Ulil dan Tanaman Ajaib (2)

Kelanjutan cerita sebelumnya, baca dulu di sini, ya Ulil dan Tanaman Ajaib (1)



Ulil dan Tanaman Ajaib (2)


Oleh Mira Humaira

“Siapa … siapa?” Gendis kepo ingin ikut melihat.

Aryo melihat dua anak perempuan yang tidak asing. “Loh, itu kan Sari sama Lani.” Aryo mendekati kedua anak itu sambil menggaet tangan Gendis.

“Sari, kamu lagi ngapain di sini?” Aryo langsung bertanya penasaran saat Sari hendak memetik daun-daun yang menggulung.

Sari tidak terlalu terkejut. Ia adalah teman sekelas Aryo di sekolah. “Eh Aryo dan Gendis. Nih, aku lagi ambil daun pakis,” jawab Sari santai sambil memasukkannya ke dalam keranjang.

“ Oh iya … iya, namanya daun pakis.” Aryo mengingat lagi.

“Itu kan tanaman kesayangan Gendis, kok diambil-ambil … memangnya daunnya mau diapain?” Gendis ikut bertanya dengan muka cemberut.

“Ya, dimakan. Tuh Lani suka banget sayur Pakis. Iya, kan, Lan?” Sari melirik Lani, adiknya yang berambut keriwil.

“Hah, daun ini bisa dimakan? Memangnya enak?” Aryo menyerobot.

“Enak dong, mamaku juga bilang sayur pakis itu bergizi seperti sayur bayam,” Lani mengacungkan jempolnya.

“Terus kenapa tanaman pakisnya sampai bengkok-bengkok gini, kan jadi jelek…” Rupanya Gendis masih memperhatikan tanaman paku-pakuannya. Ia masih sedih dan kesal.

“Ooh … iya, kemarin aku lihat ayam hutan main di sini. Dia kayak lagi mau nangkap sesuatu, ulat kayaknya.”

“Hah? Ulil!” teriak Gendis dan Aryo berbarengan.

Sari dan Lani terkejut. Mereka saling berpandangan. Tidak mengerti. Gendis menceritakan Ulil teman kesayangannya yang tinggal di daun pakis itu. Gendis jadi sedih lagi. Ia membayangkan Ulil sudah dilahap ayam hutan kemarin.

“Eh, eh bentar … lihat itu! Itu Ulil kamu bukan, Ndis?” Tiba-tiba Lani menunjuk ke arah daun menggulung yang sudah bengkok terinjak.

“Uliiiiil!” Gendis berteriak histeris.

Aryo, Sari, dan Lani tertawa melihat Gendis yang kegirangan bertemu dengan Ulil. Sari dan Lani pamit pulang duluan. Mereka membawa satu keranjang daun pakis muda untuk dimasak. Lani mau dibuatkan gulai pakis oleh mamanya. Gendis pun tidak marah lagi karena daun-daun pakis itu dipetik. Aryo menjelaskan pakis itu adalah tanaman liar jadi boleh diambil siapa saja.

Gendis dan Aryo bersiap juga untuk pulang. Tapi sebelumnya, Gendis mengajak Bang Aryo untuk memetik daun pakis dan membawanya pulang. Gendis suka makan sayuran. Ia jadi penasaran juga rasanya sayur pakis seperti yang dibilang Lani.

Baca cerita lainnya: Rahasia Pisang Merah
***
“Bu, masak ini, yuk!” Gendis menyodorkan seikat daun pakis kepada Ibu.

"Loh, dapet daun pakis dari mana, Ndis?" Ibu meraihnya.

Gendis menceritakan petualangannya mencari Ulil yang akhirnya bertemu dengan daun pakis ini kepada Ibu. Gendis bercerita dengan penuh semangat. Ibu tertawa mendengarkannya.

Gendis tidak sabar ingin tahu rasanya. Ia pun membantu Ibu untuk memasak daun pakis. Gendis mengikuti petunjuk Ibu untuk mencuci bersih daun pakis dengan air mengalir. lalu merebusnya sebentar dengan air garam.

"Hmm … sedaap!" Gendis menghirup bau tumis yang hampir jadi. Bau tumis buatan Ibu menggugah selera. wangi oseng bawangnya menggoda. Gendis semakin tidak sabar mau mencicipi tumis daun pakis.

Tumis daun pakis bikinan Ibu sudah jadi. Gendis dan Aryo pun segera mencicipinya.  “Waaah benar kata Lani, ternyata enak juga ya, Bang Aryo!” Aryo mengangguk setuju.

