Candy

(Foto: Pixabay)

Candy

Oleh Mira Humaira

Candy tersenyum membuka matanya. Ia berada di tempat baru. Rumah Bibi Laura. Mulai hari ini, Candy akan tinggal bersama Bibi yang mengasuhnya.

Nenek sudah pergi. Candy masih sedih. Tapi Bibi Laura juga baik seperti Nenek Berta. Rumahnya bertingkat. Ada taman yang luas dan bunga-bunga. Di belakang rumah juga ada kandang kelinci. Candy suka kelinci.
 
Kamar Candy ada di sebelah taman. Kamarnya bagus. Ada banyak boneka. Dari jendela kamar, Candy melihat taman Bibi Laura yang hijau luas. Ia tidak sabar menggoes sepedanya berputar-putar di sana.

"Candy… Yuk, makan dulu!" Bibi Laura memanggilnya. Waktunya makan siang. 

Candy lari bersemangat. Tiba-tiba di depan pintu kamar, Candy menjerit. Ia berlari kencang. Bibi Laura menangkapnya. Candy menunjuk kucing besar yang mengikutinya.

Persi. Itu nama kucingnya. Kucing kesayangan Bibi Laura. Persi berbulu panjang. Badannya gendut. Lucu. Tapi Candy cemberut. "Candy enggak suka kucing!"

Baca juga yuk: Ulil dan Tanaman Ajaib
***
Langit sudah gelap. Waktunya tidur. Candy tidur sendiri di kamar. Ia tidak takut. Candy sudah terbiasa sejak tinggal bersama Nenek Berta. Candy menarik selimut bergambar kuda poni lalu berdoa.
***
Sinar mentari pagi terasa hangat. Candy tersenyum melihat Bibi Laura sedang membuka jendela. Candy senang, tadi malam ia bisa tidur nyenyak. 

"Yuk, kita sarapan!" Ajak Bibi Laura.
 
Candy segera mandi dan berbaju rapi. Kemudian ia menuju dapur dengan hati-hati. Melirik ke kanan dan ke kiri. Ia takut berjumpa dengan Persi. Candy pun sampai di meja makan. Tidak ada Persi. Aman.
***
Candy tidak sabar ingin main sepeda. Garasi sepeda dekat dengan kandang kelinci. Di dalamnya, ada empat kelinci lucu. Ada yang berbulu coklat. Ada yang putih. Diam-diam Candy membuka pintu kandangnya. Mereka berlompatan keluar. Candy tertawa siap mengejar.
 
Candy naik sepeda mengejar para kelinci. Tiba-tiba ada yang ikut bergabung. Itu Persi. Persi mengejarnya. Candy panik. "Huaaaa...Persiiiii!"

Candy mengayuh sepedanya kencang. Berputar-putar di taman. Persi terus mengikutinya. Sepeda Candy pun oleng. Ia terjatuh. Persi mendekat lagi. Ia mengibas-ngibaskan bulunya ke baju Candy. Candy mengusirnya.

Candy mengusap-ngusap lututnya. Hanya lecet sedikit. Candy kembali mengangkat sepedanya. Ia masih mau bermain sepeda. Tapi kali ini Candy izin, mau bermain ke rumah Ruth. Rumah Ruth tidak jauh dari rumah Bibi Laura.
 
Candy melewati beberapa rumah. Ia tiba-tiba berhenti dan menggaruk kepalanya. Candy bingung. Ia lupa rumah Ruth. Candy ingat, rumah Ruth berwarna hijau. Tapi sudah agak jauh ia tidak bertemu rumah hijau
.
Candy mengayuh sepedanya lagi. Semakin jauh. Candy berhenti. Ia ada di sebuah taman. Candy mulai takut. Tidak ada yang ia kenal. Candy menyimpan sepedanya dekat pohon. Lalu duduk di kursi taman. Tiba-tiba terdengar suara kucing sedang mengeong. Candy terperanjat. Ia siap berlari lagi menuju sepedanya.

Tapi tiba-tiba Candy berbalik. Kucing itu tidak mengejarnya tapi tetap mengeong. Suaranya tidak menakutkan. Candy penasaran. Ia perlahan mendekati dengan hati-hati. Ia melihat lengannya sendiri. Bekas luka cakaran kucing waktu dulu masih ada.

Candy terkejut dari lamunannya. Tiba-tiba kucing berbulu hitam dan putih itu melompat mendekatinya. Candy terduduk dan kucing berada di pangkuannya. Candy menjerit. “Aku enggak suka kucing!”

Candy membuka  matanya pelan-pelan. Kucingnya masih mengeong. Masih duduk di atas baju dress-nya. Candy menatap mata kucing itu. Candy tersenyum. Tangannya mengelus kepala kucing. Kucingnya baik. Candy tidak takut lagi.

Tidak lama kemudian, Candy teringat lagi bahwa ia sedang tersesat. Tidak tahu arah rumah Bibi Laura. Candy terisak-isak. “Aku mau pulang!”

Kucing hitam putih itu mengeong kembali. Ia lalu mengendus-ngendus terus baju Candy. Candy terkejut lagi. Takut bajunya dirobek. Tapi kucing itu terus mengendusnya. Ia berputar-putar mengelilingi Candy berkali-kali.

"Eh, kamu ngapain kucing kecil?" Candy terus melihatnya lalu mengikutinya saat si kucing mulai berjalan. Si kucing seperti menunjukkan sesuatu. Candy segera mengambil sepedanya. Ia terus mengikuti ke mana si kucing berjalan.
 
Candy bersemangat mengayuh sepedanya. Ia mulai mengenali jalan yang ia lalui. Kucing itu benar-benar  menunjukkan jalan pulang.

Candy lega. Oh, itu rumah Bibi Laura mulai terlihat. Si kucing masih berjalan di depannya. 
Hampir sampai menuju pagar rumah. Bibi Laura berlari mendekati Candy. Memeluknya. Candy berteriak dan juga memeluk Bibinya. 

"Maafin Candy, Bibi Laura… Candy gak bilang dulu tadi mau pergi ". Bibi Laura tersenyum mengelus kepala Candy. 

Persi mengeong-ngeong saat melihat Candy dan si kucing hitam putih. Persi mengibas-ngibaskan lagi kepalanya ke baju Candy. Persi dan kucing hitam putih lalu berputar mengelilingi Candy. Candy tertawa.

Candy menggendong kucing hitam putih. "Makasih ya, Kucing kecil, udah anterin Candy pulang". 

Candy lalu menatap Persi. Ia pun berani menggendongnya. Persi mengeong menjilati Candy. Candy  tertawa lagi. Rupanya kucing hitam putih mengenali jalan pulang  Candy karena ia kenal dengan bau Persi yang menempel di baju Candy.
 
“Bibi Laura, aku tidak takut kucing lagi. Boleh aku ajak kucing hitam putih ini ke rumah juga?”
Candy memohon. Bibi mengangguk sambil tertawa.

(Tamat)

Terima kasih ya yang sudah mau mampir membaca cerita di sini
Salam Cinta,





0 comments:

Posting Komentar