Rahasia Pisang Merah (2)

Masih mau lanjutan cerita Amir, Abah, dan rahasia pisangnya. Yuk simak di sini ya!

Cerita sebelumnya: Rahasia Pisang (1)

(Sumber: cookingmelbourne.com)

Rahasia Pisang Merah (2)

Oleh Mira Humaira

Keesokan harinya, Amir bersama kawan-kawan sukses dengan tugas IPA-nya. Praktek bikin bolu pisang juga berhasil. Di sekolah banyak yang penasaran dengan pisang yang dibawa Amir. Katanya unik dan enak. Amir senang. Ia pun pulang girang.

“Ambuuu … !” Amir memanggil Ambu. Tampak Ambu sedang berdiri menunggu seseorang.

“Ambu nunggu siapa? Kok kayak panik, Ambu?” Amir mendekati Ibu sambil melongok ke kanan dan ke kiri.

“Ya nungguin Abah. Tadi Abah marah-marah katanya ada yang curi pisang spesialnya itu,” Ambu menjelaskan. Mencuri? Pisang spesial? Amir ikut penasaran.

Tiba-tiba terlihat Abah datang dari kejauhan. Amir melihat abah berjalan cepat dan menghentak. Muka abah serius. Berkeringat. Amir tidak berani berkata-kata kalau Abah sedang begitu. Ia bergegas ke dalam setelah Abah menyuruhnya masuk untuk mengambil air teh.

“Pohon pisang yang Abah maksud teh yang mana?”

“Itu Ambu. Pisang Merah,” Abah lemas berbicara. Abah kelelahan setelah berkeliling kebun.

Euleuh, pohon pisang merah yang dari Pak Vijai dulu itu, Bah?” Ambu ikut kaget. Abah menganggut.

Pisang Merah? Deg! 

Langkah Amir terhenti. Ia mematung di dekat pintu. Cangkir teh di tangannya bergetar. Amir panik. Pisang merah yang dimaksud Abah? Apa itu pisang yang disebutkan tadi di sekolah oleh ibu guru? Ibu guru menyebut pisang yang dibawa kelompok Amir adalah jenis pisang merah.

Tubuh Amir masih tertahan di balik pintu. Ia mendengarkan Abah dari sana. Amir semakin terperangah. Rupanya pisang merah itu pisang istimewa di kebun Abah. Pohonnya masih langka. Belum banyak ditanam di daerah Indonesia. Abah mendapatkan pohon kecilnya dulu dari seorang teman. Pak Vijai namanya, orang India. Pisang merah aslinya berasal dari India.

Perasaan Amir tidak karuan. Ia takut campur sedih. Amir mengucek matanya dengan tangan kiri berkali-kali. Ia mengusap matanya yang berair.

“Looh, Mir … mana air teh Abah?” Ambu melihat Amir yang sedang mengintip.

Amir berjalan. Ia menahan gelas di tangannya tetap aman, tidak bergetar. Kemudian abah meneguknya. Tiga kali tegukan dan habis. Abah lanjut istirahat di kamar. Amir tidak tega melihat Abahnya. Pasti pohon pisang itu berharga sekali untuk Abah.

Malam itu Amir masih takut. Takut ketahuan. Amir belum berani cerita ke Abah ataupun Ambu. Amir terisak. Ambu menghampiri saat melihatnya menangis. Amir berbaring.  Matanya merah. Ambu tahu Amir menangis karena matanya sakit. Bukan karena takut atau sedih.

“Duuh kasihan cucu Abah. Abah juga jadi inget pisang merah …” kata Abah sambil mendekat.

“Udah atuh Bah, kan masih bisa berbuah lagi nanti, Bah,” kata Ambu menghibur.

Amir mulai tidak enak hati lagi. Abah dan Ambu membahas pohon pisang merah lagi.

“Iya, harus lama nunggu lagi. Tadinya Abah pengen cepet kasih buat Amir. Biar sehat matanya,” Abah bercerita sedih, membuat Amir terperanjat.

“ Maksud Abah, pisang merah spesial itu yang buat mata Amir teh?” Ambu penasaran.

“Ya … memang bukan untuk mengobati secara langsung sih, Ambu.” Abah  bercerita kalau pisang merah ini spesial. Beda dari pisang lainnya yang ada di kebun Abah. “ Eh sekarang udah pas waktunya matang, malah keburu gak ada. Belum rejeki kamu, Mir,” Abah terkekeh sambil menepuk-nepuk pundak Amir. Amir semakin merasa bersalah.

