Penunggu Pohon Maple


Cerita oleh Mira Humaira

Angin bertiup kencang. Daun-daun mapel mulai berguguran. Rian memandanginya satu persatu. Tangannya sigap menangkap daun oranye kemerahan di depan matanya. Musim gugur sudah dimulai.

Rian memegang-megang wajahnya. Masih sedikit perih. Rian teringat kembali kejadian itu, saat ia tidak mendengarkan ibu untuk minggir dari dekat kompor. Ia mendapat luka cukup parah.

Rian selalu kesepian. Dedaunan itu yang menemaninya saat melukis. Di balik pohon mapel, ia biasa duduk dengan menekuk lutut di depannya. Kedua tangannya memegang  pensil dan sebuah buku gambar.  Buku yang cukup besar itu akan menemaninya sepanjang hari. Rian melukis apa saja yang ia suka.

Rian membetulkan kupluk merahnya.  Lalu menggosok kaca matanya agar lebih jernih. Tangannya siap mencoretkan sesuatu. Tiba-tiba, sebuah lemparan apel meluncur mengenai kaca matanya. Rian terkejut. Ia mengecek kaca matanya. Masih baik-baik saja. Rian melirik kanan-kiri mencari sesuatu. Siapa yang melemparkan apel hijau itu.

Ada suara teriakan kesal seorang anak perempuan. Rian memperhatikan dari kejauhan. Ia melihat gadis kecil itu sedang mencari sesuatu. “Argh, mana apelku?”.

Rian memeriksa apel di tangannya. Ia menebak, apel itu pasti milik si anak perempuan tersebut. Rian menggelindingkan apel dari balik pohon. Cukup kencang agar apel bisa mendekati pemiliknya. Rian kembali membetulkan kaca matanya. Duduk dan membuka buku gambarnya lagi.

Kali ini Rian mengambil satu daun maple yang agak besar. Lalu, Rian mengambil secuil kentang panggang dari tas kecilnya. Menempelkannya di balik daun. Daun itu jadi lengket. Rian kemudian Menempelkannya di halaman buku gambar yang masih kosong.

Ujung daun maple berada di bagian bawah. Bagian atas tampak lebih rata. Rian menggambar dua bentuk segi tiga di bagian atas itu, seperti dua telinga. Lalu ia membuat dua bulatan hitam di bagian daun, seperti dua mata. Di bagian ujung bagian bawah, Rian membuat satu bulatan hitam lagi. Lebih kecil, seperti hidung. Ditambah tiga pasang garis di kedua sisinya, seperti kumis.

Rian  tersenyum kecil. Ia memperhatikan gambarnya. Seekor rubah bermata bulat dengan kepala daun maple.

“Hei! Kamu ya, yang melemparkan apelku tadi?”
Rian terkesiap. Tahu-tahu gadis bersyal ungu tadi datang dari balik pohon, mengejutkannya. Rian menutup bukunya. Membetulkan lagi kaca matanya. Ia gugup.

“Kenapa tidak memberikannya saja langsung? Malah sembunyi. Kayak hantu!”

Rian memperhatikan anak perempuan itu sambil sesekali menunduk. Terlihat seumuran. “Maaf.”

Rian memperhatikan lagi. Anak perempuan itu menggenggam kumpulan daun mapel di tangan kirinya. Banyak sekali.

Kali ini, Anak perempuan yang memandangi dirinya. Rian kikuk. Sambil menunduk. 
Rian kembali mendongak setelah tidak lama gadis kecil itu berbalik pergi. Rian tiba-tiba sedih. Ia merunduk. Tidak ada yang mau berlama-lama dengannya. Ia melihat sekeliling. Hanya daun-daun mapel cantik temannya saat ini.

Keesokan hari. Masih seperti biasa, Rian bermain sendiri di pohon mapel. Ia menggambar lagi. Kali ini, seekor burung hantu dengan kepala berbentuk daun mapel. Lucu.

Terdengar suara sedikit gaduh di balik pohon. Rian menengok. Anak perempuan itu lagi. Rian memperhatikannya sedang memungut daun-daun mapel lagi. Belum sempat bersembunyi lagi di balik pohon, anak perempuan itu keburu melihatnya.

“Hai, kau lagi!”

Rian mendengar langkah kaki anak perempuan itu semakin mendekatinya. Rian melihat kedua tangan gadis itu penuh denga daun mapel.

