Aku dan Sahabat Bumi

pikbest.com

Cerita oleh Mira Humaira

Hai, aku ingin bercerita. Aku memiliki banyak teman, ada Patra, Liliput, Gangga, dan Owi. Sepanjang waktu mereka menemaniku. Aku akan kenalkan mereka pada kalian.

Pertama, Liliput. Ia adalah si ulat kecil yang sejak pagi biasanya sudah membangunkanku. Dia selalu membuatku geli. Dia berjalan dari satu daun ke daunku yang lain dengan menggeliat lalu memakannya dengan suara berisik. Setelah perutnya mulai buncit tanda kenyang, ia akan berbisik, “Tengkyu Mister Tree, daun hijaumu enak sekali,” lalu ia akan kembali tidur.

Lalu ada Patra, si bayi burung kecil yang selalu menghabiskan sepanjang siangnya bermain bersamaku. Selagi ia menunggu mamanya bekerja mencari makanan, ia akan berlatih berkicau dan melatih otot sayapnya untuk bisa terbang mengepak. Aku senang menemaninya. ia adalah burung pandai walaupun sedikit pemalu.

Aku juga punya teman yang paling sulit ditemui tapi sebenarnya ia selalu ada dekat bersamaku. Ia adalah yang paling pandai bersembunyi. Aku beri tahu ya, biasanya ia selalu bersembunyi di balik warna tubuhku. Ya, ia adalah Gangga. Serangga ramping yang sangat mirip dengan bentuk dan warna bagian rantingku.

Satu lagi temanku, namanya Owi. Ia akan menemaniku saat Liliput, Patra, dan Gangga tertidur pulas di malam hari. Ia adalah burung hantu gagah dan gesit. Matanya bulat besar. Owi selalu menemaniku saat langit mulai gelap.

Setiap pagi datang, aku selalu bersyukur. Aku masih bisa bernafas, dapat menghirup udara sekelilingku. Juga melihat semua teman-temanku baik dan sehat. Walaupun sekarang sesekali aku sendiri mulai terbatuk, tersedak asap yang dibawa angin jauh dari seberang sana. Kadang rasa khawatir mulai menggangguku. Belakangan ini aku sering tak enak badan.

Oh tidak, bayangkan jika aku sakit dan rapuh, lalu bagaimana nasib Liliput, Owi, Gangga, dan Patra. Mereka akan tinggal di mana? Sedangkan pohon-pohon lain pun sudah mulai hilang di kota ini.

Aku adalah salah satu pohon yang sangat beruntung. Selain teman-teman baikku yang selalu setia tinggal bersamaku. Sebenarnya, aku punya satu teman lagi yang sangat berharga bagiku. Ia yang menjagaku selama ini. Berkat dia, sekarang aku masih hidup.

Adrian namanya. Ia adalah anak laki-laki berkulit sawo matang, berkaca mata, dan berambut keriting. Aku mengenalnya sejak ia masih berseragam sekolah dasar. Setiap pagi dan sore ia menemani ayahnya untuk menengokku, memberiku makan dan minum. Adrian dan ayahnya selalu lembut merawatku hingga aku tumbuh menjadi pohon kekar dan segar kini. Aku terus tumbuh sehat seiring Adrian pun tumbuh dewasa. Ia tetap menjagaku hingga sekarang walau sang ayah tiada lagi di sampingnya.

Di saat orang lain dengan tega menumbangkan pohon-pohon di halaman rumahnya, Adrian justru mempertahankanku. Bahkan ia membuat taman spesial untukku. Adrian pun sekarang menumbuhkan bibit-bibit pohon lainnya di sekitarku. Perlahan mereka tumbuh mengeluarkan daun-daun baru yang kecil dan bunga berwarna-warni.

Hmm…ya, jadi aku tak lagi harus khawatir. Jika aku tak lagi berumur panjang, akan tetap ada pohon kehidupan untuk teman-temanku. Kelak Patra dewasa bisa tetap tinggal di sini. Liliput  pun tetap bisa tumbuh dan berwujud lebih cantik dengan sayapnya di taman ini.

Aku bersyukur bertemu Adrian dan ayahnya. Bagiku mereka adalah malaikat penjaga. Karena ketulusan mereka merawatku banyak makhluk lain yang juga merasakan kebahagiaan. Bukan saja Owi, Patra, Liliput, dan Gangga yang tinggal menetap di tubuhku. Makhluk-Makhluk lainnya tidak jarang mampir di kepalaku sekadar untuk berteduh dan berisitrahat sambil mencicipi buahku.

Aku bangga pada Adrian. Seorang anak manusia yang tidak hanya memikirkan kepentingannya sendiri. Adrian selalu peduli dengan kebersihan dan kesehatan lingkungannya. Ia adalah teman baikku, teman baik kami. Ia adalah sahabat dan penjaga bumi. Aku berharap semoga di luar sana, masih banyak sahabat-sahabat bumi lainnya yang peduli dan mencintai bumi sepenuh hati.
***
“Hai, Pohon sahabat, aku senang kau tumbuh baik dan sehat hingga saat ini. Aku berterima kasih karena kau sudah membuat rumahku teduh dan nyaman, aku pun masih bisa bernafas segar berkat oksigen yang kau sumbangkan,” tutur Adrian sambil menyender santai di batangku sore ini. Aku pun tersenyum. Begitu pun Patra, Owi, Liliput, dan Gangga yang ikut mendengarnya. Jika saja kami bisa berbicara langsung padanya, kami pun sungguh lebih berterima kasih. 

Earth provides enough to satisfy every man’s need. But not every man’s greed. – Mahatma Gandhi
We need earth more than the earth needs us.

Salam Cinta -Happy Earth Day, 22 April- 

Mira Humaira

8 komentar:

  1. Indahnya kalau kita hidup saling bersahabat. Tidak ada yg rakus. Semua digunakan sewajarnya sesuai kebutuhan. Aah pasti bumi ini akan sejuk berisi manusia, hewan, dan alam yang saling melindungi.

    BalasHapus
  2. We need earth more than the earth needs us.
    Wow! pesan yang sangat bermakna...Anak-anak memang mesti diajari mencintai bumi sejak dini ya Mbak:)

    BalasHapus
  3. Mbak Miraaa ... Cerita ini keren sekaliii. Tokoh-tokohnya dekat dengan anak-anak sehingga mudah diingat. Pesan moral dalam cerita ini sungguh luar biasa. Menghibur tapi juga mengingatkan anak-anak kita akan pentingnya pohon bagi bumi. Tadi aku baca ini dengan suara nyaring sambil anak-anak duduk di dekatku, lho.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waah terima kasih, Mbak. Semoga pesannya sampai ya ke anak-anak. :)

      Hapus
  4. Selalu suka dengan tulisannya mbak. Apik dan enak di baca. Serta tema yang diangkatpun sangat megedukasi. Tengyu mbak. Semoga makin banyak orang yang oeduli dengan kelestarian alam.

    BalasHapus
  5. Sangat jarang cerita tentang cinta alam dan lingkungan, sukses ya, mbak...

    BalasHapus
  6. MashaAllah mbak Miraa, selalu keren ceritanya. Dekat dengan anak dan pesannya ngenak banget. Pas. Coba kerjasama sama ilustrator mungkin mbak, jadi cerita kayak gini bisa terbit dan dibaca banyak orangtua untuk mengenalkan peduli lingkungan dan alam. Amin amin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi makasih. Waah makasih sarannya, Mbak. Insya Allah, semoga suatu hari nanti bisa terwujud.

      Hapus