Sampul Buku Didit

(Sumber: www.topinspired.com)

Cerita Anak oleh Mira Humaira

Sampul Buku Didit (1)


“Alhamdulillah… akhirnya Didit sekolah ya, Pak!” ujar Didit sambil berputar-putar mencoba memakai seragam barunya. Ia begitu riang dan senang.

Setelah sekian lama bermimpi untuk bersekolah seperti teman-teman mainnya, akhirnya pada tahun ini Didit bisa berseragam putih-merah dengan topi SD bertengger gagah di kepala mungilnya.

“Keren, ya, anak Bapak!” seru Didit di depan cermin.

Pak Gunawan mengacungkan jempol ke arah Didit. Ia bangga melihat anaknya begitu bersemangat.

“Siapa dulu dong, nih …,” ujar Didit sambil menunjuk label nama di baju barunya, Didit Gunawan.
Mereka tertawa bersama. Bapak dan anak itu terlarut dalam suasana gembira.

Baca juga yuk cerita lainnya: Liputan Mini Ragil 
***
Pagi cerah menghiasi kampung Madani. Sinar matahari menyoroti sosok-sosok cilik yang sedang berkejaran, berlarian, berpengangan tangan sambil berjalan pelan, juga yang bersepeda mini menikmati perjalanan. Mereka semua hendak pergi bersekolah.

“Aku berangkat sekolah, Pak!” teriak seorang anak laki-laki sambil berjalan ke luar dari sebuah rumah sederhana.

Didit pun akan memulai sekolah impiannya hari ini. Sejak malam, Didit sampai tidak bisa tidur nyenyak karena begitu menunggu hari ini. Ia menyiapkan perlengkapan sekolahnya dengan seksama: tas, sepatu, seragam, alat tulis ia periksa satu-satu takut ada yang kotor atau tertinggal.

Ketika hendak memasukkan buku-bukunya, Didit memandang dua buku tulisnya. Buku yang tidak terlalu tebal itu bersampul koran.

Hmm… buku ini terlihat… “ ujarnya dalam hati. Bahkan ia pun tidak meneruskan kata-katanya.
“Ah, sudahlah,” tambahnya lagi. Didit berbicara sendiri sambil memasukkan kedua buku itu ke dalam tasnya. Ia pun lalu pergi tidur.
***
   
“Selamat pagi, anak-anak!”

Suara Ibu guru yang lantang itu membuat anak-anak terkejut. Namun, ekspresi senyum yang diperlihatkannya membuat Ibu guru Sofi tidak terlihat menakutkan. Anak-anak malah begitu senang.

“Mari siapkan buku dan alat tulisnya, ya!” ujar Ibu Sofi sambil memandang ke semua arah.

Semua anak sibuk mengeluarkan buku dan tempat pensil dari tasnya masing-masing.

Wah bukumu lucu sekali.
Lihat buku punyaku bagus, kan.
Iya, aku membelinya di toko yang besar itu.
Gambar sampul bukunya cantik, ya.

Teman-teman Didit di kelas begitu antusias saling memperlihatkan, memuji, serta memamerkan buku dan alat tulisnya masing-masing.

“Buku mereka baru dan bagus, sedangkan punyaku…” gumam Didit sambil memandangi bukunya.
Didit tiba-tiba memasukkannya kembali ke dalam tas.

Saat Ibu Sofi bertanya dimana bukunya, Didit berbohong. Ia bilang kalau hari ini bukunya tertinggal di rumah.
***
“Bagaimana sekolahnya, Dit?” tanya Bapak sambil menghampirinya.

“Seru, Pak. Didit punya banyak teman. Ada Harun yang rambutnya ikal, Danang yang botak, Jono… Gilang… Keke...Rani, dan baaanyak sekali,” cerita Didit.

Hmm … tapi Didit malu,” tambahnya.

“Kenapa?”

“Buku dan tempat pensil teman-teman semuanya bagus. Mereka beli dari toko. Punya Didit, sampulnya cuma koran,” gumam Didit sambil cemberut.

Bapak tersenyum. Bapak tahu apa yang diinginkan Didit.

“Bapak mau belikan buku dan sampulnya dari toko itu kan, Pak. Kata teman-teman, disana bagus-bagus loh, Pak?” tanya Didit bersemangat.

Bapak masih tersenyum namun ia menggelengkan kepala.

“Bapak tidak akan membelikannya tapi kita akan membuat yang lebih bagus dari pada yang ada di sana,” jelas Bapak.

“Yah, Bapak… paling dari barang bekas lagi. Didit kan mau yang bagus seperti teman-teman.” kata Didit sambil cemberut lagi.

(Bersambung ...)

Ayo bagaimana kelanjutan cerita buku Didit, ya. Tunggu di postingan selanjutnya, ya!


0 comments:

Posting Komentar