Asrama Aida

ASRAMA AIDA (1)

Oleh Mira Humaira

Tik … tik … tik … tik
Suara tetesan air masih terdengar jelas dan cepat.  Aida terburu-buru menyiapkan perangkat sekolahnya. Ia hendak kembali menengok kamar mandi. Tapi tidak sempat. Bel sekolah sudah terdengar di asrama. Bruk! Ia menutup pintu kamar dengan kencang.

Aida berjalan cepat melewati tangga. Gerakannya sigap. Tangan kanannya penuh dengan buku. Tangan kiri masih memegang handuk. Ia harus menjemurnya dulu di jemuran, samping asrama. Wajib.

Aida mengencangkan tali sepatunya. Siap  berlari. Jarak asrama putri ke kelas cukup jauh dibandingkan asrama putra. Ia harus segera sampai sebelum Pak Haris tiba duluan di kelas.
Aida berlari. Melompat. Melewati kawanan ayam yang sedang berkumpul makan. Mereka berhamburan. suara petok-petok ayam bersahutan. Berisik. Aida tertawa tergelak-gelak melihatnya.
Aida lalu melihat Kimi, kucingnya Ustadzah Anisa, yang sedang berlari mengejar kucing lainnya.

 "Hai Kimi! ayo lomba lari!" Aida menambah kecepatan. Berlari berkejaran dengan Kimi.

Aida tiba di halaman gedung sekolah. Pintu kelas 7-B sudah terlihat menutup. Aida menepuk jidatnya. Napasnya ngos-ngosan. Duh, pasti Pak Haris sudah masuk! Gawat. Aida mulai berjalan menuju kelas. Berjinjit-jinjit. Deg-degan!

Aida mendekati pintu. Terdengar suara Bapak-bapak dari dalam. Tapi suaranya pelan. Itu bukan Pak Haris! Lalu siapa?

Hati-hati Aida mengintip dari balik jendela. Penasaran siapa di dalam.

"Aidaaa!"

Aida memejamkan mata. Panik. Ada yang memanggilnya dari belakang.

"Telat lagiiii?" Ustadzah Rani bertanya gereget. Ini bukan pertama kali Aida tertangkap basah telat oleh Ustadzah Rani,  pembimbing keamanan santri putri.

Aida mesem-mesem di depan Ustadzah. Ia meminta maaf karena telat lagi. “Takzirannya nanti aja, yaa … Ustadzah. sekalian yang kemarin, ya!” Aida membujuk.

 Ustadzah bilang oke sambil berdesah. Kemudian Aida pamit cepat masuk kelas karena ada ulangan pelajaran matematika Pak Haris. Aida pun masuk kelas. Rupanya Ustadz Salim yang menggantikan Pak Haris. Aida lega. Walaupun waktu ulangannya terpotong karena telat. Tapi ia tidak kena omelan Pak Haris yang terkenal sebagai killer teacher.

"Fyuh! Selesai juga!" Aida merapikan kerudungnya. Merebahkan badannya ke tembok.

Tiba-tiba datang Nadia, teman sekamarnya, menghampiri. "Aida,  tadi keran kamar mandi udah ditutup, kan?”

Aida terkinjat. Ia melompat dari bangkunya. Aida benar-benar tidak sempat mematikannya tadi. Ini gawat. Kamar mandi bisa banjir. Airnya juga bisa masuk ke ruangan. Itu karena saluran kamar mandi sedang tersumbat.

"Huaaaa …" teriak Aida sambil membayangkan masalahnya akan menjadi besar. Ia langsung berlari lagi. Harus menuju kamar.  "Awas ... awas! Minggir ... minggir!" Aida melewati teman-temannya. Nadia geleng-geleng kepala melihat kelakuan temannya. "Aida … Aida."

Baca juga cerita lainnya yuk: Rumah Kardus Arlin
***
Gedung asrama Habibah terletak paling ujung. Tepat di depannya adalah rumah pembimbing putri. Aida harus siaga. ini masih jam sekolah. Bisa-bisa ketahuan plus kena hukuman lagi. Aida sampai di halaman asrama. Ia berlekas-lekas membuka sepatu. Baru saja sampai teras bawah. Rupanya Ada Ustadzah Anisa dan Kak Fani. Mereka keluar masuk kamar 04. Tampak sedang memeriksa sesuatu.

Duuuh! Bagaimana ini?
Kabur lagi aja?

Aida menggigit satu telunjuk kirinya. Berpikir sambil berdebar-debar. Akhirnya, ia memutuskan mengecek ke atas, ke kamarnya. Aida mulai jalan berjengket di balik tangga agar tidak kelihatan Ustadzah Anisa.

Berhasil naik sampai anak tangga atas. Aida segera menuju kamar. Dan Ups! seseorang sudah ada di depan pintu kamar 10, kamarnya. Ustadzah Rani! … Lagi?
Seketika Aida membalikkan badan. Putar balik menuju tangga.
"Aidaaaa!!" suara Ustadzah Rani nyaring sekali. Langkah Aida terhenti.


(Bersambung ...)

Hayo, Aida bakal kena masalah apa lagi nih? Baca di postingan selanjutnya yuk!

0 comments:

Posting Komentar