Putri Malam


fotolia.com

Cerita oleh Mira Humaira

Namanya Pily dan Eipy. Mereka bersahabat sejak kecil. Keduanya cantik sekali. Mereka adalah bunga istimewa. Satu berwarna putih bersih, satu lagi berwarna merah cerah.

Pily dan Eipy menghabiskan sepanjang waktunya di sebuah ladang milik Pak Bhadra. Di sana,  mereka bermain, berdendang, dan menikmati alam di setiap malam. Ya, selalu malam karena mereka hanya bisa terbangun ketika langit berubah hitam. Siang hari adalah waktu mereka terpejam. Oleh karena itu, orang-orang menyebut mereka sebagai putri-putri malam.

Pily dan Eipy saling menyayangi. Mereka bilang, mereka tak akan terpisahkan. Sampai kapan pun, Pily dan Eipy akan bermain bersama di ladang. Hingga pada suatu hari, di sore musim semi, Pak Bhadra membawa salah satu dari mereka pergi ke kota. Tentu Pily dan Eipy tidak menyadarinya karena mereka masih tertidur pulas.
***
Saat malam hari tiba.
"Uaaaah…," Pily menggeliat. Ia mengucek kedua matanya. Memasang telinganya lebar-lebar. Seketika Pily pun terperanjat, "Oh tidak, kenapa sepi sekali?” Tidak terdengar ramainya suara anak-anak bunga Wijaya Kusuma bertingkah-tingkah seperti biasanya.

Pily memandang sekitar. Ia tercengung. Bukan tempat biasanya. Semuanya berubah. 
“Dimana aku? Oh, Eipy. Dimana dia? Eipy…! teriak Pily panik. Matanya berkaca-kaca. Ia ketakutan. Pily kemudian menunduk. Ia menahan tangisannya agar tidak terdengar bising.

“Halo, apa kau baik-baik saja?” 
“Hai, hai Bunga putih, kau tidak mendengarku?”

Pily tersentak. Teriakan nyaring memekakkan telinganya.
“Hei, jangan menggangguku… tolong pergi!” seru Pily panik. Ia berusaha mengusir makhluk kecil itu dengan kedua tangannya.

“Oh, tenang saja, wahai Bunga putih! Aku tidak akan mengganggumu.” 
Rupanya seekor kunang-kunang dengan kerlip cahaya hijau yang sedang menyapa Pily.

“Aku Photinus. Kamu bisa panggil aku Photy. Kau siapa?”

“Pily. Namaku Pily.”

“Eh, kau menangis?”

“Aku tidak tahu kenapa aku di sini. Rumahku bukan di sini…,” ucap Pily sambil terisak-isak.

“Mungkin kau memang sudah tinggal di sini sekarang. Lihat, kau berdiri di pot yang indah. Pasti pemilikmu yang baru memberikannya khusus untukmu,” tutur Photy. “Kau terlihat bagus dengan pot itu, Pily!” tambah Photy mencoba menghibur.

Pily tidak mempedulikannya. Ia kembali diam. Kali ini, Pily menatap ke atas langit malam. Tapi tak lama kemudian, ia menangis lagi. Lebih kencang.

“Hiks… ini pesta bulan purnama dan aku di sini sendirian. Aku sedih. Aku ingin bertemu Eipy dan teman lainnya. Aku ingin pulaang ...!”

“Kau benar, Pily. Sekarang waktunya pesta bulan purnama. Jadi, kau tak pantas menangis. Hmm, coba lihat ke sana, Pily. Lihat!” Photy bersemangat menunjuk jauh ke arah bukit.

Saat itu juga mata Pily berbinar. Bibirnya tersenyum kecil. Ia menyeka air matanya. Menikmati pemandangan bagus di depan matanya.

“Indah sekali, Photy. Apa itu?”

“Mereka keluarga dan teman-temanku,” jawab Photy bangga. “Cantik, bukan? Kami sedang berkumpul dan cahaya kami bersinar serempak di malam ini.”

Pily masih meneteskan air mata, tapi kali ini ia menangis haru melihat keajaiban makhluk-makhluk kecil dengan cahaya yang dibawanya. Pily takjub melihat formasi cahaya yang tampak seperti gelombang aurora. Pily belum pernah menyaksikan ini sebelumnya. Dalam benaknya, Pily berharap bisa menonton kembali pertunjukan cahaya ini bersama Eipy.
***
Sejak saat itu lah, Pily selalu ditemani oleh Pothy. Di setiap malam, mereka tertawa dan bercerita satu sama lain. Pily pun lupa kesedihannya. Ia tidak merasa sendiri lagi. Pily sudah punya teman baru.
Namun tidak diduga, suatu malam, Pily dibuatnya sedih kembali.

“Maafkan aku, Pily. Waktunya kami harus tinggal menetap di bukit sana,” ucap Photy sambil berpamitan.

