Rumah Kardus Arlin


Cerita oleh Mira Humaira

Rumah Kardus Arlin (1)

"Yes, sebentar lagi beres." Arlin mengangkat kertas gambarnya.

Ia sedang mewarnai. Sebelumnya, Arlin bersama ibu belajar tema kehidupan bawah laut. Setiap hari Arlin belajar di rumah. Tidak seperti teman-teman seumurannya yang belajar di sekolah.

Arlin berlekas-lekas menyelesaikannya. "Ibu ... ini sudah selesaaai!" teriak Arlin. Ibu menghampirinya ke kamar.

"Bagus, kan?" Arlin menunjukkan gambarnya yang sudah ia tempel di dinding prakarya. Ibu menganggut tersenyum.

"Mana Bu?" Arlin langsung menyodorkan tangannya terbuka. Ibu mengernyitkan dahi.

"Tablet, Buuu. ..!" Arlin memonyongkan bibirnya. Ibu berdesah.

Arlin girang tablet sudah di tangannya. Ia sedang keranjingan memainkan fashion game. Arlin senang menggambar dan memilih desain baju.

"Satu jam untuk pagi ini, ya, Arlin," Ibu menegaskan.

"Oke, Buuu," Arlin mengacungkan jempol.

Arlin melihat jam tangannya. "Oke, berarti sampai jam 11. 15." Arlin selalu berusaha tepat waktu saat bermain tablet. Takut Ibu marah. Lebih-lebih takut tidak diizinkan main tablet lagi.

Alarm jam tangannya menyala. Arlin sudah harus mematikan tabletnya. Ia segera menuju dapur. Pasti Ibu sedang menyiapkan camilan di sana.

"Asyik, ibu bikin donat, ya? Arlin ikutan aaah," ia mengepal-ngepalkan tangannya. Siap membantu Ibu.

Brum... brum ...brum
Terdengar suara mobil di depan rumah. Arlin melirik Ibu. "Loh, ayah sudah pulang?"

"Belum waktunya. Coba lihat, Lin. Siapa yang datang," Arlin pun beranjak dari dapur.

Arlin mengintip dari balik jendela. Ada mobil putih. Arlin tersenyum. Kalau bukan Om Andri pasti kakek yang datang. Arlin bersemangat membukakan pintu.

 "Yee Kakek dataaang!" Arlin melambaikan tangan. Kakek menutup pintu mobil. Arlin menyamperi Kakek dan mencium tangan.

Arlin langsung mengajak Kakek ke dapur. "Aku sama Ibu lagi buat donat. Kakek mau, kan? Yuk."

 Kakek malah terkekeh. Kakek senang melihat cucunya yang selalu cerewet dan riang.
"Arlin, kapan mau main ke rumah Kakek?" tanya Kakek sambil mencicipi donat.

"Hee ... kapan-kapan Kek. Nanti sama Ibu aja," Arlin selalu menolak jika diajak Kakek. Ia malas. Rumah kakek selalu berisik sama anak-anak kampung yang suka bermain ramai-ramai di luar.

Baca cerita lainnya juga yuk: Sampul Buku Didit
***
"Bu, selesai belajar matematika nanti boleh main tablet dulu, ya. Baru makan siang," Arlin merayu Ibu. Padahal jam belajar pun belum dimulai. Ibu mengingatkan Arlin agar fokus dulu belajar.

Dua jam belajar dengan ibu selesai. Arlin tidak pernah bosan. Belajar dengan Ibu selalu menyenangkan. Sambil bergerak, berlari, juga menyanyi. Tapi tetap Arlin selalu ingin cepat selesai karena ia bisa bermain game favoritnya setelah belajar usai.

"Arlin, ini tabletnya. Nanti setelah satu jam, simpan. Lalu makan siang, ya. Ibu sudah siapkan di meja," kata Ibu sambil merapikan kerudungnya. Ibu sudah berpakaian rapi. "Ibu ada acara dulu di rumah Bu RT sampai dzuhur. Hati-hati di rumah, Lin!" lanjut Ibu kemudian pamit pergi.

Arlin melihat jam. Sampai dzuhur? Arlin tersenyum lebar. Yes!
Alarm jangan tangan Arlin sudah berbunyi. Ia meyakinkan melihat jam di dinding. Sudah satu jam. Tidak terasa.

Arlin melihat-lihat ke luar jendela. Memastikan Mama belum datang. Ia tertawa lebar di depan tablet. Merasa punya kesempatan lebih. Arlin mau menyelesaikan satu game lagi. "10 menit lagi, deh."
Arlin berniat menunda makan walaupun fillet ayam asam manis bikinan Ibu membuatnya ingin segera melahap habis. "Mumpung enggak ada Ibu …" Arlin terkekeh sendiri.

(Bersambung...)

Wah, hayo mentang-mentang gak ada Ibu Arlin malah keasyikan main game-nya. Kelanjutannya gimana ya, Baca postingan berikutnya, ya!



0 comments:

Posting Komentar