Liputan Mini Ragil

Cerita Anak oleh Mira Humaira

“Eh … lihat itu, Do! Banyak kera di sini,” seru Ragil sambil berlari mendekati kawanan kera di area parkiran.

Ragil dan Dodo baru saja tiba di tempat wisata budaya. Tepatnya, di daerah antara kabupaten Ciamis dan Banjar. Mereka baru saja mengunjungi Kak Sofi yang sedang mondok di pesantren, yang lokasinya tidak jauh dari sana. Ayah mengajak Ragil, Dodo, juga Ibu mampir di tempat ini untuk makan siang.

Cekrek … cekrek!

Ragil sibuk mengambil gambar kera yang ada di hadapannya tanpa rasa takut. Seperti biasanya, kemana pun Ragil selalu bersama kamera kesayangannya. Tentu saja, kali ini Ragil tidak mau kehilangan kesempatan mengambil foto kera di tempat yang baru ia kunjungi.

“Hati-hati ih, Gil. Nyakar loh!” kata Dodo menepuk pundak Ragil, sepupunya. 

“Asal jangan diganggu aja. Mereka gak akan nyerang kita, kok.” Jawab Ragil santai.

“Do … Do, lihat itu. Nanti kita kesana, yuk!” ajak Ragil sambil mengerlingkan mata.

“Hoooh?” Dodo melongo. Ternyata dua tangan Ragil menunjuk ke sebuah area yang penuh dengan pepohonan tinggi dan rimbun. Tampak seperti hutan belantara. Oow … sepertinya Dodo harus siap menemani petualangan Ragil, si anak pemberani itu.
***
Baca cerita lainnya yuk: Kalky Kasuari Si Jago Bela Diri

“Makan dulu, Anak-anak!” ajak Ibu sambil membereskan makanan khas Sunda yang sudah disiapkan Emak warung.

Hmm…karedok, kerupuk, ayam goreng, dan lalapan. Mantap sekali ini, Bu!” seru Ayah tidak sabar ingin segera mencicipi.

“Siap makan besar nih. Oh ya, Yah nanti Ragil sama Dodo main dulu ke sana, ya?!” kata Ragil sambil membujuk.

“Main ke situs Cagar Budaya?” tanya Ayah.

“Iya, Yah, boleh?” Ragil sedikit ragu ayah akan menyetujuinya.

“Situs? Situs apaan, Om?” seru Dodo penasaran.

“Situs cagar budaya adalah suatu lokasi yang di dalamnya terdapat benda, bangunan, atau struktur cagar budaya sebagai hasil kegiatan manusia dan bukti kejadian pada masa lalu,” jelas Ayah.

“Kalian mau ke sana? Tentu saja boleh. Kalian bisa belajar di sana. Tapi ingat, ya, jangan merusak atau mengotori tempatnya. Hati-hati juga dengan kera-kera di sana, ya!”

Rupanya Ayah tidak keberatan Ragil dan Dodo untuk berkunjung ke lokasi situs. Ragil pun bersemangat menghabiskan makanan. Sedangkan Dodo sedikit ketakutan jika harus bertemu kawanan kera lagi tapi ia tetap antusias karena akan bermain-main dengan Ragil di sana. Pasti akan menyenangkan.
***
Ragil dan Dodo siap menyusuri tempat yang tadi Ayah katakan sebagai situs cagar budaya. Berbekal kamera, Ragil siap mengambil objek-objek menarik yang akan ditemuinya nanti. Dodo sendiri biasanya senang membuat video dari gawai untuk nanti ia unggah di channel youtube-nya.

Tidak hanya berdua, Ragil dan Dodo ikut menyelinap bersama rombongan anak-anak lain yang juga sedang mengunjungi situs bersama pemandunya. Mereka berharap bisa ikut menyimak juga penjelasan dari Om pemandu dan bisa tetap aman selama perjalanan.

Ragil dan Dodo mulai terkagum dan serius menyimak saat Om pemandu mulai menjelaskan bahwa situs ini merupakan peninggalan sejarah kerajaan Galuh Purba di masa lalu. Situs ini pun terkenal dengan legenda Ciung Wanara. Menurut cerita, Ciung Wanara merupakan pendiri kerajaan Pajajaran, yang kemudian keturunannya pun menjadi raja-raja di tanah Pasundan.
  
“Nah, anak-anak situs ini merupakan leluhur peradaban raja-raja di tanah Pasundan dan Jawa, leluhur kita ada di sini!” jelas Om pemandu. Ragil dan Dodo menyimak semakin penasaran.

Mereka terus berjalan menyusuri jalan lokasi situs. Walaupun hari mulai panas, tapi sengatan matahari tidak begitu mengganggu karena banyak pepohonan tinggi melindungi. Kondisi di sekitar situs memang terjaga kelestariannya. Suasananya nyaman dan asri.

“Lihat, Gil. Pohon itu besar sekali dan menjulaaang sangat tinggi!” tunjuk Dodo sambil menengadah ke atas. 

