Arnold & Buku Ajaib


Arnold dan Buku Ajaib
Oleh Mira Humaira

“Tidak, Robin. Aku tidak mau ke sana. Hutan itu terlalu menyeramkan” Arnold mengelus kepala anjing mungil kesayangannya. 

“Kau benar-benar tidak berani, Arnold?” sahut Robin sambil mengibaskan ekor pendeknya.

“Atau kau memang tidak mau menemaniku?” Robin kini mulai kesal. Ia berbalik meninggalkan Arnold.

“Bukan begitu, Robin. Tapi… “ Arnold tak bisa menjelaskan lagi.
***
“Hmm... aku benar-benar takut gelap. Bukannya di hutan selalu gelap? Bagaimana aku bisa menemani Robin ke sana?” Arnold berbicara sendiri sambil mengernyitkan dahi, berpikir.

Arnold tidak tega melihat Robin murung. Sejak kemarin, teman setianya itu tampak sedih. Robin sempat merengek, ia ingin bertemu dengan teman-temannya di sana. Tapi Arnold  tidak berani jika harus bermain di hutan. Itu sungguh tidak menyenangkan, 

Arnold bingung. Ia mondar-mandir terus di kamarnya. Hingga akhirnya, Arnold melihat sebuah buku sampul merah diatas meja belajar sang kakak, Aha! 

“Bukankah ini buku ajaib yang pernah dibicarakan Hazel. Ia bilang buku ini bisa menyelesaikan semua masalah apapun. Ah, pasti buku ajaib ini juga bisa membantuku” Arnold berkata dalam hati.

Arnold tersenyum dan merasa lega. 
***
“Hai, Robin!” sapa Arnold melempar senyum pada anjing putihnya.

Robin masih kelihatan cemberut. Namun, Arnold tetap senang melihatnya. Karena sekalipun Robin sedang manyun, anjing mungil itu tetap lucu dan menggemaskan. 

“Ayo kita ke hutan sekarang!” ajak Arnold. Ia berbicara meyakinkan.

“Kau serius, Arnold? Kau sudah berani?” Hore!” teriak Robin girang.
“Ayo!” 
“Eh, kau tidak membawa perbekalan apa pun?”
“Ah, tenang saja. Semua beres!” jawab Arnold.

Dengan gagah, Arnold melangkah menuju hutan. Pertama kalinya ia percaya diri memasuki hutan pinus hijau itu. Iya, kali ini, Arnold merasa tenang karena sudah membawa buku ajaib bersamanya. Semua pasti aman, pikirnya.
***
Mendekati jalan masuk hutan, Arnold mulai kedinginan. Angin berhembus kencang. Suasana mulai gelap. Dan...Oow, ia mulai ketakutan. 

Arnold mencoba tidak panik. Lalu ia mengambil buku ajaibnya, dan... “Dubidubidam! aku butuh cahaya. Ayo datanglah!” teriak Arnold tiba-tiba sambil memejamkan mata. Robin pun menyalak, terkejut. 

Arnold membuka matanya. Tapi, ups, tak ada yang berubah. Sepanjang jalan, hutan masih tetap gelap. Suara-suara jangkrik dan hewan lainnya malah mulai terdengar samar. Agak mengerikan.

Arnold merinding. “Heeu, kenapa tidak berhasil?”

Arnold mencoba cara lain, menggosoknya, membaca mantra abal-abal, melemparnya, mengayunnya... namun semua sia-sia. Masih tetap gelap. 

Anjing kecil itu heran melihat tingkah temannya. Apa yang dia lakukan?

Keadaan semakin mencekam saat tiba-tiba seekor beruang coklat berbulu tebal mendekat, meraung. Arnold yang sudah berkeringat dingin kembali mengambil bukunya. 

“Hai buku ajaib, ayo lawan beruang besar itu!” 

Krik...krik...krik
Tidak terjadi apa-apa.

Arnold kesal. Ia melempar buku merah itu.

“Ayo lariii!” teriak Arnold pada Robin.
Arnold berlari ketakutan. Robin pun ikut-ikutan padahal ia tidak takut sama sekali. Setelah cukup menjauhi hutan pinus hijau, mereka beristirahat di dekat sungai. 

