Hualo Bundas, ngomong-ngomong, suka mati gaya saat mendampingi kegiatan anak? Bingung, mau berkreasi apa lagi bersama sang buah hati?

Yup, Kegiatan crafting bisa menjadi solusi untuk ide bermain seru bersama anak. Banyak pilihan bahan dan ide untuk berkreasi dari kegiatan ini. Nah, salah satunya adalah bercrafting dengan pipe cleaner. Kegiatan ini pasti disukai anak-anak loh. Bahannya mudah didapatkan plus harganya juga terjangkau. Dengan uang 10 ribu rupiah kita bisa dapatkan 10-13 biji pipe cleaner. 

Pipe cleaner adalah sejenis kawat yang berbulu. Ukurannya kecil. Alat ini bisa digunakan untuk kreasi aneka bentuk karena teksturnya yang lentur. Kawat bulu ini juga bisa dipakai untuk kegiatan meronce. Kegiatan meronce dengan pipe cleaner ini banyak manfaatnya loh. Yaitu, melatih fokus, konsentrasi, kesabaran, belajar menyusun, mengikuti pola, dan melatih otot kecil untuk meningkatkan keterampilan motorik halus anak.

So, udah siap eksekusi pipe cleaner-nya? kita bisa membuat apa saja ya dari kegiatan crafting pipe cleaner? Yuk, Simak ide berikut ini!

1. Kaca Mata Warna Gaol

Keren sekali bukan, kaca mata pipe cleaner ini? Kita bisa membuatnya cukup dengan 3 buah pipe cleaner. Setelah dieksekusi bisa dipakai juga loh. Yuk, coba bikin dan pakai seru-seruan bersama Ananda.






2. Boneka Jari


So Cute! Kolaborasi pipe cleaner dengan pompom ini bisa jadi finger puppet yang imut-imut. Manfaat dari bermain boneka jari ini dapat meningkatkan keterampilan komunikasi anak. Ayo, Berani coba?! 











3. Mahkota Pensil

Setuju kan, kalau punya pensil yang lucu dan unik bisa tambah semangat buat belajar, menulis, ataupun menggambar?.

Nah, Yuk bikin pensilmu menarik dengan aksesoris pipe cleaner diatasnya. Kuy, Bisa coba bikin bentuk heart, bintang, kupu-kupu, bunga, spiral, dan bentuk lainnya.


4. Ikan Manik-manik

Paling seru loh kalau membuat aneka bentuk binatang dari pipe cleaner ini. Lebih cantik juga ya ternyata kalau ditambah manik-manik warna-warni seperti ikan-ikan di samping ini.













5. Aneka Bunga Cantik


Paling favorit nih. Pipe cleaner ini bisa dibentuk menjadi aneka macam bunga yang cantik. Bukan cuma jadi mainan anak-anak. Pipe cleaner bunga ini bisa juga loh jadi pajangan di meja atau rak Bunda. Iya, kan?





6. Candy Cane

Saat pipe cleaner bertemu dengan manik-manik, pasti bakal jadi hasil kreasi yang keren. Kegiatan membuat candy cane seperti diatas melatih anak untuk bisa meronce dengan susunan tertentu. Lucu kan?











7. Ubur-ubur Pelangi


Wow! Tentakel yang berwarna-warni. Tentakel bergelombang ini bisa dibuat dengan bantuan pensil. Caranya, lilitkan pipe cleaner sepanjang ukuran pensil. Kemudian lepaskan atau cabut pensil secara perlahan. Coba lihat! Pipe cleanermu sekarang bergelombang  seperti tentakel ubur-ubur yang sedang bergerak-gerak lincah.






8. Ular Manik

Pastinya ini ular yang tidak menakutkan. Manik-manik glitter yang dirangkai dalam pipe cleaner ini membuat ularnya menjadi lucu dan menggemaskan. Kalau punya manik-manik beraneka warna tentunya kita bisa lebih berkreasi lebih banyak lagi loh.













9. Laba-Laba Berbulu

Tampak seperti nyata ya!.Pipe cleaner ini membentuk kaki laba-laba yang berbulu. Geli! Untuk membuat laba-laba ini kita cukup siapkan pipe cleaner, manik, mata mainan, dan pompom. Kuy! Buat dan mainkan!

Sumber gambar: Pinterest

Nah, mana nih ide favoritmu? Yuk langsung eksekusi dan selamat berkreasi!

(Foto: Pixabay)

Candy

Oleh Mira Humaira

Candy tersenyum membuka matanya. Ia berada di tempat baru. Rumah Bibi Laura. Mulai hari ini, Candy akan tinggal bersama Bibi yang mengasuhnya.

Nenek sudah pergi. Candy masih sedih. Tapi Bibi Laura juga baik seperti Nenek Berta. Rumahnya bertingkat. Ada taman yang luas dan bunga-bunga. Di belakang rumah juga ada kandang kelinci. Candy suka kelinci.
 
Kamar Candy ada di sebelah taman. Kamarnya bagus. Ada banyak boneka. Dari jendela kamar, Candy melihat taman Bibi Laura yang hijau luas. Ia tidak sabar menggoes sepedanya berputar-putar di sana.

"Candy… Yuk, makan dulu!" Bibi Laura memanggilnya. Waktunya makan siang. 

Candy lari bersemangat. Tiba-tiba di depan pintu kamar, Candy menjerit. Ia berlari kencang. Bibi Laura menangkapnya. Candy menunjuk kucing besar yang mengikutinya.

Persi. Itu nama kucingnya. Kucing kesayangan Bibi Laura. Persi berbulu panjang. Badannya gendut. Lucu. Tapi Candy cemberut. "Candy enggak suka kucing!"

Baca juga yuk: Ulil dan Tanaman Ajaib
***
Langit sudah gelap. Waktunya tidur. Candy tidur sendiri di kamar. Ia tidak takut. Candy sudah terbiasa sejak tinggal bersama Nenek Berta. Candy menarik selimut bergambar kuda poni lalu berdoa.
***
Sinar mentari pagi terasa hangat. Candy tersenyum melihat Bibi Laura sedang membuka jendela. Candy senang, tadi malam ia bisa tidur nyenyak. 

"Yuk, kita sarapan!" Ajak Bibi Laura.
 
Candy segera mandi dan berbaju rapi. Kemudian ia menuju dapur dengan hati-hati. Melirik ke kanan dan ke kiri. Ia takut berjumpa dengan Persi. Candy pun sampai di meja makan. Tidak ada Persi. Aman.
***
Candy tidak sabar ingin main sepeda. Garasi sepeda dekat dengan kandang kelinci. Di dalamnya, ada empat kelinci lucu. Ada yang berbulu coklat. Ada yang putih. Diam-diam Candy membuka pintu kandangnya. Mereka berlompatan keluar. Candy tertawa siap mengejar.
 
Candy naik sepeda mengejar para kelinci. Tiba-tiba ada yang ikut bergabung. Itu Persi. Persi mengejarnya. Candy panik. "Huaaaa...Persiiiii!"

