Cerita oleh Mira Humaira

Angin bertiup kencang. Daun-daun mapel mulai berguguran. Rian memandanginya satu persatu. Tangannya sigap menangkap daun oranye kemerahan di depan matanya. Musim gugur sudah dimulai.

Rian memegang-megang wajahnya. Masih sedikit perih. Rian teringat kembali kejadian itu, saat ia tidak mendengarkan ibu untuk minggir dari dekat kompor. Ia mendapat luka cukup parah.

Rian selalu kesepian. Dedaunan itu yang menemaninya saat melukis. Di balik pohon mapel, ia biasa duduk dengan menekuk lutut di depannya. Kedua tangannya memegang  pensil dan sebuah buku gambar.  Buku yang cukup besar itu akan menemaninya sepanjang hari. Rian melukis apa saja yang ia suka.

Rian membetulkan kupluk merahnya.  Lalu menggosok kaca matanya agar lebih jernih. Tangannya siap mencoretkan sesuatu. Tiba-tiba, sebuah lemparan apel meluncur mengenai kaca matanya. Rian terkejut. Ia mengecek kaca matanya. Masih baik-baik saja. Rian melirik kanan-kiri mencari sesuatu. Siapa yang melemparkan apel hijau itu.

Ada suara teriakan kesal seorang anak perempuan. Rian memperhatikan dari kejauhan. Ia melihat gadis kecil itu sedang mencari sesuatu. “Argh, mana apelku?”.

Rian memeriksa apel di tangannya. Ia menebak, apel itu pasti milik si anak perempuan tersebut. Rian menggelindingkan apel dari balik pohon. Cukup kencang agar apel bisa mendekati pemiliknya. Rian kembali membetulkan kaca matanya. Duduk dan membuka buku gambarnya lagi.

Kali ini Rian mengambil satu daun maple yang agak besar. Lalu, Rian mengambil secuil kentang panggang dari tas kecilnya. Menempelkannya di balik daun. Daun itu jadi lengket. Rian kemudian Menempelkannya di halaman buku gambar yang masih kosong.

Ujung daun maple berada di bagian bawah. Bagian atas tampak lebih rata. Rian menggambar dua bentuk segi tiga di bagian atas itu, seperti dua telinga. Lalu ia membuat dua bulatan hitam di bagian daun, seperti dua mata. Di bagian ujung bagian bawah, Rian membuat satu bulatan hitam lagi. Lebih kecil, seperti hidung. Ditambah tiga pasang garis di kedua sisinya, seperti kumis.

Rian  tersenyum kecil. Ia memperhatikan gambarnya. Seekor rubah bermata bulat dengan kepala daun maple.

“Hei! Kamu ya, yang melemparkan apelku tadi?”
Rian terkesiap. Tahu-tahu gadis bersyal ungu tadi datang dari balik pohon, mengejutkannya. Rian menutup bukunya. Membetulkan lagi kaca matanya. Ia gugup.

“Kenapa tidak memberikannya saja langsung? Malah sembunyi. Kayak hantu!”

Rian memperhatikan anak perempuan itu sambil sesekali menunduk. Terlihat seumuran. “Maaf.”

Rian memperhatikan lagi. Anak perempuan itu menggenggam kumpulan daun mapel di tangan kirinya. Banyak sekali.

Kali ini, Anak perempuan yang memandangi dirinya. Rian kikuk. Sambil menunduk. 
Rian kembali mendongak setelah tidak lama gadis kecil itu berbalik pergi. Rian tiba-tiba sedih. Ia merunduk. Tidak ada yang mau berlama-lama dengannya. Ia melihat sekeliling. Hanya daun-daun mapel cantik temannya saat ini.

Keesokan hari. Masih seperti biasa, Rian bermain sendiri di pohon mapel. Ia menggambar lagi. Kali ini, seekor burung hantu dengan kepala berbentuk daun mapel. Lucu.

Terdengar suara sedikit gaduh di balik pohon. Rian menengok. Anak perempuan itu lagi. Rian memperhatikannya sedang memungut daun-daun mapel lagi. Belum sempat bersembunyi lagi di balik pohon, anak perempuan itu keburu melihatnya.

“Hai, kau lagi!”

Rian mendengar langkah kaki anak perempuan itu semakin mendekatinya. Rian melihat kedua tangan gadis itu penuh denga daun mapel.

“Aku sedang mengumpulkannya. Mau buat prakarya lagi. Kemarin gagal.” Rian mengangguk saat gadis itu menjelaskannya.

“Kamu selalu di sini, ya. Kamu penjaga pohon mapel? Eh coba lihat, apa itu?”. Rian mencoba menyembunyikan buku gambar di balik tubuhnya. Tapi tidak berhasil. Buku itu  lolos diambil anak perempuan.

Rian tidak bisa menahannya. Ia hanya terpaku melihat buku gambar miliknya dibuka-buka.
“Wow…ini bagus sekali. Ah, ya aku mau buat ini saja”.

Rian tersenyum kecil. Bangga.

“Hmm… kamu enggak takut lihat aku?” Kali ini Rian berani bertanya. 

“Kenapa, aku enggak takut”

Rian tersenyum lagi. Ia percaya diri mengangkat wajahnya. Terlihat luka di bagian wajah kirinya berwarna merah. Bekas luka tersiram air panas.

 Hari ini Rian senang tidak seperti biasanya. Sebelum pulang, anak perempuan tadi bilang besok ia akan datang bersama saudara sepupunya yang laki-laki. Mau bermain bersama sambil mencari daun mapel lagi.

Rian merasa punya teman sekarang. Bukan satu tapi dua. Mereka mau bermain dengannya. Mereka tidak takut melihat wajahnya. Rian percaya diri. Tidak sedih lagi.
***

Keesokan hari. Rian menunggu lagi di pohon mapel. Ia tidak sabar menunggu teman-teman barunya. Tidak lama kemudian, suara Rosi, anak perempuan itu, memanggilnya. Rian menoleh dari balik pohon. Dilihatnya, Rosi bersama seorang anak laki-laki. Anak laki-laki itu tidak berjalan. Ia duduk di kursi yang didorong Rosi.

Rian tetap menunggu di bawah pohon mapel. Ia melambaikan kedua tangannya menyapa. Namun, semakin dekat, Rian sedikit terkejut. Anak laki-laki itu berbeda. Iamelambaikan dengan lengannya. Hanya lengannya. Anak-anak laki-laki itu tidak punya pergelangan tangan. Tapi wajahnya tersenyum.

