Asrama Aida (2)

Siapa yang nunggu kelanjutan cerita Aida? Yuk ini dia kelanjutan cerita Asrama Aida (1)

Asrama Aida (2)

Oleh Mira Humaira

Aida tidak bisa mesem-mesem lagi kali ini. Mukanya serius. Ia bisa menebak apa yang terjadi di dalam. Aida segera menghampiri. Mengasongkan kunci kamarnya. Ustadzah Rani cepat-cepat membuka pintu kamarnya.

Ustadzah Rani masuk terkejut. lantai kayu dekat kamar mandi tergenang air. Tidak terlihat begitu banyak karena air yang melewatinya pasti sudah menetes ke bawah.

"Kamar mandi!" seru Aida. Ia segera membuka pintu kamar mandi. Blas! suara terjangan air yang cukup banyak melimpah ke luar. 
Aida dan Ustadzah Rani mundur. Di bawah terdengar teriakan.

"Aaaaahhh … Astaghfirullah!"

 "Kenapa ini, Ustadzah Rani?!" Ustadzah Anisa berteriak dari bawah mengonfirmasi.

"Banjir dari kamar mandi atas, Ustadzah!" jawab Ustadzah Rani dari balik tembok pagar atas. Aida menutup muka dengan kedua tangannya. Gawat!

Kamar 04 di bawah kebanjiran. Kena imbasnya. Posisi dan letak kamar 04 dan kamar Aida sama persis. Jadi, kasur dan lemari kamar 04 yang posisinya tepat dekat kamar mandi  dipastikan basah semua. Kena air dari atas. Lantai kayu di atas memang bercelah. Jika ada air yang tumpah bisa merembes. Apalagi, kali ini air datang seperti banjir. Pasti bocor besar.

Sepulang sekolah, semua anggota kamar 04 dan 10 dikumpulkan. Meraka diberi arahan oleh Ustadzah Rani dan Ustadzah Anisa. Sebelumnya, tidak pernah kejadian separah ini. Pernah terjadi hanya rembesan kecil saja. Kak Fani sebagai ketua kamar 04 pernah menegur dan mengingatkan anggota kamar 10.

Tentu saja, kali ini  pasti Kak Fani lebih kesal. Sejak tadi ia bermuka masam pada Aida. Aida juga merasa bersalah. Bagaimana pun ia dan teman-teman di kamar 10 sudah lalai. Mereka harus bertanggung jawab. Tapi, sebenarnya Aida masih penasaran. Siapa yang terakhir kali ke kamar mandi dan tidak menutup kerannya?

“Kamu kan yang paling terakhir keluar kamar?” Nadia berbisik pada Aida. Mereka sedang mengepel kamar 04.

“Iya … tapi enggak tahu tuh siapa yang terakhir ke kamar mandi dan enggak nutup lagi kerannya,” jawab Aida pelan.

“Tapi kan kamu tahu itu keran belum ketutup,” ujar Nadia, teman dekatnya.

 “Iyaa makanya … aku ngerasa bersalah juga. Tadi buru-buru soalnya.” Aida berdesah. Kesal sendiri.

Baca juga yuk: Sampul Buku Didit
***
“Tidak perlu saling menyalahkan lagi ya, atas kejadian kemarin. Yang pasti tidak boleh terulang lagi. Kita kan satu kamar bersama-sama. Jadi harus saling memiliki dan punya tanggung jawab bersama,” jelas Ketua kamar Aida sambil tersenyum. Kak Rosi namanya, murid kelas 11 di sekolah.

