Rumah Kardus Arlin (2)

Yuk baca lagi, ini dia lanjutan dari cerita Rumah Kardus Arlin (1)

Rumah Kardus Arlin (2)

Oleh Mira Humaira

Sepuluh menit terlewat begitu saja. Arlin mengucek matanya. Perutnya sudah keroncongan. Ia terperanjat. Tidak terasa dua jam penuh Arlin memainkan tabletnya.

Tablet segera dimatikan. Ia bergegas ke kamar Ibu untuk menyimpannya. "Oke, beres!"
Namun, saat hendak ke luar, Ibu sudah berdiri tegak di depan pintu kamar. Tangannya dilipat. "Arlin!"

Arlin menyantap makan siang kurang bersemangat. Walaupun ibu belum bicara apa-apa tapi ia tidak enak hati. Pasti nanti ibu marah. Pasti enggak boleh main tablet lagi. Duuh!

"Makannya sudah? Enak fillet ayam asam-manisnya?" Ibu bertanya baik. Arlin mengangguk senyum. Sedikit lega.

"Oke, Arlin. Tidak ada lagi main game, ya. Arlin sudah tahu sendiri kan bagaimana kalau sudah terlena dengan gawai?"

"Iya, Bu. Arlin lupa waktu. Ketagihan soalnya. Arlin juga jadi telat makan. Perut Arlin melilit," jawab Arlin manyun. Ia menyesali perbuatannya yang tidak disiplin tadi.

"Assalamualaikum!" tiba-tiba terdengar.

"Itu Om Andri, ya?" Arlin tersenyum lebar. Ibu menyuruh Arlin membukakan pintu.

Om Andri datang untuk minta dibuatkan donat oleh Ibu. Pesanan Kakek. "Biasa, buat anak-anak kampung, Mbak"

"Kakek jualan donat buat anak-anak di sana?" Arlin kepo.

Ibu dan Om Andri langsung kompak tertawa. " Ya enggak lah. Buat dibagi-bagi aja. Gratis!" kata Om Andri. "Mereka pada seneng kalau dikasih donat. Rame! Ikut yuk sama Om."

"Gak mau ah, berisik!" seru Arlin memalingkan mukanya.

"Oh gak mau, ya udah. Padahal seru loh anak-anak di sana. Mainnya barengan. Gak ada yang asyik main gawai sendiri. Berisik sih tapi asyik!" Om Andri menggoda Arlin.

"Hmm … hmm." Arlin tampak berpikir. Ia sedikit tertarik.
Setelah menyampaikan pesanan kakek dan ngobrol sebentar dengan Ibu, Om Andri pamit pulang.

"Om Andri, tunggu!" teriak Arlin. Om Andri sudah di luar pintu rumah. "Bentar Om. Arlin ikut. Boleh ya, Bu?" Ibu dan Om Andri tertawa. Ibu pun mengiakan.
***
Baca juga cerita lainnya yuk: Bila Bintangnya Baca Buku

"Kakeeek …!"

"Loooh cucu kakek ada di sini. Sini … sini!" Kakek melambaikan tangan. Semua mata tertuju pada Arlin. Arlin kikuk. Eh kok banyak anak-anak?

Arlin menghampiri Kakek. Di depan kakek ada beberapa layangan. Anak-anak tadi mengambil lalu mereka berlari bersama. Mata Arlin mengikuti mereka.

"Kalau mau main, gabung aja, Arlin. Enggak usah jaim deh!" kata Om Andri. Arlin manyun.

"Iya, Arlin. Ayo main sana. Banyak teman-teman seumuranmu. Main saja!" Kakek melihat gelagat cucunya ingin bergabung main tapi Arlin masih malu-malu.

Arlin mendekat ke jendela belakang. Jendelanya besar dan tinggi. Ia bisa melihat pemandangan belakang rumah kakek di sana. Ada lapangan berumput. Luas. Banyak anak-anak di sana. Mereka bermain dan tertawa. Arlin memandangi mereka lekat.

"Eh Kek. Itu kandang apa. Ngapain mereka di sana?"

Belum menjawab Kakek terkekeh-kekeh. "Loh, itu kan rumah kardus, Arlin. Bukan kandang binatang. Ya, mereka main seru-seruan di sana." Arlin membuka matanya lebar-lebar.

Anak-anak bergantian masuk rumah kardus. Ada yang membawa boneka, pistol-pistolan dari kardus, mainan masak-masakan. Di luar. ada juga yang memainkan galon bekas, panci, bahkan membawa sapu. Arlin geleng-geleng kepala. Apa serunya? Ia lebih memilih main game fashion. Lebih gaul.

"Kak Arlin, yuk main!" seseorang menggaet tangan Arlin. Arlin memandanginya. Seorang anak perempuan berambut ikal. Manis. Arlin membalas senyum. "Yuk, main bareng Ica!" Arlin diajaknya berjalan ke luar.

Arlin memperhatikan Ica. Rupanya Ica berjalan pincang tapi semangat untuk bermain di luar. Arlin tidak bisa menolak. "Yuk!"

Arlin pamit pada kakek dan Om-nya. Ica mengajaknya berlari menuju lapangan. Bergabung dengan teman-teman lain di rumah kardus. Arlin canggung. Namun, kawan-kawan barunya tak ragu mengajaknya bermain.

Ica bilang kalau kakek sering membicarakan Arlin di depan anak-anak. Jadi, semua kenal Arlin walau sebelumnya tidak pernah bertemu. Arlin terharu.

Di rumah kardus mereka bermain peran keluarga. Ada ibu-ibuan, ayah-ayahan, ada juga anak-anaknya. Di luar, anak-anak berisik memainkan pistol kardus. Tembak-tembakan. Ramai sekali. Kali ini Arlin tidak kesal tapi ikut senang dan bergembira.

Hari sudah sore. Arlin keasyikan bermain. "Arlin, yuk pulang dulu. Nanti Ibu nanyain kok tumben anak gadisnya mau main lama-lama di rumah kakek? Hehe…" Om Andri menggodanya lagi.

"Seruuu, Om!" teriaknya.

"Haha, baru tahu dia!" Om mengacak-acak rambut Arlin. Arlin dan Om Andri pamit kepada kakek. Di perjalanan ia bercerita keseruannya.

"Ibu …!" Arlin datang memeluk Ibu.

"Duh betah banget di rumah kakek. Kirain enggak mau pulang gara-gara ngambek sama Ibu karena gak boleh lagi main gawai" Ibu tersenyum sambil memandang mata Arlin dekat.

Arlin tersenyum manis. "Maafin karena tadi Arlin gak nurut sama ibu. Tapi enggak apa-apa kok kalau Arlin gak boleh main game di tablet dulu. Arlin udah punya permainan yang lebih seru," ujar Arlin tersenyum lebar. Ibu penasaran. Menunggu kelanjutan Arlin.

"Main rumah kardus sama anak-anak kampung." Arlin tertawa. Mukanya gembira. Ia tidak sedih lagi urusan tablet dan game-nya. Ibu dan Om Andri ikut tertawa lega.

"Om, besok siang pas ambil donat, Arlin ikut lagi, ya, ya, ya?!" Arlin memohon.

"Setelah belajar sains dulu sama Ibu, tapi ya …" sahut Ibu.

"Ooo … Siaaap, Bu guru cantiiik!" Arlin menggoda Ibunya.
***

(Tamat)

Nah, ternyata masih banyak permainan seru ya selain bermain game di gawai. Btw, Terima kasih ya sudah mampir baca cerita anak di sini

Salam Hangat,

0 comments:

Posting Komentar