“Waw! Iya, Do. Lihat batangnya lebar sekali. Nih lihat ada keterangannya, loh. Waaah rupanya pohon ini sudah berusia ratusan tahun.” Ragil takjub melihatnya.

“Eh … eh lihat juga, ada sungai di sana. Ke sana yuk, Do.” Ragil kemudian mengajak Dodo ke arah sungai.

Dodo sempat ragu mengikuti Ragil karena rombongan anak sekolah lainnya tadi berjalan ke arah sebaliknya. Ragil dan Dodo kemudian duduk beristirahat di atas batu dekat sungai. Setelah berjalan cukup jauh, mereka mulai merasa haus dan bersegera minum. Tak terasa air kemasan Dodo segera habis saja lalu ia mengambil ancang-ancang melemparkannya ke sungai.

“Heh! Jangan sembarangan!” tiba-tiba terdengar seseorang berteriak. Tapi itu bukan suara Ragil. Dodo pun terkejut.

“Eh ini sungai bersejarah lagi pula kenapa kalian harus buang sampah ke sana,” kata seseorang yang rupanya masih anak seusia mereka.

Hehehe … iya maaf, gak jadi kok. Eh kamu siapa, kenapa tiba-tiba ada di sini?” kata Dodo.

“Katamu tadi ini sungai bersejarah, ada cerita apa di balik sungai ini?” tanya Ragil mengambil alih pembicaraan. Rupanya Ragil lebih penasaran dengan sejarah dari pada sosok anak yang  baru tiba-tiba datang itu.

“Di sini merupakan pertemuan antara dua sungai, yaitu sungai Citanduy dan Cimuntur. Sungai Citanduy ini adalah tempat dulu Ciung Wanara, saat bayi, dihanyutkan” jelas anak kecil berselendang sarung itu dengan antusiasnya. “Ciung Wanara itu… penguasa kerajaan Galuh,” tambahnya.

“Kalian kalau mau jalan-jalan di sekitar sini, lihat tuh ada papan pengumuman. Jangan sampai merusak, mengotori, juga mencuri benda bersejarah. Bisa didenda dan dipenjara, loh!” kata si anak ikal itu sambil melirik Dodo.

Dodo sedikit gemetaran. Hampir saja dia mau melakukan kesalahan. Selain mau membuang sampah sembarangan, tadi juga Dodo sempat mau menulis dengan batu di pagar suatu situs. Untung lah, Ragil mengingatkannya.

“Ya sudah, kalian cepat kembali. Di sini sudah tidak ada siapa-siapa. Kalau mau pulang kalian ambil jalan ke sebelah kiri,” jelas anak yang entah siapa namanya.

Oow … Dodo dan Ragil baru menyadari di sana memang sangat sepi. “Makasih ya, Teman” ucap Ragil. 
Dodo dan Ragil langsung berlari. Dodo sempat melirik kembali ke arah belakang. Ia ingin mengecek teman barunya itu tapi rupanya anak bersarung tadi sudah tidak terlihat. Dodo bergidik. Ia membayangkan yang aneh-aneh. Dodo pun segera berlari menambah kecepatan menyusul Ragil.

      “Gil … Ragil tunggu!”

***

      Itu dia Anak-anak. Ayo, sudah waktunya pulang!” seru Ayah setelah selesai memperbaiki ban mobilnya.

        Dodo dan Ragil segera menghampiri dan bersiap memasuki mobil. Selama di perjalanan pulang, Ragil banyak bercerita tentang petualangnnya tadi di lokasi situs. Sedangkan Dodo sendiri, ia sudah terlelap tidur karena kelelahan.

“Ini liputan Ragil, Yah, hehe. Ini coba lihat, Bu. Tadi Ragil dan Dodo lihat ada peninggalan sejarah kerajaan Galuh. Ada batu pangcalikan, katanya itu adalah bekas singgasana raja. Ada juga sanghyang bedil, panyabungan ayam, yang dulunya tempat lomba adu ayam. Masih ada beberapa lagi …,” cerita Ragil antusias sambil sesekali melihat catatan kecilnya dan menunjukkan foto dari kameranya.

Good Job, Gil. Ragil hebat karena udah berani dan mau belajar. Hasil liputannya mau digimanain, nih?” kata Ayah.

“Aku tulis lagi di blog dong, Yah. Sekalian bagian Ragil juga ngisi mading pekan ini. Ragil mau pasang foto-foto ini aja. Biar teman-teman pada tahu juga.” Lanjut Ragil.

“Wah, semangat sekali anak Ibu. Betul itu, Gil. Dengan begitu, Ragil sudah ikut melestarikan cagar budaya di Indonesia dengan mengenalkannya pada teman-teman di sekolah maupun di dunia maya.” Sambung Ibu membuat Ragil semakin berbinar dan bersemangat.
***

Baca juga cerita lainnya yuk: Penunggu Pohon Maple








0 comments:

Posting Komentar