“Abah enggak pernah cerita kalau punya pisang merah spesial di kebun,” kata Amir cemberut.

“Kan itu tadinya rahasia. Tadinya Abah teh  mau kasih kejutan buat Amir dan Ambu,” Abah berbicara sambil tertawa. Abah kogel ingin kasih pisang itu ke Amir yang kebetulan lagi sakit mata. Abah juga ingin Ambu mencobanya karena pisang merah rasanya enak sekali.

Amir jadi penasaran dengan si pisang merah. Malam itu juga, Amir membuka kembali komputernya. Berselancar mencari tahu rahasia pisang merah. Amir takjub. Benar kata Abah, pisang merah memang istimewa. Rasanya lebih enak dan teksturnya lebih lembut. Amir sudah membuktikannya sendiri. Kulitnya berwarna merah keunguan. Dan ya, pada mulanya memang berasal dari India. Amir mengingat lagi nama Pak Vijai yang dibilang Ambu. Pisang merah juga punya banyak khasiat. Salah satunya untuk kesehatan mata.

“Pisang Ajaib. Hmm … Nanti aku mau jadi pengusaha pisang merah ah!” Amir berkata pada dirinya sendiri sebelum tidur. Ia terkagum-kagum dengan pisang merah. Amir jadi tidak sabar menunggu pohon pisang merah Abah bisa dipanen lagi.

Baca juga yuk: Sampul Buku Didit
***
Keesokan harinya, Amir izin tidak sekolah. Amir diantar Abah ke dokter mata. Hasilnya, Dokter menyarankan Amir memakai kaca mata. Abah membelikannya.

“Kata dokter minusnya belum parah. Sekarang pakai saja dulu kaca mata. Nanti kalau pohon pisang merah Abah udah berbuah lagi, makan nah yang banyak!” Abah tertawa sambil berjalan.

Melihat Abahnya itu, sekonyong-konyong Amir langsung memeluk Abah. Erat. Ia menangis. Kemudian Amir bercerita semuanya. Ia meminta maaf. Amir menyesal sudah mengambil pisang spesial Abah.

Euleuh-euleuh… rupanya kamu sama kawan-kawanmu itu?” Abah bertanya kembali sambil tertawa.

“Abah enggak marah sama Amir?” Amir melihat kedua mata Abah.

“Laah kalau ternyata cucu abah sendiri yang makan pisangnya, ya sudah enggak apa-apa,” Abah mengusap-ngusap rambut Amir. Mereka tertawa bersama. Abah tidak marah karena Amir sudah berani berkata jujur.

Euleuh,  cucu Ambu jadi pakai kaca mata?” Muka Ambu sedikit terkejut. Amir dan Abah
tersenyum. Ambu sudah menunggu di depan teras. “Ayo ayo masuk. Ambu udah siapin kolak pisang nah. Ada tamu juga tuh di dalam,” suruh Ambu cepat-cepat.

Amir senang rupanya Uak Asep yang datang berkunjung. Semuanya berkumpul. Asyik mengobrol di ruang tamu sambil menyantap kolak Ambu.

“Oh iya, Bah. Itu Asep bawa titipin buat Abah dari teman Abah tea. Pak Vijai.”

“Pak Vijai orang India itu, Uak?” ujar Amir antusias mendengar namanya.

“Iya, tapi kan sekarang mah udah jadi orang Jakarta. Itu … dibawain oleh-oleh pisang merah, sekalian sama bibit pohon pisang merahnya.”

Sontak Abah, Ambu, dan Amir saling berpandangan. Amir teriak saking gembira. “Ye…ye…yee!!”. Abah terus menyebut Alhamdulillah. Mereka tertawa bersama.


Uak Asep bingung tidak mengerti. Tapi, Uak Asep ikut terbawa suasana senang di antara mereka. Semuanya terlihat bahagia. Amir pun langsung sigap membantu Uak Asep untuk mengambil pisang merah di bagasi mobilnya. Asyik, pisang merah!

(Tamat)

Terima kasih ya yang sudah mampir membaca cernak di sini.

Salam Cinta,

0 comments:

Posting Komentar