“Kenalkan, ini sepupuku, Berto”

Rian menyapanya lagi. Ia melihat Berto ceria. Tidak ada wajah sedih.

Rian berkenalan dengan akrab. Melihat Berto, ia terbawa semangat. Tidak merasa sedih lagi. Rian mendengarkan Berto bercerita bahwa dirinya tidak pernah malu untuk berteman dengan siapa pun. Bisa berteman dan bermain bersama adalah hal yang menyenangkan.

Rian tersentuh. Selama ini selalu tidak berani bermain dengan orang lain. Ia khawatir anak-anak lain takut padanya. Tapi tidak lagi sekarang, setelah ia mengenal Rosi dan Berto.

“Rian, ayo kita main ke taman kota. Di sana banyak teman-teman lain.” 
Rian mengiyakan cepat. 

“Jangan bersembunyi lagi, penunggu pohon mapel. Ayo kita main di sana!”

Penunggu pohon mapel. Rian tertawa mendengarnya. Itu sebutan yang pantas baginya.Karena selama ini memang ia selalu bersembunyi di balik pohon mapel.
Rian merasa hari ini adalah hari terbaik baginya. Hari ini, ia senang dan kembali berani. 

==========

Baca cerita lainnya: Putri Malam

pict by wallpaperbetter.com

Cerita oleh Mira Humaira

Rania sudah dapat. Tempatnya di halaman belakang rumah. Di dekat kandang Coki kelinci. Di situ Bernard akan Rania sembunyikan.

"Bernard, kamu di sini, ya...". Rania melambaikan tangannya. Ia melangkah pergi. Sampai kembali di kamarnya, Rania tersenyum lega. Namun, tiba-tiba wajahnya merengut kembali, bagaimana jika nanti malam datang hujan. Bagaimana dengan Bernard?.

Rania mencari sesuatu di kamarnya. Tapi, tidak ada.  Rania tahu ia harus mendapatkan payung. Ia langsung berlari menuju dapur. Payung kuning miliknya ada di sana.

Rupanya payung Rania menggantung agak tinggi. Ia berusaha meraih dengan menggoyangkan ujungnya dengan hati-hati. Rania berhasil. Ia berbalik badan hendak pergi. Namun, ia tiba-tiba menabrak sesuatu.

Itu Ibu. Sekarang mata Ibu tepat di depan matanya. Ibu tersenyum. Rania pun tersenyum dengan wajah terkejut.  "Mau ke mana, Rania?". Rania menggigit bibirnya.

Rania berhasil pamit main di luar pada Ibu. Ia berlari ke halaman belakang rumah. Rania menghampiri Bernard. Membuka payung kuningnya. Ditutupinya Bernard. Aman. Namun, tiba-tiba angin datang dengan kencang. Payung kecil itu terbang.

Rania mengambil kembali payung yang tersangkut di kandang Coki. Rania berpikir lagi bagaimana cara melindungi Bernard. Ia memandangi Coki. Rania pun tahu, Bernard harus punya kandang seperti Coki. Bernard harus punya rumah.

Rania tidak mungkin membuatkan rumah seperti kandang Coki. Terlalu sulit. Rania harus membuat rumah  yang lebih mudah. Rania melirik sekitar. Ia melihat tumpukan kardus. Rania ingat, itu kardus bekas rak bukunya. Ukurannya cukup besar. Cukup untuk Bernard.

Rania mengambil dan membersihkannya. Ia mencoba masuk ke dalam kardus. Rania tertawa. Ia senang. Kemudian Rania meraih tangan Bernard, membersihkan badan bulatnya dari dedaunan, lalu menggendongnya. “Sekarang, kamu tinggal di rumah kardus ini, ya”. Rania memasukkannya sampai tidak terlihat lagi.
***

Keesokan hari, Rania diajak Ibu mengambil tomat di halaman belakang. Rania panik. Ia takut tempat rahasia Bernard diketahui. Rania tidak bisa menolak ajakan Ibu. Ia pun mengikuti Ibu yang duluan berjalan ke belakang rumah.

Rania menutup matanya saat Ibu tiba-tiba berhenti di dekat kandang Coki. Ibu melihat kardus besar yang kemarin sudah dilipat rapi di dekat gudang.

Rania mendekati Ibu. “Kardus ini buat tempat mainan Rania aja, ya, Bu?”. Ibu terdiam namun tidak lama menganggukkan kepalanya. Mata Rania terbuka lebar. Ia terkejut campur senang. Rania boleh membawa kardus itu ke dalam kamar.

Rania berhati-hati membawa kardusnya. Namun, ia sedikit terlihat aneh. Tangannya sulit memeluk kardus yang besar itu. Ia kesulitan. Ibu melihatnya.

“Rania, Sini Ibu lipat dulu kardusnya!”
 
“Enggak usah, Bu!”. Ia berjalan sambil menengok tidak memperhatkan jalan. Rania tak sengaja menendang tumpukan kardus lainnya.

Kardus besarnya jatuh berguling. Kepala Bernard menyembul keluar. Rania semakin panik.
“Rania, itu Bernard!”

Rania segera memungut kardus. Mengeluarkan Bernard dengan cepat. Memeluknya sambil berteriak. “Jangan bawa Bernard, Ibu. Jangan…”.

Ibu berjalan sigap menghampiri. “Rupanya boneka kesayanganmu ada di sini, Rania?”

“Bernard sedang sembunyi, Bu,”

Rania mencengkam erat bernard. Ia takut Ibu memarahinya. Namun, tiba-tiba Ibu membelai rambutnya. Rania terkesiap.

“Ibu enggak akan buang Bernard, kan? Rania tahu Ibu mau bawa Bernard pergi.” Rania terisak lagi.
Rania menceritakan kembali saat melihat ibunya menyimpan Bernard di sebuah plastik besar. Rania tidak mau berpisah dengan Bernard. Ia sayang Bernard walau boneka beruangnya itu sudah kucel.

Ibu terkekeh. Rania penasaran.

“Ibu hanya akan membawa Berbard ke Laundry untuk dicuci. Lihat, Rania, Bernard bau dan kotor!”. Ibu tersenyum menatap Rania.

