Rahasia Pisang Merah

Sumber: food.ndtv.com

Rahasia Pisang Merah (1)

Oleh Mira Humaira

Suara geledek terdengar keras. Amir terkinjat. Kepalanya berputar ke kanan dan ke kiri. Langit sudah gelap. “Duh, Bah, pulang aja yuk, Bah!” Amir menepuk pelan lengan sang kakek.

Satu lagi nah!" tunjuk Abah Mansur ke sebuah pohon pisang. " Sok ambil, Mir!" tambah Abah. Amir mengucek matanya berkali-kali. Ia juga menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Alih-alih diajak segera pulang, ia malah disuruh naik satu pohon lagi. "Duuuh,  Abah!"

 “Ini, Bah!” Amir mengelap keringat di dahinya. Ia tersenyum. Satu tandan pisang sudah didapatnya. Amir beruntung pohon pisang yang terakhir tadi tidak terlalu tinggi. Jadi ia bisa cepat menunaikan tugas dari Abah. Abah sedang panen pisang. Amir sudah biasa membantu Abah saat panen.

Hujan turun deras saat Amir dan Abah sudah tiba di rumah. Amir membantu Abah menyimpan keranjang-keranjang pisang di gudang dekat dapur. "Hmm ... wangi goreng pisang Ambu nih." Ambu melempar senyum sambil menyodorkan sepiring pisang goreng. Pisang goreng Ambu bikin ngiler. Harum, masih panas dan crispy.

Hampir setiap hari Amir disuguhi olahan pisang oleh Ambu. Ia tidak pernah bosan. Amir suka sekali pisang. Bukan hanya senang memakannya. Amir mulai suka mempelajari tentang jenis olahan pisang.
"Oia, Ambu. Kalau di kota, sekarang lagi ngtren banana nugget. Nugget pisang. Coba bikin yuk, Ambu."

"Tau dari mana, Mir?"

"Ya ... buka internet atuh, Bah," jawab Amir sambil mengucek-ngucek matanya lagi.

"Eh, eh, kenapa? Sakit mata, Mir?" Ambu menghampiri Amir.

"Atuh da keseringan di depan komputer kamu, Mir," kata Abah.

"Belajarnya anak zaman sekarang mah harus banyak depan komputer sama internet ya, Mir?" tanya Ambu dengan wajah khawatir.

"Ya … biar enggak ketinggalan jaman, Ambu. Apalagi kan nanti Amir mau lanjut SMP di kota sama Uak Asep."

Amir tersenyum. Tapi ia melihat raut wajah abah dan ambu kesayangannya tampak sedih. Amir meneruskan lagi mengunyah pisang goreng crispy Ambu. Matanya masih perih juga.

Baca cerita anak lainnya: Asrama Aida
***
"Bu ... Ambu! Abah di mana, ya?"

Ambu bergegas menghampiri Amir. Satu telunjuknya menutup bibir. Tanda tidak boleh berisik. "Sst ... ssst, itu Abah lagi tidur. Ada apa?"

Amir minta izin mau mengambil pisang bersama teman-temannya di kebun Abah. Amir perlu pisang yang sangat matang di pohon. Ada tugas pelajaran IPA di sekolah. Sekalian untuk ujian praktek bikin bolu pisang. Ambu mengiakan. Amir dan kawan-kawan pamit.

“Ki, kamu yang manjat, ya. Kamu kan yang paling jago!” Amir menyuruh Iki. “Tuh, yang sebelah sana ada beberapa yang udah mateng pisan,” jelas Amir.

Iki tidak ragu mengacungkan jempol tanda setuju. Walau tubuhnya paling mungil di antara kawan-kawannya, tapi urusan manjat-memanjat Iki yang paling berani.

“Eh, eh … Mir, bentar.  Itu tuh, tuh lihat di sana. Kayaknya ada pisang yang udah kematengan banget, tuh. Malah kayak udah busuk, Mir!” teriak Iki yang sudah di atas pohon menunjuk ke sebuah pohon dekat pagar.

“Ah, masa? Yang mana? Turun dulu sini, Ki!” Amir belum yakin. Iki tidak jadi mengambil pisang. Ia kembali turun mendekati kawan-kawannya. Iki menunjukkan lagi pohon pisang yang tadi ia maksud.
Amir memicingkan matanya ke arah pagar. Pandangannya sedikit buram. Kepalanya melongok. Tiba-tiba Amir merasa pusing. Kepalanya kliyengan.
 Bruk!
Amir menabrak tiang depan saung. Jatuh. Amir mengusap-ngusap kepalanya. Menggosok lagi matanya.

“Kunaon atuh, Mir?” tanya Isal, dengan gaya khasnya yang selalu berbahasa sunda.

“Sakit mata nih dari kemarin. Malah jadi pusing begini,” jelas Amir sambil berdiri kembali ditolong Isal. Isal mengajak Amir untuk beristirahat dulu. Isal mengajukan usul ambil pisangnya besok lagi. Tapi Iki tidak setuju.

“Kalau enggak sekarang, kapan lagi, Sal? Kan, buat besok,” tegas Iki.

Amir malah setuju dengan Iki. Ia memastikan dirinya tidak apa-apa. Mereka melanjutkan misinya untuk memetik pisang-pisang yang sudah matang. Amir juga masih penasaran pohon pisang yang ditunjukkan Iki tadi.

