Cahaya Keriang Bandong di Kota Khatulistiwa (Pontianak)



Cerita Anak Oleh Mira Humaira

“Kok masih cemberut aja, Ndi?”

“Lihatlah Bang, papan bintang puasa Nindi banyak bolongnya deh,” ujar gadis kecil berjilbab kuning itu pada kakaknya. Nindi tampak mengusap air matanya. Nindi sedih karena mulanya ia bertekad untuk bisa puasa penuh tahun ini dan punya genap 30 bintang di papan pencapaian puasa ramadhannya.

“Gak apa-apa. Kemarin Ndi tidak puasa kan karena sakit. Udah, jangan manyun lagi. Ramadhan harus ceria. Tinggal sepuluh hari lagi, loh!” Sang kakak berusaha menghibur adiknya yang sejak beberapa hari ini murung dan bersedih hati.

“Iya, ayo semangat lagi. Ndi sudah beranjak pulih dan alhamdulillah sudah mulai puasa lagi kan hari ini,” ucap Ibu seraya menghampiri. “Apalagi nanti malam dimulainya penyalaan keriang bandong, loh. Ayo, siapa yang mau bantu bapak merapikan bambu-bambu hias di luar?”

Seketika mata mereka berbinar-binar. Acara penyalaan keriang bandong pastinya selalu ditunggu-tunggu. Suasana akan meriah. Malam pun akan terlihat semakin cerah karena banyak cahaya menyebar dari semua rumah, surau, sepanjang jalan desa, jembatan-jembatan, bahkan di sudut-sudut kota.

Nindi yang saat itu terpaksa harus menggunakan kursi roda tetap berusaha membantu bapak dan bang Uray menghias rumah dengan bambu-bambu yang bersumbu untuk dinyalakan nanti malam. Kesibukan sore itu membuat Nindi terhibur. Sejenak ia lupa nyeri di kakinya akibat kecelakaan minggu kemarin.

Bukan hanya bambu-bambu yang mereka siapkan. Bapak juga membantu abang membuat lampion-lampion berkarakter unik untuk pawai keriang bandong nanti. Abang Uray menyiapkan lampion perahu, sedangkan untuk Nindi dibuatkan bapak lampion bunga.

“Selagi Bapak dan Abang sibuk di rumah, kita jalan-jalan dulu, yuk, ke Pasar Juadah. Nindi boleh pilih makanan kesukaan Ndi di sana,” ajak Ibu bersiap mendorong kursi roda anak gadisnya.

“Asyik, Nindi juga sudah lama tidak jalan-jalan. Ayo, Bu!” seru Nindi girang. “Tapi … Ibu gak malu dorong kursi roda Nindi?” lanjutnya gundah.

“Loh, kenapa harus malu. Ibu tidak malu. Ndi juga gak perlu malu. Sekarang Nindi hanya perlu bantuan kursi roda sementara. Insya Allah, sebentar lagi Nindi akan berjalan seperti sedia kala,” jelas Ibu.

Mereka pun menikmati senja hari itu dengan berjalan-jalan berkeliling desa. Nindi tidak sabar ingin mengunjungi Pasar Juadah, yang hanya ada di sepanjang bulan Ramadhan saja. Di sana, semua warga bisa puas memilih aneka makanan dan minuman tradisional juga camilan takjil buka puasa. Tidak lupa, ibu membeli sotong pangkong, kuliner khas kota Pontianak, favoritnya Bapak. Nindi memilih bingke durian dan chai kwe, makanan ringan berupa tumisan sayur seperti kucai, bengkuang, talas yang dibungkus kulit dari tepung beras dan tapioka.
***
Malam pun tiba. Seusai tarawih, terdengar sorak-sorai warga terutama anak-anak dari luar rumah. Nindi dan Bang Uray pun ingin segera bergabung mengikuti pawai keriang bandong. Pemandangan yang sungguh menakjubkan. Sepanjang jalan gang fajar yang mereka lewati begitu terang benderang dengan cahaya dari keriang bandong. Gapura dan jembatan pun dihias sedemikian rupa. Iring-iringan warga dengan obor di tangan mereka membuat suasana lebih semarak. Nindi tak berhenti menatap. Ia bahagia dan bersyukur masih bisa menikmati keseruan ramadhan seperti ini.

Benar apa kata bang Uray, sayang jika di bulan suci ini hanya dipakai untuk mengeluh. Ramadhanku harus tetap ceria.  Nindi memandang kedua kakinya lalu tegak menghadap keramaian di depannya. 

Tidak lama berselang, para tetangga dan teman-teman Nindi yang kebetulan berpapasan menghampirinya, menyapanya dengan hangat. Nindi pun semakin lega dan tersentuh. Alhamdulillah.
Keseruan pawai keriang bandong terus berlanjut hingga puncaknya berakhir di tepian Sungai Kapuas. Di sana, Nindi dan keluarga terpesona melihat replika masjid yang berukuran besar menyala terang dengan keriang bandong.

“Nindi jadi semangat lagi nih, Bu. pokoknya Ndi harus bisa meneruskan sisa puasa sampai tamat. Ndi juga gak sabar pengen lihat festival meriam karbit nanti menjelang lebaran,” tutur Nindi sambil memeluk Ibu.

Bapak, Ibu, dan bang Uray pun ikut tersenyum melihat Nindi yang sudah kembali ceria.  Festival Keriang Bandong malam ini membawa kegembiraan dan spirit untuk Nindi.

***
Cerita Keriang Bandong ini terdapat dalam buku antologi saya bersama kawan-kawan di Wonderland Family dengan judul buku 'Ramadhan Seru di 34 Provinsi Nusantara'.

Mengenal Tradisi Unik Ramadhan Kota Khatulistiwa, Pontianak

(Sumber: pontianak.tribunnews.com)

Keriang Bandong merupakan tradisi masyarakat kota Pontianak berupa penyalaan sejenis obor dari bambu kecil yang diberi sumbu dan diletakkan di halaman rumah-rumah pada malam hari di bulan Ramadhan. Kadang di sepanjang bulan ramadhan atau dimulai di sepuluh hari terakhir ramadhan. Keriang bandong ini dapat dipasang atau dibuat sesuai dengan ide dan kreativitas masing-masing warga.
Kata “keriang” merupakan sejenis hewan serangga yang menyukai cahaya. Sedangkan “bandong” diambil dari kata berbondong-bondong. Ini merujuk pada kebiasaan keriang yang selalu datang berbondong-bondong mendatangi pusat cahaya.

Selain festival keriang bandong, masyarakat pontianak juga biasa mengadakan Festival Meriam Karbit yang biasa diadakan di tepian sungai kapuas. Ratusan meriam akan berbunyi secara bergantian. Festival ini diadakan di akhir ramadhan menjelang hari raya idul fitri, puncaknya adalah saat malam takbiran.

Festival Meriam Karbit (Sumber: travelingyuk.com)





0 comments:

Posting Komentar