Ulil dan Tanaman Ajaib



(Foto: Pixabay)

Ulil dan Tanaman Ajaib (1)

Oleh Mira Humaira

Gendis punya teman baru. Ia  seekor ulat bulu. Gendis memberinya nama Ulil. Gendis bertemu Ulil di belakang rumah. Sekarang Ulil tinggal di toples kaca, di atas meja belajar Gendis. Badan ulil kecil. Lembut dan kenyal seperti permen jeli. Gendis suka tertawa saat melihat ulil berjalan.

Gendis sering memainkan Ulil di tangannya. Ulil bikin geli tapi menggemaskan. Gendis menyimpan Ulil kembali di toples setelah puas bermain dengannya. Tapi, hari itu Gendis lupa menutup toples. Saat kembali ke kamar, Gendis terkejut. Ulil tidak ada.

Gendis menyingkirkan buku-buku di atas meja. Duh, Ulil kemana ya? Kemudian Gendis melihat-lihat ke bawah meja. Ulil tidak juga terlihat. "Buu … Ibu lihat Ulil, enggaaak?" teriak Gendis tapi Ibu tidak menjawab. “Bang Aryooo … lihat enggak?” ia juga memanggil kakaknya.

Gendis sedih. Ulil hilang. Gendis mengecek lagi sekitar meja. Lalu ia melihat ada sedikit bekas basah di dinding. Tampak seperti ada yang lewat di sana. Gendis mengambil kaca pembesar di dalam laci. Menyelidikinya.

Gendis mengangkat alisnya. Ia menemukan sesuatu. Aha, itu jejak Ulil. Ulil pasti ke luar lewat jendela. Gendis terus menyelisik kemana perginya Ulil. Sampai di luar kamar, Gendis mengamati pohon tomat dekat jendela kamarnya. "Aduh, enggak ada juga. Kemana sih Ulil?"

Gendis memeriksa beberapa pohon lagi. Menyingkap rerumputan yang dilaluinya. Sampai ia tiba dekat sungai di belakang rumahnya. Gendis sudah mulai lelah tapi tiba-tiba matanya terbuka lebar lagi. Ia melihat kumpulan berwarna hijau terang tampak menggeliat.

"Itu dia!" Gendis mendekat. Ia memicingkan mata lewat kaca pembesarnya. Tangannya cepat menggapai makhluk kecil hijau di depannya. "Uliiiiil …!" Gendis girang. Namun tiba-tiba muka Gendis senderut. “Eh, bukan." Rupanya itu hanya tanaman berwarna hijau.

Gendis meraba-raba lagi. "Ini mirip Ulil." Ia mulai penasaran. Gendis memetik pucuk tanaman itu. Mengamatinya. Bentuknya meliuk-liuk, melingkar. Keriting, berkeluk-keluk seperti kaki-kaki Ulil. Gendis memencet-mencetnya. Eh, lunak dan kenyal juga seperti badan Ulil. "Ini apa ya, kok mirip banget sama Ulil?"

Baca cerita anak lainnya yuk: Rahasia Pisang Merah
***
“Udah ketemu si Ulil?” tiba-tiba suara Bang Aryo mengagetkannya. Rupanya sang kakak mengikutinya. Gendis yang sedang jongkok berdiri mendekati abangnya.

“Enggak ada, Bang. Malah ketemu ini. Kayak Ulil. Ini apa, ya?” Gendis antusias menunjuk tanaman yang baru dilihatnya.

“Hmm … kayak tanaman paku-pakuan. Tapi lupa lagi sih namanya apa,” jawab Aryo  sambil mengusap-ngusap dagu.

“Oooh …” Gendis mengangguk-anggukan kepala. Ia masih kepincut dengan tanaman hijau itu. Gendis memegang-megang pucuk daunnya. Memperhatikannya. Tanaman itu tumbuh liar. Ada yang tumbuh di dekat bebatuan sungai. Ada juga yang menempel di pohon-pohon besar. Gendis suka tanaman itu.

“Lucu ya, Bang Aryo. Lihat, daunnya menggulung-gulung.” Gendis berbinar-binar bertemu dengan tanaman yang baru kali ini dilihatnya.

“Mirip Ulil,” tambah Gendis sambil tertawa kecil. “Eh iya, Ulil!” Gendis teringat lagi Ulil yang sedang dicarinya.

“Liiil … Uliil!” Gendis kembali lagi mencari Ulil di sekitar. Bang Aryo juga menemaninya.
“Kemarin kamu dapet Ulil dari mana, Ndis?”