“Eh, Robin. Kenapa kamu masih bawa buku itu. Hazel berbohong soal buku ajaibnya. Itu sama sekali tidak berguna,” Arnold berkata sambil ngos-ngosan. 

“Ini kan buku milik Hazel. Kamu harus mengembalikannya,” jawab Robin sambil menggigit buku itu di mulutnya.

“Hazel aneh. Buku yang tak bisa apa-apa dibilang ajaib,” seru Arnold kembali kesal.

“Kamu yang aneh, Arnold!” sergah Robin. “Hazel tidak pernah menggunakannya seperti yang kau lakukan tadi,” jelas Robin sinis.

“Hah? Lalu bagaimana ia menggunakannya?” tanya Arnold penasaran.

“Hazel membukanya dengan baik, lalu membacanya dengan seksama. Dan ia melakukan sesuatu setelahnya,” Robin bercerita.
***
Tiba di rumah, Arnold membolak-balik buku sampul merah itu. Ia penasaran. Sebelumnya, Arnold memang tidak pernah melihat isinya apalagi membacanya. 

Rupanya rasa penasarannya membuat Arnold berniat membuka buku merah ajaib yang dibilang Hazel. Apa ajaibnya buku ini?

Dibukanya lembar demi lembar buku ajaib itu. Ternyata Arnold langsung tertarik. Buku itu memuat gambar yang menggoda matanya. Sedikit demi sedikit, Arnold pun mulai membacanya. 

"Wah, di sini ada cerita petualangan, cara memasak pizza terenak, cara membuat ayunan, resep-resep makanan lezat, cara menyulam boneka, membuat mainan kardus, dan… Aha! Ada juga cara seru berpetualang di hutan," seru Arnold tiba-tiba sambil membuka-buka lembaran buku penuh semangat.

Arnold pun membacanya perlahan dan teliti. Matanya berbinar seolah mendapatkan harta karun yang selama ini tersembunyi.

Dalam hatinya, Arnold bergumam, “Benar saja, buku ini memang bisa menyelesaikan masalahku. Terima kasih buku ajaib”. 
***
Keesokan harinya, Arnold mengajak kembali Robin, “Ayo Robin, kita akan menjelajah hutan pinus hijau!”

“Kau tidak akan berulah aneh lagi, kan, Arnold?” tanya Robin mengejek.

“Tentu tidak. Tenang saja, kan ada buku ajaib ini,” seru Arnold menunjukkan buku merah

“Oh tidak. Kau akan menggunakannya seperti tongkat sihir lagi? Itu memalukan sekali,” sahut Robin menempelkan satu kakinya di kening.

“Hahaha... tenang saja! Aku sudah tahu mantranya” kata Arnold mengerlingkan matanya. “Iya, Robin. Seperti yang dilakukan Hazel. Aku harus membacanya!” tambah Arnold. 

“Ayo aku sudah siapkan semua. Mari kita berangkat!” ajak Arnold dengan tas ransel penuh di punggungnya. 

Kali ini Arnold tak hanya membawa buku ajaibnya. Tas punggungnya penuh dengan perbekalan dan perlengkapan. Seperti yang ia baca dari buku ajaib itu, ia harus membawa senter, beberapa lampu dan batrei, tempat tidur ayunan dari kain (hammock), makanan-minuman, obat-obatan, scarf, topi,  buku dongeng, juga tips lainnya.

“Kau tidak takut lagi beruang atau binatang hutan lain mendekatimu lagi, Arnold?” tanya Robin ragu saat mereka mulai menuju gerbang hutan.

“Percaya padaku. Aku tahu cara mengatasinya!” yakin Arnold. “Aku tahu cara berteman baik dengan mereka. Aku sudah membacanya,” jelas Arnold girang sambil mengangkat buku merah ajaib Hazel.

“Waw, benar-benar buku ajaib!” sahut Robin.

Sekarang Arnold mengerti mengapa buku itu ajaib, bahkan semua buku yang ada di dunia pasti ajaib. Karena di sana ada pengetahuan dan ilmu yang akan membantu menyelesaikan segala masalah dan tantangan kita. Dan satu-satunya mantra untuk melihat keajaibannya adalah dengan membacanya. 

(Sumber: https://ebookfriendly.com)

















0 comments:

Posting Komentar