Paman Ding-Dong dan Sup Manis

www.pexels.com

Cerita oleh Mira Humaira

“Cici… tolong antarkan sup wortel ini ke rumah paman sebelah, ya!” seru Mama dari dapur.

Aku menghampiri Mama sambil menghirup aroma lezat wortel dari sebuah panci. Mama menyodorkan sebuah mangkuk bertutup kaca bening. Terlihat tetes-tetes uap dari atas. Sup wortel buatan Mama memang menggoda.

Tok tok tok…
“Permisi…!”
“Permisi, Paman!”
Aku mengetuk pintu barkali-kali. Kemudian terlihat kepala beruang menyembul dari balik pintu.

“Selamat pagi, Paman Beruang. Ini sup dari Mama,” Aku menyerahkan mangkuk sup sambil tersenyum.

Bruk!
Pintu kayu itu tertutup begitu saja sesaat setelah paman itu mengambil mangkuk dari tanganku.

Beruang aneh!
Aku menggerutu dalam hati. Aku pun langsung kembali dan saat itu Mama sudah tidak ada di rumah. Mama pasti sudah berangkat ke pasar.

Ding… dong… ding… dong!
Suara bel berbunyi.
Mama sudah pulang?
Aku segera membuka pintu.

Ups, ternyata paman beruang hitam yang berdiri tegak di balik pintu. Badannya besar sekali. Aku harus mendongak ke atas untuk melihat wajahnya. Tubuhnya juga tinggi, bahkan saat telingaku berdiri pun, tidak sampai setinggi dadanya.

“Ini!” Paman beruang itu menyodorkan mangkuk tadi.
“Hah?!” Aku tidak mengerti. Ia mengembalikannya dengan mangkuk yang masih terisi penuh.
“Aku tidak suka sup manis!” kata Paman beruang dengan lantang. Ia langsung berbalik badan dan pergi begitu saja.

Beruang aneh!
Aku menggelengkan kepala sambil menatap Paman beruang itu pergi.

Mama pulang.
“Ma, Paman sebelah itu mengembalikan supnya. Katanya ia tidak suka sup manis,” laporku pada Mama.

“Manis?” tanya Mama sedikit kaget.
Aku menggelengkan kepala tanda tak tahu.

Esok hari.
“Cici… Sup untuk paman sebelah sudah Mama siapkan, ya. Mama pergi dulu ke pasar. Jangan lupa antarkan, ya!” teriak Mama terburu-buru.

“Siap, Mamaaaa!”
Aku ambil mangkuk yang sudah disiapkan Mama, yang sama seperti kemarin. Tapi kali ini isinya sup jagung ayam. Aku bisa membayangkan lezat dan gurihnya sup ini.

Dan… Kejadian yang sama. Paman beruang itu menutup pintunya tanpa berkata-kata setelah mengambil supnya.

Ding… dong… ding... dong...!
Mama?

Oh, tidak. Paman beruang lagi.

“Aku tidak suka sup manis!”
Lagi-lagi, paman beruang itu datang mengembalikan mangkuk sup yang masih terlihat utuh.

Kali ini aku penasaran. Aku mengambil sendok dan menyuapkan sup jagung ayam ke mulutku.

Beruang aneh!
Aku sudah biasa menyantap sup jagung ayam buatan Mama. Kali ini pun rasanya sama. Asin dan gurih. Manis dari mana?!

Esok hari lagi.
“Cici, itu supnya…,” ucap Mama sambil menutup pintu rumah.

“Ya… ya… ya,” Aku langsung menuju dapur mengambil mangkuk itu.

Dan… untuk ketiga kalinya. Kejadiannya terulang seperti hari-hari kemarin. Paman itu memencet bel, memasang muka dingin, menyodorkan mangkuk, dan bilang, “aku tidak suka sup manis!”

Aku penasaran sup apa yang dimasak Mama hari ini untuknya.
“Hmm, ini sup iga!” sesaat aku tergoda dengan wangi bawang yang menyeruak dari dalam mangkuk. Tanpa menyicipnya, aku tahu pasti kalau sup ini tidak mungkin manis.

Beruang aneh!