Pily mengangguk sedih. Namun bagaimana pun, ia tidak bisa menghalanginya. Pily peduli keselamatan temannya. Jika berkeliaran di dekat kota, Photy bisa terancam karena banyak manusia yang memburunya.

“Kamu janji ya, Pily. Jangan terlalu lama bersedih. Lihatlah sekitar! Kamu pasti akan punya teman baru lagi,” ucap Photy sambil pergi terbang dengan kerlip cahaya yang semakin lama tampak semakin meredup.

Tentu saja Pily tidak tahan menahan tangisnya. Ia sangat sedih. Tidak ada lagi teman bermain di malam hari. Tidak ada Eipy, juga tidak ada Photy. Namun Pily ingat janjinya pada Photy. Ia tidak akan terlarut lama dalam kesedihannya. Pily berusaha untuk tetap tersenyum dan mulai memandangi sekitarnya. 

Hingga pada suatu malam, tiba-tiba seorang gadis berambut coklat memindahkannya. Gadis itu menempatkan Pily di dekatnya. Mulanya, Pily tidak merasa nyaman. Namun malam berganti malam, setiap kali Pily membuka mata, ia melihat gadis  berambut coklat itu tersenyum padanya, menyapanya. Seolah mereka bisa berbicara satu sama lain.

Semakin lama, Pily merasa senang berada di dekatnya. Gadis berambut coklat itu baik dan menyenangkan. Walaupun Pily masih penasaran, mengapa gadis kecil itu terjaga di sepanjang malam? Bagaimana bisa… ayah atau ibunya tidak melarangnya keluar di tengah malam?

Tapi yang penting bagi Pily, ia sekarang tidak bersedih lagi. Seperti yang pernah dikatakan Photy, akhirnya ia punya teman baru lagi. Yaitu, gadis berambut coklat, yang setiap malam memegang pensil dan sebuah buku gambar, menemaninya.

Pily sadar tidak boleh terus bersedih karena mengingat teman-teman yang jauh. Ia bersyukur dengan keadaanya sekarang. Dengan itu, ia bisa merasa lebih baik dan senang. Pily juga percaya bahwa jika ia senantiasa bersyukur, ia akan dapat keajaiban.
***
Satu malam, gadis berambut coklat menyapa Pily dengan riang.

“Hai, Bunga Putih. Terima kasih selalu menemaniku menggambar di setiap malam. Aku senang kau jadi temanku. Imbalannya, aku akan memberimu hadiah,” tutur gadis kecil itu.

“Taraaa… ini dia! Aku membawakanmu teman baru agar kau tak sedih jika aku tak ada lagi di sampingmu,” 

Sebuah pot cantik berwarna kuning emas diletakkan di samping Pily. Tanaman cantik berdiri di atasnya. Pily menatapnya. Lalu tiba-tiba ia menjerit, 
“Eipy…!” 
“Pily…!”

berkat gadis itu, mereka pun akhirnya bertemu. Pily dan Eipy berpelukan, menangis, dan akhirnya tertawa bersama. Pily mendapatkan keajaibannya.
***
Baca cerita lainnya: Poppy juga Bisa!

Seandainya bisa berbicara pada gadis berambut coklat itu, Pily ingin menyampaikan rasa terima kasih dan mencium pipinya. Namun, rupanya sudah beberapa malam Pily tidak lagi melihatnya. 

“Kemana dia, ya, Py?” Pily penasaran bertanya.

“Maksudmu, gadis berambut coklat yang baik hati itu?” tanya Eipy meyakinkan.

“Tentu saja, siapa lagi”

“Gadis itu bernama Andrea. Mungkin ia memang tidak akan kembali, Pily. Kamu jangan sedih, ya!” 

Pily heran mendengar jawaban kawannya. “Maksud kamu, Py?”

“Aku mendengar ceritanya dari Pak Bhadra,” kata Eipy. “Andrea sakit. Ia harus tinggal di rumah sakit”

“Sakit? Hmm, pasti karena ia sering keluar malam,” Pily menduga.

“Andrea memang hanya bisa keluar di malam hari, Pily. Seperti kita, ia baru bisa bermain bebas saat malam mulai tiba,” jelas Eipy.

“Dia kan manusia. Bukankah Andrea bisa keluar di siang hari kapan pun ia mau”

“Tidak bisa, Pily. Ia tidak bisa terkena sinar matahari. Itu akan membuatnya sakit” 

“Andrea tidak terlihat seperti orang sakit. Ia selalu ceria,” Pily memastikan.