Gendis lahap menyantap tumis daun pakis hingga habis. Bumbu racikan ibu memang enak. Daun pakis memang punya rasa yang lezat. Lembut di lidah.

“Besok-besok, masak lagi ini ya, Bu!” Gendis mengangkat piringnya yang sudah kosong. “Nanti Gendis yang ambil sendiri deh,” Gendis mengacungkan jempolnya. Ibu mengangguk tertawa melihat gadis kecilnya bersemangat.
***
Gendis benar-benar memetik lagi daun pakisnya keesokan hari. Sekalian mengunjungi Ulil. Gendis ditemani Bang Aryo. Gendis memetik daun pakis cukup banyak. Keranjang sayurannya hampir penuh.

Bang Aryo mengajak Gendis pulang. Namun, Gendis bilang ingin memetik dulu daun pakis yang menempel di pohon. Daunnya agak tinggi. Gendis mencoba meraihnya. Sedikit lagi sampai, tiba-tiba Gendis tidak sengaja menyenggol sarang semut. Sekonyong-konyong, semut-semut berbadan besar keluar dari sana. Gendis mengedau,“Aaaw ... aw … aw!!” Gendis menggaruk-garuk lengan kirinya. Gendis digigit semut merah besar.

Bang Aryo mengajak Gendis berlari lalu menuju Ibu di dapur. Ibu terkejut melihat Aryo dan Gendis berlari panik. “Loh ... loh ... kenapa? Ndis, Yo?”

Gendis mengulurkan lengannya. Lengan kiri Gendis merah dan bengkak. Gendis merengek.
“Eh, jangan digaruk dulu, Ndis!” Ibu memerhatikan lengannya.

“Aryo, bawain daun pakisnya sini!” pinta Ibu kepada Aryo yang masih memegang keranjang sayurnya. Aryo dan Gendis saling bertatapan. Mereka belum tahu apa yang akan dilakukan Ibu.
Ibu mengambil beberapa daun pakis lalu menggerusnya sebentar di ulekan. Kemudian ibu menempelkan daun yang sudah hancur itu di lengan Gendis.

“Biarkan dulu ya, nanti gatalnya reda,” Ibu menepuk-nepuk lembut daun pakis di tangan Gendis.

“Woow, daun pakis bisa jadi obat juga ya, Bu?” Aryo terkagum-kagum.

Gendis dan Aryo saling memandangi lagi. Mereka takjub dengan daun pakis. Selain enak dimakan, daun pakis juga bisa jadi obat gatal karena gigitan serangga seperti semut. Setengah jam kemudian, lengan Gendis sudah baikan. Tidak gatal lagi. Tinggal bengkak sedikit. Ibu juga selesai memasak.

“Gendiis, Aryo! Yuk, makan dulu!” Ibu memanggil dari dapur. Gendis dan Aryo bergegas menghampiri.

“Ayo, siapa yang mau gulai daun pakis?” Gendis dan Aryo mengacungkan tangannya. Berebut ingin duluan mencicipi.

“Hoo, baunya sedaap!” Gendis mengendus makanannya. Gendis senang Ibu pandai memasak berbagai jenis olahan sayuran. Gendis mesem-mesem melihat gulai daun pakis di mangkuknya.

“Loh, malah senyam-senyum,” Bang Aryo mengagetkan Gendis.

“Gendis inget Ulil!”

Ibu dan Aryo seketika tertawa. Gendis juga ikut terkekeh sendiri.

“Ayo makan dulu. Keburu dingin.”

Gendis dan Aryo menikmati gulai daun pakis bikinan Ibu dengan lahap.
***
Musim hujan mulai datang. Tanaman pakis semakin banyak tumbuh di musim ini. Tapi Gendis sudah tidak terlalu sering main ke dekat sungai. Karena jalanan lebih licin. Apa kabar Ulil? Gendis sudah jarang melihat Ulil. Tapi Gendis tidak terus bersedih. Malah Gendis berpikir Ulil sudah berubah menjadi kupu-kupu cantik. Terbang meliuk-liuk di taman.

Gendis tersenyum. Ia sedang memainkan seekor ulat kecil di tangannya. Kali ini berwarna kuning kecoklatan. Teman barunya itu bernama Ucok. Gendis menemukannya di pohon tomat.
***

Baca juga yuk: Arnold dan Buku Ajaib

(Tamat)
Yee terima kasih ya yang sudah mampir baca cerita anak di sini 

Salam Cinta,

0 comments:

Posting Komentar