Hari keempat.
Mama menyiapkan lagi sup untuk paman sebelah yang sampai sekarang kami tidak tahu namanya.
Kali ini, Mama membuat lagi sup wortel keju. Sup wortel keju adalah masakan favorit kami, keluarga kelinci. Jadi, aku tahu pasti rasa sup itu asin bukan manis.

Aku tidak bosan untuk melempar senyum dari balik pintu paman beruang saat memberikan semangkuk sup untuknya. Walaupun biasanya ia akan selalu membanting pintu.

Tapi ada yang aneh hari ini. Paman beruang itu menutup pintu dengan pelan. Ajaibnya lagi, ia bisa bilang, “Terima kasih, Cici!”. Kejutan, ia juga tahu namaku.

Diam-diam aku juga penasaran dengan paman beruang itu. Tanpa ragu, aku memata-matai dari balik jendela samping.
Oh itu dia.
Aku bisa melihatnya sedang menyimpan mangkuk di atas meja. Mukanya berseri-seri. Paman beruang tampak senang  dan bersemangat ingin menyantap supnya.

Aku terus memperhatikannya. Aku lihat paman beruang mencari sesuatu. Ya, dia mencari sendok. Tapi, ups, aku melihat sendok itu ia raih dari toples madu. Sendoknya masih berlumur madu yang lengket. Ia langsung memasukkannya ke dalam mangkuk, mengambil kuahnya, dan hap! ia menyuapkan ke dalam mulutnya.

Oow! Itu dia masalahnya.

Seketika wajah Paman beruang itu tampak bersedih. Ia meninggalkan supnya.

Aku kembali ke rumah dan bersiap-siap membuka pintu kembali. Pasti paman beruang akan segera datang.

Ding… dong… ding… dong!
***

Keesokan harinya (lagi).
Di hari ke lima ini Mama membuat sup kentang keju.
“Cici…”
Sebelum Mama meneruskan kalimatnya, aku sudah tiba di hadapannya.

“Sup untuk paman sebelah? Aku siap mengantarnya!” tuturku bersemangat. “Dan ini juga, kita melupakan ini dari kemarin,” tambahku sambil mengacungkan sendok ke depan Mama.

Mama sepertinya belum mengerti. Aku juga tidak menjelaskannya karena aku harus bergegas mengantarkan sup dan Mama pun akan segera ke pasar.

“Selamat pagi, Paman. Ini supnya!” ucapku sambil menyapa. “Dan ini, ini sendok untuk memakannya, Paman!”

Paman beruang itu tersenyum dan kembali masuk.

Aku mengintipnya. Aku memandanginya lekat. Ternyata wajah paman itu tidak terlihat menyeramkan. Apalagi saat matanya berbinar-binar memandangi sup di depannya. 

Satu... dua... tiga suap sup kentang itu memanjakan lidahnya. Tidak perlu waktu lama, Paman beruang melahapnya singkat. Ia kelihatan puas dan senang.

Aku pun. Aku ikut tersenyum melihat Paman beruang itu akhirnya bisa menikmati sup buatan Mama.

Aku kembali ke rumah dengan lega kali ini. Pasti tidak akan ada lagi yang memencet bel lalu bermuka judes menyerahkan mangkuk sup.

Ding… dong… ding… dong!
Siapa lagi?
Oow! Paman beruang!

“Terima kasih, Cici” Paman beruang itu tersenyum sambil menyerahkan mangkuk kosong.
***

“Cici, apa hari ini paman sebelah masih protes?” tanya Mama sepulang dari pasar
“Tidak. Sup buatan Mama habis dilahapnya,” Aku mengerlingkan mata. Mama pun tersenyum.

Ternyata... masalahnya bukan karena sup Mama yang rasanya aneh atau lidah Paman beruang yang tidak normal. Itu karena Paman beruang hanya punya satu sendok di rumahnya. Sendok itu selalu berada di dalam toples madunya. 

Paman beruang sudah cukup tua. Ia tinggal sendiri setelah pindah ke rumah itu baru-baru kemarin.  Tetangga sebelah bilang, istri yang setia menemaninya baru saja meninggal. Makanya, Mama selalu membuatkan sup untuk Paman beruang karena  tidak ada lagi yang biasa memasakkan makanan untuknya di rumah. 