Aida dan teman-temannya saling berpelukan. Saling meminta maaf. Sebelumnya mereka saling menuduh satu sama lain. Hingga akhirnya Alya berkata jujur bahwa ia ingat hari itu tidak menutup kerannya. Alya benar-benar lupa. Padahal salah satu aturan di asrama sudah jelas, bahwa siapa pun yang akan mandi harus menyalakan air dan menutup keran setelahnya.
Setelah itu, mereka berjanji akan lebih hati-hati. Juga sepakat untuk saling mengingatkan. Apalagi, tidak lama setelah kejadian tersebut, ternyata daerah pondok mengalami kekeringan. Pasokan air ke gedung asrama putri dibagi-bagi giliran. Kondisi air kritis. Jangan sampai air yang sudah ada di bak malah terbuang percuma karena hal yang ceroboh, seperti lupa menutup keran air.
Saat bak air kamar mandi sudah penuh, mereka pun harus hemat. Tidak boleh menghamburkan air. Semua anggota kamar harus kebagian. Jika keadaan lebih darurat, Aida dan teman-teman bahkan harus rela antri nebeng di gedung asrama Khadijah, yang memiliki sumber air cadangan dari sumur gali. Air begitu berharga. 

***
“Aida! Cepat mandi sana. Terus kita sarapan bareng!” ajak Nadia yang sudah bersiap rapi memakai seragam.

“Yuk, kita makan aja dulu!”

“Eh, yakin? Kamu, enggak mandi aja dulu?” Nadia meyakinkan.
“Masih ada air, kan, di asrama?” Aida memastikan. Nadia mengangguk. Mereka kemudian berjalan menuju kantin.

Aneka olahan telur. Menu sarapan hari Rabu. Ada telur ceplok kecap, telur dadar, orek telur, dan telur rebus. Boleh pilih salah satu.  Aida mengambil telur ceplok kecap. Ditambah bihun goreng berisi sayuran. Menu favorit Aida.
Aida memastikan tidak boleh lapar pagi ini karena ada jam pelajaran Pak Haris. Perlu banyak energi untuk mengikuti pelajarannya. Serius. Tapi tidak boleh terlalu kenyang karena bisa mengantuk.

Nadia berangkat duluan setelah menyelesaikan sarapannya. Ia bagian piket kebersihan kelas. Mesti datang lebih awal. Aida juga bergegas menuju kamar. Bersiap untuk mandi. Namun, baru saja menuju tangga, tiba-tiba suara yang tidak asing memanggil namanya.

“Aida! Aida!”

“Iya, Ustadzah,” kali ini Aida senyum-senyum di hadapan Ustadzah Rani. Tenang karena merasa belum melakukan pelanggaran apapun pagi ini.

“Takziran kamu kemarin-kemarin, bayar sekarang, ya! Siram tanaman depan asrama sebelum ke sekolah,” giliran Ustadzah Rani yang senyum-senyum. Ekspresi Aida berubah. Kaget.

“Tapi  … Ustadzaaaah!” Aida melihat bolak-balik jam tangannya. Cemas.
Ustadzah meyakinkan sendiri masih ada cukup waktu. Aida tidak akan terlambat jika harus menyiram tanaman dulu. Aida gereget tidak bisa merayu Ustadzah Rani kali ini. Masalahnya sekarang, ia belum mandi dan tidak boleh telat masuk kelas.

Jam 7 kurang lima menit. Pas! Aida sampai di pintu kelas. Selamat. Ia melambaikan tangan pada Nadia. Masih terengah-engah.

“Syukurlah tepat waktu. Eh, PR … PR Pak Haris, udah?” Nadia khawatir Aida lupa mengerjakannya.

Aida mengacungkan jempolnya. “Beres!”

“Keran kamar mandi?” tanya Nadia cemas.

“Aman!” jawab Aida mantap. Nadia lega. Itu yang paling penting. Tapi Nadia masih penasaran.

“Eh, Aida. Bukannya tadi disuruh dulu Ustadzah Rani? Tapi kok tumben enggak telat.”

Aida mesem-mesem. Lalu ia mendekatkan duduknya ke samping Nadia. Aida berbisik di telinga Nadia. “ … Tapi jangan bilang siapa-siapa, ya!” Nadia menganggut setuju. 

“Aku enggak sempat  mandi!” jawab Aida cuek sambil tertawa.

“Iiiiiih … Aidaaa!!” 
***

Hihi, Aida Aida. Btw, Terima kasih ya yang sudah mampir baca cerita Aida.
Baca disini: Asrama Aida (1)

Salam Cinta,


0 comments:

Posting Komentar