Rania memandang Bernard. Ia tersenyum lega. Memeluk kencang tubuh gemuk Bernard. “Bernaard…! Kamu tidak perlu sembunyi lagi!”.









pict: clipart-library.com


Cerita oleh Mira Humaira

Siang tadi berita kontes peri sudah diumumkan. Ratu Peri memutuskan kontes peri buku akan dilaksanakan akhir pekan ini. Itu artinya, hanya empat hari tersisa untuk para peri bersiap-siap. Tentu saja, para peri berbahagia menyambut kontes tersebut walaupun mereka kini harus sibuk mempersiapkan semuanya. Ups… tapi lihat! di sudut taman istana tampak seorang peri yang sedang gelisah. Tidak seperti para peri lain yang senang dan bersemangat, ia terlihat begitu sedih. Siapakah peri itu?

Oh… Peri Sanderina namanya. Ia adalah peri buku dongeng. Kenapa ia murung dan tidak ceria?

Rupanya Peri Sanderina sedang bingung. Ia ingin sekali ikut kontes peri buku. Tapi, bagaimana caranya? Hingga saat ini, Peri Sanderina belum menemukan pasangan. Itu berarti, ia tidak bisa ikut menampilkan parade dongeng. Maka berarti, bisa-bisa kumpulan buku dongeng dimusnahkan dari istana kerajaan. Oh tidak!

“Peri Sanderina, ayolah bangun. Kau harus bergerak!”

“Apa yang bisa kulakukan, Sticky? Waktunya hampir habis. Aku belum juga menemukannya!” seru Peri Sanderina sambil terisak.

“Bisakah waktu yang sudah semakin menipis itu kau gunakan untuk berusaha sedikit lebih keras lagi, Peri Sanderina?”

Ucapan Sticky, teman baiknya itu, menggugah perasaan Peri Sanderina. Ia pun berdiri bangun.

“Oh terima kasih, Sticky. Kau berusaha membantuku.”

“Tentu saja, kalau kau hanya bersedih dan tidak mau berusaha itu sama saja membiarkan nyawaku melayang!”

Sticky adalah pembatas buku emas milik Peri Sanderina. Setiap peri buku memiliki pembatas bukunya masing-masing. Mereka adalah teman setia para peri.

Oleh karena itu, sudah menjadi tugasnya, Sticky berusaha menghibur dan memberi semangat pada Peri Sanderina. Karena bagaimana pun, ia harus ikut mempertahankan keberadaan buku dongeng. Jika buku dongeng musnah, maka ia pun ikut hilang dan mati. Itu akan sungguh menakutkan!

Di kontes peri buku, semua peri akan tampil bersama pasangannya. Pasangan mereka adalah anak-anak penggemar buku. Peri buku ensiklopedi akan tampil bersama anak yang suka dan menguasai buku pengetahuan seperti ensiklopedi. Peri buku resep akan mempertunjukkan keahliannya bersama koki cilik yang senang membaca buku resepnya. Begitu juga dengan yang lainnya. Tapi sayang, Peri Sanderina sendiri belum bertemu dengan seorang anak yang suka membaca dongeng.

Namun, dengan dorongan semangat dari Sticky, Peri Sanderina mau kembali mencari. Kali ini, ia berjalan menyusuri hutan apel hijau.

“Kita sudah berkeliling sejak tadi, Sticky. Kita istirahat saja dulu!” Peri Sanderina sudah merasa lelah. Sambil menyandarkan tubuhnya ke pohon, Peri Sanderina menggigit beberapa buah apel yang tergeletak di dekatnya.

“Hai, kau memakan apelku!” seru tiba-tiba seorang anak perempuan berkupluk merah.

Peri Sanderina dan Sticky terkejut. “Oh… maafkan aku. Aku tidak tahu apel ini ada pemiliknya,” ujar Peri Sanderina.

“Kau harus membayarnya!” seru anak perempuan itu sinis.

“Baiklah. Bagaimana caranya, Gadis kecil?” Peri Sanderina bertanya dengan lembut.

“Kau harus ceritakan aku sebuah dongeng!” 
“Apa? Dongeng? Kau suka dongeng? Benarkah kau suka dongeng?” Peri Sanderina sontak kegirangan.

Peri Sanderina mengerlingkan matanya pada Sticky. Wajahnya tak murung lagi. Peri Sanderina kini bersemangat dan percaya diri. Ia yakin sudah menemukan apa yang ia cari.
***
Singkat cerita, akhirnya si gadis kecil pun sepakat membantu Peri Sanderina, si Peri buku dongeng. Kontes peri buku dimulai. Namun, saat giliran mereka tampil, mendadak muka Peri Sanderina yang tadinya ceria tiba-tiba berubah pucat. Ia panik. Ada apakah gerangan?

“Oh tidak. Benarkah kau tidak bisa membaca, Arlin?” Sticky berusaha bertanya tenang pada si gadis berkupluk merah itu. Sayangnya, Arlin mengangguk iya. Itu tandanya, kesempatan untuk bisa ikut tampil di kontes akan gagal total, pikir Sticky dan Peri Sanderina. Bukankah nanti setiap anak harus membacakan buku pilihan Ratu Peri. Lalu bagaimana dengan Arlin? Ia tidak bisa membaca. Namun, Peri Sanderina harus berani tampil bagaimana pun keadaannya, bagaimana pun hasilnya.

***
Tibalah waktunya untuk mengumumkan hasil kontes peri buku. Ratu Peri memberitahukan bahwa semuanya adalah yang terbaik karena peri penjaga dan anak-anak yang gemar membaca buku sejatinya adalah juara. Namun, untuk penghargaan yang lebih, Ratu Peri mengumumkan bahwa Peri buku dongeng dan Arlin menjadi pemenangnya.

Arlin tidak bisa membaca tapi ia sangat memahami semua kisah dalam buku dongeng. Rupanya, Arlin selalu meminta siapa pun untuk membacakan dongeng dari buku-buku yang selalu ia bawa. Arlin selalu mengambil pelajaran dari setiap dongeng yang ia dengarkan. Arlin adalah anak yang tulus mencintai buku dongeng sebagai temannya. Ia selalu menjaga dan merawatnya dengan baik. Ratu Peri sangat terkesan dengan Arlin.

“Hai gadis kecil, aku akan memberimu hadiah istimewa. Aku akan memberimu kemampuan super. Yaitu, kemampuan membaca yang hebat,” jelas Ratu Peri menyambut Arlin saat naik ke panggung istana.

