Sampul Buku Didit (2)

Lanjutan cerita dari sebelumnya: Sampul Buku Didit (1)


Keesokan harinya, Bapak membawakan Didit setumpuk majalah bekas.

“Lihat, Dit. Bapak bawa apa?”

“Asyik. Bapak bawa buku dan sampul baru, ya?” jawab Didit sambil berlari ke arah Bapak.
“Yaaaaah ...” ujarnya tiba-tiba ketika melihat setumpuk majalah bekas di hadapannya.

“Hehe…” Bapak hanya tertawa kecil. Majalah bekas itu disimpannya di meja Didit. Kemudian Bapak berlalu kembali ke luar rumah.

Didit yang sejak tadi masih memonyongkan mulutnya karena kesal tiba-tiba melirik majalah yang ada di mejanya. Diam-diam dia mendekati meja belajarnya itu.

“Hmm… Apaan ini ?” gerutu Didit.

Didit membuka-buka tumpukan majalah itu. Tidak lama kemudian matanya tiba-tiba berbinar, senyumnya pun mengembang.

“Wah, ini majalah bagus. Gambarnya keren dan bagus sekali,” kata Didit masih sambil membolak-balik cepat tiap halamannya.

“Kalau dibuat sampul buku, kira-kira gimana, Dit?” seru Bapak dari arah pintu.

“Buat sampul buku? Hmm …” jawab Didit sambil mengernyitkan dahi.

“Coba cari gambar yang paling kamu suka, nanti kamu jadikan sampulnya. Kamu bisa gunting beberapa gambar juga, lalu tempel sesukamu. Asyik, kan?” jelas Bapak sambil mengerlingkan matanya.

Didit mendapatkan ide cemerlang dari Bapak. Ia mengangguk memberi jawaban 'Ya' untuk Bapak. Didit langsung melompat mencari gunting dan lem.

“Oke, aku mau bikin sampul buku yang bagus, Pak” teriak Didit dengan senangnya.

Baca juga cerita lainnya yuk: Cahaya Keriang Bandong di Kota Khatulistiwa
***

“Selamat pagi, Harun … Gilang!” sapa Didit sambil memasuki pintu kelas.

“Kamu kelihatan senang sekali, Dit!” sahut kedua temannya.

“Aku hanya bersemangat!” jawab Didit menyunggingkan senyumnya.

Tidak lama Ibu Guru pun masuk kelas. “Sekarang siapkan bukunya ya, Anak-anak. Kita akan mulai belajar menulis,” kata Ibu guru memulai kelas hari ini.

Ketika hendak mengeluarkan bukunya, Didit yang tadi bersemangat tiba-tiba merasa ragu lagi untuk mengeluarkannya. Ia takut teman-teman lain mengejek sampul bukunya.

Namun, Didit ingat kata-kata Bapak tadi malam kalau buku Didit sungguh bagus dan unik. Tidak ada satu pun yang bisa menyamainya. Dan tidak ada satu toko pun yang menjualnya. Didit lalu tersenyum sendiri. Dengan percaya diri, kemudian ia membuka tas dan mengeluarkan bukunya.

“Didit, bukunya tidak ketinggalan lagi?” tanya Ibu Sofi.

Semua pandangan teman-teman langsung menuju pada Didit. Didit kikuk.

“Aaa… ada, Bu guru. Ini…,” jawab Didit ragu-ragu sambil mengangkat bukunya.

“Eh, lihat buku dia!” seru salah seorang temannya.

Suara itu membuat Didit terkejut. Ia menyembunyikan bukunya. Didit menunduk.
“Aduh, pasti dia akan mengejekku,” pikir Didit.

“Sampul bukunya bagus!” kata temannya yang berteriak tadi.

“Hah!” Didit mengangkat wajahnya. Ia kaget mendengar apa yang dikatakan temannya.

“Iya, bukumu bagus, Dit. Kamu beli di toko Bang Komeng?” kata Harun, teman sebangkunya.

“Tidak. Aku membuatnya sendiri!” jawab Didit dengan bangga.

“Kamu hebat sekali Didit, bagaimana kamu membuatnya?” tanya Ibu guru.

Didit menceritakan bagaimana ia membuatnya bersama Bapak tadi malam. Didit pun mengatakan bahwa semuanya terbuat dari barang bekas.

“Bagus sekali. Tahukah kalian, memanfaatkan barang bekas adalah salah satu cara untuk menyelamatkan bumi, loh! jelas Ibu Sofi.

Didit dan teman-temannya dibuat penasaran oleh Ibu guru. Ibu guru pun melanjutkan penjelasannya bahwa mendaur ulang barang yang sudah tidak terpakai menjadi barang yang bisa berguna kembali adalah salah satu cara untuk mengurangi jumlah sampah. Dengan begitu, berarti kita sudah berusaha menyelamatkan bumi.
***
Sekolah hari ini sudah selesai. Didit pulang sekolah dengan hati gembira. Saat perjalanan pulang, teman-teman menghampiri Didit. Mereka ingin membuat sampul buku seperti miliknya.

“Di rumahku banyak majalah bekas, nanti ajari aku cara membuatnya, ya” pinta Rani.

“Aku juga ikut, ya!” seru Keke dan teman-teman lainnya.

Dengan senang hati, Didit mau membantu mereka. Ia senang sekali sampul bukunya bisa menginspirasi teman-temannya untuk memanfaatkan barang bekas.

(Tamat)

Terima kasih ya sudah membaca cerita anak di blog ini
Salam Cinta,

0 comments:

Posting Komentar