Sejak aku memberikan sendok itu,  aku mulai suka bermain di rumah Paman beruang untuk menemaninya. Dia bukan beruang yang menakutkan. Paman beruang itu baik. Sekarang, kami berteman baik. Aku suka memanggilnya, Paman Ding Dong! Hihihi

Cerita lainnya: BILA, Bintang Baca Buku

#LatihanMenulis
#30HariBerceritaAnak















18 komentar:

  1. Ceritanya menarik, tebakanku salah, hee... ternyata si beruang cuma punya 1 sendok itu ya penyebabnya.

    BalasHapus
  2. Seru ceritanya, aku harus banyak belajar inih terutama masuk ke dunia pikiran anak-anak. Maklum ngajar anak gaul bahasanya beda wkwkwk

    BalasHapus
  3. wah seru mba ceritanya, ayo dibikin bukunya hihi. Lucu juga namanya paman ding dong

    BalasHapus
  4. Cerita yang menarik. Kita bisa mengambil hikmah dari cerita Paman Beruang tersebut, ya..
    Sebaiknya tidak menilai orang terlalu cepat. Karena kita tidak tahu ada apa sebenarnya.
    Contohnya Paman Beruang yang selalu bilang rasa sop yang manis. Ternyata dia menggunakan sendok madu untuk menyantap sopnya ya ..hihihi, kocak juga :))

    BalasHapus
  5. Mbak..aku suka banget samat cerita ini. Nilai moralnya dapat dan bermanfaat. Alurnya ringkas dan diksi mudah dipahami. Jadi penasaran baca cerita lainnya.
    Ditunggu karya berikutnya yaaa

    BalasHapus
  6. Lucu banget ceritanya... Aku bayangin beruangnya winni the pooh�� dia cuma punya satu sendok, ya itu sendok madu. Si cici pintar ya sabar banget.

    BalasHapus
  7. Seru, mbak ceritanya. Saya suka. saya aja bacanya penasaran kenapa supnya selalu dibilang manis oleh si beruang. ternyata karena tercampur madu dari sendoknya. hihihiii.... makasih ya mbak. saya jadi punya bahan untuk cerita ke anak-anak menjelang tidur nanti. ditunggu karya berikutnya.

    BalasHapus
  8. Ceritanya lucu dan menarik. Jadi pengen belajar nulis cerita anak....

    BalasHapus
  9. Wahaha kaya winnie the pooh sukanya madu ga suka sayur hehehe.. lucu juga yah keponya si cici menghasilkan jawaban kenapa supnya selalu dibilang manis padahal gurih enak

    BalasHapus
  10. Suka ceritanya. Kreatif banget deh mba Mira. Kutunggu cerita berikutnya ๐Ÿ˜Š

    BalasHapus
  11. Hihihi...kasihan paman beruang yang hanya punya satu sendok.

    BalasHapus
  12. Menarik sekali, Mbak. Sederhana tapi bikin penasan.Cocok dibikin kumpulan cernak��

    BalasHapus
  13. Ceritanya bagus. Diceritakan untuk anak bisa nih

    BalasHapus
  14. ceritanya bagus banget. suka dengan alurnya

    BalasHapus
  15. Suka mbak dengan ceritanya. ๐Ÿ˜
    Awalnya salah sangka dengan paman beruang, endingnya hanya bermasalah di sendok milik paman beruang yg tercelup di madu.
    Siip2 mbak๐Ÿ‘
    Ditunggu cerita2 lainnya. ;)

    BalasHapus
  16. Bagus banget mbak ceritanya. Khas anak-anak. Saya baca perkata sampai habis. Lumayan dapat referensi buat cerita ke anak2

    BalasHapus
  17. Cerita anak itu mengalir dan bahasanya lugas... Tapi tidak mudah menulisnya. Keren mb ceritanya..

    BalasHapus
  18. Seru ceritanyA mbak, masalah yg sepele bisa jadi cerita menarik,

    BalasHapus