Bernard dan Tempat Rahasia


pict by wallpaperbetter.com

Cerita oleh Mira Humaira

Rania sudah dapat. Tempatnya di halaman belakang rumah. Di dekat kandang Coki kelinci. Di situ Bernard akan Rania sembunyikan.

"Bernard, kamu di sini, ya...". Rania melambaikan tangannya. Ia melangkah pergi. Sampai kembali di kamarnya, Rania tersenyum lega. Namun, tiba-tiba wajahnya merengut kembali, bagaimana jika nanti malam datang hujan. Bagaimana dengan Bernard?.

Rania mencari sesuatu di kamarnya. Tapi, tidak ada.  Rania tahu ia harus mendapatkan payung. Ia langsung berlari menuju dapur. Payung kuning miliknya ada di sana.

Rupanya payung Rania menggantung agak tinggi. Ia berusaha meraih dengan menggoyangkan ujungnya dengan hati-hati. Rania berhasil. Ia berbalik badan hendak pergi. Namun, ia tiba-tiba menabrak sesuatu.

Itu Ibu. Sekarang mata Ibu tepat di depan matanya. Ibu tersenyum. Rania pun tersenyum dengan wajah terkejut.  "Mau ke mana, Rania?". Rania menggigit bibirnya.

Rania berhasil pamit main di luar pada Ibu. Ia berlari ke halaman belakang rumah. Rania menghampiri Bernard. Membuka payung kuningnya. Ditutupinya Bernard. Aman. Namun, tiba-tiba angin datang dengan kencang. Payung kecil itu terbang.

Rania mengambil kembali payung yang tersangkut di kandang Coki. Rania berpikir lagi bagaimana cara melindungi Bernard. Ia memandangi Coki. Rania pun tahu, Bernard harus punya kandang seperti Coki. Bernard harus punya rumah.

Rania tidak mungkin membuatkan rumah seperti kandang Coki. Terlalu sulit. Rania harus membuat rumah  yang lebih mudah. Rania melirik sekitar. Ia melihat tumpukan kardus. Rania ingat, itu kardus bekas rak bukunya. Ukurannya cukup besar. Cukup untuk Bernard.

Rania mengambil dan membersihkannya. Ia mencoba masuk ke dalam kardus. Rania tertawa. Ia senang. Kemudian Rania meraih tangan Bernard, membersihkan badan bulatnya dari dedaunan, lalu menggendongnya. “Sekarang, kamu tinggal di rumah kardus ini, ya”. Rania memasukkannya sampai tidak terlihat lagi.
***

Keesokan hari, Rania diajak Ibu mengambil tomat di halaman belakang. Rania panik. Ia takut tempat rahasia Bernard diketahui. Rania tidak bisa menolak ajakan Ibu. Ia pun mengikuti Ibu yang duluan berjalan ke belakang rumah.

Rania menutup matanya saat Ibu tiba-tiba berhenti di dekat kandang Coki. Ibu melihat kardus besar yang kemarin sudah dilipat rapi di dekat gudang.

Rania mendekati Ibu. “Kardus ini buat tempat mainan Rania aja, ya, Bu?”. Ibu terdiam namun tidak lama menganggukkan kepalanya. Mata Rania terbuka lebar. Ia terkejut campur senang. Rania boleh membawa kardus itu ke dalam kamar.

Rania berhati-hati membawa kardusnya. Namun, ia sedikit terlihat aneh. Tangannya sulit memeluk kardus yang besar itu. Ia kesulitan. Ibu melihatnya.

“Rania, Sini Ibu lipat dulu kardusnya!”
 
“Enggak usah, Bu!”. Ia berjalan sambil menengok tidak memperhatkan jalan. Rania tak sengaja menendang tumpukan kardus lainnya.

Kardus besarnya jatuh berguling. Kepala Bernard menyembul keluar. Rania semakin panik.
“Rania, itu Bernard!”

Rania segera memungut kardus. Mengeluarkan Bernard dengan cepat. Memeluknya sambil berteriak. “Jangan bawa Bernard, Ibu. Jangan…”.

Ibu berjalan sigap menghampiri. “Rupanya boneka kesayanganmu ada di sini, Rania?”

“Bernard sedang sembunyi, Bu,”

Rania mencengkam erat bernard. Ia takut Ibu memarahinya. Namun, tiba-tiba Ibu membelai rambutnya. Rania terkesiap.

“Ibu enggak akan buang Bernard, kan? Rania tahu Ibu mau bawa Bernard pergi.” Rania terisak lagi.
Rania menceritakan kembali saat melihat ibunya menyimpan Bernard di sebuah plastik besar. Rania tidak mau berpisah dengan Bernard. Ia sayang Bernard walau boneka beruangnya itu sudah kucel.

Ibu terkekeh. Rania penasaran.

“Ibu hanya akan membawa Berbard ke Laundry untuk dicuci. Lihat, Rania, Bernard bau dan kotor!”. Ibu tersenyum menatap Rania.

Rania memandang Bernard. Ia tersenyum lega. Memeluk kencang tubuh gemuk Bernard. “Bernaard…! Kamu tidak perlu sembunyi lagi!”.









6 komentar:

  1. Wah mba seneng nulis cerita anak ya. Baca ini seolah-olah aku lagi baca buku anak langsung lho. Dulu pernah juga baca buku anak dengan bahasa seperti ini. Makanya langsung inget buku cerita anak. Smoga nanti tulisan bunda bisa buat bkin buku anak ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihi iya, Mbak. Sambil latihan terus menulis cerita anak. Aamiin. Doakan kelak bisa jadi buku kumpulan cerita anak.

      Hapus
  2. Hihi awal cerita aku sangka Bernard ini mahkluk hidup betulan kaya stitch hihi.

    BalasHapus
  3. Sepertinya blog ini khusus trntang cerita anak ya mbak

    BalasHapus
  4. Wah aku langsung ngebayangin Bernard the Bear yang gokilabis di tipi wakti itu loh. Hehhee... keren mba Mira.. laff it

    BalasHapus
  5. Ah Raniaaaa yang pintar dan penyanyang :) ibu gak mau ngapa2in boneka beruangmu hihi. Berasa aku jadi Rania loh bacanya. Cuz gandeng ilustrator mbak :D Apik pooll ceritanya.

    BalasHapus