“Tidak, Ratu Peri. Terima kasih. Aku ingin bisa membaca. Tapi aku akan belajar dengan usahaku sendiri. Tentunya,  Peri Sanderina dan Sticky akan membantuku,” jawab Arlin percaya diri sambil mengerlingkan matanya, kode pada Peri Sanderina dan Sticky. 
Ratu Peri semakin kagumlah padanya.

Peri Sanderina dan Sticky mengacungkan jempol tanda setuju. Mereka pun saling berpelukan dan tertawa bersama. Buku dongeng pun tidak akan pernah musnah. Arlin, Peri Sanderina, dan Sticky akan menjaga dan menebarkan kebaikan dan kebajikan dari buku dongeng ke seluruh dunia.
***

Tamat.

=========
Haloha, baru lagi sempat posting cerita anak di sini, setelah hiatus hampir dua bulan lamanya (kemana aja? :D). Oia, ada yang sudah membaca cerita ini sebelumnya? Ya, jika iya pasti ada yang sudah mampir membaca buku Tales in Wonderland dong, ya?. Yup, cerita ini merupakan salah satu naskah terpilih sayembara di acara ultahnya komunitas Wonderland. By the Way, apa kalian juga senang membaca buku dongeng atau membacakannya? cerita dongeng apa yang paling kalian suka? :)



Masya Allah Alhamdulillah tidak terasa kurang dari sepekan lagi kita akan menyambut Ramadhan bulan penuh Kemuliaan. Apa kabar persiapan diri menjelang kedatangannya?

Menyambut Ramadhan biasanya selalu ada tradisi munggahan ya kalau di daerah Sunda. Di lain tempat, ada juga beberapa tradisi khas daerah masing-masing dalam menyambut bulan shaum ini. Seperti Dugderan, tradisi yang terkenal di Jawa Tengah, tradisi Malamang yang biasa diadakan masyarakat Sumatera Barat, Nyorog di Betawi, juga ada Meugang di Nangroe Aceh Darussalam. 

Terlepas dari adat dan tradisi tsb, alangkah baiknya jika semua yang diadakan itu tidak hanya dihabiskan sekadar untuk makan-makan, ngobrol, dan asal kumpul saja. Tapi esensi dari penyambutan bulan mulia ini harus diterapkan. Berkumpul, bersilaturrahim untuk saling memaafkan (lahir batin). Makan-makan tidak hanya untuk mengenyangkan perut sendiri namun ingat untuk berbagi pada yang lain. Mengobrol pun dalam rangka saling memberi nasihat. 

Jadi, tiba-tiba terbayang, bagaimana ya suasana penyambutan Ramadhan zaman dulu, di zaman para salafussalih, apalagi di zaman Rasulullah SAW masih hidup, Masya Allah, pasti sungguh luar biasa aura ‘ubudiyahnya.

Lalu, apakah yang disampaikan Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam kepada para sahabatnya ketika menjelang Ramadhan Karim?

Diceritakan oleh Salman Al-Farisi, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam pernah memberikan khutbah di saat-saat terakhir bulan Sya’ban menjelang Ramadhan. Berikut pesan-pesan Nabi Shallallahu alaihi wasallam di dalamnya,



Ramadhan Bulan Agung dan Berkah
Beliau menyampaikan, “Wahai para manusia, kalian telah dinaungi bulan agung, bulan yang diberkahi, bulan yang di dalamnya ada satu malam yang lebih baik dari pada seribu bulan. Bulan yang di dalamnya puasa menjadi kewajiban dan malam harinya sebagai ibadah tambahan (sunnah).

Ramadhan Bulan Pahala Ibadah Dilipatgandakan
Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda , “Barang siapa yang mendekatkan diri kepada Allah di dalamnya dengan melakukan amalan sunnah, maka ia seperti orang yang melakukan amalan wajib pada bulan lainnya. Dan barang siapa yang melakukan amalan wajib di dalamnya, maka ia seperti orang yang melakukan tujuh puluh amalan wajib pada bulan selain Ramadhan.

Ramadhan Bulan Kesabaran dan Kepeduliaan

Bersabar dalam melawan hawa nafsu, bersabar dalam menahan lapar dan dahaga. Di bulan ini, semua anggota tubuh kita diajak bersabar untuk bisa menahan diri dari perbuatan-perbuatan mubadzir dan sia-sia. Nabi Shallallahu alaihi wasallam menyampaikan, وَهُوَ شَهْرُ الصَّبْرِ، وَالصَّبْرُ ثَوَابُهُ الْجَنَّةُ. Ia (Ramadhan) adalah bulan sabar.




Ramadhan pun merupakan bulan berbagi. Jika kita memiliki tetangga dan kerabat tentulah lebih baik jika di bulan ini bisa lebih banyak berbagi kebaikan dalam bentuk apapun. Dikatakan pula bahwa pada bulan mulia ini rezeki orang mukmin akan ditambahkan oleh Allah Azza Wajalla. Baik itu rezeki yang tampak atau pun tidak tampak (perasaan nyaman dan tentram).

Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam berkata, “Barang siapa di bulan ini memberi buka puasa (makanan) kepada orang yang berpuasa, maka itu akan menjadikan ampunan bagi dosa sang pemberi, pembebas antara ia dan neraka, dan ia mendapat pahala seperti orang puasa yang ia beri makanan pembuka puasa tanpa mengurangi pahala orang itu sedikit pun”.

Masya Allah semua itu sudah dijanjikan Allah. Apakah kita masih ragu untuk bisa berbagi? Yuk,  mari kita berlomba (dalam kebaikan). 

Lalu, jika kita tidak mampu memberi dalam jumlah banyak? ibaratnya hanya cukup untuk diri dan keluarga sendiri? 

Hal serupa pernah ditanyakan oleh sahabat kepada Nabi pada saat itu. Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, tidak setiap orang dari kami mempunyai makanan untuk diberikan kepada orang yang berbuka berpuasa?”