“Aku sedang mengumpulkannya. Mau buat prakarya lagi. Kemarin gagal.” Rian mengangguk saat gadis itu menjelaskannya.

“Kamu selalu di sini, ya. Kamu penjaga pohon mapel? Eh coba lihat, apa itu?”. Rian mencoba menyembunyikan buku gambar di balik tubuhnya. Tapi tidak berhasil. Buku itu  lolos diambil anak perempuan.

Rian tidak bisa menahannya. Ia hanya terpaku melihat buku gambar miliknya dibuka-buka.
“Wow…ini bagus sekali. Ah, ya aku mau buat ini saja”.

Rian tersenyum kecil. Bangga.

“Hmm… kamu enggak takut lihat aku?” Kali ini Rian berani bertanya. 

“Kenapa, aku enggak takut”

Rian tersenyum lagi. Ia percaya diri mengangkat wajahnya. Terlihat luka di bagian wajah kirinya berwarna merah. Bekas luka tersiram air panas.

 Hari ini Rian senang tidak seperti biasanya. Sebelum pulang, anak perempuan tadi bilang besok ia akan datang bersama saudara sepupunya yang laki-laki. Mau bermain bersama sambil mencari daun mapel lagi.

Rian merasa punya teman sekarang. Bukan satu tapi dua. Mereka mau bermain dengannya. Mereka tidak takut melihat wajahnya. Rian percaya diri. Tidak sedih lagi.
***

Keesokan hari. Rian menunggu lagi di pohon mapel. Ia tidak sabar menunggu teman-teman barunya. Tidak lama kemudian, suara Rosi, anak perempuan itu, memanggilnya. Rian menoleh dari balik pohon. Dilihatnya, Rosi bersama seorang anak laki-laki. Anak laki-laki itu tidak berjalan. Ia duduk di kursi yang didorong Rosi.

Rian tetap menunggu di bawah pohon mapel. Ia melambaikan kedua tangannya menyapa. Namun, semakin dekat, Rian sedikit terkejut. Anak laki-laki itu berbeda. Iamelambaikan dengan lengannya. Hanya lengannya. Anak-anak laki-laki itu tidak punya pergelangan tangan. Tapi wajahnya tersenyum.

“Kenalkan, ini sepupuku, Berto”

Rian menyapanya lagi. Ia melihat Berto ceria. Tidak ada wajah sedih.

Rian berkenalan dengan akrab. Melihat Berto, ia terbawa semangat. Tidak merasa sedih lagi. Rian mendengarkan Berto bercerita bahwa dirinya tidak pernah malu untuk berteman dengan siapa pun. Bisa berteman dan bermain bersama adalah hal yang menyenangkan.

Rian tersentuh. Selama ini selalu tidak berani bermain dengan orang lain. Ia khawatir anak-anak lain takut padanya. Tapi tidak lagi sekarang, setelah ia mengenal Rosi dan Berto.

“Rian, ayo kita main ke taman kota. Di sana banyak teman-teman lain.” 
Rian mengiyakan cepat. 

“Jangan bersembunyi lagi, penunggu pohon mapel. Ayo kita main di sana!”

Penunggu pohon mapel. Rian tertawa mendengarnya. Itu sebutan yang pantas baginya.Karena selama ini memang ia selalu bersembunyi di balik pohon mapel.
Rian merasa hari ini adalah hari terbaik baginya. Hari ini, ia senang dan kembali berani. 

==========

Baca cerita lainnya: Putri Malam

5 komentar:

  1. Tentang Anak difabel ya mbak. Ada Lanjutannya kah? Kepo Iihh sama rian, bisa nggak minder lagi nggak ya...

    BalasHapus
  2. Rian itu umur berapakah? Anak, remaja, atau dewasa muda?

    Baguuuus mba penjabaran ceritanya sejak awal, diupdate terus yaa

    BalasHapus
  3. Ini cerita tentang anak yang minder ya mbak berarti, seneng happy ending terbayang olehku semua anak tertawa riang penuh semangat

    BalasHapus
  4. Pesan moralnya dalem bangets nih..dan detilnya keren.
    Selalu oke cernaknya Mbak Mira! Salut!

    BalasHapus
  5. Selalu suka baca cernak karya Mba Mira. Jadi banyak belajar nih, biar suatu hari nanti juga bisa nulis cernak

    BalasHapus