Gia, The Diary of Little Angle - Tawakkal Hadapi Kanker Ganas


Judul: Gia, The Diary of a Little Angel
Penulis: Irma Irawati
Penerbit: Bhuana Sastra
Tahun Terbit: 2018
Tebal:140 halaman
ISBN: 978-602-455-309-8

Perjuangan Hadapi Acute Myeloid Leukimia

Sakit merupakan ujian dari Allah SWT. Ia bisa saja hanya sekadar musibah jika hanya diratapi. Namun, jika ditengok lebih dalam, sungguh sakit bisa menjelma menjadi sebuah anugerah. Bagaimana tidak, karenanya dosa maupun kesalahan bisa diampuni, pahala pun dilipatgandakan.  

Tawakkal adalah kuncinya. Bagaimana sikap kita dalam menerima takdir yang Allah tentukan. Ridha, ikhlas, atau justru mengutuknya?

Buku ini berkisah tentang seorang gadis kecil yang diberikan ujian oleh Allah berupa sakit yang cukup berat. Bahkan dokter ahli mengungkapkan bahwa penyakit ini tergolong langka menyerang anak-anak. 

Nazila Apregia Reigane, yang biasa disapa dengan nama De Gia, di usianya yang baru menginjak 10 tahun, divonis menderita penyakit Acute Myeloid Leukimia (AML), sejenis kanker dimana sumsum tulang belakang selaku pabrik pembuat sel darah menghasilkan sel-sel darah yang tidak normal. 

Dalam kisahnya, begitu banyak pelajaran hidup dan pesan moral yang dapat diambil. Bagaimana De Gia berjuang menghadapi dan berdamai dengan sakitnya. Menyerahkan sakit dan keluhnya hanya pada Allah yang Maha menyembuhkan. De Gia berusaha tawakkal.

Saat ia duduk di kelas 4 MI (setara SD), De Gia mulai merasakan tubuhnya cepat lelah sampai ia beberapa kali bolos mengepel teras rumah. Setiap usai mengikuti pelajaran olah raga, badannya demam sehingga esoknya tidak bisa bersekolah.

Kagumnya, sejak ia mulai merasakan tubuhnya mulai ada yang berubah, De Gia tidak pernah mengeluh sedikit pun. Ia menutup rapat sakitnya dari orang-orang terdekat. De Gia hanya bercerita pada diari kesayangannya.

Hingga pada suatu hari, karena kondisinya yang tidak juga membaik akhirnya De Gia harus dirawat di sebuah  rumah sakit di Ciamis dan sampai harus dirujuk ke rumah sakit di Bandung. Disana lah baru diketahui, De Gia mengidap penyakit AML.

Mamah, sosok tegar yang selalu menemani Gia,  Memberikan peran penting dalam kisah ini. Ia yang selalu menenangkan Gia dan mengajaknya untuk selalu ikhlas kepada Allah. Kunci untuk bisa sembuh juga, salah satunya, kita mau berdamai dengan penyakit yang menyerang. Jangan diratapi, tapi terima apa adanya dengan ikhlas. (Hal. 67)

Begitu pun dengan Apah, panggilan sayang De Gia pada ayahnya. Apah selalu meyakinkan bahwa apapun penyakitnya, yang penting De Gia yakin, Allah yang akan menyembuhkan. Allah yang memberikan penyakit, pasti Allah yang punya obatnya.

Serangkaian pemeriksaan, operasi, hingga kemoterapi ia jalani. Tubuhnya semakin kurus, rambut panjang ikalnya pun semakin rontok. Dengan kondisinya seperti itu, tidak membuatnya minder. Apalagi dengan dukungan orang tua dan ketiga kakak perempuannya, De Gia tetap semangat dan ceria bahkan ia masih sempat meng-upload video dan meme dengan kepalanya yang botak.

Cukup lama ia terbaring di ranjang rumah Sakit. De Gia merindukan sekolah, guru, dan teman-temannya. Di sekolah, Sosok Gia dikenal sebagai pahlawan bagi teman-teman perempuanya karena ia sering membela mereka dari usilnya bocah-bocah lelaki. Namun, di balik perkasanya Gia, ia memiliki hati yang lembut. Rasa empatinya tinggi. Ia selalu tergerak untuk membantu temannya yang kesusahan. Gia rela membobol celengannya sendiri untuk membelikan teman nya sebuah tas baru. Tak jarang, Gia pun selalu menyisihkan sebagian uang bekalnya untuk diberikan pada seorang teman yang tak bisa jajan karena tak punya uang.

Sakit tak membuatnya berhenti menebar kebaikan. Suatu sore di bulan Ramadhan, Gia yang sudah tak berdaya untuk berjalan digendong Apah berkeliling bazar ramadhan di komplek pesantren. Tak lupa membawa uang tabungannya, ia sempatkan untuk bisa berbagi di sana. Tak disangka itulah Ramadhan terakhir baginya.

Sakit tak membuatnya juga lupa akan tugasnya sebagai hamba Allah. Hal ini De Gia tunjukan selama sakit pun, ia tidak pernah meninggalkan shalat wajibnya.

Sakit adalah salah satu pengingat bahwa tidak adanya keabadian di dunia ini. Begitu pun sakit yang dialami De Gia akhirnya berteman dengan kematian. Setelah 10 bulan perjuangannya, ia baru berbisik pada Mamah bahwa ia sudah tak kuat. Dalam pelukan hangat Mamah, De Gia menghembuskan nafas terakhirnya. Tidak ada yang mampu melawan ketetapan Sang Pemilik jiwa. Dengannya, tugas dan misi De Gia di dunia telah usai.

Diangkat dari kisah nyata, Buku ini memiliki kekuatan sendiri dalam mengaduk-aduk emosi pembaca. Penulis, Irma Irawati, pun berhasil menghadirkan sosok Gia begitu hidup. Setiap penggalan kisah dalam buku ini, mewakili karakter yang dimilikinya.

Sebagaimana judul buku ini, diary of a little angel. Setiap sub judul dalam kisah ini memang menyertakan cuplikan diari Gia. Hal tersebut menguatkan setiap konflik dalam ceritanya. 

Membaca buku ini, kita dibuat tertegun dengan keelokan akhlak seorang gadis berhati malaikat ini. Merasa tertampar jika masih saja mengeluh dengan sakit yang tak seberapa. Merasa malu jika belum mau berbagi dengan sesama. Penulis berhasil menularkan energi kebaikan De Gia kepada pembaca lewat tulisannya.

Buku dengan isi cerita sekitar 100 halaman ini cukup tipis. Ditambah dengan bahasa yang ringan dan sederhana, tampaknya bukan sekadar bisa dinikmati oleh orang dewasa. Buku ini juga cocok dinikmati oleh kalangan pembaca anak.

Karya Teh Irma Irawati ini termasuk dalam kategori Fiksi/ Novel. Padahal jika dilihat dari sumber dan latar belakang kisah ini, buku ini mungkin bisa juga masuk dalam genre kisah inspiratif.







0 comments:

Posting Komentar