Maka Beliau menjawab, “Allah akan memberikan pahala kepada orang yang memberi makanan atau minuman bagi yang berbuka puasa walaupun hanya dengan sebutir kurma, seteguk air, ataupun sehisap susu. Barang siapa memberi minum orang yang berpuasa maka Allah akan memberi ampunan bagi dosa-dosanya, dan Allah akan memberi seteguk air minum dari telagaku, di mana dia tidak akan merasakan haus (selamanya) sampai dia masuk syurga serta baginya pahala yang sama dengan pahala orang yang diberi minuman tersebut dengan tanpa mengurangi pahala orang itu sedikit pun”. (Hadits Riwayat Imam Baihaqi)

Perbanyaklah 4 Hal Berikut
Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam menyampaikan empat hal yang mesti kita perbanyak di bulan suci ini, yaitu dua hal yang akan menyebabkan kalian mendapat ridla Allah dan dua hal lain kalian pasti akan membutuhkannya. Apakah itu?

Rasulullah bersabda, 
“Dua hal yang bisa menjadikan kalian mendapat ridla Allah adalah membaca syahadat serta membaca istighfar. Sedangkan dua perkara yang kalian selau memerlukannya adalah kalian mintalah surga dan mintalah perlindungan Allah dari api neraka.



Masya Allah…
Ramadhan segera tiba. Semoga umur kita bisa sampai padanya. Semoga kita bisa memaksimalkan ibadah kita, menjalani Ramadhan sesuai pesan yang Nabi sampaikan.

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَب، وَشَعْبَانَ، وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ
“Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban. Dan jumpakanlah kami kepada bulan Ramadhan.”

Selamat Sambut Ramadhan
Mohon Maaf Lahir Batin,

Mira Humaira

















pikbest.com

Cerita oleh Mira Humaira

Hai, aku ingin bercerita. Aku memiliki banyak teman, ada Patra, Liliput, Gangga, dan Owi. Sepanjang waktu mereka menemaniku. Aku akan kenalkan mereka pada kalian.

Pertama, Liliput. Ia adalah si ulat kecil yang sejak pagi biasanya sudah membangunkanku. Dia selalu membuatku geli. Dia berjalan dari satu daun ke daunku yang lain dengan menggeliat lalu memakannya dengan suara berisik. Setelah perutnya mulai buncit tanda kenyang, ia akan berbisik, “Tengkyu Mister Tree, daun hijaumu enak sekali,” lalu ia akan kembali tidur.

Lalu ada Patra, si bayi burung kecil yang selalu menghabiskan sepanjang siangnya bermain bersamaku. Selagi ia menunggu mamanya bekerja mencari makanan, ia akan berlatih berkicau dan melatih otot sayapnya untuk bisa terbang mengepak. Aku senang menemaninya. ia adalah burung pandai walaupun sedikit pemalu.

Aku juga punya teman yang paling sulit ditemui tapi sebenarnya ia selalu ada dekat bersamaku. Ia adalah yang paling pandai bersembunyi. Aku beri tahu ya, biasanya ia selalu bersembunyi di balik warna tubuhku. Ya, ia adalah Gangga. Serangga ramping yang sangat mirip dengan bentuk dan warna bagian rantingku.

Satu lagi temanku, namanya Owi. Ia akan menemaniku saat Liliput, Patra, dan Gangga tertidur pulas di malam hari. Ia adalah burung hantu gagah dan gesit. Matanya bulat besar. Owi selalu menemaniku saat langit mulai gelap.

Setiap pagi datang, aku selalu bersyukur. Aku masih bisa bernafas, dapat menghirup udara sekelilingku. Juga melihat semua teman-temanku baik dan sehat. Walaupun sekarang sesekali aku sendiri mulai terbatuk, tersedak asap yang dibawa angin jauh dari seberang sana. Kadang rasa khawatir mulai menggangguku. Belakangan ini aku sering tak enak badan.

Oh tidak, bayangkan jika aku sakit dan rapuh, lalu bagaimana nasib Liliput, Owi, Gangga, dan Patra. Mereka akan tinggal di mana? Sedangkan pohon-pohon lain pun sudah mulai hilang di kota ini.

Aku adalah salah satu pohon yang sangat beruntung. Selain teman-teman baikku yang selalu setia tinggal bersamaku. Sebenarnya, aku punya satu teman lagi yang sangat berharga bagiku. Ia yang menjagaku selama ini. Berkat dia, sekarang aku masih hidup.

Adrian namanya. Ia adalah anak laki-laki berkulit sawo matang, berkaca mata, dan berambut keriting. Aku mengenalnya sejak ia masih berseragam sekolah dasar. Setiap pagi dan sore ia menemani ayahnya untuk menengokku, memberiku makan dan minum. Adrian dan ayahnya selalu lembut merawatku hingga aku tumbuh menjadi pohon kekar dan segar kini. Aku terus tumbuh sehat seiring Adrian pun tumbuh dewasa. Ia tetap menjagaku hingga sekarang walau sang ayah tiada lagi di sampingnya.

Di saat orang lain dengan tega menumbangkan pohon-pohon di halaman rumahnya, Adrian justru mempertahankanku. Bahkan ia membuat taman spesial untukku. Adrian pun sekarang menumbuhkan bibit-bibit pohon lainnya di sekitarku. Perlahan mereka tumbuh mengeluarkan daun-daun baru yang kecil dan bunga berwarna-warni.

Hmm…ya, jadi aku tak lagi harus khawatir. Jika aku tak lagi berumur panjang, akan tetap ada pohon kehidupan untuk teman-temanku. Kelak Patra dewasa bisa tetap tinggal di sini. Liliput  pun tetap bisa tumbuh dan berwujud lebih cantik dengan sayapnya di taman ini.

Aku bersyukur bertemu Adrian dan ayahnya. Bagiku mereka adalah malaikat penjaga. Karena ketulusan mereka merawatku banyak makhluk lain yang juga merasakan kebahagiaan. Bukan saja Owi, Patra, Liliput, dan Gangga yang tinggal menetap di tubuhku. Makhluk-Makhluk lainnya tidak jarang mampir di kepalaku sekadar untuk berteduh dan berisitrahat sambil mencicipi buahku.

Aku bangga pada Adrian. Seorang anak manusia yang tidak hanya memikirkan kepentingannya sendiri. Adrian selalu peduli dengan kebersihan dan kesehatan lingkungannya. Ia adalah teman baikku, teman baik kami. Ia adalah sahabat dan penjaga bumi. Aku berharap semoga di luar sana, masih banyak sahabat-sahabat bumi lainnya yang peduli dan mencintai bumi sepenuh hati.
***
“Hai, Pohon sahabat, aku senang kau tumbuh baik dan sehat hingga saat ini. Aku berterima kasih karena kau sudah membuat rumahku teduh dan nyaman, aku pun masih bisa bernafas segar berkat oksigen yang kau sumbangkan,” tutur Adrian sambil menyender santai di batangku sore ini. Aku pun tersenyum. Begitu pun Patra, Owi, Liliput, dan Gangga yang ikut mendengarnya. Jika saja kami bisa berbicara langsung padanya, kami pun sungguh lebih berterima kasih. 