Amir dan Isal mengikuti Iki. Mereka menuju pagar belakang. Pelan-pelan mereka mendekati satu buah pohon. Pohon itu tidak berjajar dengan yang lainnya. Ia seperti tumbuh sendiri. Lebih tinggi dari rata-rata pohon lainnya.

“Lihat tuh buahnya, Bro!” Iki menunjuk ke atas. Amir dan Isal mendongak. Memperhatikan dengan jeli.

“Pisang naon eta, Mir? Beda dari yang lain, ya?” Isal memegang dagunya tanda penasaran. “Apa memang beneran udah mateng pisan, gitu, Ki?” sambung Isal menoleh pada Iki.

Amir mengamatinya dari bawah. Ia mengingat-ingat sebelumnya tidak pernah melihat pohon ini kalau keliling sama Abah. Amir juga sedikit aneh dengan warna buah pisang itu. Tidak seperti biasanya, hijau atau kuning. Buahnya kemerahan. Gemuk-gemuk. Amir sedikit terpukau. Pisang apa ini ya?

“Gimana, Mir? Ambil yang itu aja?” tanya Iki yang sudah bersiap memanjat.

“Eh nanti dulu atuh, Ki,” Isal menyela. “Beneran gak apa-apa gitu, Mir? Nanti gimana Abah?” Isal ragu. Amir masih berpikir.

Abah? Amir kepikiran. Hmm, tapi Abah belum pernah mengajaknya melihat pohon ini. Abah juga tidak cerita apa-apa. Berarti pohon pisang itu tidak istimewa. Sama saja. Malah sayang jika tidak diambil sekarang. Warnanya terlihat sudah coklat kemerahan pula. Takut keburu busuk.

Amir memberikan tanda Oke pada Iki. Iki menaiki pohon tinggi itu dengan sigap. Alih-alih takut, ia kelihatan seperti bersenang-senang saat memanjat pohon.

Iki berhasil mengambil satu tandan pisang yang hanya terdiri dari beberapa sisir. Amir, Isal, dan Iki dibuat takjub. Dilihat dari dekat, buah pisang itu memang beda dari pisang biasanya. Warnanya memang kemerahan tapi bukan karena busuk. Buahnya masih segar dan besar. Gemuk juga empuk. Menggoda untuk dicoba.

“Wah, mantap ini pisang. Cobain dulu, yuk. Enak kayaknya,” Amir yang doyan pisang tentu saja ingin segera mencoba. Ia juga mengajak Iki dan Isal mencicipinya.

Asli … ini mah enak pisan, Mir!” Isal mengacungkan jempol sambil mengunyah pisangnya.
Mereka tertawa bersama. Amir dan kawan-kawan sangat menikmatinya. Hampir satu sisir pisang habis dilahap saat itu juga di saung Abah.

Setelah kenyang makan pisang, Amir merasa puyeng lagi. Matanya perih. Ia menggosok mata berulang kali. Akhirnya mereka memutuskan untuk segera pulang. Amir menitipkan sisa buah pisangnya kepada Iki. Rumah Iki yang paling dekat ke sekolah. Jadi, Iki yang akan membawanya ke sekolah. Isal kebagian membawa cetakan bolu dan peralatan lainnya.

Baca cerita lainnya, yuk: Bernard dan Tempat Rahasia
***
Amir sampai di rumah. Abah dan Ambu sedang duduk-duduk santai di bangku depan rumah. “Udah dapet pisangnya?” tanya Abah. 

“Udah, Bah. Sebagian dimakan juga di sana,” jawab Amir tertawa. “Oo, iya, Bah. Pohon pisang yang … ,” Amir belum selesai bertanya. Ambu keburu menarik tangannya yang sedang mengucek mata dari tadi.

“Ini beneran lagi sakit mata?” Ambu mendekat. Memeriksa. “Udah sana mandi dulu aja. Nanti Ambu lihat lagi sekalian diobati,” ujar Ambu sedikit ngomel. 

Abah tersenyum menggelengkan kepalanya. Akhir-akhir ini, Amir sering merasakan matanya perih. Kepalanya puyeng. Benar kata Abah mungkin karena Amir sering di depan layar komputer. Ambu menasihati Amir agar tetap menjaga kesehatannya. Jangan terlalu lama depan layar komputer. Istirahat yang cukup. Juga makan buah dan sayur yang sehat. “Nanti Ambu bikinin sup wortel. Makan yang banyak!” Amir tersenyum memeluk Ambu.
 
“Ada juga pisang yang  bagus buat jaga kesehatan mata. Nanti Abah ambil dari kebon,” sambung Abah. Amir dan Ambu langsung tertawa kompak.

“Atuh, Baah pisang mah … hampir tiap hari juga makan pisang,” Amir masih terkekeh.

“Eits … ini mah pisang spesial. Nanti, pokoknya Abah bawain buat cucu abah paling kasep,” jelas Abah mantap. Amir melirik Ambu. Ambu mengangkat pundak tidak tahu pisang apa yang Abah maksud.

(Bersambung ...)

Ayo kira-kira pisang spesial apa ya yang dimaksud Abah. Baca kelanjutannya ya!



0 comments:

Posting Komentar