Pesan Rahasia dari Hutan Rimba


Judul: Pesan Rahasia dari Hutan Rimba
Penulis: Wahyu Nooor S.
Penyunting Bahasa: Ayu Wulan
Penerbit: Penerbit Lintang (Kelompok Penerbit Indiva Media Kreasi)
Tahun Terbit: 2016
Tebal: 128 Halaman
ISBN: 978-602-6334-12-1

Blurb
Zen berdiri sambil melempar senyum manis kepada ketiga anak rimba itu. Senyuman adalah bahasa yang bisa dimengerti oleh siapa pun di dunia ini. Bahasa persaudaraan.

“Namaku Zen dari Jakarta.” Seru Zen memperkenalkan diri. “Kami mohon izin untuk menginap di sini.”
“Jakarta?” ucap ketiga anak rimba seketika. Ketiganya saling berpandangan.
“Jakarta,” ulang ketiganya. Lalu berlari pergi.
Mereka menerobos masuk ke dalam hutan. Melintasi jalan setapak, menuju arah bukit.
Zen, Ahmad, dan Ruli tercekat. Apa yang salah? Mengapa mereka malah berlari?

Wah, apa yang terjadi dengan Zen dan teman-temannya, ya? Sepertinya mereka tersesat di dalam hutan. Dan … mereka bertemu dengan anak rimba? Apakah mereka akan berhasil keluar dari hutan? Apa yang akan dilakukan anak-anak rimba itu terhadap Zen dan teman-temannya? 

Review
Yuhu, kali ini aku mau review buku novel anak terbitan Indiva ini, Pesan Rahasia dari Hutan Rimba. Wah, dari judulnya aja bikin kepo, ya. Ada pesan rahasia apakah gerangan?

Awalnya, aku enggak begitu membayangkan sesuatu yang wah sekali untuk cerita ini. Ya, sedikit bisa ditebak, seorang anak kota yang jalan-jalan ke daerah. Ia  menemukan/mengetahui suatu tempat yang biasanya dilarang untuk didatangi  tapi doi penasaran lalu akhirnya masuk dan tersesat lah di sana. Begitu sepertinya?

Ya, memang ternyata begitu inti ceritanya. Namun, entah mengapa membaca dan mengikuti alur cerita dalam buku ini begitu menarik. Tidak membosankan. Karakter setiap tokohnya kuat. Banyak hal yang membuat penasaran. Ingin cepat membuka halaman demi halaman. Dan pastinya lagi, ternyata banyak informasi pengetahuan yang diselipkan dalam kisah ini. Pantas saja jika novel ini pernah masuk nominasi ajang IBF Award kategori buku fiksi anak terbaik. Memang bagus, ciamik!

Pesan Rahasia dari Hutan Rimba. 

“Jelajahilah hutan sesukamu, pasti kamu akan mendapatkan banyak pelajaran di sana.”
Bercerita tentang Zen, anak Jakarta, yang sedang berlibur bersama ayahnya ke Jambi. Ia mengunjungi Om Huda yang tinggal di suatu perkampungan. Di sana, Zen takjub melihat pemandangan dan merasakan segarnya udara pedesaan. Layaknya mendengarkan musik alam, ia menikmati suara binatang saling sahut menyahut kompak, terdengar indah dan merdu. Semua itu tidak ia temukan di sekitar rumahnya, di kota besar.

Zen adalah anak supel. Mudah berteman. Ia langsung mendapatkan teman baru di sana. Ada Ahmad dan Ruli. Zen juga anaknya selalu penasaran. Suatu hari, setelah berjalan-jalan dan berbelanja di pasar ia ingin ‘mampir’ menjelajahi hutan. Padahal sebenarnya, ia sudah diwanti-wanti oleh ayah dan omnya untuk tidak memasuki hutan. Namun, hanya karena seekor kelinci, Zen beserta Ahmad, dan Ruli akhirnya tidak sengaja masuk ke hutan dan bertemu anak-anak rimba yang berasal dari Suku Anak Dalam. Mereka sulit mencari jalan pulang. Zen dan teman-teman terpaksa harus menginap di hutan.