Earth provides enough to satisfy every man’s need. But not every man’s greed. – Mahatma Gandhi
We need earth more than the earth needs us.

Salam Cinta -Happy Earth Day, 22 April- 

Mira Humaira


pixabay.com

Terpuruk? Kecewa? Pernahkah? Rasanya setiap manusia pernah diberi ujian dan tantangan dalam setiap episode hidupnya. Yang menjadi perhatian kadang bukan seberapa besar ujian dan tantangannya namun seberapa besar dan kuat kita bisa menghadapi dan menyiasatinya. 

Qadarullah, beberapa waktu ke belakang saya sempat merasa dirugikan terkait karya yang hendak saya lahirkan. Sebuah karya pribadi, yang bisa ditempatkan layaknya seorang anak hingga kelahirannya pun tentu sangat diperjuangkan dan diidamkan.

Singkatnya, karya saya pun lahir dalam bentuk buku solo yang sudah berada di tangan. Namun, cerita dibalik kelahirannya sedikit menyesakkan. Sehingga saya tidak begitu antusias lagi terhadapnya pun mengiklankannya. Malah, lebih parah lagi sempat saya terpikir untuk berhenti saja menulis karenanya. 

Jika harus terus dibawa perasaan dan dirundungkan, rasanya hanya akan terus menjadi beban. Hingga saya berpikir perasaan tidak baik ini harus segera saya lepaskan. Lalu bagaimana caranya?

Memandang kembali puluhan buku sendiri, hmm hati kecil ini berkata, mereka tak bersalah. Sesungguhnya mereka begitu berharga karena saya menulisnya dengan penuh cinta bukan asal-asalan. Keberadaannya tidak boleh sia-sia. Tidak mau lama lebih terpuruk, maka saya putuskan dengan buku ini juga saya harus terobati. Oke, sepertinya (baru rencana) saya putuskan akan mendedikasikan puluhan buku ini untuk donasi, sebagai sumbangan bahan literasi untuk anak-anak negeri.

Namun, sempat ada bisikan-bisikan tak baik yang menghampiri, “Yakin mau berbagi? Bukannya kamu lagi dapet rugi. Apa gak tambah rugi?”

Oalah godaan siapa ini. Hingga sebelum akhirnya memutuskan dengan mantap, saya buka kembali catatan-catatan saya di gawai dan tiba-tiba saya buka app notes, tercantum di sana tentang blog competion yang bertema “JANGAN TAKUT BERBAGI” yang diadakan dompetdhuafa.org .

Sontak saja saya langsung tergerak kembali, rasanya langsung ada yang menepis bisikan-bisikan syaitan tadi. "Yuk! Jangan takut berbagi". Ditambah lagi tagline yang tercantum di sana semakin meyakinkan hati ini, 

“Pernahkah ragu, khawatir, atau takut ketika akan berbagi untuk orang lain? atau pernah berpikir, bagaimana jika apa yang kita miliki malah habis atau hilang saat kita berbagi?
Tapi yakinlah, bahwa kita tidak akan terjatuh dan bersedih karena berbagi. Karena hal kecil yang kita bagikan bisa jadi suatu yang sangat berarti dan membahagiakan bagi orang lain. (dompetdhuafa.org)”
Bismillah. Akhirnya dengan mantap saya putuskan. Dengan buku ini, saya akan berbagi.

Alhamdulillah, saya pun akhirnya berkesempatan mengunjungi sebuah panti asuhan anak di daerah Pameungpeuk. Di sinilah tempat pertama saya membagikan buku. Tidak diduga sebelumnya, betapa menyenangkannya bisa berbagi karya sendiri, rasa bahagia membuncah ketika disambut senyum dan binar mata teman-teman cilik di sana. Mereka antusias mengacungkan tangan ingin mendapatkan bukunya.

Bersama teman-teman cilik di Panti Asuhan Anak Amanat Umat


Lalu bagaimana perasaan ini? Benar saja, dengan berbagi saya bahagia. Kekecewaan sebelumnya pun terobati. Ya, rupanya berbagi adalah salah satu obat hati atau bisa juga disebut obat galau yang paling mujarab. Karena saya rasakan manfaat berbagi bukan hanya menyenangkan orang lain namun menyenangkan juga diri sendiri.

“Manfaat pertama yang bisa dirasakan dari bersedekah adalah bagi si pemberi sedekah itu sendiri, yaitu dengan melihat perubahan dalam diri dan sikapnya, dengan menemukan kedamaian, serta dengan melihat senyum bahagia orang lain”
( 'Aidh Al-Qarni )

Begitu pun saya membagikan pengalaman ini, semoga ada hikmah yang bisa diambil. Jika sedang tidak enak hati atau sedang dilanda kegalauan, mungkin itu alarm bahwa sudah waktunya kita harus berbagi. 

Oleh karena itu, Yuk! Jangan takut berbagi! karena berbagi bisa melahirkan ketenangan hati. Yakinlah dengan berbagi pun harta kita sejatinya tidak akan berkurang malah bertambah meskipun dalam bentuk lain, seperti bertambahnya kebahagiaan atau digantinya dengan anugerah kesehatan. 

Cara Lain Berbagi 
Cara yang paling utama memang berbagi kebaikan dengan orang terdekat atau kerabat. Namun, bagaimana jika kita ingin berbagi dengan jangkauan lebih luas? Ingin memberikan kebahagiaan pada lebih banyak orang? 

Di zaman teknologi digital seperti sekarang ini, segalanya dibuat lebih mudah. Dalam hal ini,  www.dompetdhuafa.org pun memberi solusi untuk kita bisa lebih mudah berdonasi dengan hanya klik di donasi.dompetdhuafa.org. Semua prosesnya mudah dan cepat. Di sini pun ada pilihannya,  Apakah kita ingin berbagi dalam bentuk zakat, infaq/sedekah, wakaf, atau untuk kemanuasiaan. Masing-masing pilihan tersebut pun bisa kita khususkan lagi, seperti contoh di bawah ini.