Candy mengayuh sepedanya kencang. Berputar-putar di taman. Persi terus mengikutinya. Sepeda Candy pun oleng. Ia terjatuh. Persi mendekat lagi. Ia mengibas-ngibaskan bulunya ke baju Candy. Candy mengusirnya.

Candy mengusap-ngusap lututnya. Hanya lecet sedikit. Candy kembali mengangkat sepedanya. Ia masih mau bermain sepeda. Tapi kali ini Candy izin, mau bermain ke rumah Ruth. Rumah Ruth tidak jauh dari rumah Bibi Laura.
 
Candy melewati beberapa rumah. Ia tiba-tiba berhenti dan menggaruk kepalanya. Candy bingung. Ia lupa rumah Ruth. Candy ingat, rumah Ruth berwarna hijau. Tapi sudah agak jauh ia tidak bertemu rumah hijau
.
Candy mengayuh sepedanya lagi. Semakin jauh. Candy berhenti. Ia ada di sebuah taman. Candy mulai takut. Tidak ada yang ia kenal. Candy menyimpan sepedanya dekat pohon. Lalu duduk di kursi taman. Tiba-tiba terdengar suara kucing sedang mengeong. Candy terperanjat. Ia siap berlari lagi menuju sepedanya.

Tapi tiba-tiba Candy berbalik. Kucing itu tidak mengejarnya tapi tetap mengeong. Suaranya tidak menakutkan. Candy penasaran. Ia perlahan mendekati dengan hati-hati. Ia melihat lengannya sendiri. Bekas luka cakaran kucing waktu dulu masih ada.

Candy terkejut dari lamunannya. Tiba-tiba kucing berbulu hitam dan putih itu melompat mendekatinya. Candy terduduk dan kucing berada di pangkuannya. Candy menjerit. “Aku enggak suka kucing!”

Candy membuka  matanya pelan-pelan. Kucingnya masih mengeong. Masih duduk di atas baju dress-nya. Candy menatap mata kucing itu. Candy tersenyum. Tangannya mengelus kepala kucing. Kucingnya baik. Candy tidak takut lagi.

Tidak lama kemudian, Candy teringat lagi bahwa ia sedang tersesat. Tidak tahu arah rumah Bibi Laura. Candy terisak-isak. “Aku mau pulang!”

Kucing hitam putih itu mengeong kembali. Ia lalu mengendus-ngendus terus baju Candy. Candy terkejut lagi. Takut bajunya dirobek. Tapi kucing itu terus mengendusnya. Ia berputar-putar mengelilingi Candy berkali-kali.

"Eh, kamu ngapain kucing kecil?" Candy terus melihatnya lalu mengikutinya saat si kucing mulai berjalan. Si kucing seperti menunjukkan sesuatu. Candy segera mengambil sepedanya. Ia terus mengikuti ke mana si kucing berjalan.
 
Candy bersemangat mengayuh sepedanya. Ia mulai mengenali jalan yang ia lalui. Kucing itu benar-benar  menunjukkan jalan pulang.

Candy lega. Oh, itu rumah Bibi Laura mulai terlihat. Si kucing masih berjalan di depannya. 
Hampir sampai menuju pagar rumah. Bibi Laura berlari mendekati Candy. Memeluknya. Candy berteriak dan juga memeluk Bibinya. 

"Maafin Candy, Bibi Laura… Candy gak bilang dulu tadi mau pergi ". Bibi Laura tersenyum mengelus kepala Candy. 

Persi mengeong-ngeong saat melihat Candy dan si kucing hitam putih. Persi mengibas-ngibaskan lagi kepalanya ke baju Candy. Persi dan kucing hitam putih lalu berputar mengelilingi Candy. Candy tertawa.

Candy menggendong kucing hitam putih. "Makasih ya, Kucing kecil, udah anterin Candy pulang". 

Candy lalu menatap Persi. Ia pun berani menggendongnya. Persi mengeong menjilati Candy. Candy  tertawa lagi. Rupanya kucing hitam putih mengenali jalan pulang  Candy karena ia kenal dengan bau Persi yang menempel di baju Candy.
 
“Bibi Laura, aku tidak takut kucing lagi. Boleh aku ajak kucing hitam putih ini ke rumah juga?”
Candy memohon. Bibi mengangguk sambil tertawa.

(Tamat)

Terima kasih ya yang sudah mau mampir membaca cerita di sini
Salam Cinta,





Kelanjutan cerita sebelumnya, baca dulu di sini, ya Ulil dan Tanaman Ajaib (1)



Ulil dan Tanaman Ajaib (2)


Oleh Mira Humaira

“Siapa … siapa?” Gendis kepo ingin ikut melihat.

Aryo melihat dua anak perempuan yang tidak asing. “Loh, itu kan Sari sama Lani.” Aryo mendekati kedua anak itu sambil menggaet tangan Gendis.

“Sari, kamu lagi ngapain di sini?” Aryo langsung bertanya penasaran saat Sari hendak memetik daun-daun yang menggulung.

Sari tidak terlalu terkejut. Ia adalah teman sekelas Aryo di sekolah. “Eh Aryo dan Gendis. Nih, aku lagi ambil daun pakis,” jawab Sari santai sambil memasukkannya ke dalam keranjang.

“ Oh iya … iya, namanya daun pakis.” Aryo mengingat lagi.

“Itu kan tanaman kesayangan Gendis, kok diambil-ambil … memangnya daunnya mau diapain?” Gendis ikut bertanya dengan muka cemberut.

“Ya, dimakan. Tuh Lani suka banget sayur Pakis. Iya, kan, Lan?” Sari melirik Lani, adiknya yang berambut keriwil.

“Hah, daun ini bisa dimakan? Memangnya enak?” Aryo menyerobot.

“Enak dong, mamaku juga bilang sayur pakis itu bergizi seperti sayur bayam,” Lani mengacungkan jempolnya.

“Terus kenapa tanaman pakisnya sampai bengkok-bengkok gini, kan jadi jelek…” Rupanya Gendis masih memperhatikan tanaman paku-pakuannya. Ia masih sedih dan kesal.

“Ooh … iya, kemarin aku lihat ayam hutan main di sini. Dia kayak lagi mau nangkap sesuatu, ulat kayaknya.”

“Hah? Ulil!” teriak Gendis dan Aryo berbarengan.

Sari dan Lani terkejut. Mereka saling berpandangan. Tidak mengerti. Gendis menceritakan Ulil teman kesayangannya yang tinggal di daun pakis itu. Gendis jadi sedih lagi. Ia membayangkan Ulil sudah dilahap ayam hutan kemarin.

“Eh, eh bentar … lihat itu! Itu Ulil kamu bukan, Ndis?” Tiba-tiba Lani menunjuk ke arah daun menggulung yang sudah bengkok terinjak.

“Uliiiiil!” Gendis berteriak histeris.

