Berbagi Itu Obat Hati. Yuk Jangan Takut Berbagi!


pixabay.com

Terpuruk? Kecewa? Pernahkah? Rasanya setiap manusia pernah diberi ujian dan tantangan dalam setiap episode hidupnya. Yang menjadi perhatian kadang bukan seberapa besar ujian dan tantangannya namun seberapa besar dan kuat kita bisa menghadapi dan menyiasatinya. 

Qadarullah, beberapa waktu ke belakang saya sempat merasa dirugikan terkait karya yang hendak saya lahirkan. Sebuah karya pribadi, yang bisa ditempatkan layaknya seorang anak hingga kelahirannya pun tentu sangat diperjuangkan dan diidamkan.

Singkatnya, karya saya pun lahir dalam bentuk buku solo yang sudah berada di tangan. Namun, cerita dibalik kelahirannya sedikit menyesakkan. Sehingga saya tidak begitu antusias lagi terhadapnya pun mengiklankannya. Malah, lebih parah lagi sempat saya terpikir untuk berhenti saja menulis karenanya. 

Jika harus terus dibawa perasaan dan dirundungkan, rasanya hanya akan terus menjadi beban. Hingga saya berpikir perasaan tidak baik ini harus segera saya lepaskan. Lalu bagaimana caranya?

Memandang kembali puluhan buku sendiri, hmm hati kecil ini berkata, mereka tak bersalah. Sesungguhnya mereka begitu berharga karena saya menulisnya dengan penuh cinta bukan asal-asalan. Keberadaannya tidak boleh sia-sia. Tidak mau lama lebih terpuruk, maka saya putuskan dengan buku ini juga saya harus terobati. Oke, sepertinya (baru rencana) saya putuskan akan mendedikasikan puluhan buku ini untuk donasi, sebagai sumbangan bahan literasi untuk anak-anak negeri.

Namun, sempat ada bisikan-bisikan tak baik yang menghampiri, “Yakin mau berbagi? Bukannya kamu lagi dapet rugi. Apa gak tambah rugi?”

Oalah godaan siapa ini. Hingga sebelum akhirnya memutuskan dengan mantap, saya buka kembali catatan-catatan saya di gawai dan tiba-tiba saya buka app notes, tercantum di sana tentang blog competion yang bertema “JANGAN TAKUT BERBAGI” yang diadakan dompetdhuafa.org .

Sontak saja saya langsung tergerak kembali, rasanya langsung ada yang menepis bisikan-bisikan syaitan tadi. "Yuk! Jangan takut berbagi". Ditambah lagi tagline yang tercantum di sana semakin meyakinkan hati ini, 

“Pernahkah ragu, khawatir, atau takut ketika akan berbagi untuk orang lain? atau pernah berpikir, bagaimana jika apa yang kita miliki malah habis atau hilang saat kita berbagi?
Tapi yakinlah, bahwa kita tidak akan terjatuh dan bersedih karena berbagi. Karena hal kecil yang kita bagikan bisa jadi suatu yang sangat berarti dan membahagiakan bagi orang lain. (dompetdhuafa.org)”
Bismillah. Akhirnya dengan mantap saya putuskan. Dengan buku ini, saya akan berbagi.

Alhamdulillah, saya pun akhirnya berkesempatan mengunjungi sebuah panti asuhan anak di daerah Pameungpeuk. Di sinilah tempat pertama saya membagikan buku. Tidak diduga sebelumnya, betapa menyenangkannya bisa berbagi karya sendiri, rasa bahagia membuncah ketika disambut senyum dan binar mata teman-teman cilik di sana. Mereka antusias mengacungkan tangan ingin mendapatkan bukunya.

Bersama teman-teman cilik di Panti Asuhan Anak Amanat Umat


Lalu bagaimana perasaan ini? Benar saja, dengan berbagi saya bahagia. Kekecewaan sebelumnya pun terobati. Ya, rupanya berbagi adalah salah satu obat hati atau bisa juga disebut obat galau yang paling mujarab. Karena saya rasakan manfaat berbagi bukan hanya menyenangkan orang lain namun menyenangkan juga diri sendiri.

“Manfaat pertama yang bisa dirasakan dari bersedekah adalah bagi si pemberi sedekah itu sendiri, yaitu dengan melihat perubahan dalam diri dan sikapnya, dengan menemukan kedamaian, serta dengan melihat senyum bahagia orang lain”
( 'Aidh Al-Qarni )

Begitu pun saya membagikan pengalaman ini, semoga ada hikmah yang bisa diambil. Jika sedang tidak enak hati atau sedang dilanda kegalauan, mungkin itu alarm bahwa sudah waktunya kita harus berbagi. 

Oleh karena itu, Yuk! Jangan takut berbagi! karena berbagi bisa melahirkan ketenangan hati. Yakinlah dengan berbagi pun harta kita sejatinya tidak akan berkurang malah bertambah meskipun dalam bentuk lain, seperti bertambahnya kebahagiaan atau digantinya dengan anugerah kesehatan. 

Cara Lain Berbagi 
Cara yang paling utama memang berbagi kebaikan dengan orang terdekat atau kerabat. Namun, bagaimana jika kita ingin berbagi dengan jangkauan lebih luas? Ingin memberikan kebahagiaan pada lebih banyak orang? 

Di zaman teknologi digital seperti sekarang ini, segalanya dibuat lebih mudah. Dalam hal ini,  www.dompetdhuafa.org pun memberi solusi untuk kita bisa lebih mudah berdonasi dengan hanya klik di donasi.dompetdhuafa.org. Semua prosesnya mudah dan cepat. Di sini pun ada pilihannya,  Apakah kita ingin berbagi dalam bentuk zakat, infaq/sedekah, wakaf, atau untuk kemanuasiaan. Masing-masing pilihan tersebut pun bisa kita khususkan lagi, seperti contoh di bawah ini.

Sumber dari www.dompetdhuafa.org

Mari #Jangan Takut Berbagi. Sebagaimana Allah berfirman yang artinya: “Perumpamaan orang-orang yang mendermakan (sedekah) harta bendanya di jalan Allah, seperti orang yang menanam sebutir biji yang menumbuhkan tujuh untai dan tiap-tiap untai terdapat seratus biji dan Allah melipat gandakan (balasan) kepada orang yang dikehendaki, dan Allah Maha Luas (anugerah-Nya) lagi Maha Mengetahui“. (QS. Al-Baqoroh: 261)

“Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Jangan Takut Berbagi yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa”


Salam,

Mira Humaira














3 komentar:

  1. Alhamdulillaah. Beneran mbak, berbagi itu memang obat hati, memberikan ketenangan serta kebahagiaan.

    BalasHapus
  2. Pengalamannya nggak enak bgt sih mbak soal menerbitkan buku yang pertama. Tapi beruntung mbak bisa mengambil hikmahnya ya..ih senengnya lihat bukunya malah berhasil didonasikan ke panti. Memang berbagi sepertinya kita memberi ya,tapi ajaibnya perasaan kita malah bertambah tenang.
    Sudah saya kepoin itu webnya dompetdhuafa. Ternyata fiturnya lengkap ya. Berdonasi jadi praktis tinggal pencet pencet gadget kita dari rumah atau tempat kerjaan

    BalasHapus