“Tuh … !” Gendis menunjuk pohon sirsak tidak jauh dari sana.

Aryo pun mengajak Gendis untuk mencarinya kembali di sana, di pohon sirsak.
Gendis mengamati batang pohon sirsak dengan jeli. Saat mencari Ulil di sana, tidak sengaja Gendis menyentuh sesuatu berwarna coklat. Seperti selimut daun yang membungkus benda di dalamnya.

 “Eh, ini apa?” Gendis penasaran. Ia hendak meraihnya.

 “Eits, jangan diganggu, Ndis!”Gendis terperanjat.

“Itu kepompong. Enggak usah diganggu. Nanti bakal jadi kupu-kupu,” Bang Aryo menerangkan.
Bang Aryo bercerita kalau ulat akan berubah jadi kepompong. Kemudian jadi kupu-kupu.

“Berarti ... Ulil juga?” Gendis kepo.  Bang Aryo menganggut.

“Tapi ... kalau Ulil tinggalnya di toples, ya enggak bisa jadi kupu-kupu ...” Bang Aryo bilang sambil terkekeh.

Gendis manyun. Ia membayangkan kalau Ulil jadi kupu-kupu pasti cantik. Tapi … berarti Ulil enggak boleh diajak tinggal di toples di kamarnya. Gendis melamun sesaat. Sampai tiba-tiba terdengar suara Aryo mengedau, “Aaw … auw tolong, tolong … apa ini?”
Aryo meraba bagian tengkuknya sambil bergidik. Gendis mendekat. Berjinjit melihat kepala belakang Aryo.

“Hahaha …Uliiil! Ini Ulil” Gendis tertawa dan meraih ulat mungil di tengkuk Aryo. Aryo bergidik. Geli.

Gendis kegirangan. Ia memainkan Ulil di tangan. Mengecupnya. Aryo yang melihatnya tambah bergidik. Gendis lalu mengambil toples kaca dari kantongnya. Hendak memasukkan Ulil.

“Eh, enggak usah deh. Kamu jangan tinggal di toples. Biar bisa jadi kupu-kupu!” Gendis berbicara  pada Ulil. Ia menyimpan kembali toples kacanya. Gendis menyimpan Ulil di telapak tangannya. Kemudian ia berjalan mendekati sungai lagi. Rupanya Gendis menuju tanaman paku-pakuan tadi.

“Ini tanaman kesayangan Gendis sekarang. Nah, kamu tinggal di sini aja, ya, Ulil.” Gendis meletakan Ulil di daunnya. Lalu menepuk-nepuk lembut kepala Ulil.

“Besok aku main lagi ke sini ya, Ulil.” Gendis melambaikan tangan pada teman kecilnya. Sekarang Gendis punya dua kesayangan. Ada Ulil, juga si tanaman paku.
***
Keesokan hari, Gendis tidak bersabar ingin menengok Ulil. Menjelang siang, ia menuju lagi ke sungai. Bersemangat. Namun, sudah tiba di dekat sungai, Gendis membuka matanya lebar. Satu tangannya menutup mulutnya yang membulat. Gendis terperangah.

Muka Gendis muram. Daun-daun yang menggulung itu sebagian hilang. Sebagian menjadi bengkok-bengkok seperti terinjak. Tanaman pakunya rusak.
Ulil!

“Daun-daunnya pasti dimakan Ulil!” pikir Gendis kesal.

Mata Gendis kembali melirik batang tanaman yang miring-miring rusak. “Terus ... siapa yang merusak ini?” Gendis mulai terisak. “… atau jangan-jangan Ulil juga keinjak,” Gendis menangis.

Gendis pulang ke rumah masih sesenggukan. Ia menceritakan semuanya pada Bang Aryo.
“Besok, kita intip bareng-bareng. Kita ke sana lebih pagi, ya. Kita tangkap pelakunya!” ajak Aryo bak detektif sambil menghibur sang adik. Gendis mengangguk antusias.

Baca juga cerita lainnya: Moni Hilang
***
Gendis siap dengan topi rimba hijau miliknya. Tidak lupa, Aryo juga membawa teropong mainannya. Mereka bersembunyi di balik semak. Gendis dan Aryo menunggu siapa  yang datang mendekati si tanaman paku.

“Eh … Bang, Bang Aryo! Itu kedengaran ada suara yang datang,” Gendis menarik-narik jaket Aryo.

“Sssstt … jangan berisik, Ndis!” Aryo mengangkat teropongnya. Menilik dari kejauhan.

(Bersambung ...)

0 comments:

Posting Komentar