Mulanya mereka panik. Zen dan teman-teman berada di wilayah kekuasaan suku Anak Dalam. Ya, mereka masuk hutan rimba. Di sana, mereka bertemu dengan anak-anak rimba yang membawa tombak. Zen mencoba melempar senyum dan memperkenalkan diri. Namun, anak-anak rimba seperti terkejut kemudian berlari pergi setelah tahu Zen berasal dari Jakarta. Zen, Ahmad, dan Ruli pun terpaku. Ketakutan.

Tidak lama mereka juga bertemu dengan kepala suku. Namun, tidak sangka kepala suku bersikap baik dan bersedia memberi tumpangan menginap di wilayahnya. Ya, ternyata tidak seseram yang Zen bayangkan. Setelah lama-lama berinteraksi dengan anak-anak rimba, malah Zen merasa aman. Suku Anak Dalam baik tidak jahat dan menakutkan.

Zen, Ahmad, dan Ruli ditemani oleh Pumboni, salah satu anak rimba. Zen banyak mengetahui hal baru selama tinggal di pondok tempat tinggal suku Anak Dalam. Ia dan teman-teman sempat diajak berkeliling hutan. Zen begitu miris ketika diajak melihat bagian tengah hutan yang kosong, rusak, dan gersang akibat kebakaran dan penebangan liar.

Bagi suku Anak Dalam, hutan adalah tempat mereka menetap. Jika hutan sudah banyak dirusak maka kehidupan mereka terancam. Hutan adalah tempat mencari makan dan tempat tinggal mereka. Nah, di sini lah sebuah pesan rahasia disampaikan Pumboni si anak rimba. Zen diminta menyampaikannya ke rajo pusat (pemerintah). 

Pengalaman yang sungguh berkesan bagi Zen, Ahmad, dan Ruli. Terutama untuk Zen. Kunjungannya ke Jambi membawa pesan rahasia untuk dibawanya ke Jakarta.

Yup, cerita yang sarat makna dan pengetahuan. Yang jelas, selesai membaca buku ini pengetahuanku bertambah. Tentang suku Anak Dalam. Setelah aku kepoin juga, mereka benar-benar ada loh, bukan fiksi. Mereka adalah suku diantara banyaknya suku di Indonesia yang menetap di hutan Sumatra. Dulunya mereka hidup nomaden dan masih berburu. Namun, sekarang mereka sudah menetap, juga sudah terbiasa bercocok tanam bahkan sudah membaur dan berinteraksi dengan warga biasa. Seperti diceritakan dalam buku ini juga, ada cuplikan cerita dimana suku Anak Dalam menjual madu juga ke ayahnya Ruli.

Novel anak bertema petualangan dan peradaban ini sangat cocok untuk dibaca anak-anak atau remaja. Banyak pelajaran dan pengetahuan. Dari pada baca lain-lain yang bernada kegalauan dan percintaan, aku rekomendasikan novel ini deh. Hehe … 

"Senyuman adalah bahasa yang bisa dimengerti oleh siapa pun manusia di dunia ini. Bahasa persaudaraan." (Pesan Rahasia dari Hutan Rimba, Hal. 98)





6 komentar:

  1. Wah bagus sekali ceritanya. Banyak pesan yang di sampaikan dalam cerita anak ini. Bisa mengenal lebih jauh tentang suku anak dalam juga. Sebuah pesan yang di kemas dalam bentuk cerita anak. Sangat menarik Mbak.

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus

  3. Menarik sekali ceritanya mbak. Kekuatan membaca buku luar biasa ya. Mbak Mira jadi ikutan kepo pengen tahu fakta sebenarnya.

    BalasHapus
  4. Bagus nih buat referensi bacaan anak-anak di rumah, eh emaknya juga ding. Gak hanya menyajikan cerita tapi juga pengetahuan akan suku anak dalam.

    BalasHapus
  5. Cerita anak sering kali terkesan ringan padahal pesan moralnya dalam ya mba. Bagus untuk mengajarkan anak-anak tentang nilai-nilai kehidupan.

    BalasHapus
  6. Novel anak petualangan itu selalu asyik ya. Anak saya juga punya beberapa buah novel "Lintang" spt ini. Yang ini bagus juga, jadi lebih tahu tentang suku anak dalam. Yups, saya pernah baca tapi kalau tdk salah pas baca dulu yg di wilayah Bengkulu. Pesannya dapet banget dan memang begitulah awal mula kebakaran hutan di Sumatera, hiks. Nice review :)

    BalasHapus