak nilai moral yang bisa diambil darinya.
    Terima kasih sudah membagikan cerita ini, mbak..

    BalasHapus
  4. Tiga perkara tersebut bila disederhanakan hendaknya kita menjadi pribadi yang gemar berbagi, pemaaf, dan menjalin silaturahim ya...

    BalasHapus
  5. Siapalah kita yang terlalu takut Allah tidak menegur siapa yang melakukan kesalahan? Sedangkan Allah Maha Melihat. Sebuah pengingat buat kita semua ya, Teh. Memaafkan jauh lebih baik. Jadi ingat betapa aku sering bilang sudah memaafkan, tapi rasanya masih ada yang mengganjal.

    BalasHapus
  6. Masya Allah pesan yang tersirat dalem banget..
    memang benar apa yang dilakukan oleh kakek Hazem tapi sulit banget untuk dilakukan... hiks

    BalasHapus
  7. Hanya orang-orang pilihan yang bisa berbesar hati dan bijaksana dalam ucap dan tindakannya. Semakin jarang orang kayak Kakek Hazem ini. KIta yang muda masih tinggi emosi, harus lebih banyak mengasah kesabaran diri.

    BalasHapus
  8. MashaAllah bagus banget ini dikemasnya. Merinding bacanya. Semoga kelak kita seperti Kakeh hazem berikutnya yang berbuat sesuatu untuk masyarakat.

    BalasHapus
  9. Ngena banget ini mah. Berasa disindir abis2an heu. Harus banyak intropeksi diri. Makasih remindernya mba.

    BalasHapus
  10. Terkadang manusia begitu mudah tersulut oleh amarah. Suka dengan tulisannya mbak, selalu menginspirasi

    BalasHapus