“Andrea itu gadis baik. Ia tidak banyak mengeluh dan selalu bersyukur. Makanya Andrea selalu terlihat senang,” jelas Eipy. “Aku mendengar itu dari papanya saat ia berkunjung ke ladang kita,” tambahnya lagi.  “Oh, ya, kau tau, Pily. Papanya memanggil Andrea juga dengan nama Putri Malam, seperti kita, hihi…”

Tak terasa Pily meneteskan air mata. Tiba-tiba ia teringat kebersamaannya dengan Andrea selama ini. Pily berdoa semoga ada keajaiban datang untuk Andrea.

“Jangan menangis lagi, Pily. Eh, lihat itu, ada banyak cahaya berkilauan di sana,” Eipy mengarahkan tangannya ke sebuah bukit.

Pily mengangkat wajahnya. Seketika ia tersenyum. Ia kembali terharu. Pily yakin itu adalah Photy bersama keluarga dan teman-temannya. 

Harapan Pily pun kembali terwujud. Malam itu, Pily dan Eipy, dua bunga Wijaya Kusuma, yang sedang merekah dan mewangi, bersama-sama menyaksikan pertunjukan cahaya kunang-kunang yang indah. Kali ini, dalam benaknya, Pily berharap kembali di suatu malam nanti ia akan menontonnya bersama Andrea.
***
Fajar pun tiba, Pily dan Eipy bersiap-siap untuk istirahat. Mereka akan tertidur seharian dan kembali terbangun di tengah malam.

-Selesai-

Catatan penulis:
  • Nama Pily dan Eipy diambil dari nama ilmiah bunga Wijaya kusuma. Yaitu, Epiphyllum anguliger. 
  • Bunga Wijaya Kusuma merupakan salah satu bunga istimewa karena hanya merekah saat malam hari. Oleh karena itu, bunga ini dijuluki sebagai Princess of the Night atau Queen of the Night. Saat mekar, bunga Wijaya Kusuma akan mengeluarkan bau wangi.
  • Photy diambil dari nama ilmiah kunang-kunang jenis Photinus. Spesies Photinus carolinus adalah jenis kunang-kunang yang bisa mengeluarkan cahaya serempak. Keberadaannya sekarang terancam punah.
  • Andrea, terinspirasi dari nama seorang gadis yang mengidap penyakit Xp atau xeroderma pigmentosum, yakni penyakit cacat herediter yang menyebabkan tubuhnya tak mampu memperbaiki kerusakan akibat sinar ultraviolet dari matahari. Ia tidak bisa bermain keluar saat siang hari demi menjaganya dari sinar matahari. Andrea divonis mengidap penyakit ini sejak umurnya 5 tahun.

Baca juga cerita lainnya: 









15 komentar:

  1. Masyaallah mba bikin cerita fiksinya riset banget ya, bagus loh. nama Eipy kalo saya Epi wkwkwk. beda dikit lah, yak, hehe. bagus mba ceritanya ini termasuk cerita anak dalam bentuk dongeng gitu ya mba? bukan fabel kan? karena setau saya fabel itu binatang ini kan bunga, hehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup, disebut fiksi ilmiah kali ya, hihi tepatnya saya juga belum tau��

      Hapus
  2. Ini masuk kriteria fiksi ilmiah ya mbak? Idenya keren, ceritanya bagus, bisa jadi 1 buku dongeng ini mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Doakan kelak bisa jadi sebuah buku, Mbak. Hehe

      Hapus
  3. Mbak..bagus banget ini..Cerita berdasarkan fakta ilmiah yang menyertainya. Tidak hanya menghibur tapi juga mendidik anak-anak kita :)

    BalasHapus
  4. Mbak Mira.... Bagus banget ih ceritanya. Keren dan tetap mendidik. Mau saya Ceritakan ke anak ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dengan senang hati, Mbak. Silakan. Semoga bermanfaat

      Hapus
  5. Tidak hanya menghibur tapi juga sarat akan ilmu pengetahuan. Keren, mba cerpennya...

    BalasHapus
  6. Ceritanya bagus banget, nama-nama perannya penuh arti. Keren mbK��

    BalasHapus
  7. Masya Allah, mbak, keren banget fiksinya, terharu saya, mengalir dan rapi, riset duku ya mbak?

    BalasHapus
  8. Masya Allah, keren Mbak. Risetnya oke. Alurnya juga enak. Cerita anak bisa cakep banget begini. Suka aku

    BalasHapus
  9. Warbiasah...nama dlm ceritapun ada asalnya gk bkn asal ksh nm. Hehe...thx ada ketrangn yg bisa nmbah pngetahuan mb. Mksh yaa

    BalasHapus
  10. Keren, fiksi ilmiah ... bercerita sambil belajar, idenya saya suka😍😍😍

    BalasHapus
  11. Menarik dan penuh ilusi perlu belajar lagi

    BalasHapus
  12. MasyaAllah ... Dirimu memang jago banget bikin cerita anak. Ini membaca sekalian belajar lho jadinya. Nggak berminat dibukukan, gitu?

    BalasHapus