Sumber dari www.dompetdhuafa.org

Mari #Jangan Takut Berbagi. Sebagaimana Allah berfirman yang artinya: “Perumpamaan orang-orang yang mendermakan (sedekah) harta bendanya di jalan Allah, seperti orang yang menanam sebutir biji yang menumbuhkan tujuh untai dan tiap-tiap untai terdapat seratus biji dan Allah melipat gandakan (balasan) kepada orang yang dikehendaki, dan Allah Maha Luas (anugerah-Nya) lagi Maha Mengetahui“. (QS. Al-Baqoroh: 261)

“Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Jangan Takut Berbagi yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa”


Salam,

Mira Humaira















fotolia.com

Cerita oleh Mira Humaira

Namanya Pily dan Eipy. Mereka bersahabat sejak kecil. Keduanya cantik sekali. Mereka adalah bunga istimewa. Satu berwarna putih bersih, satu lagi berwarna merah cerah.

Pily dan Eipy menghabiskan sepanjang waktunya di sebuah ladang milik Pak Bhadra. Di sana,  mereka bermain, berdendang, dan menikmati alam di setiap malam. Ya, selalu malam karena mereka hanya bisa terbangun ketika langit berubah hitam. Siang hari adalah waktu mereka terpejam. Oleh karena itu, orang-orang menyebut mereka sebagai putri-putri malam.

Pily dan Eipy saling menyayangi. Mereka bilang, mereka tak akan terpisahkan. Sampai kapan pun, Pily dan Eipy akan bermain bersama di ladang. Hingga pada suatu hari, di sore musim semi, Pak Bhadra membawa salah satu dari mereka pergi ke kota. Tentu Pily dan Eipy tidak menyadarinya karena mereka masih tertidur pulas.
***
Saat malam hari tiba.
"Uaaaah…," Pily menggeliat. Ia mengucek kedua matanya. Memasang telinganya lebar-lebar. Seketika Pily pun terperanjat, "Oh tidak, kenapa sepi sekali?” Tidak terdengar ramainya suara anak-anak bunga Wijaya Kusuma bertingkah-tingkah seperti biasanya.

Pily memandang sekitar. Ia tercengung. Bukan tempat biasanya. Semuanya berubah. 
“Dimana aku? Oh, Eipy. Dimana dia? Eipy…! teriak Pily panik. Matanya berkaca-kaca. Ia ketakutan. Pily kemudian menunduk. Ia menahan tangisannya agar tidak terdengar bising.

“Halo, apa kau baik-baik saja?” 
“Hai, hai Bunga putih, kau tidak mendengarku?”

Pily tersentak. Teriakan nyaring memekakkan telinganya.
“Hei, jangan menggangguku… tolong pergi!” seru Pily panik. Ia berusaha mengusir makhluk kecil itu dengan kedua tangannya.

“Oh, tenang saja, wahai Bunga putih! Aku tidak akan mengganggumu.” 
Rupanya seekor kunang-kunang dengan kerlip cahaya hijau yang sedang menyapa Pily.

“Aku Photinus. Kamu bisa panggil aku Photy. Kau siapa?”

“Pily. Namaku Pily.”

“Eh, kau menangis?”

“Aku tidak tahu kenapa aku di sini. Rumahku bukan di sini…,” ucap Pily sambil terisak-isak.

“Mungkin kau memang sudah tinggal di sini sekarang. Lihat, kau berdiri di pot yang indah. Pasti pemilikmu yang baru memberikannya khusus untukmu,” tutur Photy. “Kau terlihat bagus dengan pot itu, Pily!” tambah Photy mencoba menghibur.

Pily tidak mempedulikannya. Ia kembali diam. Kali ini, Pily menatap ke atas langit malam. Tapi tak lama kemudian, ia menangis lagi. Lebih kencang.

“Hiks… ini pesta bulan purnama dan aku di sini sendirian. Aku sedih. Aku ingin bertemu Eipy dan teman lainnya. Aku ingin pulaang ...!”

“Kau benar, Pily. Sekarang waktunya pesta bulan purnama. Jadi, kau tak pantas menangis. Hmm, coba lihat ke sana, Pily. Lihat!” Photy bersemangat menunjuk jauh ke arah bukit.

Saat itu juga mata Pily berbinar. Bibirnya tersenyum kecil. Ia menyeka air matanya. Menikmati pemandangan bagus di depan matanya.

“Indah sekali, Photy. Apa itu?”

“Mereka keluarga dan teman-temanku,” jawab Photy bangga. “Cantik, bukan? Kami sedang berkumpul dan cahaya kami bersinar serempak di malam ini.”

Pily masih meneteskan air mata, tapi kali ini ia menangis haru melihat keajaiban makhluk-makhluk kecil dengan cahaya yang dibawanya. Pily takjub melihat formasi cahaya yang tampak seperti gelombang aurora. Pily belum pernah menyaksikan ini sebelumnya. Dalam benaknya, Pily berharap bisa menonton kembali pertunjukan cahaya ini bersama Eipy.
***
Sejak saat itu lah, Pily selalu ditemani oleh Pothy. Di setiap malam, mereka tertawa dan bercerita satu sama lain. Pily pun lupa kesedihannya. Ia tidak merasa sendiri lagi. Pily sudah punya teman baru.
Namun tidak diduga, suatu malam, Pily dibuatnya sedih kembali.

“Maafkan aku, Pily. Waktunya kami harus tinggal menetap di bukit sana,” ucap Photy sambil berpamitan.

Pily mengangguk sedih. Namun bagaimana pun, ia tidak bisa menghalanginya. Pily peduli keselamatan temannya. Jika berkeliaran di dekat kota, Photy bisa terancam karena banyak manusia yang memburunya.

“Kamu janji ya, Pily. Jangan terlalu lama bersedih. Lihatlah sekitar! Kamu pasti akan punya teman baru lagi,” ucap Photy sambil pergi terbang dengan kerlip cahaya yang semakin lama tampak semakin meredup.

Tentu saja Pily tidak tahan menahan tangisnya. Ia sangat sedih. Tidak ada lagi teman bermain di malam hari. Tidak ada Eipy, juga tidak ada Photy. Namun Pily ingat janjinya pada Photy. Ia tidak akan terlarut lama dalam kesedihannya. Pily berusaha untuk tetap tersenyum dan mulai memandangi sekitarnya. 