Aryo, Sari, dan Lani tertawa melihat Gendis yang kegirangan bertemu dengan Ulil. Sari dan Lani pamit pulang duluan. Mereka membawa satu keranjang daun pakis muda untuk dimasak. Lani mau dibuatkan gulai pakis oleh mamanya. Gendis pun tidak marah lagi karena daun-daun pakis itu dipetik. Aryo menjelaskan pakis itu adalah tanaman liar jadi boleh diambil siapa saja.

Gendis dan Aryo bersiap juga untuk pulang. Tapi sebelumnya, Gendis mengajak Bang Aryo untuk memetik daun pakis dan membawanya pulang. Gendis suka makan sayuran. Ia jadi penasaran juga rasanya sayur pakis seperti yang dibilang Lani.

Baca cerita lainnya: Rahasia Pisang Merah
***
“Bu, masak ini, yuk!” Gendis menyodorkan seikat daun pakis kepada Ibu.

"Loh, dapet daun pakis dari mana, Ndis?" Ibu meraihnya.

Gendis menceritakan petualangannya mencari Ulil yang akhirnya bertemu dengan daun pakis ini kepada Ibu. Gendis bercerita dengan penuh semangat. Ibu tertawa mendengarkannya.

Gendis tidak sabar ingin tahu rasanya. Ia pun membantu Ibu untuk memasak daun pakis. Gendis mengikuti petunjuk Ibu untuk mencuci bersih daun pakis dengan air mengalir. lalu merebusnya sebentar dengan air garam.

"Hmm … sedaap!" Gendis menghirup bau tumis yang hampir jadi. Bau tumis buatan Ibu menggugah selera. wangi oseng bawangnya menggoda. Gendis semakin tidak sabar mau mencicipi tumis daun pakis.

Tumis daun pakis bikinan Ibu sudah jadi. Gendis dan Aryo pun segera mencicipinya.  “Waaah benar kata Lani, ternyata enak juga ya, Bang Aryo!” Aryo mengangguk setuju.

Gendis lahap menyantap tumis daun pakis hingga habis. Bumbu racikan ibu memang enak. Daun pakis memang punya rasa yang lezat. Lembut di lidah.

“Besok-besok, masak lagi ini ya, Bu!” Gendis mengangkat piringnya yang sudah kosong. “Nanti Gendis yang ambil sendiri deh,” Gendis mengacungkan jempolnya. Ibu mengangguk tertawa melihat gadis kecilnya bersemangat.
***
Gendis benar-benar memetik lagi daun pakisnya keesokan hari. Sekalian mengunjungi Ulil. Gendis ditemani Bang Aryo. Gendis memetik daun pakis cukup banyak. Keranjang sayurannya hampir penuh.

Bang Aryo mengajak Gendis pulang. Namun, Gendis bilang ingin memetik dulu daun pakis yang menempel di pohon. Daunnya agak tinggi. Gendis mencoba meraihnya. Sedikit lagi sampai, tiba-tiba Gendis tidak sengaja menyenggol sarang semut. Sekonyong-konyong, semut-semut berbadan besar keluar dari sana. Gendis mengedau,“Aaaw ... aw … aw!!” Gendis menggaruk-garuk lengan kirinya. Gendis digigit semut merah besar.

Bang Aryo mengajak Gendis berlari lalu menuju Ibu di dapur. Ibu terkejut melihat Aryo dan Gendis berlari panik. “Loh ... loh ... kenapa? Ndis, Yo?”

Gendis mengulurkan lengannya. Lengan kiri Gendis merah dan bengkak. Gendis merengek.
“Eh, jangan digaruk dulu, Ndis!” Ibu memerhatikan lengannya.

“Aryo, bawain daun pakisnya sini!” pinta Ibu kepada Aryo yang masih memegang keranjang sayurnya. Aryo dan Gendis saling bertatapan. Mereka belum tahu apa yang akan dilakukan Ibu.
Ibu mengambil beberapa daun pakis lalu menggerusnya sebentar di ulekan. Kemudian ibu menempelkan daun yang sudah hancur itu di lengan Gendis.

“Biarkan dulu ya, nanti gatalnya reda,” Ibu menepuk-nepuk lembut daun pakis di tangan Gendis.

“Woow, daun pakis bisa jadi obat juga ya, Bu?” Aryo terkagum-kagum.

Gendis dan Aryo saling memandangi lagi. Mereka takjub dengan daun pakis. Selain enak dimakan, daun pakis juga bisa jadi obat gatal karena gigitan serangga seperti semut. Setengah jam kemudian, lengan Gendis sudah baikan. Tidak gatal lagi. Tinggal bengkak sedikit. Ibu juga selesai memasak.

“Gendiis, Aryo! Yuk, makan dulu!” Ibu memanggil dari dapur. Gendis dan Aryo bergegas menghampiri.

“Ayo, siapa yang mau gulai daun pakis?” Gendis dan Aryo mengacungkan tangannya. Berebut ingin duluan mencicipi.

“Hoo, baunya sedaap!” Gendis mengendus makanannya. Gendis senang Ibu pandai memasak berbagai jenis olahan sayuran. Gendis mesem-mesem melihat gulai daun pakis di mangkuknya.

“Loh, malah senyam-senyum,” Bang Aryo mengagetkan Gendis.

“Gendis inget Ulil!”

Ibu dan Aryo seketika tertawa. Gendis juga ikut terkekeh sendiri.

“Ayo makan dulu. Keburu dingin.”

Gendis dan Aryo menikmati gulai daun pakis bikinan Ibu dengan lahap.
***
Musim hujan mulai datang. Tanaman pakis semakin banyak tumbuh di musim ini. Tapi Gendis sudah tidak terlalu sering main ke dekat sungai. Karena jalanan lebih licin. Apa kabar Ulil? Gendis sudah jarang melihat Ulil. Tapi Gendis tidak terus bersedih. Malah Gendis berpikir Ulil sudah berubah menjadi kupu-kupu cantik. Terbang meliuk-liuk di taman.

Gendis tersenyum. Ia sedang memainkan seekor ulat kecil di tangannya. Kali ini berwarna kuning kecoklatan. Teman barunya itu bernama Ucok. Gendis menemukannya di pohon tomat.
***

Baca juga yuk: Arnold dan Buku Ajaib

(Tamat)
Yee terima kasih ya yang sudah mampir baca cerita anak di sini 

Salam Cinta,



(Foto: Pixabay)

Ulil dan Tanaman Ajaib (1)

Oleh Mira Humaira

Gendis punya teman baru. Ia  seekor ulat bulu. Gendis memberinya nama Ulil. Gendis bertemu Ulil di belakang rumah. Sekarang Ulil tinggal di toples kaca, di atas meja belajar Gendis. Badan ulil kecil. Lembut dan kenyal seperti permen jeli. Gendis suka tertawa saat melihat ulil berjalan.

Gendis sering memainkan Ulil di tangannya. Ulil bikin geli tapi menggemaskan. Gendis menyimpan Ulil kembali di toples setelah puas bermain dengannya. Tapi, hari itu Gendis lupa menutup toples. Saat kembali ke kamar, Gendis terkejut. Ulil tidak ada.

Gendis menyingkirkan buku-buku di atas meja. Duh, Ulil kemana ya? Kemudian Gendis melihat-lihat ke bawah meja. Ulil tidak juga terlihat. "Buu … Ibu lihat Ulil, enggaaak?" teriak Gendis tapi Ibu tidak menjawab. “Bang Aryooo … lihat enggak?” ia juga memanggil kakaknya.

Gendis sedih. Ulil hilang. Gendis mengecek lagi sekitar meja. Lalu ia melihat ada sedikit bekas basah di dinding. Tampak seperti ada yang lewat di sana. Gendis mengambil kaca pembesar di dalam laci. Menyelidikinya.

Gendis mengangkat alisnya. Ia menemukan sesuatu. Aha, itu jejak Ulil. Ulil pasti ke luar lewat jendela. Gendis terus menyelisik kemana perginya Ulil. Sampai di luar kamar, Gendis mengamati pohon tomat dekat jendela kamarnya. "Aduh, enggak ada juga. Kemana sih Ulil?"

Gendis memeriksa beberapa pohon lagi. Menyingkap rerumputan yang dilaluinya. Sampai ia tiba dekat sungai di belakang rumahnya. Gendis sudah mulai lelah tapi tiba-tiba matanya terbuka lebar lagi. Ia melihat kumpulan berwarna hijau terang tampak menggeliat.

"Itu dia!" Gendis mendekat. Ia memicingkan mata lewat kaca pembesarnya. Tangannya cepat menggapai makhluk kecil hijau di depannya. "Uliiiiil …!" Gendis girang. Namun tiba-tiba muka Gendis senderut. “Eh, bukan." Rupanya itu hanya tanaman berwarna hijau.

Gendis meraba-raba lagi. "Ini mirip Ulil." Ia mulai penasaran. Gendis memetik pucuk tanaman itu. Mengamatinya. Bentuknya meliuk-liuk, melingkar. Keriting, berkeluk-keluk seperti kaki-kaki Ulil. Gendis memencet-mencetnya. Eh, lunak dan kenyal juga seperti badan Ulil. "Ini apa ya, kok mirip banget sama Ulil?"

Baca cerita anak lainnya yuk: Rahasia Pisang Merah
***
“Udah ketemu si Ulil?” tiba-tiba suara Bang Aryo mengagetkannya. Rupanya sang kakak mengikutinya. Gendis yang sedang jongkok berdiri mendekati abangnya.

“Enggak ada, Bang. Malah ketemu ini. Kayak Ulil. Ini apa, ya?” Gendis antusias menunjuk tanaman yang baru dilihatnya.

“Hmm … kayak tanaman paku-pakuan. Tapi lupa lagi sih namanya apa,” jawab Aryo  sambil mengusap-ngusap dagu.

“Oooh …” Gendis mengangguk-anggukan kepala. Ia masih kepincut dengan tanaman hijau itu. Gendis memegang-megang pucuk daunnya. Memperhatikannya. Tanaman itu tumbuh liar. Ada yang tumbuh di dekat bebatuan sungai. Ada juga yang menempel di pohon-pohon besar. Gendis suka tanaman itu.

“Lucu ya, Bang Aryo. Lihat, daunnya menggulung-gulung.” Gendis berbinar-binar bertemu dengan tanaman yang baru kali ini dilihatnya.

“Mirip Ulil,” tambah Gendis sambil tertawa kecil. “Eh iya, Ulil!” Gendis teringat lagi Ulil yang sedang dicarinya.

“Liiil … Uliil!” Gendis kembali lagi mencari Ulil di sekitar. Bang Aryo juga menemaninya.
“Kemarin kamu dapet Ulil dari mana, Ndis?”

“Tuh … !” Gendis menunjuk pohon sirsak tidak jauh dari sana.

Aryo pun mengajak Gendis untuk mencarinya kembali di sana, di pohon sirsak.
Gendis mengamati batang pohon sirsak dengan jeli. Saat mencari Ulil di sana, tidak sengaja Gendis menyentuh sesuatu berwarna coklat. Seperti selimut daun yang membungkus benda di dalamnya.

 “Eh, ini apa?” Gendis penasaran. Ia hendak meraihnya.

 “Eits, jangan diganggu, Ndis!”Gendis terperanjat.

“Itu kepompong. Enggak usah diganggu. Nanti bakal jadi kupu-kupu,” Bang Aryo menerangkan.
Bang Aryo bercerita kalau ulat akan berubah jadi kepompong. Kemudian jadi kupu-kupu.

“Berarti ... Ulil juga?” Gendis kepo.  Bang Aryo menganggut.

“Tapi ... kalau Ulil tinggalnya di toples, ya enggak bisa jadi kupu-kupu ...” Bang Aryo bilang sambil terkekeh.

Gendis manyun. Ia membayangkan kalau Ulil jadi kupu-kupu pasti cantik. Tapi … berarti Ulil enggak boleh diajak tinggal di toples di kamarnya. Gendis melamun sesaat. Sampai tiba-tiba terdengar suara Aryo mengedau, “Aaw … auw tolong, tolong … apa ini?”
Aryo meraba bagian tengkuknya sambil bergidik. Gendis mendekat. Berjinjit melihat kepala belakang Aryo.

“Hahaha …Uliiil! Ini Ulil” Gendis tertawa dan meraih ulat mungil di tengkuk Aryo. Aryo bergidik. Geli.

Gendis kegirangan. Ia memainkan Ulil di tangan. Mengecupnya. Aryo yang melihatnya tambah bergidik. Gendis lalu mengambil toples kaca dari kantongnya. Hendak memasukkan Ulil.

“Eh, enggak usah deh. Kamu jangan tinggal di toples. Biar bisa jadi kupu-kupu!” Gendis berbicara  pada Ulil. Ia menyimpan kembali toples kacanya. Gendis menyimpan Ulil di telapak tangannya. Kemudian ia berjalan mendekati sungai lagi. Rupanya Gendis menuju tanaman paku-pakuan tadi.

“Ini tanaman kesayangan Gendis sekarang. Nah, kamu tinggal di sini aja, ya, Ulil.” Gendis meletakan Ulil di daunnya. Lalu menepuk-nepuk lembut kepala Ulil.

“Besok aku main lagi ke sini ya, Ulil.” Gendis melambaikan tangan pada teman kecilnya. Sekarang Gendis punya dua kesayangan. Ada Ulil, juga si tanaman paku.
***
Keesokan hari, Gendis tidak bersabar ingin menengok Ulil. Menjelang siang, ia menuju lagi ke sungai. Bersemangat. Namun, sudah tiba di dekat sungai, Gendis membuka matanya lebar. Satu tangannya menutup mulutnya yang membulat. Gendis terperangah.

Muka Gendis muram. Daun-daun yang menggulung itu sebagian hilang. Sebagian menjadi bengkok-bengkok seperti terinjak. Tanaman pakunya rusak.
Ulil!

“Daun-daunnya pasti dimakan Ulil!” pikir Gendis kesal.

Mata Gendis kembali melirik batang tanaman yang miring-miring rusak. “Terus ... siapa yang merusak ini?” Gendis mulai terisak. “… atau jangan-jangan Ulil juga keinjak,” Gendis menangis.

Gendis pulang ke rumah masih sesenggukan. Ia menceritakan semuanya pada Bang Aryo.
“Besok, kita intip bareng-bareng. Kita ke sana lebih pagi, ya. Kita tangkap pelakunya!” ajak Aryo bak detektif sambil menghibur sang adik. Gendis mengangguk antusias.

Baca juga cerita lainnya: Moni Hilang
***
Gendis siap dengan topi rimba hijau miliknya. Tidak lupa, Aryo juga membawa teropong mainannya. Mereka bersembunyi di balik semak. Gendis dan Aryo menunggu siapa  yang datang mendekati si tanaman paku.

“Eh … Bang, Bang Aryo! Itu kedengaran ada suara yang datang,” Gendis menarik-narik jaket Aryo.

“Sssstt … jangan berisik, Ndis!” Aryo mengangkat teropongnya. Menilik dari kejauhan.

(Bersambung ...)

Masih mau lanjutan cerita Amir, Abah, dan rahasia pisangnya. Yuk simak di sini ya!

Cerita sebelumnya: Rahasia Pisang (1)

(Sumber: cookingmelbourne.com)

Rahasia Pisang Merah (2)

Oleh Mira Humaira

Keesokan harinya, Amir bersama kawan-kawan sukses dengan tugas IPA-nya. Praktek bikin bolu pisang juga berhasil. Di sekolah banyak yang penasaran dengan pisang yang dibawa Amir. Katanya unik dan enak. Amir senang. Ia pun pulang girang.

“Ambuuu … !” Amir memanggil Ambu. Tampak Ambu sedang berdiri menunggu seseorang.

“Ambu nunggu siapa? Kok kayak panik, Ambu?” Amir mendekati Ibu sambil melongok ke kanan dan ke kiri.

“Ya nungguin Abah. Tadi Abah marah-marah katanya ada yang curi pisang spesialnya itu,” Ambu menjelaskan. Mencuri? Pisang spesial? Amir ikut penasaran.

Tiba-tiba terlihat Abah datang dari kejauhan. Amir melihat abah berjalan cepat dan menghentak. Muka abah serius. Berkeringat. Amir tidak berani berkata-kata kalau Abah sedang begitu. Ia bergegas ke dalam setelah Abah menyuruhnya masuk untuk mengambil air teh.

“Pohon pisang yang Abah maksud teh yang mana?”

“Itu Ambu. Pisang Merah,” Abah lemas berbicara. Abah kelelahan setelah berkeliling kebun.

Euleuh, pohon pisang merah yang dari Pak Vijai dulu itu, Bah?” Ambu ikut kaget. Abah menganggut.

Pisang Merah? Deg! 

Langkah Amir terhenti. Ia mematung di dekat pintu. Cangkir teh di tangannya bergetar. Amir panik. Pisang merah yang dimaksud Abah? Apa itu pisang yang disebutkan tadi di sekolah oleh ibu guru? Ibu guru menyebut pisang yang dibawa kelompok Amir adalah jenis pisang merah.

Tubuh Amir masih tertahan di balik pintu. Ia mendengarkan Abah dari sana. Amir semakin terperangah. Rupanya pisang merah itu pisang istimewa di kebun Abah. Pohonnya masih langka. Belum banyak ditanam di daerah Indonesia. Abah mendapatkan pohon kecilnya dulu dari seorang teman. Pak Vijai namanya, orang India. Pisang merah aslinya berasal dari India.

Perasaan Amir tidak karuan. Ia takut campur sedih. Amir mengucek matanya dengan tangan kiri berkali-kali. Ia mengusap matanya yang berair.

“Looh, Mir … mana air teh Abah?” Ambu melihat Amir yang sedang mengintip.

Amir berjalan. Ia menahan gelas di tangannya tetap aman, tidak bergetar. Kemudian abah meneguknya. Tiga kali tegukan dan habis. Abah lanjut istirahat di kamar. Amir tidak tega melihat Abahnya. Pasti pohon pisang itu berharga sekali untuk Abah.

Malam itu Amir masih takut. Takut ketahuan. Amir belum berani cerita ke Abah ataupun Ambu. Amir terisak. Ambu menghampiri saat melihatnya menangis. Amir berbaring.  Matanya merah. Ambu tahu Amir menangis karena matanya sakit. Bukan karena takut atau sedih.

“Duuh kasihan cucu Abah. Abah juga jadi inget pisang merah …” kata Abah sambil mendekat.

“Udah atuh Bah, kan masih bisa berbuah lagi nanti, Bah,” kata Ambu menghibur.

Amir mulai tidak enak hati lagi. Abah dan Ambu membahas pohon pisang merah lagi.

“Iya, harus lama nunggu lagi. Tadinya Abah pengen cepet kasih buat Amir. Biar sehat matanya,” Abah bercerita sedih, membuat Amir terperanjat.

“ Maksud Abah, pisang merah spesial itu yang buat mata Amir teh?” Ambu penasaran.

“Ya … memang bukan untuk mengobati secara langsung sih, Ambu.” Abah  bercerita kalau pisang merah ini spesial. Beda dari pisang lainnya yang ada di kebun Abah. “ Eh sekarang udah pas waktunya matang, malah keburu gak ada. Belum rejeki kamu, Mir,” Abah terkekeh sambil menepuk-nepuk pundak Amir. Amir semakin merasa bersalah.

“Abah enggak pernah cerita kalau punya pisang merah spesial di kebun,” kata Amir cemberut.

“Kan itu tadinya rahasia. Tadinya Abah teh  mau kasih kejutan buat Amir dan Ambu,” Abah berbicara sambil tertawa. Abah kogel ingin kasih pisang itu ke Amir yang kebetulan lagi sakit mata. Abah juga ingin Ambu mencobanya karena pisang merah rasanya enak sekali.

Amir jadi penasaran dengan si pisang merah. Malam itu juga, Amir membuka kembali komputernya. Berselancar mencari tahu rahasia pisang merah. Amir takjub. Benar kata Abah, pisang merah memang istimewa. Rasanya lebih enak dan teksturnya lebih lembut. Amir sudah membuktikannya sendiri. Kulitnya berwarna merah keunguan. Dan ya, pada mulanya memang berasal dari India. Amir mengingat lagi nama Pak Vijai yang dibilang Ambu. Pisang merah juga punya banyak khasiat. Salah satunya untuk kesehatan mata.

“Pisang Ajaib. Hmm … Nanti aku mau jadi pengusaha pisang merah ah!” Amir berkata pada dirinya sendiri sebelum tidur. Ia terkagum-kagum dengan pisang merah. Amir jadi tidak sabar menunggu pohon pisang merah Abah bisa dipanen lagi.

Baca juga yuk: Sampul Buku Didit
***
Keesokan harinya, Amir izin tidak sekolah. Amir diantar Abah ke dokter mata. Hasilnya, Dokter menyarankan Amir memakai kaca mata. Abah membelikannya.

“Kata dokter minusnya belum parah. Sekarang pakai saja dulu kaca mata. Nanti kalau pohon pisang merah Abah udah berbuah lagi, makan nah yang banyak!” Abah tertawa sambil berjalan.

Melihat Abahnya itu, sekonyong-konyong Amir langsung memeluk Abah. Erat. Ia menangis. Kemudian Amir bercerita semuanya. Ia meminta maaf. Amir menyesal sudah mengambil pisang spesial Abah.

Euleuh-euleuh… rupanya kamu sama kawan-kawanmu itu?” Abah bertanya kembali sambil tertawa.

“Abah enggak marah sama Amir?” Amir melihat kedua mata Abah.

“Laah kalau ternyata cucu abah sendiri yang makan pisangnya, ya sudah enggak apa-apa,” Abah mengusap-ngusap rambut Amir. Mereka tertawa bersama. Abah tidak marah karena Amir sudah berani berkata jujur.

Euleuh,  cucu Ambu jadi pakai kaca mata?” Muka Ambu sedikit terkejut. Amir dan Abah
tersenyum. Ambu sudah menunggu di depan teras. “Ayo ayo masuk. Ambu udah siapin kolak pisang nah. Ada tamu juga tuh di dalam,” suruh Ambu cepat-cepat.

Amir senang rupanya Uak Asep yang datang berkunjung. Semuanya berkumpul. Asyik mengobrol di ruang tamu sambil menyantap kolak Ambu.

“Oh iya, Bah. Itu Asep bawa titipin buat Abah dari teman Abah tea. Pak Vijai.”

“Pak Vijai orang India itu, Uak?” ujar Amir antusias mendengar namanya.

“Iya, tapi kan sekarang mah udah jadi orang Jakarta. Itu … dibawain oleh-oleh pisang merah, sekalian sama bibit pohon pisang merahnya.”

Sontak Abah, Ambu, dan Amir saling berpandangan. Amir teriak saking gembira. “Ye…ye…yee!!”. Abah terus menyebut Alhamdulillah. Mereka tertawa bersama.


Uak Asep bingung tidak mengerti. Tapi, Uak Asep ikut terbawa suasana senang di antara mereka. Semuanya terlihat bahagia. Amir pun langsung sigap membantu Uak Asep untuk mengambil pisang merah di bagasi mobilnya. Asyik, pisang merah!

(Tamat)

Terima kasih ya yang sudah mampir membaca cernak di sini.

Salam Cinta,

Sumber: food.ndtv.com

Rahasia Pisang Merah (1)

Oleh Mira Humaira

Suara geledek terdengar keras. Amir terkinjat. Kepalanya berputar ke kanan dan ke kiri. Langit sudah gelap. “Duh, Bah, pulang aja yuk, Bah!” Amir menepuk pelan lengan sang kakek.

Satu lagi nah!" tunjuk Abah Mansur ke sebuah pohon pisang. " Sok ambil, Mir!" tambah Abah. Amir mengucek matanya berkali-kali. Ia juga menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Alih-alih diajak segera pulang, ia malah disuruh naik satu pohon lagi. "Duuuh,  Abah!"

 “Ini, Bah!” Amir mengelap keringat di dahinya. Ia tersenyum. Satu tandan pisang sudah didapatnya. Amir beruntung pohon pisang yang terakhir tadi tidak terlalu tinggi. Jadi ia bisa cepat menunaikan tugas dari Abah. Abah sedang panen pisang. Amir sudah biasa membantu Abah saat panen.

Hujan turun deras saat Amir dan Abah sudah tiba di rumah. Amir membantu Abah menyimpan keranjang-keranjang pisang di gudang dekat dapur. "Hmm ... wangi goreng pisang Ambu nih." Ambu melempar senyum sambil menyodorkan sepiring pisang goreng. Pisang goreng Ambu bikin ngiler. Harum, masih panas dan crispy.

Hampir setiap hari Amir disuguhi olahan pisang oleh Ambu. Ia tidak pernah bosan. Amir suka sekali pisang. Bukan hanya senang memakannya. Amir mulai suka mempelajari tentang jenis olahan pisang.
"Oia, Ambu. Kalau di kota, sekarang lagi ngtren banana nugget. Nugget pisang. Coba bikin yuk, Ambu."

"Tau dari mana, Mir?"

"Ya ... buka internet atuh, Bah," jawab Amir sambil mengucek-ngucek matanya lagi.

"Eh, eh, kenapa? Sakit mata, Mir?" Ambu menghampiri Amir.

"Atuh da keseringan di depan komputer kamu, Mir," kata Abah.

"Belajarnya anak zaman sekarang mah harus banyak depan komputer sama internet ya, Mir?" tanya Ambu dengan wajah khawatir.

"Ya … biar enggak ketinggalan jaman, Ambu. Apalagi kan nanti Amir mau lanjut SMP di kota sama Uak Asep."

Amir tersenyum. Tapi ia melihat raut wajah abah dan ambu kesayangannya tampak sedih. Amir meneruskan lagi mengunyah pisang goreng crispy Ambu. Matanya masih perih juga.

Baca cerita anak lainnya: Asrama Aida
***
"Bu ... Ambu! Abah di mana, ya?"

Ambu bergegas menghampiri Amir. Satu telunjuknya menutup bibir. Tanda tidak boleh berisik. "Sst ... ssst, itu Abah lagi tidur. Ada apa?"

Amir minta izin mau mengambil pisang bersama teman-temannya di kebun Abah. Amir perlu pisang yang sangat matang di pohon. Ada tugas pelajaran IPA di sekolah. Sekalian untuk ujian praktek bikin bolu pisang. Ambu mengiakan. Amir dan kawan-kawan pamit.

“Ki, kamu yang manjat, ya. Kamu kan yang paling jago!” Amir menyuruh Iki. “Tuh, yang sebelah sana ada beberapa yang udah mateng pisan,” jelas Amir.

Iki tidak ragu mengacungkan jempol tanda setuju. Walau tubuhnya paling mungil di antara kawan-kawannya, tapi urusan manjat-memanjat Iki yang paling berani.

“Eh, eh … Mir, bentar.  Itu tuh, tuh lihat di sana. Kayaknya ada pisang yang udah kematengan banget, tuh. Malah kayak udah busuk, Mir!” teriak Iki yang sudah di atas pohon menunjuk ke sebuah pohon dekat pagar.

“Ah, masa? Yang mana? Turun dulu sini, Ki!” Amir belum yakin. Iki tidak jadi mengambil pisang. Ia kembali turun mendekati kawan-kawannya. Iki menunjukkan lagi pohon pisang yang tadi ia maksud.
Amir memicingkan matanya ke arah pagar. Pandangannya sedikit buram. Kepalanya melongok. Tiba-tiba Amir merasa pusing. Kepalanya kliyengan.
 Bruk!
Amir menabrak tiang depan saung. Jatuh. Amir mengusap-ngusap kepalanya. Menggosok lagi matanya.

“Kunaon atuh, Mir?” tanya Isal, dengan gaya khasnya yang selalu berbahasa sunda.

“Sakit mata nih dari kemarin. Malah jadi pusing begini,” jelas Amir sambil berdiri kembali ditolong Isal. Isal mengajak Amir untuk beristirahat dulu. Isal mengajukan usul ambil pisangnya besok lagi. Tapi Iki tidak setuju.

“Kalau enggak sekarang, kapan lagi, Sal? Kan, buat besok,” tegas Iki.

Amir malah setuju dengan Iki. Ia memastikan dirinya tidak apa-apa. Mereka melanjutkan misinya untuk memetik pisang-pisang yang sudah matang. Amir juga masih penasaran pohon pisang yang ditunjukkan Iki tadi.

Amir dan Isal mengikuti Iki. Mereka menuju pagar belakang. Pelan-pelan mereka mendekati satu buah pohon. Pohon itu tidak berjajar dengan yang lainnya. Ia seperti tumbuh sendiri. Lebih tinggi dari rata-rata pohon lainnya.

“Lihat tuh buahnya, Bro!” Iki menunjuk ke atas. Amir dan Isal mendongak. Memperhatikan dengan jeli.

“Pisang naon eta, Mir? Beda dari yang lain, ya?” Isal memegang dagunya tanda penasaran. “Apa memang beneran udah mateng pisan, gitu, Ki?” sambung Isal menoleh pada Iki.

Amir mengamatinya dari bawah. Ia mengingat-ingat sebelumnya tidak pernah melihat pohon ini kalau keliling sama Abah. Amir juga sedikit aneh dengan warna buah pisang itu. Tidak seperti biasanya, hijau atau kuning. Buahnya kemerahan. Gemuk-gemuk. Amir sedikit terpukau. Pisang apa ini ya?

“Gimana, Mir? Ambil yang itu aja?” tanya Iki yang sudah bersiap memanjat.

“Eh nanti dulu atuh, Ki,” Isal menyela. “Beneran gak apa-apa gitu, Mir? Nanti gimana Abah?” Isal ragu. Amir masih berpikir.

Abah? Amir kepikiran. Hmm, tapi Abah belum pernah mengajaknya melihat pohon ini. Abah juga tidak cerita apa-apa. Berarti pohon pisang itu tidak istimewa. Sama saja. Malah sayang jika tidak diambil sekarang. Warnanya terlihat sudah coklat kemerahan pula. Takut keburu busuk.

Amir memberikan tanda Oke pada Iki. Iki menaiki pohon tinggi itu dengan sigap. Alih-alih takut, ia kelihatan seperti bersenang-senang saat memanjat pohon.

Iki berhasil mengambil satu tandan pisang yang hanya terdiri dari beberapa sisir. Amir, Isal, dan Iki dibuat takjub. Dilihat dari dekat, buah pisang itu memang beda dari pisang biasanya. Warnanya memang kemerahan tapi bukan karena busuk. Buahnya masih segar dan besar. Gemuk juga empuk. Menggoda untuk dicoba.

“Wah, mantap ini pisang. Cobain dulu, yuk. Enak kayaknya,” Amir yang doyan pisang tentu saja ingin segera mencoba. Ia juga mengajak Iki dan Isal mencicipinya.

Asli … ini mah enak pisan, Mir!” Isal mengacungkan jempol sambil mengunyah pisangnya.
Mereka tertawa bersama. Amir dan kawan-kawan sangat menikmatinya. Hampir satu sisir pisang habis dilahap saat itu juga di saung Abah.

Setelah kenyang makan pisang, Amir merasa puyeng lagi. Matanya perih. Ia menggosok mata berulang kali. Akhirnya mereka memutuskan untuk segera pulang. Amir menitipkan sisa buah pisangnya kepada Iki. Rumah Iki yang paling dekat ke sekolah. Jadi, Iki yang akan membawanya ke sekolah. Isal kebagian membawa cetakan bolu dan peralatan lainnya.

Baca cerita lainnya, yuk: Bernard dan Tempat Rahasia
***
Amir sampai di rumah. Abah dan Ambu sedang duduk-duduk santai di bangku depan rumah. “Udah dapet pisangnya?” tanya Abah. 

“Udah, Bah. Sebagian dimakan juga di sana,” jawab Amir tertawa. “Oo, iya, Bah. Pohon pisang yang … ,” Amir belum selesai bertanya. Ambu keburu menarik tangannya yang sedang mengucek mata dari tadi.

“Ini beneran lagi sakit mata?” Ambu mendekat. Memeriksa. “Udah sana mandi dulu aja. Nanti Ambu lihat lagi sekalian diobati,” ujar Ambu sedikit ngomel. 

Abah tersenyum menggelengkan kepalanya. Akhir-akhir ini, Amir sering merasakan matanya perih. Kepalanya puyeng. Benar kata Abah mungkin karena Amir sering di depan layar komputer. Ambu menasihati Amir agar tetap menjaga kesehatannya. Jangan terlalu lama depan layar komputer. Istirahat yang cukup. Juga makan buah dan sayur yang sehat. “Nanti Ambu bikinin sup wortel. Makan yang banyak!” Amir tersenyum memeluk Ambu.
 
“Ada juga pisang yang  bagus buat jaga kesehatan mata. Nanti Abah ambil dari kebon,” sambung Abah. Amir dan Ambu langsung tertawa kompak.

“Atuh, Baah pisang mah … hampir tiap hari juga makan pisang,” Amir masih terkekeh.

“Eits … ini mah pisang spesial. Nanti, pokoknya Abah bawain buat cucu abah paling kasep,” jelas Abah mantap. Amir melirik Ambu. Ambu mengangkat pundak tidak tahu pisang apa yang Abah maksud.

(Bersambung ...)

Ayo kira-kira pisang spesial apa ya yang dimaksud Abah. Baca kelanjutannya ya!



Siapa yang nunggu kelanjutan cerita Aida? Yuk ini dia kelanjutan cerita Asrama Aida (1)

Asrama Aida (2)

Oleh Mira Humaira

Aida tidak bisa mesem-mesem lagi kali ini. Mukanya serius. Ia bisa menebak apa yang terjadi di dalam. Aida segera menghampiri. Mengasongkan kunci kamarnya. Ustadzah Rani cepat-cepat membuka pintu kamarnya.

Ustadzah Rani masuk terkejut. lantai kayu dekat kamar mandi tergenang air. Tidak terlihat begitu banyak karena air yang melewatinya pasti sudah menetes ke bawah.

"Kamar mandi!" seru Aida. Ia segera membuka pintu kamar mandi. Blas! suara terjangan air yang cukup banyak melimpah ke luar. 
Aida dan Ustadzah Rani mundur. Di bawah terdengar teriakan.

"Aaaaahhh … Astaghfirullah!"

 "Kenapa ini, Ustadzah Rani?!" Ustadzah Anisa berteriak dari bawah mengonfirmasi.

"Banjir dari kamar mandi atas, Ustadzah!" jawab Ustadzah Rani dari balik tembok pagar atas. Aida menutup muka dengan kedua tangannya. Gawat!

Kamar 04 di bawah kebanjiran. Kena imbasnya. Posisi dan letak kamar 04 dan kamar Aida sama persis. Jadi, kasur dan lemari kamar 04 yang posisinya tepat dekat kamar mandi  dipastikan basah semua. Kena air dari atas. Lantai kayu di atas memang bercelah. Jika ada air yang tumpah bisa merembes. Apalagi, kali ini air datang seperti banjir. Pasti bocor besar.

Sepulang sekolah, semua anggota kamar 04 dan 10 dikumpulkan. Meraka diberi arahan oleh Ustadzah Rani dan Ustadzah Anisa. Sebelumnya, tidak pernah kejadian separah ini. Pernah terjadi hanya rembesan kecil saja. Kak Fani sebagai ketua kamar 04 pernah menegur dan mengingatkan anggota kamar 10.

Tentu saja, kali ini  pasti Kak Fani lebih kesal. Sejak tadi ia bermuka masam pada Aida. Aida juga merasa bersalah. Bagaimana pun ia dan teman-teman di kamar 10 sudah lalai. Mereka harus bertanggung jawab. Tapi, sebenarnya Aida masih penasaran. Siapa yang terakhir kali ke kamar mandi dan tidak menutup kerannya?

“Kamu kan yang paling terakhir keluar kamar?” Nadia berbisik pada Aida. Mereka sedang mengepel kamar 04.

“Iya … tapi enggak tahu tuh siapa yang terakhir ke kamar mandi dan enggak nutup lagi kerannya,” jawab Aida pelan.

“Tapi kan kamu tahu itu keran belum ketutup,” ujar Nadia, teman dekatnya.

 “Iyaa makanya … aku ngerasa bersalah juga. Tadi buru-buru soalnya.” Aida berdesah. Kesal sendiri.

Baca juga yuk: Sampul Buku Didit
***
“Tidak perlu saling menyalahkan lagi ya, atas kejadian kemarin. Yang pasti tidak boleh terulang lagi. Kita kan satu kamar bersama-sama. Jadi harus saling memiliki dan punya tanggung jawab bersama,” jelas Ketua kamar Aida sambil tersenyum. Kak Rosi namanya, murid kelas 11 di sekolah.

Aida dan teman-temannya saling berpelukan. Saling meminta maaf. Sebelumnya mereka saling menuduh satu sama lain. Hingga akhirnya Alya berkata jujur bahwa ia ingat hari itu tidak menutup kerannya. Alya benar-benar lupa. Padahal salah satu aturan di asrama sudah jelas, bahwa siapa pun yang akan mandi harus menyalakan air dan menutup keran setelahnya.
Setelah itu, mereka berjanji akan lebih hati-hati. Juga sepakat untuk saling mengingatkan. Apalagi, tidak lama setelah kejadian tersebut, ternyata daerah pondok mengalami kekeringan. Pasokan air ke gedung asrama putri dibagi-bagi giliran. Kondisi air kritis. Jangan sampai air yang sudah ada di bak malah terbuang percuma karena hal yang ceroboh, seperti lupa menutup keran air.
Saat bak air kamar mandi sudah penuh, mereka pun harus hemat. Tidak boleh menghamburkan air. Semua anggota kamar harus kebagian. Jika keadaan lebih darurat, Aida dan teman-teman bahkan harus rela antri nebeng di gedung asrama Khadijah, yang memiliki sumber air cadangan dari sumur gali. Air begitu berharga. 

***
“Aida! Cepat mandi sana. Terus kita sarapan bareng!” ajak Nadia yang sudah bersiap rapi memakai seragam.

“Yuk, kita makan aja dulu!”

“Eh, yakin? Kamu, enggak mandi aja dulu?” Nadia meyakinkan.
“Masih ada air, kan, di asrama?” Aida memastikan. Nadia mengangguk. Mereka kemudian berjalan menuju kantin.

Aneka olahan telur. Menu sarapan hari Rabu. Ada telur ceplok kecap, telur dadar, orek telur, dan telur rebus. Boleh pilih salah satu.  Aida mengambil telur ceplok kecap. Ditambah bihun goreng berisi sayuran. Menu favorit Aida.
Aida memastikan tidak boleh lapar pagi ini karena ada jam pelajaran Pak Haris. Perlu banyak energi untuk mengikuti pelajarannya. Serius. Tapi tidak boleh terlalu kenyang karena bisa mengantuk.

Nadia berangkat duluan setelah menyelesaikan sarapannya. Ia bagian piket kebersihan kelas. Mesti datang lebih awal. Aida juga bergegas menuju kamar. Bersiap untuk mandi. Namun, baru saja menuju tangga, tiba-tiba suara yang tidak asing memanggil namanya.

“Aida! Aida!”

“Iya, Ustadzah,” kali ini Aida senyum-senyum di hadapan Ustadzah Rani. Tenang karena merasa belum melakukan pelanggaran apapun pagi ini.

“Takziran kamu kemarin-kemarin, bayar sekarang, ya! Siram tanaman depan asrama sebelum ke sekolah,” giliran Ustadzah Rani yang senyum-senyum. Ekspresi Aida berubah. Kaget.

“Tapi  … Ustadzaaaah!” Aida melihat bolak-balik jam tangannya. Cemas.
Ustadzah meyakinkan sendiri masih ada cukup waktu. Aida tidak akan terlambat jika harus menyiram tanaman dulu. Aida gereget tidak bisa merayu Ustadzah Rani kali ini. Masalahnya sekarang, ia belum mandi dan tidak boleh telat masuk kelas.

Jam 7 kurang lima menit. Pas! Aida sampai di pintu kelas. Selamat. Ia melambaikan tangan pada Nadia. Masih terengah-engah.

“Syukurlah tepat waktu. Eh, PR … PR Pak Haris, udah?” Nadia khawatir Aida lupa mengerjakannya.

Aida mengacungkan jempolnya. “Beres!”

“Keran kamar mandi?” tanya Nadia cemas.

“Aman!” jawab Aida mantap. Nadia lega. Itu yang paling penting. Tapi Nadia masih penasaran.

“Eh, Aida. Bukannya tadi disuruh dulu Ustadzah Rani? Tapi kok tumben enggak telat.”

Aida mesem-mesem. Lalu ia mendekatkan duduknya ke samping Nadia. Aida berbisik di telinga Nadia. “ … Tapi jangan bilang siapa-siapa, ya!” Nadia menganggut setuju. 

“Aku enggak sempat  mandi!” jawab Aida cuek sambil tertawa.

“Iiiiiih … Aidaaa!!” 
***

Hihi, Aida Aida. Btw, Terima kasih ya yang sudah mampir baca cerita Aida.
Baca disini: Asrama Aida (1)

Salam Cinta,