Hingga pada suatu malam, tiba-tiba seorang gadis berambut coklat memindahkannya. Gadis itu menempatkan Pily di dekatnya. Mulanya, Pily tidak merasa nyaman. Namun malam berganti malam, setiap kali Pily membuka mata, ia melihat gadis  berambut coklat itu tersenyum padanya, menyapanya. Seolah mereka bisa berbicara satu sama lain.

Semakin lama, Pily merasa senang berada di dekatnya. Gadis berambut coklat itu baik dan menyenangkan. Walaupun Pily masih penasaran, mengapa gadis kecil itu terjaga di sepanjang malam? Bagaimana bisa… ayah atau ibunya tidak melarangnya keluar di tengah malam?

Tapi yang penting bagi Pily, ia sekarang tidak bersedih lagi. Seperti yang pernah dikatakan Photy, akhirnya ia punya teman baru lagi. Yaitu, gadis berambut coklat, yang setiap malam memegang pensil dan sebuah buku gambar, menemaninya.

Pily sadar tidak boleh terus bersedih karena mengingat teman-teman yang jauh. Ia bersyukur dengan keadaanya sekarang. Dengan itu, ia bisa merasa lebih baik dan senang. Pily juga percaya bahwa jika ia senantiasa bersyukur, ia akan dapat keajaiban.
***
Satu malam, gadis berambut coklat menyapa Pily dengan riang.

“Hai, Bunga Putih. Terima kasih selalu menemaniku menggambar di setiap malam. Aku senang kau jadi temanku. Imbalannya, aku akan memberimu hadiah,” tutur gadis kecil itu.

“Taraaa… ini dia! Aku membawakanmu teman baru agar kau tak sedih jika aku tak ada lagi di sampingmu,” 

Sebuah pot cantik berwarna kuning emas diletakkan di samping Pily. Tanaman cantik berdiri di atasnya. Pily menatapnya. Lalu tiba-tiba ia menjerit, 
“Eipy…!” 
“Pily…!”

berkat gadis itu, mereka pun akhirnya bertemu. Pily dan Eipy berpelukan, menangis, dan akhirnya tertawa bersama. Pily mendapatkan keajaibannya.
***
Baca cerita lainnya: Poppy juga Bisa!

Seandainya bisa berbicara pada gadis berambut coklat itu, Pily ingin menyampaikan rasa terima kasih dan mencium pipinya. Namun, rupanya sudah beberapa malam Pily tidak lagi melihatnya. 

“Kemana dia, ya, Py?” Pily penasaran bertanya.

“Maksudmu, gadis berambut coklat yang baik hati itu?” tanya Eipy meyakinkan.

“Tentu saja, siapa lagi”

“Gadis itu bernama Andrea. Mungkin ia memang tidak akan kembali, Pily. Kamu jangan sedih, ya!” 

Pily heran mendengar jawaban kawannya. “Maksud kamu, Py?”

“Aku mendengar ceritanya dari Pak Bhadra,” kata Eipy. “Andrea sakit. Ia harus tinggal di rumah sakit”

“Sakit? Hmm, pasti karena ia sering keluar malam,” Pily menduga.

“Andrea memang hanya bisa keluar di malam hari, Pily. Seperti kita, ia baru bisa bermain bebas saat malam mulai tiba,” jelas Eipy.

“Dia kan manusia. Bukankah Andrea bisa keluar di siang hari kapan pun ia mau”

“Tidak bisa, Pily. Ia tidak bisa terkena sinar matahari. Itu akan membuatnya sakit” 

“Andrea tidak terlihat seperti orang sakit. Ia selalu ceria,” Pily memastikan.

“Andrea itu gadis baik. Ia tidak banyak mengeluh dan selalu bersyukur. Makanya Andrea selalu terlihat senang,” jelas Eipy. “Aku mendengar itu dari papanya saat ia berkunjung ke ladang kita,” tambahnya lagi.  “Oh, ya, kau tau, Pily. Papanya memanggil Andrea juga dengan nama Putri Malam, seperti kita, hihi…”

Tak terasa Pily meneteskan air mata. Tiba-tiba ia teringat kebersamaannya dengan Andrea selama ini. Pily berdoa semoga ada keajaiban datang untuk Andrea.

“Jangan menangis lagi, Pily. Eh, lihat itu, ada banyak cahaya berkilauan di sana,” Eipy mengarahkan tangannya ke sebuah bukit.

Pily mengangkat wajahnya. Seketika ia tersenyum. Ia kembali terharu. Pily yakin itu adalah Photy bersama keluarga dan teman-temannya. 

Harapan Pily pun kembali terwujud. Malam itu, Pily dan Eipy, dua bunga Wijaya Kusuma, yang sedang merekah dan mewangi, bersama-sama menyaksikan pertunjukan cahaya kunang-kunang yang indah. Kali ini, dalam benaknya, Pily berharap kembali di suatu malam nanti ia akan menontonnya bersama Andrea.
***
Fajar pun tiba, Pily dan Eipy bersiap-siap untuk istirahat. Mereka akan tertidur seharian dan kembali terbangun di tengah malam.

-Selesai-

Catatan penulis:
  • Nama Pily dan Eipy diambil dari nama ilmiah bunga Wijaya kusuma. Yaitu, Epiphyllum anguliger. 
  • Bunga Wijaya Kusuma merupakan salah satu bunga istimewa karena hanya merekah saat malam hari. Oleh karena itu, bunga ini dijuluki sebagai Princess of the Night atau Queen of the Night. Saat mekar, bunga Wijaya Kusuma akan mengeluarkan bau wangi.
  • Photy diambil dari nama ilmiah kunang-kunang jenis Photinus. Spesies Photinus carolinus adalah jenis kunang-kunang yang bisa mengeluarkan cahaya serempak. Keberadaannya sekarang terancam punah.
  • Andrea, terinspirasi dari nama seorang gadis yang mengidap penyakit Xp atau xeroderma pigmentosum, yakni penyakit cacat herediter yang menyebabkan tubuhnya tak mampu memperbaiki kerusakan akibat sinar ultraviolet dari matahari. Ia tidak bisa bermain keluar saat siang hari demi menjaganya dari sinar matahari. Andrea divonis mengidap penyakit ini sejak umurnya 5 tahun.

Baca juga cerita lainnya: